Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Israel bunuh satu tentaranya, sebagai alasan memusnahkan Palestina

Israel bunuh satu tentaranya, sebagai alasan memusnahkan Palestina

KoPi| Sepuluh orang tewas ketika Israel menyerang sekolah PBB di Rafah, Gaza selatan, pada tanggal 3 Agustus tahun lalu. Israel menggunakan "hilangnya" seorang prajurit di Gaza sebagai dalih untuk membunuh 225 warga Palestina selama tiga hari musim panas lalu, sebuah riset baru menyebutkan.

Pada tanggal 1 Agustus tahun lalu, militer Israel melaporkan bahwa salah satu letnan-nya, Hadar Goldin, telah hilang di daerah Rafah, dekat dengan perbatasan Gaza dengan Mesir. Tanggapan Israel kemudian adalah  "menembak apa pun dan siapa pun," menurut sebuah analisis yang dipublikasikan minggu ini oleh kelompok hak asasi manusia Palestina, Al-Haq.

Rafah diserang dari darat, laut dan udara. Sebagian besar dari 225 warga Palestina yang tewas dibunuh pada hari pertama. Pada 3 Agustus, total 2.579 rumah di Rafah telah dihancurkan sepenuhnya atau sebagian.

Israel dilaporkan dijuluki "Hannibal direktif" setelah mengetahui bahwa Goldin hilang. Ini adalah prosedur dari strategi yang memungkinkan militer membunuh satu tentaranya sendiri untuk mencegah ditangkap oleh pejuang dan dibuat  alasan untuk menyerang . Serangan di Rafah terjadi pada saat gencatan senjata sementara -yang seharusnya berada di tempat. Lebih dari 2.200 warga Palestina tewas dalam serangan 51 hari Israel di Gaza pada bulan Juli dan Agustus tahun lalu.

Studi Al-Haq menunjukkan bahwa warga sipil menanggung beban penderitaan selama serangan. Lebih dari 43.500 keluarga yang terkena dampak kehancuran rumahnya. Sekitar 125.000 anak-anak tinggal di rumah-rumah.

Masjid menjadi target

Hal ini juga menunjukkan bahwa Israel sengaja menargetkan rumah sakit dan tempat-tempat ibadah. Sebanyak 61 masjid hancur dan 121 rusak sebagian, Al-haq mengatakan. Tujuh fasilitas kesehatan hancur total dan 27 hancur sebagian.

Tujuh sekolah juga hancur dan 57 mengalami kerusakan serius. Laporan jug itu menyatakan bahwa fasilitas untuk anak-anak usia pra-sekolah diserang juga. Fasilitas tersebut, delapan hancur sepenuhnya dan 44 sebagian. Sebanyak 556 anak-anak Palestina tewas selama 51 hari. Al-Haq menuduh Israel melakukan taktik "Pecah dan Taklukkan".

Sebelumnya pada 2014, Hamas, memerintah Gaza, dan Fatah, yang menguasai Pemerintah Palestina di Tepi Barat yang diduduki, dan kemudian sepakat membentuk "pemerintahan bersama'. Setelah terjadi kesepakatan itu, Israel melancarkan operasi militer di Tepi Barat dan Gaza.

Serangan yang menghancurkan tanpa pandang bulu itu dipandang sebagai upaya hukuman dan dimotivasi oleh rekonsiliasi Palestina, kata Al-Haq. Tujuannya adalah menaklukkan dua wilayah itu.

Al-Haq menolak jaminan Israel yang berusaha menghindarkan warga sipil dengan memberikan pemberitahuan ketika ada pemboman selanjutnya. Mungkin metode yang paling dikenal adalah memberikan peringatan yag disebut sebagai "mengetuk atap." Ini ditandai dengan satu pengeboman satu rumah sebagai tanda sebelum kemudian disusul pengeboman yang lebih mematikan.

Peringatan lima menit

Menurut Al-Haq, semua pengeboman rumah sama hal-nya serangan terhadap kehidupan dan infrastruktur sipil. "Peringatan" tersebut juga tidak membebaskan Israel dari tanggung jawabnya di bawah hukum internasional. Warga sipil tidak diwajibkan untuk meninggalkan rumah mereka setelah peringatan diterima. Dan "mengetuk atap" menunjukkan belas kasihan terhadap kelompok rentan seperti orang tua, anak-anak atau orang-orang cacat.

Faktanya, dalam beberapa kasus, ada jarak yang sangat singkat antara yang disebut peringatan "mengetuk atap" dan serangan yang lebih besar. Dalam peristiwa satu bom seperti di daerah Khan Younis, jarak itu hanya lima menit. Seorang wanita hamil dan anak perempuannya berusia satu tahun tewas dalam insiden itu.

Israel mengklaim bahwa tujuan pengiriman pasukan darat ke Gaza adalah untuk menghancurkan terowongan bawah tanah yang digunakan oleh pejuang Palestina. Al-Haq berpendapat bahwa tidak mungkin keberadaan terowongan tersebut akan diberikan Israel  "sebagai alasan utama" untuk mencabut ratusan ribu orang.

Dengan hanya sepuluh terowongan yang dilaporkan telah ditemukan pada 20 Juli 2014, adalah tidak rasional dan proposional jika harus mengerahkan militer dan memusnakan masyarkat sipil, kata Al-haq. Itu bisa dipahami sebagai bentuk hukuman kolektif yang dilarang dalam hukum internasional.

Studi baru itu memberikan bukti kuat bahwa Israel melakukan kejahatan kemanusiaan selama musim panas lalu. Mudah-mudahan, itu akan meningkatkan upaya untuk membawa Israel kepada Mahkamah Pidana Internasional.

back to top