Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Puluhan ribu warga Palestina Salat Jumat Ramadha di Masjid Al-Aqsa

Jerusalem-KoPi| Lebih dari 100.000 warga Palestina pergi ke kompleks Masjid al-Aqsha di Yerusalem untuk Salat Jumat pertama (18/5) di bulan Ramadhan. Kebanyakan dari mereka berasal dari Tepi Barat yang diduduki.
Sheikh Azzam al-Khatib, direktur jenderal Wakaf Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa,  mengatakan kepada media setempat bahwa sebanyak 120.000 jamaah berhasil mencapai kompleks Masjid al-Aqsha untuk sholat Jumat.
 
Berdasarkan dari keterangan Al-Jazeera, Orang-orang Palestina dari wilayah-wilayah yang diduduki, tidak dapat mengakses wilayah Yerusalem. Namun pada bulan Ramadhan, mereka diizinkan memasuki kota dalam kondisi yang penuh penjagaan ketat selama hari Jumat.
 
Hampir setiap hari pos pemeriksaan Qalandiya di gerbang utama di Tepi Barat Yerusalem dan sekitarnya, menyerupai gerbang perbatasan darat, lengkap dengan terminal, pintu putar, serta detektor keamanan.
 
Kali ini, pria Palestina berusia di atas 40 tahun dan wanita dari segala usia diizinkan untuk lewat, dengan sebagian besar  melewati penghalang beton tanpa terhenti, karena tentara Israel berdiri di dekatnya.
 
Kadang-kadang, seorang pria akan dihentikan dan meminta tanda yang dikeluarkan oleh militer Israel untuk menentukan apakah dia sudah cukup umur untuk dapat lewat atau tidak.
 
Beberapa ibu membawa putra remaja mereka yang lebih muda. Mereka berharap bahwa mereka akan diabaikan dan tidak ditahan pada penjagaan tersebut.
 
Munira Abu Nasra perempuan usia 40 tahun, berjalan melewati para prajurit dengan cara yang penuh percaya diri, memegang di satu tangan putranya yang berusia sembilan tahun dan sebuah tas di tangan yang lain.
 
"Aku punya perasaan bahwa Jumat ini tidak akan ada banyak orang yang melintasi Qalandiya. Itulah sebabnya aku memastikan datang kesini, "katanya, matanya pun menyapu kekerumunan orang yang bergerak tipis, ditulis Sabtu (19/5)
 
Sebelumnya di hari Senin (13/5) ,beberapa ratus warga Palestina berkumpul di Yerusalem untuk memprotes relokasi kedutaan AS ke kota tersebut. Langkah pemindahan relokasi ini pun dikecam secara luas oleh masyarakat internasional.
 
Upacara relokasi berlangsung ketika tentara Israel menewaskan sedikitnya 62 orang Palestina di Jalur Gaza yang bersatu sebagai bagian dari gerakan besar yang menyerukan hak para pengungsi untuk kembali ke daerah-daerah dari mana mereka secara paksa dipindahkan pada tahun 1948, ketika negara Israel diciptakan.
 
"Orang-orang tidak yakin apakah situasinya cukup stabil dan masih takut pergi ke Yerusalem, mengingat peristiwa minggu lalu," kata Abu Nasra.
 
Izin perjalanan biasanya diberikan selama bulan Ramadhan untuk orang Palestina dari segala usia, namun sejauh ini, izin tersebut  belum dikeluarkan oleh administrasi militer Israel. Selain itu, tidak ada izin seperti yang dikeluarkan untuk orang-orang Palestina di Jalur Gaza.
 
Abu Nasra berasal dari kota Bir Nabala, yang merupakan pinggiran Yerusalem timur yang terputus dari kota oleh tembok pemisah dan sekarang dihitung sebagai wilayah Tepi Barat.
 
"Sangat penting untuk pergi ke Yerusalem kapan pun kita bisa. Aku punya Putra lain yang berusia 16 tahun dan tidak mungkin ia bisa menyeberangi Qalandiya," kata Abu Nasra, ketika ia mencapai sisi lain pos pemeriksaan di mana bus sedang menunggu untuk membawa orang-orang ke Yerusalem.
 
Perjalanan singkat setelah melintasi pos pemeriksaan berakhir di awal Jalan Salah al-Din, pusat komersial utama di Yerusalem timur yang diduduki, di mana barikade logam didirikan di berbagai titik.
 
Memasuki salah satu gerbang Kota Tua, orang-orang Palestina berjalan ke kompleks al-Aqsa, beberapa orang menggantungkan sajadah mereka di atas kepala mereka untuk melindungi diri dari terik matahari.
 
Di dalam ketika dua masjid penuh, pria, wanita dan anak-anak berlindung di bawah naungan pepohonan, menunggu panggilan untuk berdoa.
 
"Datang ke Yerusalem adalah mimpi yang menjadi nyata.  Aku berencana datang setiap Jumat, selama semuanya tetap tenang dan tidak ada masalah di pos-pos pemeriksaan," kata Hadeel Dabaas, seorang wanita muda dari Tulkarem.
 
Perempuan berusia 23 tahun itu mengakui ia sempat  dalam keganduhan untuk datang ke Al-Aqsa atau tidak, tetapi terkejut dengan apa yang dilihatnya di pos pemeriksaan di Qalandiya.
 
"Itu sangat tenang. Ini seperti orang Israel berusaha membuat keributan seminimal mungkin saat kita menyeberang ke Yerusalem hari ini. Mereka seolah ingin menunjukkan kepada dunia citra yang dipoles dari diri mereka sendiri. Para prajurit bahkan membagikan kartu bertuliskan Ramadhan Kareem!"
 
Sementara banyak warga Palestina telah menekankan bahwa kedutaan AS pindah ke Yerusalem hanya membuat sedikit perbedaan dalam kehidupan mereka. Mereka sangat mengingat bahwa kota ini sudah diduduki. Mereka pun tetap berhati-hati memasuki Yerusalem, bahkan untuk beribadah.
 
Menyusul penembakan mematikan terhadap puluhan warga Palestina di Jalur Gaza pekan ini, pihak berwenang Israel menyatakan kekhawatirannya bahwa protes akan menyebar ke seluruh Yerusalem dan Tepi Barat. Tetapi untuk saat ini tidak banyak yang menunjukkan apakah ini akan terjadi lagi atau tidak.
 
Hanya segelintir orang yang mengindahkan panggilan beberapa komite populer Palestina, yang menyerukan protes di titik-titik panas dengan pendudukan Israel setelah salat Jumat. Tidak mengherankan, kehadiran mereka tidak menimbulkan konfrontasi.
 
Namun, signifikansi Yerusalem masih sangat membebani pikiran orang Palestina.
 
"Tidak ada Yerusalem, tidak ada kehidupan," kata Juma Abed Sa'sa, yang lahir di Yafa pada 1941.
 
Duduk di luar dekat Gerbang Damaskus, lelaki tua itu yang dipaksa pulang dari kampung halamannya pada usia tujuh tahun, berencana menghabiskan Jumat Ramadhannya di kota tua.
 
"Tanpa Yerusalem tidak akan ada kedamaian. Jika pemimpin Palestina menyerah, maka apa lagi yang tersisa untuk dinegosiasikan?,"kata Pria yang sekarang tinggal di Jericho. 
 
Sumber: Al-Jazeera.

 

back to top