Logo
Print this page

Olimpiade Tokyo 2020, Olimpiade masa depan

Olimpiade Tokyo 2020, Olimpiade masa depan
KoPi| Sejak pertama kali dilangsungkan, Olimpiade modern selalu menjadi ajang pemecahan rekor dan pamer teknologi dari tuan rumah. Begitu pula pada Olimpiade Tokyo 2020 mendatang. Jepang sebagai tuan rumah bersiap memamerkan kemajuan teknologi mereka.
 

Aura persiapan Olimpiade terasa sejak Jepang memenangi lelang tuan rumah Olimpiade pada tahun 2013 lalu. Diyakini, segala persiapan tersebut menelan biaya hingga US$ 18 miliar. Jepang berencana menjadikan event olahraga terbesar di dunia ini sebagai ajang pameran dan peluncuran berbagai teknologi baru yang akan mengubah kehidupan manusia.

Sepanjang sejarah Olimpiade modern, berbagai teknologi baru yang mengubah kehidupan manusia memang memulai debut mereka pada event tersebut. Misalnya, pada Olimpiade Stockholm tahun 1912, di mana menjadi saat pertama kalinya penggunaan stopwatch elektronik secara massal di dunia. Lalu, pada Olimpiade Berlin tahun 1936, manusia untuk pertama kalinya menyaksikan siaran langsung event olahraga melalui televisi. Jepang juga pernah memamerkan teknologi masa depan saat mereka menjadi tuan rumah Olimpiade Tokyo 1964, melalui peluncuran kereta peluru pertama di dunia, Shinkansen. Sedangkan Olimpiade Musim Dingin Salt Lake City 2002 lalu menjadi debut penggunaan teknologi instant video replay. Lalu, teknologi masa depan apa yang akan ditunjukkan pada Olimpiade Tokyo 2020 mendatang? Inilah beberapa hal yang tengah disiapkan.

Desa Robot

Jepang telah dikenal sebagai negara yang memimpin perkembangan teknologi robot. Jadi tidak mengejutkan jika mereka menyiapkan pasukan robot untuk menyambut tamu internasional pada upacara pembukaan. Bahkan, Tokyo sendiri tengah membangun desa khusus robot di Odaiba, serupa dengan desa atlet. Robot-robot tersebut akan membantu pengunjung menunjukkan arah, transportasi, bahkan menjadi penerjemah. Jepang berharap desa robot tersebut dapat menggambarkan bagaimana robot di masa depan membantu manusia, tanpa melihat perbedaan usia, kebangsaan, maupun status sosial.

Penerjemah Instant

Saat ini ada 206 Komite Olimpiade Nasional dari seluruh negara yang mengirimkan atlet-atletnya dalam event Olimpiade. Jepang berharap dapat melakukan loncatan besar dalam teknologi penerjemah instant untuk atlet-atlet tersebut. Sebuah aplikasi penerjemah real-time bernama VoiceTra yang saat ini mampu menerjemahkan 27 bahasa diharapkan dapat beroperasi saat Olimpiade dimulai. Perusahaan elektronik raksasa Panasonic sedang menciptakan perangkat kecil yang bisa dipakai di leher yang akan menerjemahkan Bahasa Jepang ke dalam 10 bahasa secara instan, dan sebaliknya. Mereka juga berencana menyediakan aplikasi smartphone untuk pengunjung yang dapat men-scan aksara Jepang dan langsung menerjemahkannya.

Taksi Otomatis

Pengembang peranti lunak DeNA dan perusahaan robot ZMP saat ini mendirikan perusahaan Robot Taxi Inc. untuk mengoperasikan taksi tanpa pengemudi yang akan mengantarkan atlet dan turis ke stadion. Perusahaan tersebut telah mengadakan tes di mana sebagian warga Kota Tokyo menggunakan telepon mereka untuk memesan RoboTaxi untuk mengantarkan mereka berbelanja di supermarket. Pemerintah Jepang sendiri berencana membuat aturan untuk mengatur jasa taksi tanpa sopir ini sebelum tahun 2017.

Pesawat Bertenaga Ganggang

 Isu lingkungan hidup juga menjadi perhatian selama Olimpiade Tokyo 2020. Untuk itu, Jepang saat ini meneliti penggunaan ganggang sebagai bahan bakar pesawat dan bus. Boeing telah menandatangani kontrak kerjasama dan akan melakukan uji coba global. Ganggang merupakan sumber bahan bakar yang bersih dan efisien, mampu memotong emisi karbon hingga 70 persen.

Desa Bertenaga Hidrogen

Pemerintah Jepang berencana menyediakan dana sebesar US$ 330 juta untuk mempromosikan penggunaan energi hidrogen selama tahun-tahun menjelang Olimpiade. Mereka ingin desa atlet Olimpiade didayai tenaga hidrogen secara total. Selain itu, mereka akan menyediakan 100 bus bertenaga sel hidrogen untuk mengangkut atlet dan pers. Pemerintah Jepang ingin ada 6000 mobil bertenaga sel hidrogen beroperasi pada tahun 2020, dan 100.000 mobil pada 2025.

Hujan Meteor Buatan

Sebagai pemeriah upacara pembukaan, perusahaan astronomi Jepang, ALE, berencana membuat hujan meteor buatan. ALE bekerja sama dengan universitas di Jepang untuk mendesain satelit mikro berbentuk kubus yang akan diluncurkan ke luar angkasa. Satelit mikro tersebut akan menembakkan bahan kimia khusus, yang ketika kembali memasuki atmosfer terbakar dan menyala dengan kecepatan 6 km/detik. Pertunjukkan tersebut akan meniru pola hujan meteor alami. Pertunjukkan hujan meteor buatan tersebut diperkirakan menghabiskan  dana US$ 4 juta atau Rp 52 miliar.

Kereta Maglev Super-cepat

Pada Olimpiade Tokyo 1964, Jepang memperkenalkan kereta peluru Shinkansen. Mereka bermaksud mengulang sejarah tersebut dengan melakukan loncatan teknologi, melalui peluncuran teknologi kereta super cepat magnetic levitation (maglev). Meski saat ini kereta maglev sudah beroperasi di Shanghai dan beberapa kota di dunia, maglev versi Jepang ini diyakini akan menjadi yang paling cepat. Awal tahun 2016 ini Jepang melakukan uji coba maglev yang memecahkan rekor kecepatan di darat untuk transportasi berbasis rel, yaitu 601 km/jam.

Internet 5G

Sebagai ajang olahraga internasional terbesar, Olimpiade Tokyo 2020 diyakini akan dikunjungi lebih dari setengah juta turis. Satu hal yang pasti, mereka akan menggunakan ponsel mereka pada saat bersamaan. Operator telepon seluler terbesar di Jepang, DoCoMo, telah bekerjasama dengan Nokia untuk mengembangkan teknologi nirkabel 5G sehingga berbagai jejaring dapat bekerja dengan kecepatan tinggi selama Olimpiade. Dari tes yang dilakukan perusahaan tersebut, kecepatan transmisi data bisa mencapai 2 GB per detik. Bandingkan saja dengan kecepatan di jaringan 4G yang ‘hanya’ 300 MB per detik.

Related items

© 2016 www.koranopini.com (PT Proyeksi Indonesia Grup). All rights reserved.