Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

AL-Baghdadi merupakan asset intelijen Amerika Serikat, Inggris, dan Israel

AL-Baghdadi merupakan asset intelijen Amerika Serikat, Inggris, dan Israel

Menurut sebuah dokumen yang dirilis oleh Edward Snowden dari NSA, menyebutkan bahwa Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS, sekarang Negara Islam (Islamic State), merupakan sebuah aset intelijen.

KoPi-Dokumen NSA mengungkapkan bahwa Amerika Serikat, Israel, dan Inggris bertanggung jawab atas penciptaan ISIS. 

Awal bulan Juli 2014 Nabil Na'eem, pendiri Partai Jihad Demokrat Islam dan mantan komandan tinggi al-Qaeda mengatakan kepada Beirut mengenai semua cabang al-Qaeda saat ini, termasuk ISIS, bekerja untuk CIA.

ISIS memiliki persenjataan yang canggih dan dilatih oleh kelompok teroris yang sekarang mengendalikan sebagian besar wilayah Irak dan Suriah. 

Dokumen NSA menyatakan bahwa kelompok yang didirikan oleh AS, intelijen Inggris dan Israel sebagai bagian dari strategi yang dijuluki "sarang lebah". Tujuannya untuk menarik militan Islam dari seluruh dunia untuk Suriah.

Al-Baghdadi seorang intelijen militer

Gulf Daily News mengatakan,”selain belajar teologi dan seni pidato, al-Baghdadi mengambil pelatihan militer intensif selama satu tahun di tangan Mossad”.

Pada bulan Juni seorang pejabat Yordania mengatakan kepada Aaron Klein anggota WorldNetDaily  bahwa ISIS dilatih pada tahun 2012 oleh instruktur AS yang bekerja di sebuah pangkalan rahasia di Yordania. Pada 2012, AS, Turki, dan Yordania dilaporkan telah menjalankan pelatihan dasar bagi para pemberontak Suriah di kota Safawi, Yordania.

Al-Baghdadi dilaporkan berada di Camp Bucca, tempat penahanan militer AS di dekat Umm Qasr, Irak. James Skylar Gerrond, mantan pasukan keamanan perwira Angkatan Udara AS dan seorang komandan gabungan di Camp Bucca pada tahun 2006 dan 2007 mengatakan bahwa pada awal bulan ini kamp akan menciptakan sebuah tekanan sebagai bentuk ekstremisme.

"Bukti menunjukkan bahwa al-Baghdadi mungkin sebuah pikiran yang dikendalikan oleh militer USA ketika menjadi tahanan di Irak," tulis Dr Kevin Barrett.

Membuat teror dengan ancaman palsu

Strategi sarang lebah dirancang untuk menciptakan persepsi bahwa Israel diancam oleh musuh dekat perbatasannya.
Menurut buku harian pribadi mantan perdana menteri Israel, Moshe Sharett mengatakan “Bagaimanapun, Israel tidak pernah mengambil serius ancaman dari Arab atau Muslim agar keamanan nasionalnya terjaga”.

"Harian Sharett mengungkapkan dalam bahasa eksplisit bahwa kepemimpinan politik dan militer Israel tidak pernah percaya Arab bisa membahayakan Israel," tulis Ralph Schoenman. "Mereka berusaha untuk melakukan manuver dan memaksa negara-negara Arab masuk ke dalam konfrontasi militer dimana kepemimpinan Zionis menang dan Israel bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada rezim Arab dan merencanakan pendudukan wilayah tambahan”.

Pada tahun 1982 Oded Yinon, seorang wartawan Israel, berkaitan dengan Kementerian Luar Negeri Israel menulis Rencana Zionis untuk Timur Tengah.
Pemecahan negara-negara Arab menjadi unit-unit kecil dan pembubaran Suriah dan Irak kemudian menjadi etnis atau agama seperti di Lebanon merupakan target utama Israel di Timur.

Yinon menyarankan, kehancuran negara-negara Arab dan Muslim akan dicapai dari dalam dengan memanfaatkan ketegangan agama dan etnis internal mereka.

Irfan Ridlowi

Sumber: Infowars.com

back to top