Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next
(Di) jalan secinta

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri.  Oleh: Ay Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai...

Puisi Anton Daryanto

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBukan pula waktunya menyendiri dan menepiIni ada tugas, yang mesti dijalani sepenuh hati

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berkata apa-apa Di kesendirian yang berpeluh karena sesak kerinduan Setiap hari kupandangi kamu Lewat cakrawala pagi dan sore Lewat...

Politik dan masa depan Indonesia

Hampir semua pemikir ilmu sosial membayangkan politik sebagai mekanisme pengorganisasian kekuasaan untuk mewujudkan harapan rakyat atas keamanan, kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran. Ideal demokrasi merumuskan bahwa politik adalah mandat kekuasaan rakyat terhadap para elite dalam mewujudkan semua harapan tersebut. Hal ini mensyaratkan keterikatan para elite politik dengan harapan rakyat. Keterikatan itu adalah sistem relasi yang dikuatkan oleh komitmen, keberanian, dan kesetiaan elite terhadap kepentingan rakyat. Realitas tak menyenangkan di Indonesia, sebagian elite politik tidak memiliki ikatan kerakyatan ini. 

Ketiadaan ikatan kerakyatan para elite mewujud kedalam praktik meraih atau mempertahankan kekuasaan atas dasar kepentingan seksional. Kepentingan yang hanya memenuhi keinginan terbatas diri dan kelompok. Membangun dinasti keluarga, melanggengkan primordialisme, dan golongan. Realitas ini makin terasa getir ketika kepentingan seksional diperjuangkan sebagai kebenaran yang hakiki dan suci.

Maka wacana-wacana dari kepentingan seksional secara sistematis menciptakan polarisasi kelompok. Ruang publik menjadi sesak oleh wacana-wacana seksional yang berisi tentang eksistensi satu kelompok dan golongan semata. Pada kondisi ini, para elite politik sesungguhnya sedang menjebak masyarakat melalui wacana seksional. Jebakan wacana yang menumbuhkan kesadaran tertutup bahwa keyakinan kelompok atau golongan adalah yang paling benar. Pada gilirannya, keasadaran tertutup mengalienasi rakyat dari substansi harapan kerakyatan itu sendiri.

Oleh karena alienasi tersebut, sebagian masyarakat tidak lagi akrab dengan wacana bagaimana politik bekerja mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Sebaliknya wacana seksional, misal, rasisme dan primordialisme lebih memadati ruang-ruang publik. Realitas kesadaran tertutup dalam masyarakat merupakan salah satu kunci bahwa bangsa ini, mengutip istilah William Maley (2006), selalu berada dalam kondisi transisi berkepanjangan  demokrasi (protracted transition). Transisi demokrasi adalah kondisi yang mana kekuasaan politik belum memiliki kapasitas mewujudkan harapan kerakyatan.

Ruang publik Indonesia makin keruh oleh beradunya wacana seksional antar kesadaran tertutup. Mobilisasi dalam aksi demonstrasi menciptakan ketegangan dan kekerasan komunikatif. Aksi demonstrasi dalam ideal demokrasi merupakan mekanisme kontrol terhadap kekuasaan yang dianggap keluar dari mandat konstitusi. Sebagian ilmuwan menyebutnya sebagai gerakan ekstra parlementer. Akan tetapi saat ini, imbas dari kepentingan seksional elite politik yang menciptakan kesadaran tertutup masyarakat, aksi demonstrasi berisi rasisme, ego kelompok dan golongan.

Pertaruhan mematikan dari ketidakhadiran ikatan kerakyatan dari sebagian elite politik Indonesia secara jangka panjang adalah masa depan bangsa. Narasi masa depan indah yang terukir jelas dalam konstitusi akan berubah menjadi narasi masa depan kelam. Masa yang tertandai oleh praktik-praktik politik yang menguntungkan sepihak. Keuntungan sepihak menyebabkan kejahatan korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, dan pengabaian keadilan sosial.*

*Sumber: Artikel Novri Susan (Kompas, 10 Februari 2017)

Read more...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa dibendung dengan menerapkan pasal-pasal 285 danb 389 KUHP, karena sulitnya membuktikan kejahatan seksual,  banyaknya korban enggan melaporkan kejahatan seksual-- berkait dengan beban mental yang harus ditanggung korban kejahatan--, ditambah konsep kejahatan seksual masih banyak diperdebatkan, misalnya: konsep perkosaan, konsep pelecehan seksual.
Oleh: Sudarso (Dosen Departemen Sosiologi FISIP UNAIR)
Read more...

Jalan Kekasih

  • Published in Puisi

Puisi-puisi NS


 

malamku milikmu

 

Kubaca malam

dari bintang-bintang dan desir sunyinya

adalah perjalanan lintas waktu

dari sini ke tempatmu

 

Apa kabar yang kukasih? 

sakit atas kesendirian

bukanlah tentang masa silam

namun masa nanti 

Jika tidak ditemu

sebab tidak mungkin tidak bertemu

Lelah terkulai di pembaringan

yang selalu saja membawa dingin

tapi dingin tak perlu dirisau

Karena rindu

adalah kiasmu di pikiranku

(Magelang, #200610 4/7/16)

 

hembusan rindu

 

Kegelisahan adalah ketidaktahuan yang renta

tergopoh di lorong malam

tersedak dingin 

lalu mencari-cari

Jemarimu kuinginkan

seperti napas pertama bayi

pada udara dunia

Bibirmu adalah buah paling manis

segar dan pengertian

Aku tidak mengeluhkan keadaan ini

sebab dekat atau jauh rentang waktu

nafas rinduku akan memilikimu

sama halnya rindumu akan memilikiku

utuh tak akan terbagi

(Magelang, #200610 4/7/16)

 

Read more...

Aduh, para puteri cantik Jawa Timur itu...

Surabaya-KoPi| Para puteri cantik berlaga dalam Audisi Puteri Indonesia untuk wilayah Provinsi Jawa Timur. Sabtu nanti (19/12/15) para puteri cantik dari berbagai kabupaten dan kota Jawa Timur akan melewati babak final. Sedangkan grand final akan terselenggara pada Hari Minggu (20/12/15).

Read more...

Ya Tuhan, hantu-hantu dijadikan obyek wisata...

KoPi| Apa yang Anda rasakan ketika hantu-hantu menjadi obyek wisata? Ngeri dan penasaran akan menjadi satu. Ini bukan khayalan, namun memang begitu apa adanya. Jika Anda memasuki wilayah ini, siapkan jantung.

Tentu saja hantu-hantu di lokasi wisata ini adalah replika atau tiruan yang dibuat dari boneka-boneka. Secara kreatif para penduduk di Tawangmawangu, Solo menyulap desanya menjadi wisata hantu "Kampung Halloween." Ketika Anda memasuki lokasi ini, satu area seluas sekitar satu hektar di perbukitan akan terlihat bagaimana 'hantu-hantu' sedang duduk-duduk santai.

Ada hantu pocong, monster, kuntilanak, dan hantu-hantu lain yang wajahnya mengerikan. Akan tetapi suasana seram sama sekali tidak ada. Suasana akan menjadi asyik dan imajinatif. 

Pengurus lokasi wisata ini menyatakan bahwa konsep hantu sebagai wisata adalah untuk daya tarik, keunikan, dan sekaligus edukasi terkait dunia lain. Ada dunia lain yang tidak perlu ditakuti.

Terlihat para pengunjung melakukan foto-foto, menikmati seni perhantuan dalam wisata ini. Tertarik berfoto bersama hantu? Sila datang ke tempat ini. |YP|

Read more...

Rekonstruksi 'local genius'

"Saya ingin mendefinisikan rekonstruksi local genius sebagai pemberian ruang dan waktu (kesempatan) bagi masyarakat komunitas lokal melakukan pembentukan sistem pengetahuan secara mandiri berbasis pada dunia pengalaman dan konteks kebutuhan masing-masing."


Novri Susan (Sosiolog Studi Konflik dan Perdamaian Univ. Airlangga)


Pada tahun 1999 ketika Indonesia memasuki transisi demokrasi, terjadi ledakan konflik kekerasan komunal di beberapa wilayah seperti Poso, Ambon Maluku, dan Sampit. Ledakan kekerasan yang membunuh dan menderitakan ratusan ribu warga sipil. Perempuan dan anak merupakan kelompok paling terkorbankan. Selain itu menciptakan konsekuensi destruktif dalam bentuk kehancuran tatanan sosial ekonomi, segregrasi sosial, ingatan kolektif berbasis kebencian, serta ketidakpercayaan terhadap Negara.

Berbagai analisis pada satu titik bersepakat bahwa ledakan kekerasan merupakan konsekuensi dari tercerabutnya local genius dari sistem sosial Indonesia. Menurut Robert Hefner melalui risetnya (1986), local genius, kearifan dan kecerdasan lokal, pada faktisitas historis Indonesia prakolonialisme, mampu bekerja menciptakan tatanan sosial harmoni. Mengapa local genius, disebut, mampu memberikan kontribusi konstruktif terhadap tatanan sosial harmoni?

Pertanyaan tersebut sering menjadi garis awal memulai diskursus terkait tema tatanan sosial harmoni. Ada dua konsep serius yang perlu mendapatkan perhatian makna sebelum lebih jauh menelaah tatanan sosial harmoni, yaitu local genius dan harmoni. Local genius merupakan istilah yang sepadan dengan local wisdom. Secara definisi local genius merujuk pada stock of knowledge (sistem pengetahuan) yang dikonstruksikan secara sosial oleh anggota-anggota komunitas dalam proses historis. Posisi anggota komunitas menentukan sistem pengetahuan tersebut disebut local genius atau pengetahuan asing.

Harmoni secara etimologis berasal dari harmos (Yunani) dan harmonia (latin) yang berarti kesepakatan, kemauan bergabung dan kerukunan. Harmoni secara genealogis banyak ditemukan dalam tubuh masyarakat Asia. Masyarakat Indonesia, secara umum, memiliki genealogi harmoni yang bisa ditemukan dari berbagai reproduksi praktik sosial.

Misal pada masyarakat Jawa, harmoni ditemukan dari ujaran memayu hayuning bawano. Artinya, manusia memiliki kewajiban menciptakan kebaikan bersama yang mengatasi kepentingan diri sendiri. Sama halnya dalam konsep common good atau common virtue dalam politik demokrasi. Harmoni merupakan kondisi yang mana para individu mereproduksi berbagai praktik sosial yang berorientasi pada kepentingan umum seperti kedamaian, ketentraman dan keselamatan. Ketaaatan terhadap harmoni bisa saja bersumber dari relijiusitas, spiritual, dan loyalitas tradisi.

Desublimasi represif modernisme

Local genius, terutama dalam masyarakat Indonesia, bekerja di atas fondasi harmoni. Berbeda dari Marx yang menjadikan materialism sebagai infrastruktur kesadaran, pada masyarakat Indonesia pengetahuan harmoni menjadi infrastruktur dari berbagai kesadaran, praktik dan sistem. Setiap komunitas masyarakat, dalam konteks keindonesiaan, pra kolonialisme memiliki local genius yang asali. Local genius, pada gilirannya, mewujud sebagai mekanisme-mekanisme lokal dalam pengelolaan berbagai masalah seperti konflik sosial diantara anggota, perawatan lingkundan, sampai pengelolaan kepemimpinan. Pada pascakolonialisme local genius harus berhadapan dengan ekspansi modernisme dalam politik dan pembangunan.

Sebagai konsep dan studi, local genius merupakan respon terhadap modernisme yang bekerja di atas standar formulasi kebenaran. Modernisme memaksa setiap entitas kebudayaan untuk mengikuti formulasi kebenaran terkait dunia kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Formulasi standar kebenaran modernisme bisa ditemukan di dalam sentralisme politik, struktur birokrasi dan pembangunanisme. Indonesia selama periode Orde Baru (1969-1998) mempraktikkan ketiga formulasi standar kebenaran tersebut.

Konsekuensi dari praktik tersebut, yang paling menonjol, adalah proses desublimasi represif terhadap cara kerja lokal dari masyarakat-masyarakat Indonesia yang majemuk. Sentralisme politik memaksa pandangan-pandangan lokal tentang apa yang disebut sebagai konsep asali cara berpolitik untuk tunduk, patuh, dan bahkan menghilang. Rejim Orde Baru memaksa sistem lokalitas mengikuti tata cara yang diatur seperti nama dan cara pemilihan kepala desa. Kepentingan Negara melakukan administrasi pembangunan telah menciptakan birokrasi yang hanya bekerja di atas wewenang atau peraturan pemerintahan. Birokrasi tidak berbicara atau berbahasa melalui konteks lokal namun menggunakan bahasa-bahasa pemerintahan yang sering diungkapkan melalui bahasa ‘ya aturannya begini’. Begitu pun pembangunan, modernisme memaksa lokalitas mengubah nilai-nilainya menjadi pengetahuan rasional.

Lokalitas masyarakat Indonesia mengalami represi selama lebih dari tiga puluh dua tahun. Konsekuensinya adalah local genius masyarakat makin terpinggir dan hampir musnah. Namun ternyata, modernisme pun tidak berhasil merealisasikan misinya. Kegagalan modernisme muncul dalam bentuk lembaga-lembaga birokrasi, termasuk lembaga hukum dan keamanan, yang korup dan tidak memecahkan keluhan masyarakat, kerusakan lingkunan serta ketidakadilan pembangian hasil pembangunan. Kegagalan tersebut menyebabkan masyarakat mengambil jarak terhadap desain modernisme. Generasi-generasi baru dalam komunitas local genius tidak saja menghadapi kegagalan modernisme, namun juga harus menghadapi sistem pengetahuan lokal yang telah pudar. Secara sosiologis, generasi ini tidak memiliki nilai yang kuat dan percaya diri. Masyarakat mengalami kegamangan yang resah.

Sedangkan studi kekerasan (Rule, 1988) melalui pemikiran Durkheim berargumentasi bahwa masyarakat yang samar nilai sosialnya, atau tercerabut dari nilai sosial yang pasti, cenderung senang mereproduksi kekerasan. Para anggota masyarakat tidak bisa menemukan kelembagaan pengelolaan konflik yang aman dan kuat. Sehingga pilihan untuk menemukan keselamatan bagi diri adalah mereproduksi kekerasan. Pada fase 1999-2004, masyarakat Indonesia mengalami proses kegamangan ini. Pada gilirannya, konflik-konflik di antara anggota masyarakat tidak terkelola secara konstruktif oleh modernisme dan local genius yang telah lemah. Sebaliknya, masyarakat memobilisasi diri kedalam praktik kekerasan.

Rekonstruksi local genius

Pada fase demokrasi kekinian, local genius kembali mendapatkan perhatian serius. Hal ini merupakan kesempatan untuk melakukan rekonstruksi local genius. Saya ingin mendefinisikan rekonstruksi local genius sebagai pemberian ruang dan waktu (kesempatan) bagi masyarakat-masyarakat komunitas lokal melakukan pembentukan sistem pengetahuan secara mandiri berbasis pada dunia pengalaman dan konteks kebutuhan masing-masing. Rekonstruksi local genius bukan, tidak selalu, mengembalikan local genius yang telah hilang, local genius silam, ke dalam kehidupan masyarakat lokal kontemporer. Proses ini lebih merupakan upaya memberi kemungkinan terbentuknya local genius baru yang dikonstruksikan secara sosial oleh imajinasi lokal. Namun demikian, ingatan terhadap local genius silam bisa menjadi bagian dari rekonstruksi local genius.

Lantas bagaimana proses rekonstruksi local genius, dalam masyarakat Indonesia kontemporer, bisa dilangsungkan? Indonesia telah memulainya dari perubahan struktural kekuasaan, sentralisme menjadi desentralisme kekuasaan. Daerah memiliki otoritas pada level yang cukup kuat untuk mengurus pembangunan lokal. Langkah selanjutnya adalah memberikan dukungan legal terhadap eksistensi dan pengembangan local genius. Pada level ini tantangan mulai cukup berat. Beberapa kalangan menuntut model pluralisme hukum yang mengakui adat beserta tata hukumnya sebagai peraturan yang diakui Negara. Sampai detik ini, Indonesia belum merealisasikan ini. Langkah lain, atau selanjutnya, adalah menjadi bagian dari diskursus konstruksi local genius di ruang publik.

Rekonstruksi local genius merupakan proses yang akan panjang, membutuhkan waktu dan kontestasi di antara para anggota masyarakat itu sendiri. Namun jika hipotesis local genius memiliki kontribusi fundamental dalam konstruksi tatana sosial harmoni, maka upaya rekonstruksi local genius tidak bisa diabaikan.*

*Naskah merupakan Makalah Kebudayaan dan Harmoni World Culture Forum Kemendikbud RI

Read more...

Persekutuan Gereja di Papua: Kami mohon maaf

  • Published in Sosial

Jayapura-KoPi | Para tokoh agama Kristen Papua melakukan pertemuan di Kantor Wilayah Kementerian Agama di Entrop, Jayapura hari ini (18/7/2015). Pertemuan tersebut sebagai respon terhadap serangan kekerasan terhadap ummat Islam yang melaksanakan ibadah shalat Ied 1436 H di Tolikara. 

Paska pertemuan tersebut para tokoh agama menemui pers dan menyatakan permintaan maaf kepada ummat Islam di Tolikara atas insiden tersebut. Pada hari Jumat 17 Juli lalu, terjadi aksi kekerasan yang menyebabkan 54 kios terbakar dan 1 mushola hancur. Wakil dari persekutuan gereja di Papua, Pendeta Herma Saud, menyatakan penyesalan kejadian itu.

"Atas nama tokoh agama di Papua, kami bersama seluruh umat beragama di Papua menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya pembakaran mushola dan penyerangan umat muslim saat melaksanakan shalat Idul Fitri di Lapangan Koramil Tolikara kemarin. Akibat kejadian ini pula seorang warga akhirnya meninggal dunia,” kata Herman Saud dikutip Antara (18/7/15).

Selain itu Pendeta Herman meminta masyarakat agar tidak terprovokasi oleh isu-isu yang makin menyesatkan dan memanaskan situasi. Saat ini menurut Herman, tokoh-tokoh agama sangat menyayangkan beredarnya surat dari GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) tentang pelarangan ibadah ummat Islam di Hari Raya Idul Fitri.

Sosiolog pakar studi konflik dari Universitas Airlangga, Novri Susan, menyebut langkah persekutuan gereja dengan permintaan maaf akan menjadi kekuatan rekonsilisasi yang penting.

"Ya, pernyataan tersebut menjadi kekuatan rekonsiliasi antar ummat beragama. Sangat baik untuk masyarakat di Papua dan umumnya Indonesia. Setelah ini harus ada program khusus dari pemerintah untuk membangun perdamaian secara berkelanjutan khususnya di Tolikara Papua," jelas Novri melalui percakapan telpon. | AG

Read more...

Ini respon Persekutuan Gereja Indonesia

  • Published in Sosial

Jakarta-KoPi | Insiden kekerasan terhadap ummat Islam yang sedang merayakan hari Raya Idul Fitri, akan direspon oleh PGI (Persatuan Gereja Indonesia). Hal ini disampaikan oleh Odhita R. Hutabarat Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama. 

Menurut Odhita PGI akan menyampaikan permintaan maaf pada Hari Sabtu (18/7/15) melalui media massa. Insiden Tolikara merupakan hal yang sangat tidak mengenakkan seluruh pihak.

"Tentang peristiwa itu, kita minta PGI untuk memberikan keterangan dan menyampaikan permohonan maaf kepada ummat Islam melalui pers," jelas Odhita.

Selain itu pemerintah telah meminta pihak GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) mengklarifikasi kronologi kejadian dan meminta maaf kepada ummat Islam. Kekerasan tersebut sangat disayangkan karena bertepatan dengan hari kemenangan ummat Islam. | AG

Read more...
Subscribe to this RSS feed
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Dari yang tersimpan

18 November 2017 |Esai

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas Pameran Drawing dan Sketsa Goenawan Mohamad Keberadaan, ke-penting-an, nilai sketsa memang tak ...

Puisi Anton Daryanto

11 November 2017 |Puisi

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBuka...

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

25 July 2017 |Esai

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

  Oleh : Mayek/perupa   Tulisan ini tak lain usaha untuk melihat indikasi praktik seni dan perilaku pelukis...

Puisi dan kemusnahan tirani

07 June 2017 |Esai

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Pu...

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

13 May 2017 |Esai

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

Upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan para dewa atau kekuatan ghaib yang dianggap supernatural merupakan salah ...

Londo jadi dokter hewan

09 January 2017 |Cerpen

Londo jadi dokter hewan

Oleh: Ursari Suatu hari di Magelang tahun 1970. Roji sedang memegang katak hijau, hasil tangkapannya di sawah kemar...

Kebersamaan ala AKAP

15 December 2016 |Esai

Kebersamaan ala AKAP

  Oleh: Dedi Yuniarto   Enam perupa berbeda daerah asal yakni AT Sitompul (Medan), Dedy Sufriadi (Palembang...

Puisi Alhendra Dy

01 October 2016 |Puisi

Puisi Alhendra Dy

Persetubuhan Menir( puisi habis untuk sdr tua " espoer wanta " )

Kepada Bulan September

10 September 2016 |Puisi

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berka...

Kuasa dan Konstitusi

26 August 2016 |Esai

Kuasa dan Konstitusi

Ihwal kuasa dan konstitusi, nama Machiavelli tib-tiba berkelebat di benak saya. Melihat kelindan kuasa dan konstitusi di...

Jalan Kekasih

11 July 2016 |Puisi

Jalan Kekasih

Puisi-puisi NS   malamku milikmu   Kubaca malam dari bintang-bintang dan desir sunyinya adalah perja...

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

07 June 2016 |Puisi

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

(Di) suatu waktu Oleh: NS aku ingin membagi teh hangat ini kepadamu yang kuseduh di cangkir warna putih dengan...

(Di) jalan secinta

31 January 2016 |Cerpen

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup y...

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

28 October 2015 |Puisi

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

I. (Di) taman ketika Aku adalah benih yang tumbuh segar Tumbuh elok tanpa seragu debar Tumbuh di tanah jiwamu berbunga...

Apa Rakyat akan Diam Saja

29 June 2015 |Puisi

Apa Rakyat akan Diam Saja

Ketika rakyat telah sendirian….. Ditinggalkan oleh para pemimpinnya Apa tetap rakyat akan percaya pada pemimpinya...

Pesan Semar

17 June 2015 |Cerpen

Pesan Semar

Kamu Semar. Itu bukan takdir kebetulan. Tak pantas kamu berdukacita lantaran perkara keluarga. Bangsamu sedang mengamban...

Puisi Anto Daryanto BnD

02 June 2015 |Puisi

Puisi Anto Daryanto BnD

Negeri  Seolah-olah   Negeri  Seolah-olah Seolah-olah diolah Di olah untuk  seolah-olah Pre...

(Di) hati setetes

29 April 2015 |Cerpen

(Di) hati setetes

Terkurung oleh batas. Aku menahan harap tercambuk cemas. Berdiri di pinggirannya menahan isak. Ribuan sayap cinta membur...

Tahun parodi

04 January 2015 |Esai

Tahun parodi

Jorge Luis Borges melalui pengantar bukunya Sejarah Aib, mengatakan dengan humornya yang khas bahwa “gaya yang dengan se...

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

16 December 2014 |Esai

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

Sastra adalah roh kebudayaan. Ia lahir dari proses rumit dari kegelisahan si penulis atas kondisi ketegangan masyarakat ...

Puisi Maria Thersia Ninis

25 November 2014 |Puisi

Puisi Maria Thersia Ninis

Badan bertanya..

Warung Kopi

22 November 2014 |Cerpen

Warung Kopi

dari tempat ini kami menggigit langit KAWAN saya sempat bersungut-sungut saat tahu parkir di warung kopi ini sekarang b...

Putri Naga

23 October 2014 |Novel

Putri Naga

Prolog - Istana Naga feodalisme, kebebasan, cinta, penghianatan, kekuasaan, mimpiIstana dibangun di atas kekuasaan dan ...

Koen

03 October 2014 |Cerpen

Koen

Oleh: Ranang Aji SP Seorang sipir berkumis tebal mendorongnya ke luar dari pintu utama penjara. Pintu besi bercat g...

Kalbu Maya : Merangkai Damai

20 September 2014 |Puisi

Kalbu Maya : Merangkai Damai

Kau telah membaca sajak kitab dalam isi kepalakuMungkin kau temukan gumpalan sampah,Yang telah berubah rambut putih beru...

Gagak di langit Berlin

11 September 2014 |Cerpen

Gagak di langit Berlin

Oleh: M. Faishal Aminuddin Perang itu mengakhiri sesuatu, tapi tak cukup buat menyudahi segala sesuatu. Tito bersau...

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

08 September 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

Jatuh di simpuhmu (Di)   setelah lelah menyaput terlena mengambang rasa tak tersudahi membelantara nafas bertanya se...

Keaslian kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Keaslian kebudayaan

Tulisan ini menanggapi tulisan saudara Ranang Aji SP Atropi dan identitas kebudayaan, Solo Pos edisi 13 Februari 2011,...

Atropi Kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Atropi Kebudayaan

Penduduk suku Bakung dari Mahak-Dumuk di pedalaman Pulau Kalimantan dewasa ini sedang dalam proses kehilangan identita...

Tentang Lelaki Itu

01 September 2014 |Cerpen

Tentang Lelaki Itu

Oleh : DS Priyadi Ia hanya lelaki biasa. Ia pun mengalami tua. Ya. Aku adalah saksi. Dan semua orang pun sebenarnya...

(Di) Melirih luruh

26 August 2014 |Cerpen

(Di) Melirih luruh

 Oleh: Ay Beberapa cahaya mungil berterbangan diantara daunan. Begitu malam yang terhampar hampa. Mengingat tidak l...

Sajak Daryanto Bender:  Menjemput Kemerdekaan

16 August 2014 |Puisi

Sajak Daryanto Bender: Menjemput Kemerdekaan

Menjemput kemerdekaan.....Ketika pagi hari masih terbungkus selimut dan terlelap dalam tidur apa itu sebuah kemerdekaan....

Secinta (Di)

15 August 2014 |Cerpen

Secinta (Di)

Secinta, dunia kini mengecil dan sempit. Kurasa demikian. Sejak ruhmu meninggalkan ruhku beberapa waktu lalu. Seperti ki...

Doa dalam mantra

02 August 2014 |Cerpen

Doa dalam mantra

Cerpen oleh: Mas Jiwandono   Karim mempersiapkan segala keperluan untuk pengajian rutin yang diadakan setiap bul...

Sang Banjir dan Bayi

01 August 2014 |Cerpen

Sang Banjir dan Bayi

Oleh: Ranang Aji SP Tiga hari tiga malam langit gelap telah mengguyurkan hujan deras ke kota ini. Hari pertama ...

Puisi Kalbu Maya

21 July 2014 |Puisi

Puisi Kalbu Maya

Luka yang Diabadikan I.    Janji ini, sejauh kita menulis jejak terucapkan di atas bibir purnama Dan jalan ini menangga...

Sajak Sebatang Lisong

03 July 2014 |Puisi

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisongMelihat Indonesia RayaMendengar 130 juta rakyatDan di langitDua tiga cukong mengangkangBerak di...

W.S. Rendra : Maskumambang

03 July 2014 |Puisi

W.S. Rendra : Maskumambang

Rendra membaca puisi dalam sebuah acara di Surabaya tahun 2009. Puisinya Maskumambang, adalah renungan tentang bagaimana...

Puisi-puisi Novri Susan

08 May 2014 |Puisi

Puisi-puisi Novri Susan

(Di) solilokui malam   kulihat wajahmu berseri seperti pagi itu ketika cahaya dari timur terbangun dari peradua...

Surat-surat Drupadi*

20 April 2014 |Cerpen

Surat-surat Drupadi*

 Oleh: Yogi Ishabib Seperti anak-anak perempuan pada masanya, aku memimpikan kehidupan yang indah. Aku yang dilahirkan ...

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

08 March 2014 |Cerpen

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

Oleh: Yogi Ishabib Pernah diceritakan, bahwa pada masa yang teramat lampau seorang laki-laki mendaki gunung untuk berte...

Novel: Cinta Menetes  Bag.  3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

08 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes Bag. 3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Tentang Hati (Bag. 3) Sudah pukul 2 pagi dini hari waktu Kyoto. Zali belum bisa tertidur. Biasanya pukul sepuluh sudah...

Warna Kalbu

08 March 2014 |Cerpen

Warna Kalbu

Oleh: Retno Ayu Setelah lima tahun kuhabiskan waktu di luar negeri untuk sekolah, kini kuhirup kembali udara kota asalk...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

03 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

Kyoto, Aku Jatuh Cinta (2)   Kyoto termasuk salah satu kota paling tua dan pernah menjadi ibu kota Jepang sebelum...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

01 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

Sudah hampir tiga tahun dia hidup di the City of thousand temples, Kyoto. Namanya Gazali, akrab dipanggil Zali. Satu kat...

Jalan Langit

28 February 2014 |Cerpen

Jalan Langit

Oleh: Retno Ayu Rafni termangu. Hujan begitu deras siang hari ini. Jendela kaca kamarnya berembun. Udara dingin menguy...

Puisi-puisi NS

28 February 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS

(Di) Hati Menetes sisa hujan adalah hati yang menetes di dinding-dinding bangunan sepi di antara ranting dan daunan rem...

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

07 February 2014 |Cerpen

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

Oleh: Mohammad Maos Bumi November. Awal hujan. Bumi mulai basah. Saat basah, seperti ada kehidupan baru, kesibukan baru...

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

07 February 2014 |Puisi

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

53

Sebuah Amsal Debu

06 December 2013 |Cerpen

Sebuah Amsal Debu

DS Priyadi Di ruang yang serba transparan lelaki tua itu berdiri. Aku memanggilnya Han. Ia lahir di pinggiran Pekal...