Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Peraih Nobel sastra Guenter Grass “The Tin Drum” Wafat

Peraih Nobel sastra Guenter Grass “The Tin Drum” Wafat

KoPi|Guenter Grass, pemenang Nobel sastra dan pengarang dari The Tin Drum, meninggal pada usia 87 tahun.Penerbitnya berkata bahwa dia meninggal di sebuah klinik di Luebeck pada senin pagi.

Lahir di Danzig, Grass ikut dalam militer Jerman pada Perang Dunia kedua dan menerbitkan novel anti-Nazi, The Tin Drum,pada tahun 1959.
Kemudian ia menjadi lawan yang vokal pada Penyatuan Jerman kemabli pada tahun 1990, dan berpendapat bahwa keputusan itu dinilai terlalu cepat.

Karya Grass adalah “refleksi yang berat untuk negara kami dan bagian yang abadi di sastra dan sejarah kebudayaannya,” sebut presiden Jerman Joachim Gauck.

Menteri luar negeri Frank-Walter Steinmeier sangatsedih mendengar kabar kematiannya, katanya dalam sebuah tweet.
Penulis Salman Rushdie menggambarkan Grass sebagai “raksasa sejati, menginspirasi, dan seorang kawan.”

§    1927: Lahir di Danzig (sekarang kota Polish dari Gdansk)
§    1944:  Bergabung dengan Waffen-SS
§    1945-6:  Tahanan perang
§    1948-56:  mempelajari seni patung di Duesseldorf dan Berlin
§    1959:  Meraih puncak kepopuleran setelah diterbitkannya The Tin Drum
§    1999:  Dianugerahi Nobel Sastra
§    2006:  Mengungkapkan masa lalunya dalam sebuah memoar
§    2015:  meninggal di Luebeck

Obituari : Guenter Grass

Kota kelahiran Grass berganti nama Polish setelah perang. Dia lalu banyak menghabiskan waktu di dekat Luebeck.
Banyak dari tulisan tulisannya yang bertemakan Nazi, perang yang mengeriikan, pengrusakan, dan kesalahan setelah kekalahan Jerman.
Warga Jerman terkejut ketika ia menerbitkan memoarnya pada tahun 2006 yang berjudul Skinning The Onion, yang menceritakan ketika ia masih belia pernah bergabung di kemiliteran dan pernah pula bergabung dengan Waffen-SS –pasukan tempur Hitler yang ditakuti, yang bertanggung jawab atas kekejaman Nazi.

Setelah perang, ia menjadi tawanan di penjara Amerika.
Ia dianugerahi Nobel Sastra pada tahun 1999 oleh karyanya yang berjudul “The Forgotten Face of History)

Grass pernah berperan aktif secara politik  dan berkampanye untuk partai Sosial Demokratis –dan sebagai figur utama dalam masyarakat.
Puisinya pernah diterbitkan pada tahun 2012 yang berjudul What Must Be Said, menyebarkan kontroversi atas kritiknya terhadap Israel.
Baginya, The Tin Drum adalah “sebuah buku yang aneh dan cerdas” yang menangkap situasi pada abad 20.|BBC|Roihatul Firdaus|

back to top