Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Ini cara ISIS mencuci otak anak-anak

Ini cara ISIS mencuci otak anak-anak
KoPi| Video eksekusi ISIS terbaru menampilkan seorang anak dalam seragam militer ISIS yang ikut dalam proses eksekusi. Video tersebut menggambarkan bagaimana ISIS menggunakan segala cara untuk kampanye, termasuk menggunakan anak-anak yang telah dicuci otaknya. Bagaimana cara ISIS mencuci otak anak-anak tersebut?
Banyak yang tidak tahu bahwa ISIS tidak menggunakan kekuatan militer ketika pertama kali merebut kota-kota di Suriah. Mereka memulainya dengan menguasai sekolah-sekolah dan panti asuhan.

ISIS mengirimkan utusan ke sekolah-sekolah di Aleppo, Suriah, lalu menggunakan uang dan argumen untuk membujuk staf sekolah agar mengajarkan ajaran Islam garis keras. Ini adalah upaya mereka membangun negara.

Di saat yang sama, mereka juga membangun panti asuhan-panti asuhan di berbagai kota di Suriah. Sejak perang saudara melanda Suriah, negara tersebut dipenuhi anak yatim piatu korban perang. Orang-orang dewasa tak sanggup memberi makan atau memberi perlindungan pada mereka. Maka, ketika ISIS menawarkan pembangunan panti asuhan, tak ada yang menolak mereka.

Namun ISIS tak membangun panti asuhan dengan alasan kemanusiaan. Mereka melihat para anak yatim piatu sebagai generasi baru tentara mereka. Anak-anak yatim piatu tersebut dididik dengan indoktrinasi dan propaganda.

Salah seorang pemberontak Suriah yang diwawancara Daily Mail menyebutkan, ia telah lama melihat upaya ISIS mengkoloni sekolah-sekolah. "Masyarakat Suriah telah menciptakan ekstrimis jenis baru, yang tak dapat diprediksi. Jadi ketika mereka pergi ke Eropa dan Amerika untuk meledakkan diri, jangan tanya kenapa," ungkapnya.

Beberapa sekolah berfungsi ganda sebagai kamp militer. Tidak sulit membuat anak-anak tertarik dengan senjata, dan guru-guru mereka memanfaatkan fakta tersebut. Guru-guru mereka juga mengajarkan disiplin militer yang keras serta membuat menempatkan mereka dalam hierarki militer. Anak-anak yang berhasil melarikan diri dari kamp militer semacam itu menceritakan, guru-guru mereka bukan orang Suriah dan bisa bertindak brutal. 

ISIS selalu mengatakan mereka tidak akan mengirimkan anak-anak ke garis depan dan mereka hanya dijadikan penjaga pos. Namun sejak ISIS mengalami kekalahan, anak-anak tersebut juga dikirimkan ke berbagai operasi militer. Pemberontak Suriah menyebutkan, mereka sering menemukan mayat anak-anak di medan perang. Selain itu ada juga laporan mengenai anak-anak usia 12 tahun yang dijadikan pengebom bunuh diri.

Laporan intelijen menyebutkan, anak kecil yang tampil dalam video eksekusi terbaru ISIS adalah Isa Dare, warga negara Inggris berusia 4 tahun. Ia dibawa ke Suriah 3 tahun lalu oleh ibunya, Grace Khadija Dare. |Daily Mail|

back to top