Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Beginilah kedamaian Idul Fitri di Cina

Beginilah kedamaian Idul Fitri di Cina

Cina-KoPiІ Muslim di penjuru dunia tentu memiliki pengalaman berkesan setelah melewati Ramadhan. Untuk negara Malaysia atau Indonesia yang notabene mayoritas Islam nuansa Ramadhan begitu kental dengan atribut Ramadhan.

Lalu, bagaimana nuansa Ramadhan di Negara lain, sebuah cerita menarik dikisahkan oleh Dr Imran Nawab. Seorang dokter yang tengah menimba ilmu di Universitas Zhengzhou, Zhengzhou,China.

Menurut Dr Imran Nawab yang tengah belajar kedokteran dan bedah 2008-2013 dalam program gelar sarjana mengatakan ia menghabiskan Ramadhan empat kali di Cina dan memiliki pengalaman yang sangat baik selama tinggal di sana.

"Sebelum Ramadhan pertama saya di Cina, saya sudah berpikir dan khawatir puasa saya akan banyak kendala. Namun tidak seperti itu, saya merasa lega ketika melihat hiruk-pikuk di restoran Muslim dan juga di masjid. Saya tidak terlalu kesulitan mencari makanan untuk sahur,” kata Nawab.

Dia menambahkan staf restoran Muslim memberikan beberapa makanan gratis. “Saya terkesan mereka benar-benar peduli dengan saudara muslim jauhnya, seperti saya.”

Begitupun saat lebaran masjid besar Cina penuh sesak oleh Islam lokal maupun pendatang. Meskipun Islam monoritas di negeri tirai bamboo namun tampak masyarakat muslim Cina hidup damai di sana.

"Saya melihat bahwa umat Islam di Cina bebas untuk mengikuti agama mereka dan melakukan ibadahnya," kesimpulan Nawab. Іxinhuanet.com ІWinda Efanur FSІ

back to top