Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Seoul-KoPi| Departemen luar negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan para pejabat AS telah bertemu dengan tim pejabat Korea Utara menjelang pertemuan potensial antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. 

 

Juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert mengatakan, pada Minggu kemarin (27/5) Delegasi AS mengadakan pembicaraan dengan pejabat korea Utara di dalam Zona Demiliterisasi -  sebuah daerah yang dibuat pada akhir Perang Korea -. Ia pun menambahkan bahwa persiapannya sendiri maju lebih awal untuk pertemuan antara Trump dan Kim.  

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengatakan sebelumnya pada hari yang sama, Kim Jong Un telah menegaskan kembali komitmen negaranya untuk "menyelesaikan" denuklirisasi Semenanjung Korea. pembicaraan ini dilakukan pada pertemuan dadakan sehari sebelumnya di zona demiliterisasi. 

"Kim dan saya setuju ... perjalanan kami untuk denuklirisasi Semenanjung Korea dan rezim perdamaian abadi tidak boleh dihentikan,Dia juga menyatakan niatnya untuk mengakhiri sejarah perang dan konfrontasi melalui keberhasilan KTT Amerika-Korut. Dan juga untuk bekerja sama demi perdamaian dan kemakmuran,"ujar Moon, ditulis Senin (28/5).

Pertemuan Sabtu lalu seolah kejadian dramatis terbaru dalam seminggu pada naik turunnya diplomatik yang melingkupi prospek KTT (konferensi tingkat tinggi) antara Amerika Serikat dan Korea Utara. Ini juga tanda terkuat kedua pemimpin Korea coba untuk dapat menggelar pertemuan sesuai rencana.

Sebuah pernyataan dari kantor berita Korea Utara KCNA pada hari Minggu juga mengatakan bahwa Kim menyatakan "keinginannya yang tetap" tentang kemungkinan bertemu Trump seperti yang direncanakan sebelumnya.

Trump, sementara itu, mengisyaratkan jadwal untuk KTT pada 12 Juni, meskipun ia sebelumnya membatalkan pertemuan tersebut minggu lalu. 

"Kami melakukannya dengan sangat baik dalam hal pertemuan puncak dengan Korea Utara, "Ini berjalan  dengan sangat baik. Jadi kita melihat KTT tetap di 12 Juni di Singapura. Itu belum berubah. Kita akan lihat apa yang terjadi," kata Trump di Gedung Putih.

Sebelumnya Trump seolah mengguncang wilayah itu pada hari Kamis (24/5) dengan membatalkan pertemuan 12 Juni dengan Kim di Singapura dengan menyebut "permusuhan terbuka" dari Pyongyang.

Namun dalam 24 jam, ia berpikir kembali dan mengatakan KTT masih bisa berlanjut setelah pembicaraan produktif bersama dengan pejabat Korea Utara.

Sementara itu, Kim juga berkomitmen untuk denuklirisasi.  Moon mengakui Pyongyang(Ibukota Korut) dan Washington (Ibukota AS) mungkin memiliki harapan yang berbeda, dan ia mendesak kedua belah pihak untuk mengadakan pembicaraan tingkat kerja untuk menyelesaikan perbedaan mereka.

"Meskipun mereka berbagi tekad yang sama, perlu ada diskusi mengenai peta jalan bagaimana mewujudkannya, dan proses itu bisa sulit," katanya.

Pejabat Amerika sendiri skeptis bahwa Kim akan sepenuhnya meninggalkan senjata nuklirnya. Moon pun mengatakan Korea Utara belum yakin dapat mempercayai jaminan keamanan dari Amerika Serikat.

Seorang pejabat senior Korea Selatan kemudian mengatakan kedua Korea sedang membahas kemungkinan janji non-agresi dan dimulainya pembicaraan perjanjian damai sebagai cara untuk mengatasi kekhawatiran keamanan Pyongyang menjelang perundingan AS-Korea Utara.

Andrei Lankov, dari Universitas Kookmin di Seoul, mengatakan ketakutan Korea Utara atas apa yang mungkin terjadi selanjutnya menjadi kemungkinan dorongan Pyongyang kembali ke jalur untuk KTT.

"Donald Trump dipandang sebagai orang yang dapat memulai perang. Dan selama 48 jam terakhir - mungkin lebih - mereka takut bahwa pemerintahan Donald Trump akan membatalkan KTT dan ini akan menyebabkan eskalasi ketegangan baru dan mungkin perang. Ketakutan inilah yang menentukannya," kata Lankov.

Stephen Nagy dari International Christian University mengatakan, Pyongyang seolah mencari manfaat setelah mencapai status tenaga nuklir.

"Saya pikir Korea Utaralah yang telah mendorong ajuan ini. Mereka telah mengkonsolidasikan strategi penangkal nuklir mereka dan mereka telah memutuskan bahwa mereka dapat mendorong melalui negosiasi - tidak hanya dengan Amerika Serikat tetapi juga dengan Korea Selatan dan kembali melibatkan China. Mereka memiliki jalur yang jelas ke depan, "katanya.

Sumber: Al-Jazeera.

back to top