Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Demi gigi, penduduk Solomon membunuh lebih dari 1,600 lumba-lumba

Demi gigi, penduduk Solomon membunuh lebih dari 1,600 lumba-lumba

KoPi|Warga dari sebuah desa kecil bernama Fanalei di Kepulauan Solomon membunuh lebih dari 1,600 lumba-lumba pada tahun 2013 untuk diambil giginya, sebagai mata uang lokal dan perhiasan.

Sejak tahun 1976-2013 telah lebih dari 15,400 lumba-lumba yang dibunuh, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Royal Society Open Science.

Alih-alih menghentikan praktik pembunuhan, kini mata uang lokal penduduk setempat atas gigi lumba-lumba telah naik.
Kepulauan Solomon, tepatnya pulau Malaita dimana Fanalei berada, mempunyai sejarah panjang atas perburuan lumba-lumba.

Di Kepulauan Solomon sendiri, gigi lumba-lumba digunakan sebagai alat tukar, juga sebagai hadiah pengantin dan sebagai perhiasan. Mereka juga dijual untuk mendapatkan uang.

Kemudian dagingnya dikonsumsi di pondok berburu atau dijual ke pulau lain.

Keadaan ini dikhawatirkan akan mengurangi populasi lumba-lumba secara drastis. Padahal lumba-lumba bukanlah hewan yang berbahaya. |theguardian|Roihatul Firdaus|

back to top