Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Melihat penyelamatan paling dramatis dari gempa bumi di Nepal

Melihat penyelamatan paling dramatis dari gempa bumi di Nepal
KoPi | Seorang wartawan foto bernama Narendra Sharestha masih berada di rumahnya ketika ia merasakan getaran gempa 7,8 SR yang melanda bagian Nepal tengah, Sabtu lalu. “Saya pikir saya akan mati,” Sharestha mengungkapkan pada TIME. “Hal itu sangat mengerikan. Bagaimana saya bisa melewatinya? Itu merupakan hari keberuntungan saya.”

Begitu getaran gempa dimulai, putrinya menangis. Dia tidak ingin meninggalkan rumah yang baru dibangun itu. Tapi, Shrestha mengatakan kepada dirinya sendiri, “aku harus mengambil gambar ini. ini adalah tugasku”

Shrestha merupakan fotografer untuk European Pressphoto Agency yang berbasis di Kathmandu. Ia telah bekerja di bidang tersebut selama 17 tahun.

Shrestha terpana oleh kehancuran yang disebabkan gempa itu. “Semua orang terkejut” katanya.

Tidak jauh dari rumahnya di Thamel, sebuah tempat penghubung para wisatawan di Khathmandu, ia datangi sebuah hotel yang dalam tahap pembangunan. Sebuah rumah tua yang terletak di sebelah hotel itu telah runtuh, menjebak sejumlah orang di dalamnya.

Sharestha memperkirakan ada 40 pekerja bangunan yang berusaha mencari para korban yang terperangkap. Tak lama mereka menemukan seorang pria. Tampak jelas ia masih hidup.

“Yang hanya bisa dilihat adalah kepalanya” ujarnya. “Bagian tubuh yang lain terpendam.”

Dengan debu yang masih betebaran di udara dan kesibukan para petugas penyelamat dan para relawan yang berjuang untuk menemukan korban yang masih hidup, Shrestha menangkap beberapa adegan kekacauan sebelum kembali ke kantornya untuk mengirimkan foto-foto.

Shrestha juga mengunjungi ayahnya yang telah melalui banyak gempa bumi. “Dia tidak pernah melihat yang seperti ini,” ujarnya.

Saat malam mulai datang di Kathamandu, orang-orang masih terkejut. “Tidak ada yang tidur di rumah mereka malam itu. Saya sendiri memindahkan keluarga saya keluar. Aku bersyukur keluargaku baik-baik saja,” ungkapnya. | Time.com | Labibah

back to top