Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Mendorong Kerja Sama yang Solutif di Timur Tengah

Mendorong Kerja Sama yang Solutif di Timur Tengah

Jogja-KoPi| Sebagai kawasan yang memiliki kedekatan kultural dan religisiutas dengan Indonesia, situasi dan isu-isu yang terjadi di kawasan Timur Tengah selalu menarik perhatian publik dalam negeri. Sayangnya, kompleksitas permasalahan yang begitu tinggi di kawasan tersebut memberikan tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam menjajaki kerja sama yang lebih erat dengan negara-negara Timur Tengah. Namun di sisi lain, memberikan peluang bagi Indonesia untuk berperan lebih aktif dalam mengupayakan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Apa saja tantangan dan peluang yang dihadapi Indonesia dalam membina kerja sama dengan negara-negara Timur Tengah menjadi topik diskusi utama dalam kegiatan Diplomatic Outreach berjudul “Kerja Sam Indonesia – Timur Tengah: Peluang dan Tantangan” yang berlangsung pada Selasa, 28 Agustus 2018, bertempat di Auditorium Digital Mandiri, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL), Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh kerja sama Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) UGM dan Direktorat Timur Tengah, Kementrian Luar Negeri Indonesia. Dr. Dafri Agussalim (Pengajar DIHI UGM) didaulat menjadi moderator dalam kegiatan ini, dengan pembicara-pembicara mewakili DIHI UGM, Kementrian Luar Negeri RI, serta Kedutaan Besar negara sahabat.

Sekretaris Direktorat Jendral Asia Pasifik dan Afrika, Rossy Verona dalam paparannya menyebutkan bahwa para diplomat Indonesia selalu berupaya meningkatkan volume kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Timur Tengah. Hal ini meningkatkan kendati hubungan dagang antara dua wilayah tersebut dapat dilacak jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, saat ini jumlahnya belum sebanding dengan arus perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara Asia Timur ataupun Eropa.

Namun utamanya pemerintah Indonesia tetap menjaga komitmen dalam mendukung perdamaian di Timur Tengah. Salah satu upaya tersebut tercermin dari bagaimana Indonesia berupaya meningkatkan kapasitas Tentara Nasional Indonesia dalam pasukan pemelihara perdamaian (peacekeeper) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Hingga tahun 2019 target kita adalah mengirim 4000 peacekeepers ke berbagai misi operasi perdamaian PBB. Utamanya kita juga hendak meningkatkan peran perempuan dalam pasukan tersebut”, ujarnya.

Senada dengan ujaran Rossy Verona, Sunarko, Direktur Timur Tengah Kementrian Luar Negeri RI juga menyatakan bahwa terpilihnya Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap PBB periode 2019-2020, menjadi tanggung jawab Indonesia untuk menaruh perhatian pada konflik di Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas keamanan global. Mengharmoniskan hubungan bilateral dengan negara-negara Timur Tengah menjadi fokus upaya Indonesia. Dimana banyak negara-negara Timur Tengah yang mengalami revolusi “Arab Spring” belajar dari Indonesia mengenai proses konsolidasi demokratis.

Melalui platform DK PBB pula, pemerintah Indonesia dan negara-negara Selatan memperjuangkan kedaulatan Palestina dari pendudukan Israel. Tidak hanya menyuarakan isu Palestina di forum internasional, kerja sama teknis lainnya yang dijalankan Indonesia semisal memberi pelatihan dan beasiswa kepada pemuda Palestina yang salah satunya adalah pelatihan menjadi pilot penerbang.

Dalam kesempatan ini hadir pula Duta Besar Kerjaan Maroko untuk RI, H.E. Oudia Benabdellah yang menceritakan bahwa sejatinya hubungan Maroko dan Indonesia sudah terjalin sejak abad ke-14 melalui pengelana legendaris Ibnu Battutah yang mengunjungi dan menceritakan negeri-negeri di Nusantara pada era tersebut. Namun ia menyayangkan belum banyak pengusaha Indonesia yang menjual produknya ke Maroko maupun sebaliknya.

Industri kerajinan disebutnya sebagai salah satu pasar yang menjanjikan bagi kedua negara karena produk kerajinan kayu dan ukiran sangat terkenal di seluruh dunia, sementara Maroko termahsyur atas kerajinan karpet sulam. “Maroko menjadi negara kehormatan yang menjadi fokus tema dalam penyelenggaraan Inacraft 2019”, ujarnya menunjukkan keseriusan kerja sama kedua negara di sektor industri kerajinan.

Selain Duta Besar Kerajaan Maroko, Duta Besar Republik Arab Mesir, H.E. Ahmed Amr Ahmed Moawad juga berkesempatan memaparkan peluang dan tantangan kerja sama Indonesia – Mesir.

“Saya ingin meningkatkan kerja sama Indonesia dan Mesir dengan mengintensifkan hubungan people to people, yang saat ini dapat dilihat dari tingginya jumlah pelajar Indonesia yang menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo,” kata AHmed.

Duta Besar Ahmed Amr berupaya agar hubungan antara masyarakat Indonesia dan Mesir tidak hanya di sektor pendidikan, tetapi juga perdagangan dan investasi. Indonesia dan Mesir menurutnya memiliki karateristik yang serupa, sama-sama merupakan negara yang secara geografis menjadi penghubung di kawasan. Serta merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di kawasannya masing-masing.

Di sesi akhir, Dr. Siti Muti’ah Setiawati memberikan tanggapannya atas paparan dari masing-masing pembicara. Menurutnya, Pemerintah Indonesia saat ini terjebak dalam posisi yang dilematis sebab Indonesia berupaya menjalin hubungan yang baik dengan seluruh negara-negara Timur Tengah yang saling berkonflik satu sama lain.

Contoh konkret ini adalah ambiguitas posisi Indonesia dalam menentukan sikap terhadap konflik Arab Saudi dengan Yaman. Sebab walaupun Indonesia menjalin kerja sama yang lebih erat dengan Arab Saudi, kebijakan aliansi militer yang digunakan Arab Saudi bertentangan dengan prinsip bebas aktif Indonesia. Begitupun menyikapi naiknya Presiden Abdullah Fatah el Sisi di Mesir yang dianggap tidak demokratis, namun juga tidak dapat mendukung Muhammad Mursi karena latar belakang kelompok Ikhwanul Muslimin yang dianggap radikal.

Namun, satu komitmen Indonesia yang patut diapresiasi adalah mendukung perjuangan kebebasan Palestina dari pendudukan Israel. Komitmen Indonesia ini terus berjalan selama 73 tahun umur Indonesia sebab berkesesuaian dengan prinsip politik luar negeri Bebas Akif Indonesia yang anti terhadap penjajahan, berorientasi pada ketertiban dunia, menghormati hak asasi manusia, serta menghormati kedaulatan dan prinsip menentukan nasib sendiri.| Alifiandi Rahman Yusuf

back to top