Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Kematian akibat malaria tergantung dimana ia hidup

Kematian akibat malaria tergantung dimana ia hidup

Sydney-KoPi, Para peneliti menemukan bahwa orang memiliki sistem pertahanan yang berbeda dalam melawan malaria tergantung di mana mereka hidup, berdasarkan penelitian baru yang ditemukan.

Penelitian, yang mengikutsertakan hampir 1000 orang, yang dilaksanakan lebih dari 10 tahun, di 11 negara, telah melihat mutasi khusus dalam gen yang menghasilkan sistem pertahanan terhadap malaria.

Malaria yang, tersebar di penjuru dunia, membunuh setidaknya antara 300,000 dan 500,000 orang secara global per tahunnya.

Kepala Laboratorium Walter and Eliza Hall Institute di Melbourne, Dr Ivo Mueller mengatakan bahwa Afrika adalah pusatnya malaria, termasuk juga beberapa bagian di Papua New Guinea dan Indonesia.

Mueller mengatakan bahwa penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada mutasi gen yang bisa melindungi orang-orang dari penyakit malaria di beberapa negara, namun tidak ditemukan di populasi Afrika.

Muller mengatakan bahwa Afrika masuk dalam zona bahaya malaria karena penyebarannya sangat cepat, hingga 80%, dan karena layanan kesehatan yang masih buruk juga.

Dia mengatakan, lebih baik peneliti mengerti interaksi genome antara parasit dan penghuninya, semakin baik mereka mengerti penyakit tersebut, maka nanti pengobatannya dan vaksinnya akan juga lebih baik.


(Fahrurrazi)
Sumber: Xinhua News

back to top