Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Kematian akibat malaria tergantung dimana ia hidup

Kematian akibat malaria tergantung dimana ia hidup

Sydney-KoPi, Para peneliti menemukan bahwa orang memiliki sistem pertahanan yang berbeda dalam melawan malaria tergantung di mana mereka hidup, berdasarkan penelitian baru yang ditemukan.

Penelitian, yang mengikutsertakan hampir 1000 orang, yang dilaksanakan lebih dari 10 tahun, di 11 negara, telah melihat mutasi khusus dalam gen yang menghasilkan sistem pertahanan terhadap malaria.

Malaria yang, tersebar di penjuru dunia, membunuh setidaknya antara 300,000 dan 500,000 orang secara global per tahunnya.

Kepala Laboratorium Walter and Eliza Hall Institute di Melbourne, Dr Ivo Mueller mengatakan bahwa Afrika adalah pusatnya malaria, termasuk juga beberapa bagian di Papua New Guinea dan Indonesia.

Mueller mengatakan bahwa penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada mutasi gen yang bisa melindungi orang-orang dari penyakit malaria di beberapa negara, namun tidak ditemukan di populasi Afrika.

Muller mengatakan bahwa Afrika masuk dalam zona bahaya malaria karena penyebarannya sangat cepat, hingga 80%, dan karena layanan kesehatan yang masih buruk juga.

Dia mengatakan, lebih baik peneliti mengerti interaksi genome antara parasit dan penghuninya, semakin baik mereka mengerti penyakit tersebut, maka nanti pengobatannya dan vaksinnya akan juga lebih baik.


(Fahrurrazi)
Sumber: Xinhua News

back to top