Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next
(Di) jalan secinta

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri.  Oleh: Ay Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai...

Puisi Anton Daryanto

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBukan pula waktunya menyendiri dan menepiIni ada tugas, yang mesti dijalani sepenuh hati

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berkata apa-apa Di kesendirian yang berpeluh karena sesak kerinduan Setiap hari kupandangi kamu Lewat cakrawala pagi dan sore Lewat...

Kepada Bulan September

  • Published in Puisi

Kepada Bulan September

Puisi: Novri Susan

 

Aku mengejar waktu di bulan September

Di keramaian yang tidak berkata apa-apa

Di kesendirian yang berpeluh karena sesak kerinduan

Setiap hari kupandangi kamu

Lewat cakrawala pagi dan sore

Lewat mimpi dan mimpi yang sama

Hai terkasih, kamu harus tahu

Bahwa aku selalu tergopoh memikirkanmu

 

Aku menyerahkan hatiku pada hati bulan September

Pada saat aku menuliskannya hari ini

Atau pada saat hari itu

ketika suaramu adalah kerlipan hidup

Dtimang oleh kasih sayang

Oleh binar-binar cumbu Ibu yang menari di parasmu

 

Malam ini aku bergelimang sunyi

Berharap di dekatmu

Berdoa bersama kepada Tuhan kita

Agar duniamu selalu subur dan lapang

Agar duniamu tidak terpisah dari duniaku

Namun yang paling berharga adalah suka citamu

Suka cita saat ini dan nanti

 

Aku mengejar waktu di bulan September

Karena aku mencintaimu

 

NS (#200610) Surabaya

Read more...

Jalan Kekasih

  • Published in Puisi

Puisi-puisi NS


 

malamku milikmu

 

Kubaca malam

dari bintang-bintang dan desir sunyinya

adalah perjalanan lintas waktu

dari sini ke tempatmu

 

Apa kabar yang kukasih? 

sakit atas kesendirian

bukanlah tentang masa silam

namun masa nanti 

Jika tidak ditemu

sebab tidak mungkin tidak bertemu

Lelah terkulai di pembaringan

yang selalu saja membawa dingin

tapi dingin tak perlu dirisau

Karena rindu

adalah kiasmu di pikiranku

(Magelang, #200610 4/7/16)

 

hembusan rindu

 

Kegelisahan adalah ketidaktahuan yang renta

tergopoh di lorong malam

tersedak dingin 

lalu mencari-cari

Jemarimu kuinginkan

seperti napas pertama bayi

pada udara dunia

Bibirmu adalah buah paling manis

segar dan pengertian

Aku tidak mengeluhkan keadaan ini

sebab dekat atau jauh rentang waktu

nafas rinduku akan memilikimu

sama halnya rindumu akan memilikiku

utuh tak akan terbagi

(Magelang, #200610 4/7/16)

 

Read more...

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

  • Published in Puisi

(Di) suatu waktu


Oleh: NS


aku ingin membagi teh hangat ini kepadamu

yang kuseduh di cangkir warna putih

dengan lukisan bunga merah jambu

tapi kamu tidak menengok

bukan sebab jarak

kita tahu bahwa jarak tidak akan pernah mampu melawan kerinduan

namun ini sebab kehilangan

sudah tidak ada sehampar hampa

kamu tidak akan pernah tahu kesakitanku

seperti malam ini ketika hatiku menjadi hujan

berderak-derak ke permukaan bumi

adalah irama kosong tanpa henti

Duh…

aku selalu tergetar jika jemariku menyentuhmu

tergenggam lirih oleh penyerahan utuh

memuja kasih sayangmu yang perawan

lalu teh telah dingin tak kurang setetes pun

mengingatkan bahwa sisa malam adalah rintihan

yang terkurung jeruji sunyi

namun aku tahu

harga cahaya hidupmu adalah hidupku

---

(Di) Surabaya, 2 Ramadhan 2016

Read more...

Puisi : M. Roisul K

  • Published in Sastra

70 tahun bangsa ini bernama Indonesia

Kota-kota, desa-desa, ialah lahan tumbuh dan tumbuhan

1945 dia adalah kelopak bunga
1965 berganti kepala kebun
1998 kebun diserang hama
2000 bunga dipindah ke ruang kaca
2014 bunga tak mekar-mekar juga
Orang-orang selalu bertanya
dan hanya bertanya

Penduduk kota menciptakan jawabannya sendiri dengan gaya hidup modern

Vaksin praktisitas disuntikkan dalam urat-urat mereka
supaya terjaga dari macet dan polusi
Sementara desa, yang amat lugu
juga mulai terserang virus kota
Gadget memenggal satu per satu akal di bawah umur
Hukum adat perlahan terongrong
terseret ke ruang wacana besar dunia bernama ‘kesetaraan’

Malam bukan lagi petang
Seperti desa, keheningannya mulai menghilang
Tapi, desa masih menyimpan sisa jiwanya
Bersama 70 tahun lebih isu merdeka
Desa bertapa dalam gelapnya
Meski kota perlahan menelanjangi tubuhnya

Serang, 02 Februari 20

 

  • Biodata Penyair: 
  • M. Roisul K, mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) Jurusan Sastra Indonesia. Lahir di Bojonegoro. Aktif di beberapa organisasi dan komunitas teater Gelanggang. Baru-baru ini sedang mempermatang pengetahuannya di Serang Graha Budaya Banten Kandaka.
Read more...

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

  • Published in Puisi

I. (Di) taman ketika


Aku adalah benih yang tumbuh segar
Tumbuh elok tanpa seragu debar
Tumbuh di tanah jiwamu berbunga rindu
Sebab kamu memberi kehidupan pada hidupku
Sebab aku hidup bersama kehidupanmu

Aku memandangmu sebagaimana kamu memandangku
Menjadi ikatan yang tidak bisa dilepas
Maka doa demi doa menalu-nalu waktu
Waktu yang kuinginkan adalah waktumu

Setiap kulangkah selalu kepadamu

Bukankah itu juga yang hati jadi terpadu
Dulu bukanlah kenangan hampa semata
Menjadi untai kisah memanggil masa berkerlip
Masaku bercumbu masamu
Melahirkan cintaku cintamu

(Surabaya, 11 September 2015)

 

II. Senja di Kota Dili

 

Senja menangkap kegelisahan

yang kusimpan kupendam kukaburkan

berselirih tak lagi lagu mengenang

tergopoh aku mencari-cari di antara terlinang

sependar keindahan

Adalah milikmu seluruhnya aku

semua kekosongan tidak pernah sia-sia

tidak pernah hai kamu sayap-sayap pada jumpa

nanti mengepak sampai di sana

bukan sekeluh mimpi sebab nyata

 

Aku lagi dan lagi tertangkap senja

biarkan saja biarkan saja

cahaya temaram adalah kejujuran setiap luka setiap suka

bahwa mencintaimu tidak bisa disebut tiada

ah selanjutnya saling menjaga

kita

sampai tua

kita

adalah sepasang senja

yang melahirkan  cahaya-cahaya

sebagai pagi bermata kejora

(Dili, 23/10/15)

Read more...

Apa Rakyat akan Diam Saja

  • Published in Puisi

Ketika rakyat telah sendirian…..
Ditinggalkan oleh para pemimpinnya
Apa tetap rakyat akan percaya pada pemimpinya.

Rakyat berjuang sendiri
Menentukan nasibnya sendiri
Apa lalu tetap setia pada pemerintah dan negerinya

Rakyat berjuang untuk keluarganya
Terseok-seok membayar pajak
Demi bijak menjadi warga negara
Namun pajak dirampok
Apa rakyat akan diam saja,
dirampok oleh para perampok.

Rakyat boleh marah
Untuk tidak menjadi rakyat rendah
Boleh bersumpah serapah
Sebagai tanda tidak menyerah

Rakyat pun boleh berteriak
Untuk tidak menjadi barisan budak
Jidat dan kepala sudah dipenuhi berak
Saatnya menjadi barisan pemberontak
Bawa golok, pedang, sabit cangkul kalau perlu kampak
Kita lawan dan kita babat barisan perompak dan perampok.

Saatnya rakyat menjadi barisan jagoan
Turung gunung menjadi barisan jalanan
Tidak takut dikatakan arogan
Ketika martabat dan harga diri direndahkan.

Rakyat merdeka adalah bukan rakyat penakut
Pemberontak adalah bukan barisan pemalas….
Rakyat berdaya…..adalah rakyat yang punya wibawa.

Bio penyair

Anto Daryanto BnD adalah Aktor Teater dan pekerja kebudayaan. Ia belajar drama di Akademi Seni Drama dan Film Yogyakarta (Asdrafi) dan Bengkel Teater Rendra. Belajar filsafat di Driyakarya Jakarta. Memerankan tokoh Abivara di Suku Naga(1998)  bersama WS Rendra, Ardi Kurdi, Sawung Jabo, Ken Zuraida, Otig Pakis dengan sutradara WS Rendra. Daryanto juga bermain sebagai Bib Bob (Bib Bob 2000, Sutradara WS Rendra) dan Bib Bob (2009, sutradara Ken Zuarida). Saat ini berproses kreatif bersama teman-temannya di Serang, Banten.

 

Read more...

Sajak warna

Ketika warna menjadi hitam bukan lalu kita berkata kelam.

Ketika tiba-tiba kita menjumpai warna merah bukan lalu kita ikut-ikutan dikuasai amarah.

Ketika ada barisan orang-orang berbaju putih bukan berarti mereka barisan orang sedih.

Ketika dipasar-pasar hanya tersedia warna ungu bukan lalu kita terus  menjadi peragu.

Ketika batu-batu sudah berwarna coklat bukan berarti kita dalam barisan kaum sekarat.

Read more...
Subscribe to this RSS feed
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Dari yang tersimpan

18 November 2017 |Esai

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas Pameran Drawing dan Sketsa Goenawan Mohamad Keberadaan, ke-penting-an, nilai sketsa memang tak ...

Puisi Anton Daryanto

11 November 2017 |Puisi

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBuka...

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

25 July 2017 |Esai

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

  Oleh : Mayek/perupa   Tulisan ini tak lain usaha untuk melihat indikasi praktik seni dan perilaku pelukis...

Puisi dan kemusnahan tirani

07 June 2017 |Esai

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Pu...

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

13 May 2017 |Esai

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

Upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan para dewa atau kekuatan ghaib yang dianggap supernatural merupakan salah ...

Londo jadi dokter hewan

09 January 2017 |Cerpen

Londo jadi dokter hewan

Oleh: Ursari Suatu hari di Magelang tahun 1970. Roji sedang memegang katak hijau, hasil tangkapannya di sawah kemar...

Kebersamaan ala AKAP

15 December 2016 |Esai

Kebersamaan ala AKAP

  Oleh: Dedi Yuniarto   Enam perupa berbeda daerah asal yakni AT Sitompul (Medan), Dedy Sufriadi (Palembang...

Puisi Alhendra Dy

01 October 2016 |Puisi

Puisi Alhendra Dy

Persetubuhan Menir( puisi habis untuk sdr tua " espoer wanta " )

Kepada Bulan September

10 September 2016 |Puisi

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berka...

Kuasa dan Konstitusi

26 August 2016 |Esai

Kuasa dan Konstitusi

Ihwal kuasa dan konstitusi, nama Machiavelli tib-tiba berkelebat di benak saya. Melihat kelindan kuasa dan konstitusi di...

Jalan Kekasih

11 July 2016 |Puisi

Jalan Kekasih

Puisi-puisi NS   malamku milikmu   Kubaca malam dari bintang-bintang dan desir sunyinya adalah perja...

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

07 June 2016 |Puisi

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

(Di) suatu waktu Oleh: NS aku ingin membagi teh hangat ini kepadamu yang kuseduh di cangkir warna putih dengan...

(Di) jalan secinta

31 January 2016 |Cerpen

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup y...

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

28 October 2015 |Puisi

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

I. (Di) taman ketika Aku adalah benih yang tumbuh segar Tumbuh elok tanpa seragu debar Tumbuh di tanah jiwamu berbunga...

Apa Rakyat akan Diam Saja

29 June 2015 |Puisi

Apa Rakyat akan Diam Saja

Ketika rakyat telah sendirian….. Ditinggalkan oleh para pemimpinnya Apa tetap rakyat akan percaya pada pemimpinya...

Pesan Semar

17 June 2015 |Cerpen

Pesan Semar

Kamu Semar. Itu bukan takdir kebetulan. Tak pantas kamu berdukacita lantaran perkara keluarga. Bangsamu sedang mengamban...

Puisi Anto Daryanto BnD

02 June 2015 |Puisi

Puisi Anto Daryanto BnD

Negeri  Seolah-olah   Negeri  Seolah-olah Seolah-olah diolah Di olah untuk  seolah-olah Pre...

(Di) hati setetes

29 April 2015 |Cerpen

(Di) hati setetes

Terkurung oleh batas. Aku menahan harap tercambuk cemas. Berdiri di pinggirannya menahan isak. Ribuan sayap cinta membur...

Tahun parodi

04 January 2015 |Esai

Tahun parodi

Jorge Luis Borges melalui pengantar bukunya Sejarah Aib, mengatakan dengan humornya yang khas bahwa “gaya yang dengan se...

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

16 December 2014 |Esai

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

Sastra adalah roh kebudayaan. Ia lahir dari proses rumit dari kegelisahan si penulis atas kondisi ketegangan masyarakat ...

Puisi Maria Thersia Ninis

25 November 2014 |Puisi

Puisi Maria Thersia Ninis

Badan bertanya..

Warung Kopi

22 November 2014 |Cerpen

Warung Kopi

dari tempat ini kami menggigit langit KAWAN saya sempat bersungut-sungut saat tahu parkir di warung kopi ini sekarang b...

Putri Naga

23 October 2014 |Novel

Putri Naga

Prolog - Istana Naga feodalisme, kebebasan, cinta, penghianatan, kekuasaan, mimpiIstana dibangun di atas kekuasaan dan ...

Koen

03 October 2014 |Cerpen

Koen

Oleh: Ranang Aji SP Seorang sipir berkumis tebal mendorongnya ke luar dari pintu utama penjara. Pintu besi bercat g...

Kalbu Maya : Merangkai Damai

20 September 2014 |Puisi

Kalbu Maya : Merangkai Damai

Kau telah membaca sajak kitab dalam isi kepalakuMungkin kau temukan gumpalan sampah,Yang telah berubah rambut putih beru...

Gagak di langit Berlin

11 September 2014 |Cerpen

Gagak di langit Berlin

Oleh: M. Faishal Aminuddin Perang itu mengakhiri sesuatu, tapi tak cukup buat menyudahi segala sesuatu. Tito bersau...

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

08 September 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

Jatuh di simpuhmu (Di)   setelah lelah menyaput terlena mengambang rasa tak tersudahi membelantara nafas bertanya se...

Keaslian kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Keaslian kebudayaan

Tulisan ini menanggapi tulisan saudara Ranang Aji SP Atropi dan identitas kebudayaan, Solo Pos edisi 13 Februari 2011,...

Atropi Kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Atropi Kebudayaan

Penduduk suku Bakung dari Mahak-Dumuk di pedalaman Pulau Kalimantan dewasa ini sedang dalam proses kehilangan identita...

Tentang Lelaki Itu

01 September 2014 |Cerpen

Tentang Lelaki Itu

Oleh : DS Priyadi Ia hanya lelaki biasa. Ia pun mengalami tua. Ya. Aku adalah saksi. Dan semua orang pun sebenarnya...

(Di) Melirih luruh

26 August 2014 |Cerpen

(Di) Melirih luruh

 Oleh: Ay Beberapa cahaya mungil berterbangan diantara daunan. Begitu malam yang terhampar hampa. Mengingat tidak l...

Sajak Daryanto Bender:  Menjemput Kemerdekaan

16 August 2014 |Puisi

Sajak Daryanto Bender: Menjemput Kemerdekaan

Menjemput kemerdekaan.....Ketika pagi hari masih terbungkus selimut dan terlelap dalam tidur apa itu sebuah kemerdekaan....

Secinta (Di)

15 August 2014 |Cerpen

Secinta (Di)

Secinta, dunia kini mengecil dan sempit. Kurasa demikian. Sejak ruhmu meninggalkan ruhku beberapa waktu lalu. Seperti ki...

Doa dalam mantra

02 August 2014 |Cerpen

Doa dalam mantra

Cerpen oleh: Mas Jiwandono   Karim mempersiapkan segala keperluan untuk pengajian rutin yang diadakan setiap bul...

Sang Banjir dan Bayi

01 August 2014 |Cerpen

Sang Banjir dan Bayi

Oleh: Ranang Aji SP Tiga hari tiga malam langit gelap telah mengguyurkan hujan deras ke kota ini. Hari pertama ...

Puisi Kalbu Maya

21 July 2014 |Puisi

Puisi Kalbu Maya

Luka yang Diabadikan I.    Janji ini, sejauh kita menulis jejak terucapkan di atas bibir purnama Dan jalan ini menangga...

Sajak Sebatang Lisong

03 July 2014 |Puisi

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisongMelihat Indonesia RayaMendengar 130 juta rakyatDan di langitDua tiga cukong mengangkangBerak di...

W.S. Rendra : Maskumambang

03 July 2014 |Puisi

W.S. Rendra : Maskumambang

Rendra membaca puisi dalam sebuah acara di Surabaya tahun 2009. Puisinya Maskumambang, adalah renungan tentang bagaimana...

Puisi-puisi Novri Susan

08 May 2014 |Puisi

Puisi-puisi Novri Susan

(Di) solilokui malam   kulihat wajahmu berseri seperti pagi itu ketika cahaya dari timur terbangun dari peradua...

Surat-surat Drupadi*

20 April 2014 |Cerpen

Surat-surat Drupadi*

 Oleh: Yogi Ishabib Seperti anak-anak perempuan pada masanya, aku memimpikan kehidupan yang indah. Aku yang dilahirkan ...

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

08 March 2014 |Cerpen

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

Oleh: Yogi Ishabib Pernah diceritakan, bahwa pada masa yang teramat lampau seorang laki-laki mendaki gunung untuk berte...

Novel: Cinta Menetes  Bag.  3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

08 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes Bag. 3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Tentang Hati (Bag. 3) Sudah pukul 2 pagi dini hari waktu Kyoto. Zali belum bisa tertidur. Biasanya pukul sepuluh sudah...

Warna Kalbu

08 March 2014 |Cerpen

Warna Kalbu

Oleh: Retno Ayu Setelah lima tahun kuhabiskan waktu di luar negeri untuk sekolah, kini kuhirup kembali udara kota asalk...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

03 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

Kyoto, Aku Jatuh Cinta (2)   Kyoto termasuk salah satu kota paling tua dan pernah menjadi ibu kota Jepang sebelum...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

01 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

Sudah hampir tiga tahun dia hidup di the City of thousand temples, Kyoto. Namanya Gazali, akrab dipanggil Zali. Satu kat...

Jalan Langit

28 February 2014 |Cerpen

Jalan Langit

Oleh: Retno Ayu Rafni termangu. Hujan begitu deras siang hari ini. Jendela kaca kamarnya berembun. Udara dingin menguy...

Puisi-puisi NS

28 February 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS

(Di) Hati Menetes sisa hujan adalah hati yang menetes di dinding-dinding bangunan sepi di antara ranting dan daunan rem...

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

07 February 2014 |Cerpen

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

Oleh: Mohammad Maos Bumi November. Awal hujan. Bumi mulai basah. Saat basah, seperti ada kehidupan baru, kesibukan baru...

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

07 February 2014 |Puisi

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

53

Sebuah Amsal Debu

06 December 2013 |Cerpen

Sebuah Amsal Debu

DS Priyadi Di ruang yang serba transparan lelaki tua itu berdiri. Aku memanggilnya Han. Ia lahir di pinggiran Pekal...