Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Sedih desa kosong, Ayano ciptakan 'warga desa' baru

Sedih desa kosong, Ayano ciptakan 'warga desa' baru

Arus Urbanisasi telah mengosongkan sebuah desa kecil di Jepang. Karena tergiur modernisasi di kota mereka rela meninggalkan ladang dan sawahnya. Sebagai wujud kritikannya Tsukimi Ayano, menciptakan ‘warga baru’ di desa.

Jepang-KoPi|  Tsukimi Ayano tengah mengajar di sebuah kelas berisi boneka-boneka pada sekolah tertutup di dusun  Nagoro, Jepang.Berkat Ayano, desa kecil dan terisolasi mengalami ledakan penduduk tak terduga - tetapi bukan warga baru yang Anda harapkan.

Nagoro kini dipenuhi dengan orang-orangan seperti manusia. Ayano membuat mereka semua selama 13 tahun terakhir. Ayano pindah ke desa dan menetap di sana untuk merawat ibunya.

Dia awalnya mulai membuat mereka untuk menakut-nakuti binatang perusak tanaman. Tapi boneka telah menjadi bagian dari penduduk desa. Jumlah mereka melebihi penduduk desa yang ada.

Mereka berdiri di rumah-rumah, ladang, pohon, jalan-jalan, bahkan di halte bus yang penuh sesak - menunggu bus yang tidak akan pernah datang.



Nagoro, seperti banyak desa di pedesaan Jepang, telah menjadi desa ‘mati’ karena  penduduk berbondong-bondong ke kota untuk bekerja. Sedangkan para orang tua dan pensiunan ditinggal di desa.



Ayano yang berumur 65 tahun merupakan salah satu warga termuda di Nagoro.

"Di desa ini, hanya ada 35 orang," katanya. "Tapi ada 150 orangan sawah". Selama aku sehat saya berencana untuk terus membuat orang-orangan sawah," katanya. "Saya menikmatinya dan saya berharap orang-orang dapat menikmati mereka juga karena saya ingin membuat mereka bahkan lebih hidup, sehingga orang akan harus melihat dua kali dan berkata 'Oh itu bukan orang!', katanya. |Reuters.com |Winda Efanur FS|

back to top