Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next
(Di) jalan secinta

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri.  Oleh: Ay Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai...

Puisi Anton Daryanto

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBukan pula waktunya menyendiri dan menepiIni ada tugas, yang mesti dijalani sepenuh hati

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berkata apa-apa Di kesendirian yang berpeluh karena sesak kerinduan Setiap hari kupandangi kamu Lewat cakrawala pagi dan sore Lewat...

Kepada Bulan September

  • Published in Puisi

Kepada Bulan September

Puisi: Novri Susan

 

Aku mengejar waktu di bulan September

Di keramaian yang tidak berkata apa-apa

Di kesendirian yang berpeluh karena sesak kerinduan

Setiap hari kupandangi kamu

Lewat cakrawala pagi dan sore

Lewat mimpi dan mimpi yang sama

Hai terkasih, kamu harus tahu

Bahwa aku selalu tergopoh memikirkanmu

 

Aku menyerahkan hatiku pada hati bulan September

Pada saat aku menuliskannya hari ini

Atau pada saat hari itu

ketika suaramu adalah kerlipan hidup

Dtimang oleh kasih sayang

Oleh binar-binar cumbu Ibu yang menari di parasmu

 

Malam ini aku bergelimang sunyi

Berharap di dekatmu

Berdoa bersama kepada Tuhan kita

Agar duniamu selalu subur dan lapang

Agar duniamu tidak terpisah dari duniaku

Namun yang paling berharga adalah suka citamu

Suka cita saat ini dan nanti

 

Aku mengejar waktu di bulan September

Karena aku mencintaimu

 

NS (#200610) Surabaya

Read more...

Jalan Kekasih

  • Published in Puisi

Puisi-puisi NS


 

malamku milikmu

 

Kubaca malam

dari bintang-bintang dan desir sunyinya

adalah perjalanan lintas waktu

dari sini ke tempatmu

 

Apa kabar yang kukasih? 

sakit atas kesendirian

bukanlah tentang masa silam

namun masa nanti 

Jika tidak ditemu

sebab tidak mungkin tidak bertemu

Lelah terkulai di pembaringan

yang selalu saja membawa dingin

tapi dingin tak perlu dirisau

Karena rindu

adalah kiasmu di pikiranku

(Magelang, #200610 4/7/16)

 

hembusan rindu

 

Kegelisahan adalah ketidaktahuan yang renta

tergopoh di lorong malam

tersedak dingin 

lalu mencari-cari

Jemarimu kuinginkan

seperti napas pertama bayi

pada udara dunia

Bibirmu adalah buah paling manis

segar dan pengertian

Aku tidak mengeluhkan keadaan ini

sebab dekat atau jauh rentang waktu

nafas rinduku akan memilikimu

sama halnya rindumu akan memilikiku

utuh tak akan terbagi

(Magelang, #200610 4/7/16)

 

Read more...

Bertingkah aneh, dosen ini dapat pengawasan

  • Published in Profil

Surabaya-KoPi│ Pernah melihat tingkah polah dosen aneh? Biasanya, dosen adalah sosok yang ditakuti oleh para mahasiswanya. Ketika langkah kakinya terdengar memasuki ruang kelas, mahasiswa akan beku dalam kekhusukan yang dibuat-buat. Tapi dosen ini tidak.

Novri Susan adalah dosen yang aneh. Begitu mungkin komentar dari banyak koleganya. Selain meraih gelar doktor dalam usia paling muda di antara dosen-dosen lain, setiap langkahnya menuju kelas adalah suara yang paling ditunggu. Seperti foto hasil investigasi KoPi ini yang diupload salah satu mahasiswanya di Path.

 

"Sensei (sapaan untuk Novri Susan, red.) itu orangnya tidak bikin kita takut kalau di kelas. Cara dia marah kalau kita ribut tuh asyik. Dia ndak marah-marah, ndak demen nyeprot mahasiswa. Biasanya dia berdiri diam. Selalu ada kejutan setelah diam. Seperti tiba-tiba nunjuk salah seorang kita dengan panggilan 'hai kamu Rangga, kamu jahat'. Kan kita jadi ngakak...hahah,"ungkap Nina salah satu mahasiswa yang ditemui KoPi di kampus Fisip Unair.

Novri setiap masuk kelas, sangat jarang bicara hal lain di luar materi kelas. Jika pun berbicara hal lain, ternyata selalu ada kaitan dengan kelas.

"Pak Novri itu tidak memaksa kita. Apa ya istilahnya, memohon kali hahaha. Tapi karena dia tidak suka menyudutkan mahasiwa, tapi mendorong kita untuk selalu semangat maka kita jadi semangat juga," tambah Nina.

Andrew, mahasiswa dari studi Ilmu Politik melihat sosok Novri Susan sebagai dosen yang lengkap. Menurutnya, dosen yang berpenampilan modis ini menggunakan bahasa yang ringan dan renyah akan tetapi selalu membuat kepala mengangguk-angguk.

"Misal dia bicara tentang teori oligarkhi. Itu kan sulit. Tapi dianya suruh beberapa anak maju ke depan. Lalu bikin sandiwara. Nah keliatannya cuman sandiwara sekitar 5 menitan. Eh setelah dia bikin ulasan...kita jadi paham teori oligarkhi. Aku sendiri jadi penasaran baca teori oligarkhi."

Akan tetapi bagi dosen-dosen lain, Novri memang berbeda. Pendekatannya tidak sama. Sering keluar dari kotak peraturan.

"Dia di awal kelas mesti selalu bilang gini 'Kalian boleh titip absen, terserah. Yang saya tahu, yang suka titip absen adalah golongan terhormat'. Nah coba, kalimat gituan kan tamparan hahaha. Mungkin sensei ingin kita tumbuh dewasa atas dasar kemauan sendiri, bukan karena paksaan dan sanksi," kata Lidya, mahasiswa lain.

Akan tetapi walaupun tampak rileks di hadapan mahasiswa, ternyata Novri Susan di kalangan ilmuwan sosial adalah macan yang dihormati. Buku-buku tulisannya menjadi rujukan seperti salah satunya berjudul Sosiologi Konflik. Selain pakar branding, Novri Susan merupakan akademisi yang pemikirannya menjadi perspektif tersendiri.

"Saya sangat mengagumi Mas Novri. Karkater pemikirannya jelas, independen dan selalu menerobos batas-batas konservativisme, "ungkap seorang dosen dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta kepada KoPi. 

Salah satu terobosan Novri adalah metode simulasi dalam pengajaran. Banyak dosen dan bahkan guru ingin belajar dari sosok yang suka tersenyum ini. 

Novri ketika ditemui KoPi pada 14 Mei lalu di kampus Fisip Unair hanya tertawa ketika ditanya bahwa dirinya dapat survey sebagai dosen paling 'ngehitz' di Unair.

"Kita ngobrol ke kantin saja yuk, di ruang ini (ruang dosen, red.) saya pasti jadi sangat serius dan galak. Mau saya galaki?" Langsung berdiri sambil tertawa ringan. 

Dosen ini memang lengkap. Aneh dari sisi kebiasaan yang datar-datar saja. Akan tetapi sesungguhnya lebih tepat disebut progresif, berani bertindak maju untuk inovasi-inovasi di dunia kependidikan.

"Ya saya bisa disebut aneh. Maka banyak yang ngawasin saya...haha, " komentar dosen berwajah oriental ini.

Di kantin kampus Fisip Unair, Novri memperlihatkan salah satu terobosan yang dia lakukan. Jika tertarik, bisa KLIK DI SINI. Ingin berkenalan dengannya? Langsung saja bertemu di Fisip Unair. |A. Ginanjar| 

Read more...

Menjaga Indonesia seabadi Majapahit

Surabaya - KoPi | Keberagaman di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa banyaknya potensi konflik. Ancaman tersebut sering menjadi kekhawatiran akan masa depan keutuhan NKRI. Benarkah keberagaman juga yang akan mengakhiri sejarah NKRI?
Read more...

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

  • Published in Puisi

I. (Di) taman ketika


Aku adalah benih yang tumbuh segar
Tumbuh elok tanpa seragu debar
Tumbuh di tanah jiwamu berbunga rindu
Sebab kamu memberi kehidupan pada hidupku
Sebab aku hidup bersama kehidupanmu

Aku memandangmu sebagaimana kamu memandangku
Menjadi ikatan yang tidak bisa dilepas
Maka doa demi doa menalu-nalu waktu
Waktu yang kuinginkan adalah waktumu

Setiap kulangkah selalu kepadamu

Bukankah itu juga yang hati jadi terpadu
Dulu bukanlah kenangan hampa semata
Menjadi untai kisah memanggil masa berkerlip
Masaku bercumbu masamu
Melahirkan cintaku cintamu

(Surabaya, 11 September 2015)

 

II. Senja di Kota Dili

 

Senja menangkap kegelisahan

yang kusimpan kupendam kukaburkan

berselirih tak lagi lagu mengenang

tergopoh aku mencari-cari di antara terlinang

sependar keindahan

Adalah milikmu seluruhnya aku

semua kekosongan tidak pernah sia-sia

tidak pernah hai kamu sayap-sayap pada jumpa

nanti mengepak sampai di sana

bukan sekeluh mimpi sebab nyata

 

Aku lagi dan lagi tertangkap senja

biarkan saja biarkan saja

cahaya temaram adalah kejujuran setiap luka setiap suka

bahwa mencintaimu tidak bisa disebut tiada

ah selanjutnya saling menjaga

kita

sampai tua

kita

adalah sepasang senja

yang melahirkan  cahaya-cahaya

sebagai pagi bermata kejora

(Dili, 23/10/15)

Read more...

Ruang gelap dalam kontestasi politik

  • Published in Opini

Agar kepemerintahan daerah memiliki kelola politik baik, salah satu syarat utama adalah kehadiran elite politik transformasional. Elite politik yang menjadikan nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi sebagai fondasi kelola politik.



Oleh: Novri Susan (Sosiolog Universitas Airlangga)


Pilkada serentak memiliki arti sebagai hadirnya perubahan kelola politik pada tingkat daerah. Kelola politik adalah faktor fundamental dari terwujud atau tidak terwujudnya mandat konstitusi, yaitu mandat dalam mensejahterakan dan memakmurkan rakyat. Kelola politik yang baik menciptakan kemungkinan besar terwujudnya mandat konstitusi yang mana masyarakat mendapatkan keadilan sosial, kesejahteraan, serta perdamaian. Agar kepemerintahan daerah memiliki kelola politik baik, salah satu syarat utama adalah kehadiran elite politik transformasional. Elite politik yang menjadikan nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi sebagai fondasi kelola politik. Sayangnya, saat ini daerah-daerah Indonesia masih belum surplus elite transformasional.

Kelola Politik

Para elite pemenang pilkada, nantinya, adalah para pengelola politik di kepemerintahan daerah masing-masing. Kelola politik merupakan proses praktik keseharian mengorganisasi sumber daya dan menciptakan kebijakan-kebijakan publik. Proses tersebut mengacu pada kerangka legal (struktur) dan nilai subyektif (aktor).

Kerangka legal bersumber dari berbagai regulasi yang memberi kewenangan, serta kewajiban, para elite dalam struktur politik kepemerintahan. Sedangkan nilai subyektif merupakan keyakinan atau ideologi para elite dalam menjalankan kekuasaan. Praktik kelola politik secara sosiologi politik seringkali merupakan, meminjam istilah Pierre Bordieu, interplay antara kerangka legal dan nilai subyektif; yaitu hubungan saling mempengaruhi sehingga tercipta berbagai praktik kebijakan tertentu.

Kerangka legal secara ideal didesain untuk merealisasikan kepentingan umum. Akan tetapi kebijakan-kebijakan berorientasi pada kepentingan umum juga menjadi tergantung pada nilai subyektif elite dalam struktur kepemimpinan politik. Elite dengan nilai subyektif, ideologi, berbasis nilai kerakyatan, keadilan dan kemanusiaan memiliki kecenderungan menciptakan interplay elite yang transformasional. Artinya praktik-praktik kebijakan tidak akan merugikan hajat hidup orang banyak, atau menguntungkan hanya segelintir elite bersama jejaringnya. Interplay elite transformasional akan bekerja keras menciptakan kebijakan yang pro kepentingan masyarakat luas.

Sebaliknya nilai subyektif yang sarat oleh ketamakan, menghalalkan pencurian harta negara, serta ketidakpedulian terhadap derita orang banyak, akan menciptakan interplay yang non-transformasional. Praktik kelola politik dari interplay non trasformasional lebih sarat oleh korupsi, ketidakadilan, sampai kekerasan terhadap rakyat.

Sejak KPK berdiri, telah ada lima puluh enam kepala daerah terbuikan atas kasus praktik korupsi. Sampai tahun 2015 ini, hampir tiga ratus kepala daerah menjadi tersangka korupsi. Pada wilayah-wilayah kekuasaan para kepala daerah tersangka korupsi, biasanya ditandai oleh buruknya kualitas infrastruktur, pelayanan publik, serta perekonomian. Hal ini menjadi penanda bahwa pilkada-pilkada sebelumnya, banyak menghasilkan elite-elite yang tidak transformasional.

Penjaringan Elite

Tahun ini segera dilaksanakan pilkada serentak pada tingkat provinsi dan kabupaten kota. Pilkada adalah medan kontestasi politik dengan seperangkat aturan main yang tidak memiliki saringan otomatis bagi terlahirnya elite transformasional. Dua model elite tersebut di atas akan sama-sama memiliki kesempatan bertarung memenangkan pilkada. Oleh karenanya, masyarakat harus memiliki kapasitas kultural berdemokrasi untuk melakukan penyaringan para elite.

Idealnya, masyarakat dalam demokrasi yang telah dewasa (matured democracy) memiliki kemampuan melakukan penyaringan para elite dengan penggunaaan nalar kritis. Proses penyaringan berdasar nalar kritis dimulai dari kesediaan melepaskan ikatan-ikatan primordial. Termasuk ikatan etnisitas, ras, atau kekerabatan. Ikatan primordial digantikan oleh relasi terbuka non-dominatif yang memungkinkan berlangsungnya evaluasi-evaluasi terhadap kapasitas elite dalam kelola politik.

Relasi terbuka non-dominatif akan menciptakan refleksi masyarakat secara mandiri terhadap para elite dalam kontestasi pilkada. Berbagai refleksi tentang evaluasi kapasitas elite akan menjadi diskursus di ruang-ruang publik. Diskursus tersebut merupakan saringan yang sangat rapat bagi masyarakat untuk menemukan elite transformasional. Akan tetapi prasyaratnya ikatan-ikatan primordial harus dilepaskan. Tidak jarang, elite model non transformasional tetap dipilih karena membabi butanya ikatan kekerabatan atau etnisitas.

Fakta sosial ikatan-ikatan primordial cenderung direproduksi secara massal dan habis-habisan terutama oleh elite-elite model non transformasional. Citra dan kata-kata diniatkan untuk mengeskalasi perasaan anti etnisitas atau keagamaan. Sedangkan diskursus dari model elite transformasional, akan menghindari reproduksi isu primordialisme.

Sesungguhnya, praktik pengeskalasian isu primordialisme menjadi cara paling mudah untuk menilai model elite. Elit transformasional mengedepankan diskursus kemanusiaan, keadilan sosial, sampai anti kekerasan. Elite model ini, bersama jejaring pendukungnya, tidak akan menjadikan primordialisme sebagai ujung tombak diskursus di ruang publik. Sebaliknya, elite non transformasional sering memilih praktik pengeskalasian isu primordialisme.

Masyarakat Indonesia memiliki ekspektasi bahwa pilkada serentak bisa melahirkan elite-elite transformasional. Model elite yang mempraktikkan kelola politik berbasis pada kepentingan umum. Oleh sebab itu, pada gilirannya tantangan pilkada serentak bukan hanya mekanisme atau prosedur penjaringan elite secara formal oleh KPU.

Tantangan tersebut juga berkaitan dengan bagaimana berlangsung penjaringan elite dengan penggunaan budaya demokrasi yang dewasa. Penyelenggara pilkada, KPU, memiliki peran sangat sebagai bagian dari lembaga yang ikut membangun kedewasaan demokrasi masyarakat. Salah satunya, KPU perlu ikut mereproduksi wacana pentingnya konsep relasi terbuka non dominatif dalam pilkada.

Read more...

Rekonstruksi 'local genius'

"Saya ingin mendefinisikan rekonstruksi local genius sebagai pemberian ruang dan waktu (kesempatan) bagi masyarakat komunitas lokal melakukan pembentukan sistem pengetahuan secara mandiri berbasis pada dunia pengalaman dan konteks kebutuhan masing-masing."


Novri Susan (Sosiolog Studi Konflik dan Perdamaian Univ. Airlangga)


Pada tahun 1999 ketika Indonesia memasuki transisi demokrasi, terjadi ledakan konflik kekerasan komunal di beberapa wilayah seperti Poso, Ambon Maluku, dan Sampit. Ledakan kekerasan yang membunuh dan menderitakan ratusan ribu warga sipil. Perempuan dan anak merupakan kelompok paling terkorbankan. Selain itu menciptakan konsekuensi destruktif dalam bentuk kehancuran tatanan sosial ekonomi, segregrasi sosial, ingatan kolektif berbasis kebencian, serta ketidakpercayaan terhadap Negara.

Berbagai analisis pada satu titik bersepakat bahwa ledakan kekerasan merupakan konsekuensi dari tercerabutnya local genius dari sistem sosial Indonesia. Menurut Robert Hefner melalui risetnya (1986), local genius, kearifan dan kecerdasan lokal, pada faktisitas historis Indonesia prakolonialisme, mampu bekerja menciptakan tatanan sosial harmoni. Mengapa local genius, disebut, mampu memberikan kontribusi konstruktif terhadap tatanan sosial harmoni?

Pertanyaan tersebut sering menjadi garis awal memulai diskursus terkait tema tatanan sosial harmoni. Ada dua konsep serius yang perlu mendapatkan perhatian makna sebelum lebih jauh menelaah tatanan sosial harmoni, yaitu local genius dan harmoni. Local genius merupakan istilah yang sepadan dengan local wisdom. Secara definisi local genius merujuk pada stock of knowledge (sistem pengetahuan) yang dikonstruksikan secara sosial oleh anggota-anggota komunitas dalam proses historis. Posisi anggota komunitas menentukan sistem pengetahuan tersebut disebut local genius atau pengetahuan asing.

Harmoni secara etimologis berasal dari harmos (Yunani) dan harmonia (latin) yang berarti kesepakatan, kemauan bergabung dan kerukunan. Harmoni secara genealogis banyak ditemukan dalam tubuh masyarakat Asia. Masyarakat Indonesia, secara umum, memiliki genealogi harmoni yang bisa ditemukan dari berbagai reproduksi praktik sosial.

Misal pada masyarakat Jawa, harmoni ditemukan dari ujaran memayu hayuning bawano. Artinya, manusia memiliki kewajiban menciptakan kebaikan bersama yang mengatasi kepentingan diri sendiri. Sama halnya dalam konsep common good atau common virtue dalam politik demokrasi. Harmoni merupakan kondisi yang mana para individu mereproduksi berbagai praktik sosial yang berorientasi pada kepentingan umum seperti kedamaian, ketentraman dan keselamatan. Ketaaatan terhadap harmoni bisa saja bersumber dari relijiusitas, spiritual, dan loyalitas tradisi.

Desublimasi represif modernisme

Local genius, terutama dalam masyarakat Indonesia, bekerja di atas fondasi harmoni. Berbeda dari Marx yang menjadikan materialism sebagai infrastruktur kesadaran, pada masyarakat Indonesia pengetahuan harmoni menjadi infrastruktur dari berbagai kesadaran, praktik dan sistem. Setiap komunitas masyarakat, dalam konteks keindonesiaan, pra kolonialisme memiliki local genius yang asali. Local genius, pada gilirannya, mewujud sebagai mekanisme-mekanisme lokal dalam pengelolaan berbagai masalah seperti konflik sosial diantara anggota, perawatan lingkundan, sampai pengelolaan kepemimpinan. Pada pascakolonialisme local genius harus berhadapan dengan ekspansi modernisme dalam politik dan pembangunan.

Sebagai konsep dan studi, local genius merupakan respon terhadap modernisme yang bekerja di atas standar formulasi kebenaran. Modernisme memaksa setiap entitas kebudayaan untuk mengikuti formulasi kebenaran terkait dunia kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Formulasi standar kebenaran modernisme bisa ditemukan di dalam sentralisme politik, struktur birokrasi dan pembangunanisme. Indonesia selama periode Orde Baru (1969-1998) mempraktikkan ketiga formulasi standar kebenaran tersebut.

Konsekuensi dari praktik tersebut, yang paling menonjol, adalah proses desublimasi represif terhadap cara kerja lokal dari masyarakat-masyarakat Indonesia yang majemuk. Sentralisme politik memaksa pandangan-pandangan lokal tentang apa yang disebut sebagai konsep asali cara berpolitik untuk tunduk, patuh, dan bahkan menghilang. Rejim Orde Baru memaksa sistem lokalitas mengikuti tata cara yang diatur seperti nama dan cara pemilihan kepala desa. Kepentingan Negara melakukan administrasi pembangunan telah menciptakan birokrasi yang hanya bekerja di atas wewenang atau peraturan pemerintahan. Birokrasi tidak berbicara atau berbahasa melalui konteks lokal namun menggunakan bahasa-bahasa pemerintahan yang sering diungkapkan melalui bahasa ‘ya aturannya begini’. Begitu pun pembangunan, modernisme memaksa lokalitas mengubah nilai-nilainya menjadi pengetahuan rasional.

Lokalitas masyarakat Indonesia mengalami represi selama lebih dari tiga puluh dua tahun. Konsekuensinya adalah local genius masyarakat makin terpinggir dan hampir musnah. Namun ternyata, modernisme pun tidak berhasil merealisasikan misinya. Kegagalan modernisme muncul dalam bentuk lembaga-lembaga birokrasi, termasuk lembaga hukum dan keamanan, yang korup dan tidak memecahkan keluhan masyarakat, kerusakan lingkunan serta ketidakadilan pembangian hasil pembangunan. Kegagalan tersebut menyebabkan masyarakat mengambil jarak terhadap desain modernisme. Generasi-generasi baru dalam komunitas local genius tidak saja menghadapi kegagalan modernisme, namun juga harus menghadapi sistem pengetahuan lokal yang telah pudar. Secara sosiologis, generasi ini tidak memiliki nilai yang kuat dan percaya diri. Masyarakat mengalami kegamangan yang resah.

Sedangkan studi kekerasan (Rule, 1988) melalui pemikiran Durkheim berargumentasi bahwa masyarakat yang samar nilai sosialnya, atau tercerabut dari nilai sosial yang pasti, cenderung senang mereproduksi kekerasan. Para anggota masyarakat tidak bisa menemukan kelembagaan pengelolaan konflik yang aman dan kuat. Sehingga pilihan untuk menemukan keselamatan bagi diri adalah mereproduksi kekerasan. Pada fase 1999-2004, masyarakat Indonesia mengalami proses kegamangan ini. Pada gilirannya, konflik-konflik di antara anggota masyarakat tidak terkelola secara konstruktif oleh modernisme dan local genius yang telah lemah. Sebaliknya, masyarakat memobilisasi diri kedalam praktik kekerasan.

Rekonstruksi local genius

Pada fase demokrasi kekinian, local genius kembali mendapatkan perhatian serius. Hal ini merupakan kesempatan untuk melakukan rekonstruksi local genius. Saya ingin mendefinisikan rekonstruksi local genius sebagai pemberian ruang dan waktu (kesempatan) bagi masyarakat-masyarakat komunitas lokal melakukan pembentukan sistem pengetahuan secara mandiri berbasis pada dunia pengalaman dan konteks kebutuhan masing-masing. Rekonstruksi local genius bukan, tidak selalu, mengembalikan local genius yang telah hilang, local genius silam, ke dalam kehidupan masyarakat lokal kontemporer. Proses ini lebih merupakan upaya memberi kemungkinan terbentuknya local genius baru yang dikonstruksikan secara sosial oleh imajinasi lokal. Namun demikian, ingatan terhadap local genius silam bisa menjadi bagian dari rekonstruksi local genius.

Lantas bagaimana proses rekonstruksi local genius, dalam masyarakat Indonesia kontemporer, bisa dilangsungkan? Indonesia telah memulainya dari perubahan struktural kekuasaan, sentralisme menjadi desentralisme kekuasaan. Daerah memiliki otoritas pada level yang cukup kuat untuk mengurus pembangunan lokal. Langkah selanjutnya adalah memberikan dukungan legal terhadap eksistensi dan pengembangan local genius. Pada level ini tantangan mulai cukup berat. Beberapa kalangan menuntut model pluralisme hukum yang mengakui adat beserta tata hukumnya sebagai peraturan yang diakui Negara. Sampai detik ini, Indonesia belum merealisasikan ini. Langkah lain, atau selanjutnya, adalah menjadi bagian dari diskursus konstruksi local genius di ruang publik.

Rekonstruksi local genius merupakan proses yang akan panjang, membutuhkan waktu dan kontestasi di antara para anggota masyarakat itu sendiri. Namun jika hipotesis local genius memiliki kontribusi fundamental dalam konstruksi tatana sosial harmoni, maka upaya rekonstruksi local genius tidak bisa diabaikan.*

*Naskah merupakan Makalah Kebudayaan dan Harmoni World Culture Forum Kemendikbud RI

Read more...

E-book gratis Negara Gagal Mengelola Konflik Karya Novri Susan

KoPi- Kabar baik bagi mereka yang tertarika mempelajari isu konflik, Novri Susan membagikan salah satu bukunya yang berjudul Negara Gagal Mengelola Konflik: Demokrasi dan Tata Kelola Konflik di Indonesia secara gratis. Buku dibagikan dalam bentuk e-book, format PDF.

"Buku saya bagikan secara gratis agar seluruh eleman bangsa ini, para mahasiswa, aktivis demokrasi dan para pemimpin politik membacanya. Membagi ilmu untuk transformasi Indonesia yang lebih baik"

Demikian dinyatakan Novri melalui telpon kepada KoPi. Buku ini terbit pada tahun 2012, cetak 6000 eksemplar dan habis dalam waktu satu bulan. Namun menurut dosen Transformasi Konflik dan Perdamaian di Universitas Airlangga tersebut, buku tidak dicetak ulang.

"Saya memang berencana membaginya secara gratis paska publikasi. Kini saatnya"

Nah bagi Anda yang tertarik bisa download di sini.

Read more...
Subscribe to this RSS feed
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Dari yang tersimpan

18 November 2017 |Esai

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas Pameran Drawing dan Sketsa Goenawan Mohamad Keberadaan, ke-penting-an, nilai sketsa memang tak ...

Puisi Anton Daryanto

11 November 2017 |Puisi

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBuka...

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

25 July 2017 |Esai

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

  Oleh : Mayek/perupa   Tulisan ini tak lain usaha untuk melihat indikasi praktik seni dan perilaku pelukis...

Puisi dan kemusnahan tirani

07 June 2017 |Esai

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Pu...

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

13 May 2017 |Esai

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

Upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan para dewa atau kekuatan ghaib yang dianggap supernatural merupakan salah ...

Londo jadi dokter hewan

09 January 2017 |Cerpen

Londo jadi dokter hewan

Oleh: Ursari Suatu hari di Magelang tahun 1970. Roji sedang memegang katak hijau, hasil tangkapannya di sawah kemar...

Kebersamaan ala AKAP

15 December 2016 |Esai

Kebersamaan ala AKAP

  Oleh: Dedi Yuniarto   Enam perupa berbeda daerah asal yakni AT Sitompul (Medan), Dedy Sufriadi (Palembang...

Puisi Alhendra Dy

01 October 2016 |Puisi

Puisi Alhendra Dy

Persetubuhan Menir( puisi habis untuk sdr tua " espoer wanta " )

Kepada Bulan September

10 September 2016 |Puisi

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berka...

Kuasa dan Konstitusi

26 August 2016 |Esai

Kuasa dan Konstitusi

Ihwal kuasa dan konstitusi, nama Machiavelli tib-tiba berkelebat di benak saya. Melihat kelindan kuasa dan konstitusi di...

Jalan Kekasih

11 July 2016 |Puisi

Jalan Kekasih

Puisi-puisi NS   malamku milikmu   Kubaca malam dari bintang-bintang dan desir sunyinya adalah perja...

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

07 June 2016 |Puisi

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

(Di) suatu waktu Oleh: NS aku ingin membagi teh hangat ini kepadamu yang kuseduh di cangkir warna putih dengan...

(Di) jalan secinta

31 January 2016 |Cerpen

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup y...

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

28 October 2015 |Puisi

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

I. (Di) taman ketika Aku adalah benih yang tumbuh segar Tumbuh elok tanpa seragu debar Tumbuh di tanah jiwamu berbunga...

Apa Rakyat akan Diam Saja

29 June 2015 |Puisi

Apa Rakyat akan Diam Saja

Ketika rakyat telah sendirian….. Ditinggalkan oleh para pemimpinnya Apa tetap rakyat akan percaya pada pemimpinya...

Pesan Semar

17 June 2015 |Cerpen

Pesan Semar

Kamu Semar. Itu bukan takdir kebetulan. Tak pantas kamu berdukacita lantaran perkara keluarga. Bangsamu sedang mengamban...

Puisi Anto Daryanto BnD

02 June 2015 |Puisi

Puisi Anto Daryanto BnD

Negeri  Seolah-olah   Negeri  Seolah-olah Seolah-olah diolah Di olah untuk  seolah-olah Pre...

(Di) hati setetes

29 April 2015 |Cerpen

(Di) hati setetes

Terkurung oleh batas. Aku menahan harap tercambuk cemas. Berdiri di pinggirannya menahan isak. Ribuan sayap cinta membur...

Tahun parodi

04 January 2015 |Esai

Tahun parodi

Jorge Luis Borges melalui pengantar bukunya Sejarah Aib, mengatakan dengan humornya yang khas bahwa “gaya yang dengan se...

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

16 December 2014 |Esai

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

Sastra adalah roh kebudayaan. Ia lahir dari proses rumit dari kegelisahan si penulis atas kondisi ketegangan masyarakat ...

Puisi Maria Thersia Ninis

25 November 2014 |Puisi

Puisi Maria Thersia Ninis

Badan bertanya..

Warung Kopi

22 November 2014 |Cerpen

Warung Kopi

dari tempat ini kami menggigit langit KAWAN saya sempat bersungut-sungut saat tahu parkir di warung kopi ini sekarang b...

Putri Naga

23 October 2014 |Novel

Putri Naga

Prolog - Istana Naga feodalisme, kebebasan, cinta, penghianatan, kekuasaan, mimpiIstana dibangun di atas kekuasaan dan ...

Koen

03 October 2014 |Cerpen

Koen

Oleh: Ranang Aji SP Seorang sipir berkumis tebal mendorongnya ke luar dari pintu utama penjara. Pintu besi bercat g...

Kalbu Maya : Merangkai Damai

20 September 2014 |Puisi

Kalbu Maya : Merangkai Damai

Kau telah membaca sajak kitab dalam isi kepalakuMungkin kau temukan gumpalan sampah,Yang telah berubah rambut putih beru...

Gagak di langit Berlin

11 September 2014 |Cerpen

Gagak di langit Berlin

Oleh: M. Faishal Aminuddin Perang itu mengakhiri sesuatu, tapi tak cukup buat menyudahi segala sesuatu. Tito bersau...

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

08 September 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

Jatuh di simpuhmu (Di)   setelah lelah menyaput terlena mengambang rasa tak tersudahi membelantara nafas bertanya se...

Keaslian kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Keaslian kebudayaan

Tulisan ini menanggapi tulisan saudara Ranang Aji SP Atropi dan identitas kebudayaan, Solo Pos edisi 13 Februari 2011,...

Atropi Kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Atropi Kebudayaan

Penduduk suku Bakung dari Mahak-Dumuk di pedalaman Pulau Kalimantan dewasa ini sedang dalam proses kehilangan identita...

Tentang Lelaki Itu

01 September 2014 |Cerpen

Tentang Lelaki Itu

Oleh : DS Priyadi Ia hanya lelaki biasa. Ia pun mengalami tua. Ya. Aku adalah saksi. Dan semua orang pun sebenarnya...

(Di) Melirih luruh

26 August 2014 |Cerpen

(Di) Melirih luruh

 Oleh: Ay Beberapa cahaya mungil berterbangan diantara daunan. Begitu malam yang terhampar hampa. Mengingat tidak l...

Sajak Daryanto Bender:  Menjemput Kemerdekaan

16 August 2014 |Puisi

Sajak Daryanto Bender: Menjemput Kemerdekaan

Menjemput kemerdekaan.....Ketika pagi hari masih terbungkus selimut dan terlelap dalam tidur apa itu sebuah kemerdekaan....

Secinta (Di)

15 August 2014 |Cerpen

Secinta (Di)

Secinta, dunia kini mengecil dan sempit. Kurasa demikian. Sejak ruhmu meninggalkan ruhku beberapa waktu lalu. Seperti ki...

Doa dalam mantra

02 August 2014 |Cerpen

Doa dalam mantra

Cerpen oleh: Mas Jiwandono   Karim mempersiapkan segala keperluan untuk pengajian rutin yang diadakan setiap bul...

Sang Banjir dan Bayi

01 August 2014 |Cerpen

Sang Banjir dan Bayi

Oleh: Ranang Aji SP Tiga hari tiga malam langit gelap telah mengguyurkan hujan deras ke kota ini. Hari pertama ...

Puisi Kalbu Maya

21 July 2014 |Puisi

Puisi Kalbu Maya

Luka yang Diabadikan I.    Janji ini, sejauh kita menulis jejak terucapkan di atas bibir purnama Dan jalan ini menangga...

Sajak Sebatang Lisong

03 July 2014 |Puisi

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisongMelihat Indonesia RayaMendengar 130 juta rakyatDan di langitDua tiga cukong mengangkangBerak di...

W.S. Rendra : Maskumambang

03 July 2014 |Puisi

W.S. Rendra : Maskumambang

Rendra membaca puisi dalam sebuah acara di Surabaya tahun 2009. Puisinya Maskumambang, adalah renungan tentang bagaimana...

Puisi-puisi Novri Susan

08 May 2014 |Puisi

Puisi-puisi Novri Susan

(Di) solilokui malam   kulihat wajahmu berseri seperti pagi itu ketika cahaya dari timur terbangun dari peradua...

Surat-surat Drupadi*

20 April 2014 |Cerpen

Surat-surat Drupadi*

 Oleh: Yogi Ishabib Seperti anak-anak perempuan pada masanya, aku memimpikan kehidupan yang indah. Aku yang dilahirkan ...

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

08 March 2014 |Cerpen

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

Oleh: Yogi Ishabib Pernah diceritakan, bahwa pada masa yang teramat lampau seorang laki-laki mendaki gunung untuk berte...

Novel: Cinta Menetes  Bag.  3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

08 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes Bag. 3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Tentang Hati (Bag. 3) Sudah pukul 2 pagi dini hari waktu Kyoto. Zali belum bisa tertidur. Biasanya pukul sepuluh sudah...

Warna Kalbu

08 March 2014 |Cerpen

Warna Kalbu

Oleh: Retno Ayu Setelah lima tahun kuhabiskan waktu di luar negeri untuk sekolah, kini kuhirup kembali udara kota asalk...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

03 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

Kyoto, Aku Jatuh Cinta (2)   Kyoto termasuk salah satu kota paling tua dan pernah menjadi ibu kota Jepang sebelum...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

01 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

Sudah hampir tiga tahun dia hidup di the City of thousand temples, Kyoto. Namanya Gazali, akrab dipanggil Zali. Satu kat...

Jalan Langit

28 February 2014 |Cerpen

Jalan Langit

Oleh: Retno Ayu Rafni termangu. Hujan begitu deras siang hari ini. Jendela kaca kamarnya berembun. Udara dingin menguy...

Puisi-puisi NS

28 February 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS

(Di) Hati Menetes sisa hujan adalah hati yang menetes di dinding-dinding bangunan sepi di antara ranting dan daunan rem...

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

07 February 2014 |Cerpen

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

Oleh: Mohammad Maos Bumi November. Awal hujan. Bumi mulai basah. Saat basah, seperti ada kehidupan baru, kesibukan baru...

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

07 February 2014 |Puisi

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

53

Sebuah Amsal Debu

06 December 2013 |Cerpen

Sebuah Amsal Debu

DS Priyadi Di ruang yang serba transparan lelaki tua itu berdiri. Aku memanggilnya Han. Ia lahir di pinggiran Pekal...