Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Beginilah kedamaian Idul Fitri di Cina

Beginilah kedamaian Idul Fitri di Cina

Cina-KoPiІ Muslim di penjuru dunia tentu memiliki pengalaman berkesan setelah melewati Ramadhan. Untuk negara Malaysia atau Indonesia yang notabene mayoritas Islam nuansa Ramadhan begitu kental dengan atribut Ramadhan.

Lalu, bagaimana nuansa Ramadhan di Negara lain, sebuah cerita menarik dikisahkan oleh Dr Imran Nawab. Seorang dokter yang tengah menimba ilmu di Universitas Zhengzhou, Zhengzhou,China.

Menurut Dr Imran Nawab yang tengah belajar kedokteran dan bedah 2008-2013 dalam program gelar sarjana mengatakan ia menghabiskan Ramadhan empat kali di Cina dan memiliki pengalaman yang sangat baik selama tinggal di sana.

"Sebelum Ramadhan pertama saya di Cina, saya sudah berpikir dan khawatir puasa saya akan banyak kendala. Namun tidak seperti itu, saya merasa lega ketika melihat hiruk-pikuk di restoran Muslim dan juga di masjid. Saya tidak terlalu kesulitan mencari makanan untuk sahur,” kata Nawab.

Dia menambahkan staf restoran Muslim memberikan beberapa makanan gratis. “Saya terkesan mereka benar-benar peduli dengan saudara muslim jauhnya, seperti saya.”

Begitupun saat lebaran masjid besar Cina penuh sesak oleh Islam lokal maupun pendatang. Meskipun Islam monoritas di negeri tirai bamboo namun tampak masyarakat muslim Cina hidup damai di sana.

"Saya melihat bahwa umat Islam di Cina bebas untuk mengikuti agama mereka dan melakukan ibadahnya," kesimpulan Nawab. Іxinhuanet.com ІWinda Efanur FSІ

back to top