Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Kematian akibat malaria tergantung dimana ia hidup

Kematian akibat malaria tergantung dimana ia hidup

Sydney-KoPi, Para peneliti menemukan bahwa orang memiliki sistem pertahanan yang berbeda dalam melawan malaria tergantung di mana mereka hidup, berdasarkan penelitian baru yang ditemukan.

Penelitian, yang mengikutsertakan hampir 1000 orang, yang dilaksanakan lebih dari 10 tahun, di 11 negara, telah melihat mutasi khusus dalam gen yang menghasilkan sistem pertahanan terhadap malaria.

Malaria yang, tersebar di penjuru dunia, membunuh setidaknya antara 300,000 dan 500,000 orang secara global per tahunnya.

Kepala Laboratorium Walter and Eliza Hall Institute di Melbourne, Dr Ivo Mueller mengatakan bahwa Afrika adalah pusatnya malaria, termasuk juga beberapa bagian di Papua New Guinea dan Indonesia.

Mueller mengatakan bahwa penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada mutasi gen yang bisa melindungi orang-orang dari penyakit malaria di beberapa negara, namun tidak ditemukan di populasi Afrika.

Muller mengatakan bahwa Afrika masuk dalam zona bahaya malaria karena penyebarannya sangat cepat, hingga 80%, dan karena layanan kesehatan yang masih buruk juga.

Dia mengatakan, lebih baik peneliti mengerti interaksi genome antara parasit dan penghuninya, semakin baik mereka mengerti penyakit tersebut, maka nanti pengobatannya dan vaksinnya akan juga lebih baik.


(Fahrurrazi)
Sumber: Xinhua News

back to top