Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Malangnya... Operasi ginjal berakhir dengan kehilangan ‘kejantanan’

Malangnya... Operasi ginjal berakhir dengan kehilangan ‘kejantanan’
KoPi | Malang benar nasib mantan tentara ini. Maksud hati ingin sembuh dari penyakit ginjalnya, belakangan ia malah kehilangan ‘kejantanannya’.
 

Costica Maroleanu, pria 55 tahun asal Rumania ini awalnya masuk ke rumah sakit untuk operasi gagal ginjal. Ia kemudian menjalani prosedur operasi tersebut dengan sukses. Sayangnya, perawat yang merawat dirinya setelah operasi bertindak ceroboh. Perawat tersebut salah memasang kateter untuknya, dan efeknya kemaluan Maroleanu terkena infeksi parah. Para dokter tak punya pilihan lain selain mengamputasi kemaluannya.

“Setelah operasi mereka (dokter) memberi tahu saya bahwa ada komplikasi. Tampaknya seorang perawat salah memasang kateter untuk membantu saya kencing, dan kemaluan saya menjadi merah dan terinfeksi,” ungkap Maroleanu.

Maroleanu lantas dibawa ke ICU dan empat hari kemudian ia dibawa ke bagian nephrology. Ia mengatakan para dokter membiarkan ia di sana selama 10 hari, dan baru kemudian dijadwalkan untuk operasi. Lalu Marleanu dipindahkan ke rumah sakit lain untuk menjalani operasi tersebut.

Para dokter di sana menyebutkan bahwa satu-satunya yang dapat mereka lakukan adalah mengamputasi kemaluan Maroleanu. “Kulit luarnya sudah terkelupas dan sebagian besar sel di dalam organnya sudah mati,” kata juru bicara rumah sakit. 

Maroleanu sangat shock dengan operasi tersebut. Para dokter membuatkan saluran kencing di bawah buah zakarnya. Ia merasa hidupnya hancur. “Saya kencing seperti seorang perempuan. Saya hancur,” ujarnya dengan sedih.

Kini Maroleanu meminta ganti rugi kepada rumah sakit yang melakukan operasi ginjal pertama dengan tuduhan malpraktik. “Jika mereka tidak salah memasang kateter, hal ini tidak akan terjadi,” tukasnya.| Daily Mail

back to top