Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Australia-Timor Timur Sepkati Batas Perairan Baru

image

Kupang-KoPi| “Jakarta didesak untuk merundingkan kembali seluruh perjanjian batas perairan dengan Australia di Laut Timor,menyusul telah tercapainya kesepakatan antara Australia-Timor Timur untuk merubah perjanjian di batas maritim mereka yang disengketakan di Laut Timor.

Berdasarkan keputusan dari Pengadilan Arbitrase di Den Haag”. “Australia dan Timor Timur akan bertemu di New York di markas besar PBB pada 6 Maret untuk menandatangani perjanjian batas maritim yang baru tersebut”.

Hal ini disampaikan Ketua Peduli Timor Barat,Ferdi Tanoni kepada wartawan di Kupang,Rabu (28/02) menanggapi kesepakatan yang telah dicapai antara Australia-Timor Timur untuk menetapkan sebuah garis batas perairan yang baru dan permanen di Laut Timor.

Tanoni yang juga mantan agen imigrasi Australia ini menyatakan, selama ini Australia telah menjadikan dasar perjanjian perbatasan di Laut Timor yang hanya menguntungkan Australia saja yakni garis perbatasan selaras dengan landas kontinen nya sebagai alasan argumentasi nya untuk menguasai Laut Timor”.

“Namun Timor Timur berpendapat berdasarkan pada fakta geologi dan gemorfologi,garis perbatasan perairan di Laut Timor tersebut seharusnya berada di tengah jalan antara Australia dan Timor Timur karena Pulau Timor dan Benua Australia berada didalam satu landas kontinen,yakni landas kontinen Australia”,tambah nya.

Dengan disepakatinya batas perairan baru di Laut Timor dengan menggunakan “median line” maka Timor Timur akan menguasai 80% dari wilayah Laut Timor yang kaya akan migas,kata nya.

Rakyat Indonesia terutama di wilayah Timor Barat dan NTT selama ini “dimiskinkan” dan “disengsarakan” aibat dari sebuah perjanjian batas perairan Indonesia-Australia yang di hanya menguntungkan Australia semata,ujar Tanoni.

Ferdi Tanoni mengatakan,sebagai konsekwensi logis dari sebuah perubahan geopolitik yang terjadi di kawasan Laut Timor dengan lahirnya sebuah Negara baru Timor Timur maka dengan serta merta seharusnya seluruh batas perairan Indonesia-Australia yang pernah dibuat sejak tahun 1971 hingga 1997 haruslah dinyatakan batal demi hukum dan dirundingkan kembali secara trilateral bersama Timor Timur.

“Kami tidak sependapat dengan pernyataan Menteri Luar negeri Indonesia Retno Marsudi bahwa Indonesia untuk saat ini hanya mau merundingkan kembali batas perairan dengan Australia di wilayah Utara Laut Timor,sementara wilayah Selatan Laut Timor yang sesungguhnya merupakan wilayah paling kaya akan bahan mineral termasuk migas belum dipikirkan oleh Indonesia untuk dirundingkan kembali dengan Australia”.

Tanoni yang juga adalah pemegang mandate hak ulayat masyarakat adat di Laut Timor ini,menegaskan bahwa justeru di Selatan Laut Timor ini yang paling banyak masalahnya, yakni Australia secara curang telah mengklaim zona perikanan Australia secara sepihak hingga hampir mencaplok Pulau Rote. Australia kemudian mengklaim zona perikanan Australia ini secara sepihak ditetapkan sebagai ZEE (Zona Eksklusif Ekonomi) Australia.Setelah itu secara sepihak pula mengklaim Gugsan Pulau Pasir sebagai Taman nasional Australia,dan akhirnya Australia melegitimasi diri nya dan memberangus ribuan perahu nelayan tradisional Indonesia secara tidak manusiawi.

Pernyataan Menlu Retno Marsudi ini patut dipertanyakan,mengapa perundingan ulang batas perairan di Laut Timor hanya dilakukan dengan setengah hati saja,tanya Ferdi Tanoni. (yudi)

back to top