Menu
Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Australia 1972 cacat hukum

Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Austr…

Kupang-KoPi| Penulis Bu...

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tidur untuk pertanian

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tid…

Akademi Militer - Gubernu...

Gus Ipul berharap semua terbiasa baca shalawat

Gus Ipul berharap semua terbiasa ba…

  Surabaya-KoPi| Wa...

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Sleman-KoPi| Universita...

Teliti isu multikultur dalam film Indonesia

Teliti isu multikultur dalam film I…

Bantul-KoPi| Sejarah pe...

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Sektor UMKM

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Se…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan kedaulatan Laut Timor

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan k…

Kupang-KoPi|Pembela nel...

Kapolda DIY segera lakukan operasi pasar kontrol harga beras

Kapolda DIY segera lakukan operasi …

Sleman-KoPi|Kepala Pold...

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY digeser

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY d…

Sleman-KoPi|Polda DIY m...

Pengedar Sabu di Sleman berhasil ditangkap jajaran Polres Sleman

Pengedar Sabu di Sleman berhasil di…

Sleman-KoPi| Satuan res...

Prev Next

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald Trump sebagai orang gila

syafii

Sleman-KoPi| Buya Ahmad Syafii Maarif menyampaikan kekecewaannya pada Amerika Serikat yang rakyatnya memilih Donald Trump. Ia pun menyebut Donald Trump sebagai orang yang gila.

"Ini yang saya agak gagal pahami ,sebuah negara yang mereka (Amerika) menyebutnya sebagai benteng demokrasi, bisa menghasilkan orang segila Trump,"ujarnya saat dijumpai di Rektorat UNY, ditulis pada Kamis (14/12).

Ahmad Syafii atau yang sering lebih dikenal sebagai Buya Syafii juga menyebutkan sosok Trump tidak jauh berbeda dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

"Trump ini bukan orang yang normal, beda sedikit sama Kim Jong Un, "tambahnya.

Buya Syafii juga menimpali bahwa Negara berdemokrasi besar dan hebat seperti Amerika belum tentu selalu menghasilkan orang hebat dan beradab. Pasalnya, ia merasa Donald Trump ini bukanlah orang hebat nan beradab.

Lebih lanjut, Syafii juga menjelaskan bahwa masalah Jerusalem ini bukan hanya masalah umat Islam saja,namun juga seluruh umat. Ia pun memuji Eropa yang sejak dulu sejak dulu mempertahankan Jerusalem sebagai bagian dari Palestina bukan Israel.

"Eropa sudah bagus sikapnya, mereka bertahan lama untuk tidak memindahkan Ibukota Israel ke Jerusalem. Kalau tetap konsistens itu bagus karena akan menjadi pukulan bagi Trump,"jelasnya.

Sementara itu Kepala Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) UGM, Pakar kawasan Amerika Serikat, Dr. Nur Rachmat Yuliantoro berpendapat bahwa pribadi Trump ini menunjukkan bentuk Manly Politic pada fenomena ini. Bentuk Manly Politic ini lebih menunjukkan karakter kepemimpinan penuh kekuasaan dan penuh kepercayaan diri.

"Trump ini memahami diri pribadinya sebagai representasi manly politic. Dunia politik yang diciptakannya penuh kekuasaan dan kepercayaan diri yang tinggi, walaupun kadangkala memunculkan kontroversi,"ungkapnya saat di temui di UGM.

Bentuk kebijakan penuh kontroversi yang dikeluarkan Trump ini seperti Amerika yang keluar dari organisasi UNESCO, membuat Tembok pembatas antara Meksiko dan Amerika, dan menghentikan kebijakan Obama Health Care.

"Secara kapasitas personil,trump mencirikan politic yang tinggi, dan ini dikeluarkan pada setiap kebijakan pada kepemimpinannya," tuturnya.

Tak hanya itu ,pada kebijakan luar negeri, Nur Rachmat juga menimpali bahwa seringkali hubungan antara Presiden AS dengan Menteri luar negerinya (Menlu), Rex Tillerson sering kali tak akur. Sebelum pernyataan Trump pada Kota Jerusalem, sang Menlu sudah menyarankan ke Trump agar tak mengumumkan secara terburu-buru.

"Antara Rex Tillerson dengan Trump memang sedang tidak akur. Sang menteri luar negeri juga mengalami bentrokan dengan sang Presiden Pada saat pengumuman Ibukota Jerusalem, Menlu pun sudah menyarankan agar tidak diumumkan dulu,"timpalnya.

Sebagai bentuk dukungan masyarakat Indonesaia membantu Palestina ,Kepala DIHI ini juga menyarankan kepada masyarakat untuk mendorong pemerintah untuk meninjau kembali bahwa Jerusalem agar tak ditetapkam sebagai ibukota Israel.

Sementara itu, Buya Syafii lebih mengajak kepada masyarakat Indonesia agar berdoa bersama untuk memberikan bantuan secara spiritual kepada masyarakat Palestina. Hal ini karena, Indonesia juga disulitkan posisinya yang bukan bagian dari dewan Keamanan PBB

"Lebih baik kita berdoa, sementara hubungan diplomatik jangan dulu. Karena kemarin juga Jokowi sudah bergerak. Ini karena kita bukan bagian dari dewan keamanan PBB," pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top