Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

Yaman-KoPi| Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa serangan militer ataupun  pengepungan oleh pasukan pemerintah pro-Yaman didukung oleh koalisi Saudi yang dipimpin di kota pelabuhan Hudaida akan berdampak pada ratusan ribu warga sipil. 

 

Lise Grande,  Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman, mengatakan jumlah jiwa yang terdampak pada serangan ini mencapai ratusan ribu.

"Kami takut,  dalam kasus terburuk yang berkepanjangan, bahwa sebanyak 250.000 orang mungkin kehilangan segalanya - bahkan hidup mereka," ujar nya, ditulis Sabtu (9/6).

Menurut perkiraan PBB dan mitranya, sebanyak 600.000 warga sipil saat ini tinggal di dalam dan di sekitar kota yang dikuasai pemberontak. Tempat ini merupakan garis hidup vital dimana sebagian besar penduduk Yaman mendapatkan makanan dan obat-obatan, 

PBB memperingatkan bahwa kemungkinan "dampak bencana kemanusiaan" akan memburuk karena peran kunci lokasi Hudaida sebagai titik masuk untuk sekitar 70 persen impor Yaman.  

"Memotong impor melalui jalur Hudaida untuk waktu yang lama akan membuat penduduk Yaman berada pada risiko ekstrim yang sangat mengancam," kata Grande.

Arab Saudi bersama dengan beberapa negara Arab lainnya, meluncurkan kampanye militer pada tahun 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Tujuannya mereka adalah untuk menggulingkan pergerakkan yang dibuat oleh pemberontak Houthi setelah mereka menyerbu banyak negara pada tahun 2014.

Sebagian besar negara telah menarik pasukannya dari koalisi dukungan AS. Dan hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang masih melakukan serangan di Yaman.

Sementara itu, militer Yaman mengumumkan pada Jumat (8/6) pertempuran sengit di provinsi Marib di Yaman menewaskan sedikitnya 20 pemberontak Houthi dan beberapa lainnya terluka.

"Pertempuran sengit meletus pada hari Kamis setelah sekelompok pemberontak berusaha menyusup ke posisi militer di Serwah selatan," dikuti dari narasumber militer yang tidak disebutkan namanya.

Ia menambahkan Artileri militer telah menargetkan situs-situs dan konsentrasi Houthi di seluruh Serwah selatan, yang menyebabkan banyak korban dan kerugian material di antara jajaran kelompok pemberontak.

Tidak ada komentar langsung dari Huthi mengenai klaim tentara.

Kaum Houthi telah mengendalikan pusat Direktorat Serwah sejak April 2015, dan daerah itu tetap menjadi tempat sering terjadinya bentrokan antara kedua pihak.

Yaman yang miskin telah didera kekerasan sejak 2014 ketika Huthi menguasai sebagian besar negara, termasuk daerah ibu kota, Sanaa.

Konflik meningkat pada tahun 2015 ketika Arab Saudi dan sekutunya menuduh Huthi melayani sebagai proxy Iran, dan meluncurkan kampanye udara besar-besaran yang bertujuan untuk mengembalikan keuntungan Houthi.

Tahun berikutnya, pembicaraan perdamaian yang disponsori PBB dan diadakan di Kuwait gagal menghasilkan terobosan yang nyata.

Sejak itu, lebih dari 10.000 orang telah tewas dan kebanyakan dari mereka warga sipil.

Kekerasan yang sedang berlangsung juga telah menghancurkan infrastruktur Yaman, termasuk sistem air dan sanitasi. Hal ini mendorong PBB untuk menggambarkan situasi sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern.

Pada hari Kamis, Komite Internasional Palang Merah menarik 71 staf internasionalnya keluar dari Yaman, dengan alasan meningkatnya ancaman keamanan.

Namun Juru bicara Marie-Claire Feghali mengatakan masih ada sekitar 450 karyawan ICRC tetap berada di Yaman, termasuk puluhan staf asing.

SUMBER: AL JAZEERA.

 

back to top