Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Demi gigi, penduduk Solomon membunuh lebih dari 1,600 lumba-lumba

Demi gigi, penduduk Solomon membunuh lebih dari 1,600 lumba-lumba

KoPi|Warga dari sebuah desa kecil bernama Fanalei di Kepulauan Solomon membunuh lebih dari 1,600 lumba-lumba pada tahun 2013 untuk diambil giginya, sebagai mata uang lokal dan perhiasan.

Sejak tahun 1976-2013 telah lebih dari 15,400 lumba-lumba yang dibunuh, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Royal Society Open Science.

Alih-alih menghentikan praktik pembunuhan, kini mata uang lokal penduduk setempat atas gigi lumba-lumba telah naik.
Kepulauan Solomon, tepatnya pulau Malaita dimana Fanalei berada, mempunyai sejarah panjang atas perburuan lumba-lumba.

Di Kepulauan Solomon sendiri, gigi lumba-lumba digunakan sebagai alat tukar, juga sebagai hadiah pengantin dan sebagai perhiasan. Mereka juga dijual untuk mendapatkan uang.

Kemudian dagingnya dikonsumsi di pondok berburu atau dijual ke pulau lain.

Keadaan ini dikhawatirkan akan mengurangi populasi lumba-lumba secara drastis. Padahal lumba-lumba bukanlah hewan yang berbahaya. |theguardian|Roihatul Firdaus|

back to top