Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Beginilah kedamaian Idul Fitri di Cina

Beginilah kedamaian Idul Fitri di Cina

Cina-KoPiІ Muslim di penjuru dunia tentu memiliki pengalaman berkesan setelah melewati Ramadhan. Untuk negara Malaysia atau Indonesia yang notabene mayoritas Islam nuansa Ramadhan begitu kental dengan atribut Ramadhan.

Lalu, bagaimana nuansa Ramadhan di Negara lain, sebuah cerita menarik dikisahkan oleh Dr Imran Nawab. Seorang dokter yang tengah menimba ilmu di Universitas Zhengzhou, Zhengzhou,China.

Menurut Dr Imran Nawab yang tengah belajar kedokteran dan bedah 2008-2013 dalam program gelar sarjana mengatakan ia menghabiskan Ramadhan empat kali di Cina dan memiliki pengalaman yang sangat baik selama tinggal di sana.

"Sebelum Ramadhan pertama saya di Cina, saya sudah berpikir dan khawatir puasa saya akan banyak kendala. Namun tidak seperti itu, saya merasa lega ketika melihat hiruk-pikuk di restoran Muslim dan juga di masjid. Saya tidak terlalu kesulitan mencari makanan untuk sahur,” kata Nawab.

Dia menambahkan staf restoran Muslim memberikan beberapa makanan gratis. “Saya terkesan mereka benar-benar peduli dengan saudara muslim jauhnya, seperti saya.”

Begitupun saat lebaran masjid besar Cina penuh sesak oleh Islam lokal maupun pendatang. Meskipun Islam monoritas di negeri tirai bamboo namun tampak masyarakat muslim Cina hidup damai di sana.

"Saya melihat bahwa umat Islam di Cina bebas untuk mengikuti agama mereka dan melakukan ibadahnya," kesimpulan Nawab. Іxinhuanet.com ІWinda Efanur FSІ

back to top