Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

PBB meminta Nigeria selamatkan 200 gadis yang diculik

PBB meminta Nigeria selamatkan 200 gadis yang diculik

KoPi, Komisaris Tinggi PBB Navi Pillay mengatakan bahwa ia "sangat prihatin" tentang klaim diyakini dibuat oleh pemimpin kelompok militan Boko Haram di Nigeria mengenai siswi yang diculik dan mendesak pemerintah Nigeria untuk "berupaya menjamin pemulangan yang aman dari gadis-gadis tersebut dan komunitas mereka," kata seorang juru bicara PBB, Selasa (6/5).

Pillay memperingatkan para pelaku bahwa ada larangan mutlak terhadap perbudakan dan perbudakan seksual dalam hukum internasional, Vannina Maestracci, juru bicara asosiasi PBB, mengatakan.

Sekitar 200 perempuan dari komunitas Chibok, Borno di timur laut Nigeria diculik pada bulan April kemarin. Pada hari Senin kemarin, kelompok militan Boko Haram mengaku bertanggung jawab atas tindakan dalam video dan mengancam untuk menjual gadis-gadis tersebut. Dalam video tersebut, pemimpin Boko Haram, sebuah sekte yang berusaha untuk mengabadikan hukum Syariat Islam dalam konstitusi, mengatakan bahwa ia akan menjual siswi-siswi yang diculik "di pasar" dan "menikahkan mereka," menganggap mereka sebagai " budak."

Presiden Nigeria Goodluck Jonathan pada Minggu malam berbicara untuk pertama kalinya tentang penculikan. Dalam siaran TV, dia bilang dia tidak tahu di mana gadis-gadis itu tetapi mengatakan bahwa segala sesuatu sedang dilakukan untuk menemukan mereka.

Nigeria, negara terpadat di Afrika, saat ini bergulat dengan ancaman keamanan, termasuk pemberontakan Boko Haram. Setidaknya 20 orang tewas dalam ledakan hari Kamis di ibukota Abuja, di mana World Economic Forum on Africa (Forum Ekonomi Dunia di Afrika) akan diselenggarakan pekan ini.

Pillay telah mengutuk penculikan kekerasan terhadap gadis-gadis tersebut, yang diyakini berusia antara 15 dan 18 tahun, yang ditangkap 14 April setelah militan Boko Haram menyerbu sebuah sekolah di kota Nigeria timur laut, Chibok.

Ketika kunjungan ke Nigeria awal tahun ini, Pillay mengatakan Boko Haram telah tumbuh "semakin mengerikan" dalam aksinya. Dia mengatakan bahwa kelompok ini sekarang menargetkan beberapa orang karena agama dan pekerjaan mereka". Dan dalam kasus ini, mereka mencullik hanya karena gadis-gadis itu terdaftar di sekolah."

"Para komisaris tinggi PBB telah menghubungi presiden Nigeria dan mendesak pemerintah untuk menyelamatkan dan memulangkan gadis-gadis ke rumah mereka dan masyarakat dengan aman," kata Maestracci, yang juga menegaskan kekhawatiran Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki -moon tentang gadis-gadis yang diculik dan kebutuhan sekolah di tempat yang aman untuk anak-anak.

UNICEF dan WFP  menyuarakan kemarahan terhadap penculikan gadis-gadis Nigeria.

Maestracci juga menekankan bahwa PBB siap untuk membantu pihak berwenang Nigeria dalam upaya penyelamatan mereka.

(Fahrurrazi)
Sumber: Xinhuanews

back to top