Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

11 fakta penting untuk memahami krisis Israel-Gaza

11 fakta penting untuk memahami krisis Israel-Gaza
KoPi-Israel dan Hamas berperang di Jalur Gaza. Hamas menembakkan roket ke Israel, Israel meluncurkan serangan udara terhadap Hamas dan pada hari Kamis, Israel mengumumkan akan meluncurkan invasi darat.
Kekerasan mendominasi berita utama internasional. Akan tetapi dibutuhkan banyak informasi agar kita memahami persoalan lebih utuh.  Siapa sebenarnya Hamas dan apa yang diinginkannya? Apa itu Gaza, dan bagaimana Israel yang mengendalikannya?
Untuk memahami konflik yang sedang terjadi antara Israel-Palestina, berikut adalah 11 fakta dasar yang perlu diketahui untuk memahami apa yang terjadi di Gaza saat ini:

 

1) Jalur Gaza merupakan bagian dari Mesir yang terpisah dari tepi barat

Seperti yang terlihat pada peta di atas, Gaza terpisah dari pusat penduduk Palestina utama lainnya - warna hijau besar di sebelah timur Israel, Tepi Barat. Jadi meskipun kedua wilayah yang sebagian besar dihuni oleh warga Palestina, mereka pada dasarnya entitas  geografisnya terpisah.

Sebelum Israel, Gaza dikendalikan selama beberapa tahun oleh Mesir, negara yang berbatasan dengan Gaza di sebelah barat. Kemudian Israel mengambilnya dari Mesir selama perang tahun 1967 diantara kedua negara, dan sampai tahun 2005 itu Israel menduduki Jalur Gaza dengan cara yang sama telah menduduki Tepi Barat sampai hari ini.

2) Kota Gaza termasuk tempat yang paling padat penduduknya di dunia

Luas jalur Gaza adalah 146 mil persegi, dan memiliki populasi sekitar 1,6 juta. Ada banyak orang di daerah yang sangat kecil. Sebagai gambaran, luas Philadelphia adalah sekitar 142 mil persegi dan memiliki sekitar 1,5 juta warga. Dengan kata lain, seluruh Jalur Gaza pada dasarnya padat seperti kota Amerika.

Menurut data dari Washington Post Adam Taylor, Kota Gaza menjadi jalur pusat dengan populasi terbesar yang paling padat penduduknya 40 daerah perkotaan di dunia, menjadikannya sejajar dengan beberapa kota-kota besar di Asia.

Hal ini penting untuk konflik saat ini, karena itu membuat sangat sulit bagi Israel untuk membom dari udara tanpa memukul warga sipil. Hamas juga menempatkan roket dalam pusat-pusat penduduk sipil, sehingga serangan udara Israel di Gaza pada dasarnya ditujukan untuk membunuh banyak non-kombatan tidak peduli berapa banyak Israel berusaha untuk menghindarinya.

3) Israel menjadikan pasukannya penghuni tetap Gaza

Sampai dengan tahun 2005, Israel menduduki Gaza dengan cara yang sama ketika menduduki Tepi Barat termasuk pangkalan militer Israel dan permukiman, masyarakat Yahudi yang tinggal di dalam wilayah Palestina.

Pada tahun 2005, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon memutuskan untuk menarik diri dari Gaza. Sharon, sudah lama memperhatikan dan ragu mengenai kemerdekaan Palestina dan dia menyimpulkan ketidaktertarikannya dengan pendudukan Israel.

Sharon menarik pos-pos Israel dan menumbangkan sekitar 10.000 pemukim. Ini adalah langkah yang sangat kontroversial di Israel, terutama pada hak politik - Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu, keluar dari pemerintah sebagai bentuk protes.

Sharon melepaskan diri dari Gaza agar menjadi Otoritas Palestina bersatu, diatur oleh partai Fatah yang moderat dari Ramallah, di Tepi Barat. Tapi itu tidak benar-benar bekerja. Hamas dengan cepat menjadi kekuatan dominan di Gaza. Hal itu berarti warga Palestina di Gaza tidak hanya terpisah secara fisik dan  bentuk mereka di Tepi Barat, mereka diperintah secara terpisah juga.

4) Hamas adalah bagian dari gerakan Islam internasional dan tidak mengakui Israel


Hamas, menurut piagam, adalah Ikhwanul Muslimin cabang Palestina - kelompok Islam yang beroperasi di seluruh dunia Muslim merupakan  salah satu kelopmpok yang meminta perlindungan kepada pemerintah Mesir selama satu tahun baru-baru ini. Hamas tidak dikontrol oleh pimpinan berbasis persaudaraan Mesir, tetapi mereka memiliki hubungan dekat. Tidak seperti kebanyakan cabang Ikhwanul, Hamas juga memiliki sayap militan: Izz ad-Din al-Qassam.

Sejak Hamas  berdiri di tahun'1987, mereka mengobarkan perang melawan Israel, terutama melalui pemboman bunuh diri dan serangan roket. Mereka berusaha untuk menggantikan Israel dengan negara Palestina, dan telah berulang kali menolak untuk mengakui Israel (meskipun sudah mengusulkan adanya gencatan senjata jangka panjang jika Israel setuju untuk menarik diri dari Tepi Barat).

Beberapa pemimpin Hamas telah mendeklarasiakn diri untuk bersatu dengan negara Palestina di Tepi Barat dan Gaza. Tapi itu sama sekali tidak jelas apakah mereka akan mampu atau bersedia untuk menuntaskan kesepakatan dengan Israel dalam prakteknya - dengan asumsi Israel bahkan bersedia duduk dengan mereka meskipun diragukan.

Hamas dan sejarah panjang antagonisme Israel melakukan sejumlah bom bunuh diri di Israel selama awal 2000-an. Mereka merupakan penyumbang utama terhadap krisis saat ini. Hamas dan Israel menolak untuk bernegosiasi secara terbuka dan langsung bahkan tidak saling percaya satu sama lain. Dengan demikian dengan provokasi kecil memiliki potensi untuk meningkat dengan cepat.

5) Hamas terpilih secara demokratis oleh Palestina


Hamas melihat dirinya sebagai wakil dari rakyat Palestina. Didorong oleh pemerintahan George W. Bush, Otoritas Palestina mengadakan pemilihan umum di Tepi Barat dan Gaza untuk legislatif Palestina pada tahun 2006. Hamas memenangkan tipis secara mayoritas.

Namun Hamas menolak untuk mengakui Israel atau menghormati perjanjian Palestina masa lalu dengan Israel dalam pemerintahan. Hamas terlibat perang sipil berdarah dengan partai Fatah yang lebih moderat selama ini. Secara de facto memisahkan diri dari PA untuk memerintah Gaza secara independen dari kepemimpinan berbasis di Tepi Barat.

Hari ini Hamas dan Fatah lebih dekat dengan rekonsiliasi,selam yang pernah mereka lakukan. Mereka menandatangani kesepakatan untuk sama-sama mendukung pemerintah sementara pada bulan April, dan telah sepakat untuk mengadakan pemilihan umum nasional di Gaza dan Tepi Barat sekitar lima bulan ke depan. Namun Hamas dan Fatah tidak setuju tentang konflik saat ini. Hamas menembakkan roket ke Israel, sementara itu Fatah mendesak penghentian permusuhan. Tidak jelas apakah bersama pemerintah dapat bertahan saat pertempuran.


6) Hamas bukanlah satu-satunya kelompok militan di Jalur Gaza, dan mereka semua yang menembakan roket ke Israel


Ada kelompok-kelompok militan lainnya di Gaza, terutama Jihad Islam Palestina. Kelompok-kelompok ini bahkan lebih radikal daripada Hamas dan sepenuhnya berkomitmen pada jalan kekerasan daripada politik sebagai taktik utama dalam perjuangan mereka dengan Israel.
Karena penarikan mundur Israel pada tahun 2005, Hamas dan kelompok-kelompok lainnya telah meluncurkan ribuan roket dan mortir dari Gaza ke Israel.

Serangan roket ini jarang menyebabkan korban jiwa, tapi itu cukup membuat cemas bagi warga Israel yang tinggal dalam jangkauan. Genderang serangan roket menghancurkan rumah Israel dan memaksa orang untuk berebut dan bersembunyi ketika sirene berbunyi. Peristiwa tersebut berkurang baru-baru ini, tapi merupakansalah satu keluhan yang paling signifikanbagi Israel  dengan kepemimpinan Hamas.

Karena itu Israel menuduh Hamas bertanggung jawab untuk semua serangan roket dari Gaza, termasuk dari kelompok-kelompok Palestina lainnya. Menjadikan Hamas akan terseret  ke konflik dan berusaha untuk menghindari. Jadi kelompok-kelompok non-Hamas di Gaza membantu kesiapan militan Hamas terhadap konflik dengan Israel.

7) Israel memblokade Gaza, menciptakan krisis kemanusiaan


Sejak tahun 2007, Israel telah mempertahankan blokade Gaza. Ini sangat membatasi semua penyeberangan perbatasan di wilayah Gaza. Blokade membatasi akses makanan, air, listrik, gas, bahan bangunan, dan kebutuhan lainnya. Ini bukan berarti Israel menutup akses itu ke Gaza, tetapi  mereka melarang banyak produk masuk dengan ketat.

Tujuan lain dari blokade, Israel mencegah Hamas mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk membangun roket dan mortir yang bisa menghantam Israel, dan serangan roket telah berkurang.

Namun jelas bahwa tujuan utama lain dari blokade adalah untuk melemahkan Hamas secara politik. Membatasi akses terhadap barang, teori itu menyebabkan Palestina menggeser dukungan mereka kepada fraksi yang lebih moderat atau memaksa Hamas berdiri sendiri.
Hal ini menyebabkan banyak penderitaan di antara warga sipil Gaza. Menurut Oxfam, blokade "telah menghancurkan ekonomi Gaza, meninggalkan sebagian orang yang tidak dapat meninggalkan Gaza, orang-orang menajadi terbatas dari layanan penting seperti kesehatan dan pendidikan serta memotong hubungan dengan warga Palestina satu sama lain." Oxfam mencatat:

"Lebih dari 40% orang di Gaza dan hampir 50% dari remaja sekarang menganggur dan 80% orang yang menerima bantuan internasional. Banyak industri utama, seperti industri konstruksi telah hancur. Industri kontruksi merupakan bahan penting yang  tidak diizinkan masuk ke Gaza. Ekspor saat ini kurang dari 3% dari tingkat pra-blokade mereka, dengan transfer hasil pertanian dan barang-barang lainnya ke Tepi Barat dan ekspor ke Israel sepenuhnya dilarang."

8) Israel dan Hamas berperang untuk mendapatkan Gaza

Sejak tahun 2005 pelepasan Israel, Israel dan Hamas terlibat tiga kali perang yang terpisah: pada tahun 2006, pada 2008-2009, dan pada tahun 2012. Israel menginvasi Gaza dalam perang pertama dan kedua, tetapi hanya dibom pada perang ketiga.

Perang 2006 dipicu oleh Hamas yang menculik seorang prajurit muda Israel, sedangkan krisis saat ini dipicu oleh penculikan dan pembunuhan di Tepi Barat dari tiga mahasiswa Israel. Mereka dibunuh karena mereka dianggap mata-mata Hamas.

Tujuan Israel pada tahun 2008-2009 dan 2012 adalah perang . Israel menyebut Operasi Cast Lead dan Operasi Pilar Pertahanan adalah untuk menghancurkan kemampuan Hamas untuk meluncurkan roket ke Israel. Strateginya adalah untuk menghancurkan stok roket dan jalur suplai Hamas serta mencegah serangan roket Hamas di masa depan.

Setelah tahun 2012 serangan Hamas menurun. Konon itu menunjukkan bahwa strategi Israel berhasil. Tabel di bawah ini menunjukkan korban dalam konflik dan hampir seluruhnya warga Palestina. permusuhan berduri selama 2008-9 dan 2012:


Para pejabat Israel mengatakan serangan udara dirancang sebagian untuk memukul mundur serangan roket. Strategi ini disebut "menyiangi rumput".

Seringkali, target pemboman Palestina untuk mengurangi serangan saat ini dan mencegah serangan yang akan datang. Pada hari Kamis, Israel mengumumkan akan meluncurkan serangan darat pertama ke Gaza sejak tahun 2009, yang menyebabkan ratusan korban Palestina. Sebuah pernyataan pemerintah mengatakan tujuannya adalah untuk merusak terowongan Hamas yang menghubungkan Gaza ke Israel.

9) Hamas mendapat banyak roket dari Iran


Iran bisa dibilang adalah pelindung internasional yang paling penting bagi Hamas. Selama bertahun-tahun, Iran memasok Hamas dengan uang tunai dan roket canggih. Tapi, pada tahun 2012, Hamas dan Iran mengalami perpecahan karena perang di Suriah.
Penguasa diktator Iran, Suriah Bashar al-Assad, adalah seorang Alawit Syiah yang terkenal keras menentang pemberontakan Sunni yang sebagian besar merupakan warga Palestina. Hamas menolak untuk berdampingan bersama Assad, sehingga Iran menghentikan pengiriman uang tunai pada akhir 2012.

Namun, hubungan Hamas-Iran tampaknya membaik. Pada bulan Maret 2014, Israel mencegat pengiriman jarak jauh M-320 roket menuju Gaza. Sebuah penyelidikan PBB menelusuri mereka kembali ke pelabuhan Iran. Pada bulan Mei, Iran melanjutkan pengiriman uang tunai. Hamas membuat roket jarak yang lebih pendek, tetapi tampaknya tergantung pada dukungan Iran untuk mendapatkan lebih banyak barang canggih.

Keterlibatan Iran memperkeruh kondisi konflik di Palestina. Ada kemungkinan tujuan sekunder Israel adalah untuk mengirim pesan ke Iran untuk tidak berhubungan lagi dengan Hamas. Di sisi lain, dukungan Iran membuat Israel kelaparan dan menjadi tunduk karena bom Hamas.

10) Terowongan ke Gaza benar-benar penting dan sangat kontroversial


Karena Hamas tidak bisa mendapatkan banyak dukungan karena blokade Israel, mereka kemudian mengembangkan sarana alternatif yang dapat mendongkrak Gaza: terowongan ke Mesir. Warga Gaza menggali di bawah perbatasan Mesir dan keluar dari penjaga perbatasan melalui sisi lain. Penyelundup memasok mereka dengan barang-barang untuk kepentingan perang.

Terowongan bermanfaat bagi Hamas dan warga sipil Gaza. Hamas dan rekan-rekan militan yang menggunakannya untuk membawa senjata, komponen untuk roket buatan sendiri, dan apa pun yang mereka butuhkan untuk melawan Israel. Warga sipil juga menafaatkan terowongan itu untuk membawa obat-obatan, makanan, dan apa pun yang mereka inginkan tanpa melewati blokade Israel.

Karena militer Mesir menguasai Mesir dari Ikhwanul Muslimin pada tahun 2013, mereka kemudian melemahkan sistem terowongan. Pemerintah Mesir menutup banyak terowongan utama. Israel percaya akibatnya Hamas mengalami kesulitan pemasokan. Itulah salah satu alasan utama Israel sedang mempertimbangkan serangan darat. Menurut seorang pejabat senior IDF berpendapat untuk menutup terowongan yang masih tersisa.


11) Mesir hanya menguasai penyeberangan jalur darat yang menuju Gaza, bukankah itu Israel


Hanya ada satu rute pasokan utama ke Gaza yang tidak menggunakan terowongan atau yang dikuasai Israel: perlintasan Rafah ke Mesir. Saat ini Mesir sangat membatasi orang dan barang yang masuk dan keluar dari persimpangan. Ikhwanul Muslimin adalah kelompok oposisi Mesir terkemuka, dan pemerintah Mesir memiliki sedikit keinginan untuk membantu saudara-saudara Palestina mereka di Hamas.

Rafah telah menjadi begitu penting bagi Hamas. Beberapa ahli percaya Hamas berperan penuh dalam perang saat ini untuk menekan Mesir membuka Rafah. Teorinya adalah Hamas sedang mencoba untuk memanfaatkan kemarahan publik di Mesir atas pemerintah Mesir. Konsesi utama akan membuka Rafah sehingga dapat membantu perjuangan Palestina.

Mungkin Hamas tidak menerima perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Mesir, yang diusulkan pada tanggal 15 Juli: itu tidak secara khusus berjanji untuk membuka Rafah. Jadi konflik terus terjadi, semua serangan baik udara dan darat menggunakan roket menyebabkan banyak korban sipil yang berjatuhan.

Sumber: Vox

 

 

back to top