Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Demi gigi, penduduk Solomon membunuh lebih dari 1,600 lumba-lumba

Demi gigi, penduduk Solomon membunuh lebih dari 1,600 lumba-lumba

KoPi|Warga dari sebuah desa kecil bernama Fanalei di Kepulauan Solomon membunuh lebih dari 1,600 lumba-lumba pada tahun 2013 untuk diambil giginya, sebagai mata uang lokal dan perhiasan.

Sejak tahun 1976-2013 telah lebih dari 15,400 lumba-lumba yang dibunuh, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Royal Society Open Science.

Alih-alih menghentikan praktik pembunuhan, kini mata uang lokal penduduk setempat atas gigi lumba-lumba telah naik.
Kepulauan Solomon, tepatnya pulau Malaita dimana Fanalei berada, mempunyai sejarah panjang atas perburuan lumba-lumba.

Di Kepulauan Solomon sendiri, gigi lumba-lumba digunakan sebagai alat tukar, juga sebagai hadiah pengantin dan sebagai perhiasan. Mereka juga dijual untuk mendapatkan uang.

Kemudian dagingnya dikonsumsi di pondok berburu atau dijual ke pulau lain.

Keadaan ini dikhawatirkan akan mengurangi populasi lumba-lumba secara drastis. Padahal lumba-lumba bukanlah hewan yang berbahaya. |theguardian|Roihatul Firdaus|

back to top