Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Beginilah kedamaian Idul Fitri di Cina

Beginilah kedamaian Idul Fitri di Cina

Cina-KoPiІ Muslim di penjuru dunia tentu memiliki pengalaman berkesan setelah melewati Ramadhan. Untuk negara Malaysia atau Indonesia yang notabene mayoritas Islam nuansa Ramadhan begitu kental dengan atribut Ramadhan.

Lalu, bagaimana nuansa Ramadhan di Negara lain, sebuah cerita menarik dikisahkan oleh Dr Imran Nawab. Seorang dokter yang tengah menimba ilmu di Universitas Zhengzhou, Zhengzhou,China.

Menurut Dr Imran Nawab yang tengah belajar kedokteran dan bedah 2008-2013 dalam program gelar sarjana mengatakan ia menghabiskan Ramadhan empat kali di Cina dan memiliki pengalaman yang sangat baik selama tinggal di sana.

"Sebelum Ramadhan pertama saya di Cina, saya sudah berpikir dan khawatir puasa saya akan banyak kendala. Namun tidak seperti itu, saya merasa lega ketika melihat hiruk-pikuk di restoran Muslim dan juga di masjid. Saya tidak terlalu kesulitan mencari makanan untuk sahur,” kata Nawab.

Dia menambahkan staf restoran Muslim memberikan beberapa makanan gratis. “Saya terkesan mereka benar-benar peduli dengan saudara muslim jauhnya, seperti saya.”

Begitupun saat lebaran masjid besar Cina penuh sesak oleh Islam lokal maupun pendatang. Meskipun Islam monoritas di negeri tirai bamboo namun tampak masyarakat muslim Cina hidup damai di sana.

"Saya melihat bahwa umat Islam di Cina bebas untuk mengikuti agama mereka dan melakukan ibadahnya," kesimpulan Nawab. Іxinhuanet.com ІWinda Efanur FSІ

back to top