Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Derita anak-anak Suriah selama perang 5 tahun

Derita anak-anak Suriah selama perang 5 tahun
KoPi | Hari Minggu (15/3) lalu menandai lima tahun berlangsungnya perang sipil di Suriah. Memperingati hal tersebut, UNICEF merilis data mengenai dampak perang yang terus berkepanjangan antara rezim Bashar Al-Assad dengan berbagai kelompok oposisi. Perang telah merenggut hak pendidikan, nutrisi, tempat tinggal, dan harapan akan masa depan dari rakyat Suriah.
 

“Bagi anak-anak, krisis ini menjadi satu-satunya hal yang mereka ketahui. Bagi para remaja, kekerasan dan penderitaan tidak hanya menodai masa lalu mereka, tetapi juga membentuk masa depan mereka,” ujar Anthony Lake, Direktur Eksekutif UNICEF. Lake mengatakan, generasi muda Suriah masih berada dalam bahaya karena dapat tersesat dalam lingkaran kekerasan.

Sejak awal konflik Suriah hingga sekarang, 55 pekerja kemanusiaan telah tewas. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan di Afghanistan. Para pekerja sosial juga sering mendapat hambatan birokrasi dan ancaman dari milisi. Para pengungsi dan warga Suriah dilaporkan mengalami kekurangan nutrisi karena blokade dari berbagai kelompok bersenjata.

Para dokter juga mengkhawatirkan berbagai penyakit yang timbul akibat tertundanya vaksinasi. Salah satunya adalah polio, yang sebelumnya berhasil diberantas oleh pemerintah Suriah. Tahun 2013 lalu, UNICEF mendapat laporan mengenai kembali munculnya penyakit polio karena tidak mendapat vaksinasi. Setidaknya ada 800 ribu anak-anak Suriah yang tidak memperoleh akses vaksinasi polio.

UNICEF juga menyebutkan lebih dari 2 juta anak yang berada di Suriah tidak lagi bersekolah. Selain itu, 600 ribu anak yang berada di pengungsian juga tidak mendapat akses pendidikan. Selain karena kekurangan guru dan buku pelajaran, sekolah sudah bukan lagi tempat yang aman. Berdasar data UNICEF, tahun lalu ada 160 anak yang tewas ketika berada di sekolah.

Saat ini berbagai badan PBB, NGO, konglomerasi, dan pemerintahan dunia bahu membahu memberi bantuan untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut. Misalnya, World Food Programme yang bekerjasama dengan 24 partner lokal membuka dapur umum untuk memberi makan 3 juta warga Suriah. Malala Fund, sebuah badan yang didirikan oleh peraih Nobel Malala Yousafzai memberikan pendidikan bagi anak perempuan Suriah yang mengungsi di Lebanon dan Yordania.|UNICEF, Huffington Post, Reuters

back to top