Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Kontroversi sistem isolasi tentara dan petugas kesehatan Ebola yang pulang ke negara asal

Kontroversi sistem isolasi tentara dan petugas kesehatan Ebola yang pulang ke negara asal

Afrika Barat-KoPi- Militer AS telah mulai mengisolasi tentara yang akan kembali dari misi respon Ebola di Afrika Barat. Australia menjadi negara kaya pertama yang memberlakukan larangan visa pada negara-negara yang terkena dampak di tengah kecemasan global mengenai penyebaran virus. 

Langkah-langkah terbaru bersamaan dengan keputusan beberapa negara bagian AS yang memaksakan karantina wajib pada petugas kesehatan telah dikutuk oleh otoritas kesehatan dan PBB sebagai tindakan ekstrim. 

Pejabat kesehatan tertinggi yang bertanggung jawab menangani respon Washington untuk Ebola memperingatkan bahwa dokter dan perawat yang melakukan perjalanan ke Afrika Barat untuk mengatasi Ebola bisa menjadi "paria" atau penyebar virus setelah terinfeksi.

Wabah mematikan Ebola diklaim telah menewaskan hampir 5.000 orang sejak Maret yang sebagian besar terjadi di Afrika Barat, tetapi sembilan kasus Ebola di Amerika Serikat telah menyebabkan alarm bahaya penyebaran virus bunyi. Sedangkan negara-negara seperti New York dan New Jersey lebih dulu mengabaikan nasihat federal dengan memperkenalkan kontrol ketat mereka sendiri. 

Pada hari Senin PBB mengkritik tajam pembatasan baru yang diberlakukan oleh beberapa negara bagian AS pada petugas kesehatan dan tentara yang kembali pulang dari negara-negara epicentrum Ebola seperti: Liberia, Guinea, dan Sierra Leone. 

"Perlu kita ketahui, tentara yang dikirim ke Afrika Barat dan petugas kesehatan adalah orang-orang luar biasa yang memberanikan diri untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban Ebola," kata juru bicara Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon.

Stephane Dujarric juga mengatakan, "Mereka tidak harus dikenakan pembatasan yang berlebihan. Mereka yang terinfeksi harus didukung dan diobati, bukan malah dikucilkan." 

Tentara Amerika yang kembali dari Afrika Barat tetap diisolasi, meskipun mereka tidak menunjukkan gejala infeksi dan tidak diyakini terkena virus mematikan, kata para pejabat. 

Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Darat yang diwakili oleh Kepala Staf Umum Raymond Odierno memerintahkan untuk melakukan pemantauan selama 21 hari untuk prajurit yang kembali dari Afrika Barat. 

Tujuannya untuk memastikan tentara terbebas dari virus dan anggota keluarga serta masyarakat sekitar yakin bahwa semua langkah yang dilakukan semata-mata untuk melindungi kesehatan semua orang agar tidak tertular Ebola.

Irfan Ridlowi

Sumber: reuters.com

 

back to top