Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

ISIS mulai terpecah?

ISIS mulai terpecah?
KoPi| Meskipun terlihat solid dan menguasai berbagai daerah di Suriah dan Iraq, ISIS dinilai tidak sekuat yang digambarkan. Ada laporan bahwa ISIS sebenarnya sudah mulai mengalami perpecahan dari dalam. Ketidakpuasan, pembelotan, dan kondisi di medan pertempuran diduga telah mengurangi kekuatan tempur ISIS.
 

Berbagai laporan menunjukkan ISIS mengalami kesulitan dalam menjaga citra mereka sebagai pejuang menakutkan dan pemersatu Islam. Laporan tersebut dikumpulkan dari aktivis dan penduduk di daerah yang dikuasai ISIS. 

Laporan tersebut menyebutkan diam-diam ada ketegangan di antara pejuang lokal dan asing di dalam ISIS. Selain itu, ISIS juga semakin sering gagal merekrut anggota untuk bertempur di garis depan karena cara mereka yang agresif. Berbagai serangan gerilya yang diarahkan pada mereka juga membuat ISIS kewalahan.

Meski demikian, analis menilai laporan tersebut tidak menunjukkan ISIS mengalami kesulitan yang berarti dalam mempertahankan wilayah mereka. Kondisi pertempuran yang tidak menguntungkan ISIS lebih banyak terjadi di pinggiran teritori mereka. Tidak terlihat juga perlawanan yang terorganisasi dari penduduk yang mampu menggoyang mereka, karena warga takut pejuang ISIS akan membalas dengan kejam.

Tantangan terbesar justru berasal dari dalam ISIS sendiri. Janji mereka untuk mendirikan kekhalifahan terbentur dengan keadaan, demikian analisis dari Lina Khatib, Direktur Carnegie Middle East Center di Beirut.

“Kami melihat ada kegagalan dari ideologi ISIS, yang menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang di bawah satu kekhalifahan. Ideologi tersebut tidak berhasil. Hal itu membuat mereka kurang efektif dalam mengatur pemerintahan dan operasi militer,” jelasnya.

Khatib melihat mulai terjadi banyak gesekan antara pejuang ISIS dari luar negeri dengan pejuang lokal. Para pejuang asing tersebut mendapat gaji lebih tinggi dan kondisi hidup yang lebih baik dibanding pejuang lokal.

Sebuah sumber menuturkan pejuang asing diperbolehkan tinggal di kota-kota, tempat di mana bombardir pasukan koalisi jarang terjadi. Namun pejuang dari Suriah ditempatkan di pos-pos di pedesaan yang lebih rentan diserang.

Akibatnya terjadi beberapa peristiwa saling tembak menembak antara anggota ISIS sendiri. Sumber tersebut menyebutkan seminggu lalu pejuang asing terlibat kontak senjata dengan rekan mereka sendiri yang berasal Suriah. Sebelumnya juga terjadi kontak senjata antara pejuang asing dari Chechen yang ingin kembali ke Suriah, dengan pejuang lokal asal Iraq yang merasa diabaikan.

Selain perpecahan, keraguan juga timbul di antara pejuang asing. Beberapa pejuang asing dilaporkan meminta bantuan warga lokal untuk melarikan diri ke perbatasan Turki. Akibatnya ISIS memperketat larangan perjalanan dari dan ke luar wilayah mereka.

Eksekusi di depan umum yang menjadi ciri khas mereka kini lebih banyak dilakukan pada anggota mereka sendiri. Beberapa minggu ini ISIS mengeksekusi 120 orang yang diketahui merupakan anggota mereka. Mereka dihukum mati karena dituduh menjadi mata-mata dan merorok, namun timbul kecurigaan bahwa mereka dieksekusi karena mencoba melarikan diri. Aktivis dari Kota Raqqa bulan lalu juga menemukan mayat 30 hingga 40 orang Asia. Mereka diduga sebagai pejuang yang berusaha kabur namun tertangkap.|The Washington Post

back to top