Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Sedih desa kosong, Ayano ciptakan 'warga desa' baru

Sedih desa kosong, Ayano ciptakan 'warga desa' baru

Arus Urbanisasi telah mengosongkan sebuah desa kecil di Jepang. Karena tergiur modernisasi di kota mereka rela meninggalkan ladang dan sawahnya. Sebagai wujud kritikannya Tsukimi Ayano, menciptakan ‘warga baru’ di desa.

Jepang-KoPi|  Tsukimi Ayano tengah mengajar di sebuah kelas berisi boneka-boneka pada sekolah tertutup di dusun  Nagoro, Jepang.Berkat Ayano, desa kecil dan terisolasi mengalami ledakan penduduk tak terduga - tetapi bukan warga baru yang Anda harapkan.

Nagoro kini dipenuhi dengan orang-orangan seperti manusia. Ayano membuat mereka semua selama 13 tahun terakhir. Ayano pindah ke desa dan menetap di sana untuk merawat ibunya.

Dia awalnya mulai membuat mereka untuk menakut-nakuti binatang perusak tanaman. Tapi boneka telah menjadi bagian dari penduduk desa. Jumlah mereka melebihi penduduk desa yang ada.

Mereka berdiri di rumah-rumah, ladang, pohon, jalan-jalan, bahkan di halte bus yang penuh sesak - menunggu bus yang tidak akan pernah datang.



Nagoro, seperti banyak desa di pedesaan Jepang, telah menjadi desa ‘mati’ karena  penduduk berbondong-bondong ke kota untuk bekerja. Sedangkan para orang tua dan pensiunan ditinggal di desa.



Ayano yang berumur 65 tahun merupakan salah satu warga termuda di Nagoro.

"Di desa ini, hanya ada 35 orang," katanya. "Tapi ada 150 orangan sawah". Selama aku sehat saya berencana untuk terus membuat orang-orangan sawah," katanya. "Saya menikmatinya dan saya berharap orang-orang dapat menikmati mereka juga karena saya ingin membuat mereka bahkan lebih hidup, sehingga orang akan harus melihat dua kali dan berkata 'Oh itu bukan orang!', katanya. |Reuters.com |Winda Efanur FS|

back to top