Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Resep mengatasai penyakit lupa

Resep mengatasai penyakit lupa

Amerika-KoPi, Jika anda adalah orang yang mudah lupa, berita ini bisa jadi penolong jika anda berkenan untuk mencobanya. Caranya amat mudah, cukup dengan menggunakan pena dan membuat catatan tangan.

Science Daily menggambarkan studi yang dilakukan Princeton University, “Pena Versus Keyboard”. Studi ini dilakukan dengan dilengkapi serangkaian tes untuk melihat metode manakah yang lebih menyerap informasi.

Sebanyak 65 mahasiswa diberi TED Talk untuk dilihat serta diberi laptop atau pena dan kertas untuk membuat catatan. Setelah itu, mereka harus mengerjakan pertanyaan-pertanyaan konseptual dan faktual berdasarkan kuliah yang diberikan.

Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa catatan-catatan dari pengguna laptop mengandung lebih banyak kata dan huruf dibanding kuliah yang diberikan sementara catatan tangan berupa “tulisan tak beraturan”. Dengan menghindari mengkopi sama persis dengan kuliah yang disampaikan, catatan yang ditulis dengan tangan merekam informasi yang lebih tepat dan ringkas.

Agar hasilnya lebih dapat dipercaya, satu minggu kemudian para peserta diberi kesempatan untuk melihat kembali catatan mereka sebelum mereka menjalani tes ingat yang lain. Dan hasilnya sama: mereka yang membuat catatan berdasarkan kata per kata yang persis dengan yang disampaikan mendapat nilai yang lebih rendah pada saat menjawab pertanyaan konseptual.


(Ana Puspita)
Sumber: News.com.au
 
 

back to top