Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Kucing lucu yang jadi Kepala Stasiun meninggal, ribuan orang melayat

Kucing lucu yang jadi Kepala Stasiun meninggal, ribuan orang melayat
KoPi | Ribuan orang menghadiri pemakaman kepala stasiun paling populer seantero Jepang: Tama si kucing. Kucing ini telah menjadi kepala stasiun di sebuah jalur kereta api di kawasan pedesaan di Jepang.
 

Tama dipuji sebagai kucing yang berhasil menyelamatkan stasiun Kishi, jalur kereta api Wakayama, yang hampir bangkrut. Ia memulai 'karir'nya sebagai kepala stasiun pada tahun 2007. Kala itu Tama merupakan kucing liar yang sering berkeliaran di sekitar stasiun Kishi.

Wakayama Electric Railway, perusahaan yang mengoperasikan kereta di Stasiun Kishi, sudah hampir bangkrut dan telah merumahkan semua stafnya. Presiden Wakayama Electric Railway, Kojima Mitsunobu, menunjuk Tama sebagai kepala stasiun sebagai alasan agar kucing tersebut bisa tetap berkeliaran di stasiun.

"Tapi dia benar-benar mengerjakan tugasnya," ujar Kojima.

Tama yang didandani pakaian kepala stasiun, lengkap dengan topi dan jubahnya, setiap hari duduk di pintu masuk tiket untuk 'menyapa' pengunjung. Dalam waktu singkat ia menarik perhatian turis dan pengunjung dari seantero Jepang serta seluruh dunia. Para turis memenuhi stasiun untuk melihat Tama bekerja.

Kojima mengatakan popularitas Tama berhasil menyelamatkan perusahaan kereta api tersebut dari kebangkrutan. Tama berhasil mengumpulkan dana kurang lebih 1,1 milyar Yen untuk ekonomi lokal.

"Tama-chan benar-benar penyelamat. Benar-benar sebuah kehormatan untuk bisa bekerja bersamanya," ungkap Kojima dalam pidato pemakaman.

Tama meninggal pada tanggal 22 Juni lalu di usia 16 tahun (setara usia 80 tahun untuk manusia). Pada hari Minggu, sekitar 3000 orang menghadiri pemakamannya yang diadakan Stasiun Kishi. Mereka membawa bunga dan ikan tuna kaleng untuk penghormatan pada sang kepala stasiun.

Tama dimakamkan dalam upacara Shinto dan diangkat menjadi dewi. Penganut Shinto menghormati banyak dewa dan dewi, termasuk roh hewan.

Selama hidupnya, Tama dipromosikan dari Kepala Stasiun menjadi 'Kepala Stasiun Ultra', lalu diangkat menjadi Wakil Presiden perusahaan kereta api Wakayama. Pada pemakamannya, ia dianugerahi gelar baru: Kepala Stasiun Kehormatan Abadi. Sebagai pengganti Tama, seekor kucing lain bernama Nitama (Tama II) telah ditunjuk sebagai Kepala Stasiun. | The Huffington Post

 

back to top