Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next
(Di) jalan secinta

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri.  Oleh: Ay Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai...

Puisi Anton Daryanto

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBukan pula waktunya menyendiri dan menepiIni ada tugas, yang mesti dijalani sepenuh hati

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berkata apa-apa Di kesendirian yang berpeluh karena sesak kerinduan Setiap hari kupandangi kamu Lewat cakrawala pagi dan sore Lewat...

(Di) jalan secinta

  • Published in Cerpen

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri. 


Oleh: Ay


Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai apapun, bukan karena sakitnya rindu. Bukan karena perih dari ujung-ujung sayap sunyi yang tajam. Namun, karena seluruh duniaku tak mungkin berputar tanpamu.

Waktuku kini adalah lorong-lorong panjang, berliku dan remang. Setiap membuka pintu, di baliknya adalah dinding dingin nan angkuh. Teriakan demi teriakan memanggilmu seperti seekor burung kecil terpukul hentakan badai. Tanp daya sambil memandang mimpi-mimpinya sendiri. Mimpi yang elok, akan tetapi kedua sayap penuh oleh luka. Luka itu ditoreh oleh pisau runcing keadaan.

Aku berkata padamu di setiap tarikan nafas. "Hatiku akan berjalan sepanjang hidup ini, untukmu."

Lalu kamu, seperti rembulan dengan cahaya di antara awan musim ini memberi senyum paling menawan. Namun, kedua matamu adalah pintu kedukaan melempar jiwa ini ke langit kosong. Aku tersudut di pojok ketakutan dan kesendirian. Lirih menetes, terasa dingin sehingga tubuh membeku. 

Suaraku bersama hujan yang setiap hari turun. Begitu nyaring memukul, namun hampa. Perbincangan yang lalu, menggenang di alam pikiranku. Duniaku terhenti dari kesehariannya. Sebab mengingatmu adalah menyadari ketiadaan tubuhmu di dekatku. Yang berarti, kuseduh seduku dari awal matahari terbit, dan tenggelam. 

"Hatiku adalah milikmu. Namun tidak tadirku untuk saat ini."

Katamu padaku ketika itu, entah kapan di antara waktu-waktu yang telah lalu. Namun tetap saja, aku mendengarnya setiap hari. Setiap detik, menyatu dalam nadi yang mencoba tetap hidup. Tahukah kamu, pemilik binar mata paling indah. Kata-kata yang kuucapkan dan tuliskan tumbuh dari ikatan ini. Yang tidak bisa dilepas oleh apapun kecuali masanya usai.

Setiap ruas jalanku adalah jalan kepadamu.  Setiap pandanganku adalah pencarian garis akhir dari ketiadaan ini. Melukai atau terlukai adalah pilihan yang mesti dihadapi. Kemudian, tangisanmu mengadu tentang keterbatasan cinta di hadapan Tuhannya. Aku memekik dalam diam. Sebab itulah yang ada. Itulah yang lebih kuasa.

Aku kamu hampir sampai pada danau yang diingini siapapun. Dan malam yang hangat karena pergumulan rindu, kemudian menjadi bongkahan air beku. Api menyala di lidah karena ribuan gelisah menyalakannya. Kupanggili kamu. Kupanggili kamu. Kupanggili kamu. Sebab takut itu menjadi kain hitam menghalangi pandangan. 

Kini aku tanpa cahaya di pulau paling jauh dari keramaian. Aku tak ingin menanti para pejalan yang ingin menemukanku dan menjemputku. Mereka akan dihadapkan pada kesia-siaan semata. Sebab aku akan keluar dari sini untuk menemukanmu. Sementara tetap kuseduh sedu.

Read more...

(Di) hati setetes

  • Published in Cerpen

Terkurung oleh batas. Aku menahan harap tercambuk cemas. Berdiri di pinggirannya menahan isak. Ribuan sayap cinta memburai diantara hirup rindu yang menyesak.


 Ay


Aku terpejam ketika menuliskan setiap detik perjalanan. Ketika suaramu menyembuhkan keterasinganku pada dunia. Atau, ketika secubit biru membekas di kulit yang menghamba karenamu. Namun aku kini, seutas mimpi tak terbangun lagi.

Karena pada kalimat terakhir adalah akhir yang tidak memiliki dasar. Tidak memiliki jarak. Tidak bisa dipijak. Aku memaksa bungkam, bukan sebab hati menyerah. Yang kutahu, begitulah cara mengasihi. Lalu, tidak ada lagi yang tersisa. Kecuali rintih membaca rintih, sedu tersedu keluh. Kemudian kulalui perjalanan sedetik seusia seribu tahun. Pada setiap pergantiannya adalah kegelisahan yang runcing. 

Aku pernah berkata kepadamu, di sampingmu saat senja, betapa jantungku mendetak bersama detak jantungmu. Aku tidak pernah merencanakan demikian. Tidak pernah menghitungnya dalam pikiran. Aku merasakannya, hidup terus hidup terus hidup berdetak. Detakmu adalah detakku.  

Dini hari ini, saat menuliskan betapa aku merindukanmu, aku berperjuang menjadi hampa yang  tenang. Namun tetap saja, aku bersolek dengan apapun darimu. Aku berdandan agar kulekat baju dan lingkaran waktu darimu. Itu serasa, jemariku menggenggam jemarimu. 

Aku ingin sekali mendengar suaramu. Ingin sekali berbincang dan menggodaimu. Atau juga, mengingatkamu bahwa waktu makan siang sudah datang. Jangan terlambat, jangan melewatinya. Lalu, seperti kerlip kunang-kunang. Kamu memamerkan coklat dan es krim. Jika begitu, betapa gemasnya kepadamu. Jewer saja kupingmu. Jika begitu lagi, kugigit hidungmu, pipimu dan bibirmu.

Kini, hati ini tinggal setetes. Tidak akan memahami keadaan ini. Sebab seujung sunyiku, adalah seribu pekik memanggilmu. Sebab seujung sunyiku adalah seribu degup kehilanganmu. Seujung sunyi ini seujung tanpa ujung. Di hati. 

Read more...

Gagak di langit Berlin

  • Published in Cerpen

Oleh: M. Faishal Aminuddin


Perang itu mengakhiri sesuatu, tapi tak cukup buat menyudahi segala sesuatu. Tito bersaudara dengan Soekarno. Mereka memberikan arti bagi apa yang disebut dengan kebangsaan dan perlawanan. Bagi kami, nasionalisme Yugoslavia warisan Tito harus dipertahankan sampai mati.

Read more...

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

  • Published in Cerpen

Oleh: Yogi Ishabib

Pernah diceritakan, bahwa pada masa yang teramat lampau seorang laki-laki mendaki gunung untuk bertemu dengan Sang Rudra, Dewa Yang Berteriak. Kita mungkin mengenalnya sebagai Rahwana, laki-laki yang paling banyak disumpahi oleh manusia. Ada zaman dimana manusia sangat dekat dengan dewa-dewa, masa dimana manusia akan dapat melihat dan berbicara dengan dewa secara langsung. demikian pula Rahwana saat ingin bertemu dengan Rudra. Rahwana tau betul bahwa untuk bertemu dengan Sang Rudra, dia tak perlu sungkan atau menjadi munafik dengan bersopan santun. Dia mengeram dan berteriak memanggil Sang Rudra, digalinya tanah untuk meletakkan lingga. Rahwana menjadi-jadi dengan bertriwikrama, badannya membesar, tangannya menjadi sepuluh pasang, dan kepalanya menjadi sepuluh. Dipenggal kepalanya satu-persatu sebagai persembahan untuk bertemu dengan Sang Rudra. Sampai saat dimana Rahwana memenggal kepalanya yang kesembilan, Sang Rudra muncul.

Read more...

Surat-surat Drupadi*

  • Published in Cerpen

 Oleh: Yogi Ishabib

Seperti anak-anak perempuan pada masanya, aku memimpikan kehidupan yang indah. Aku yang dilahirkan sebagai anak seorang raja dan menjadi adik perempuan seorang pahlawan besar tentu tidak pernah mengharapkan kehidupanku yang sekarang. Ya, aku adalah Drupadi anak dari Drupada, Raja Panchala, dan aku adalah adik dari Drestajumena. Orang-orang juga mengenalku sebagai Panchali, yang entah mengapa namaku selalu memiliki maksud “yang lain” dari nama bapakku dan nama kerajaannya.

Read more...

Warna Kalbu

  • Published in Cerpen

Oleh: Retno Ayu

Setelah lima tahun kuhabiskan waktu di luar negeri untuk sekolah, kini kuhirup kembali udara kota asalku. Taksi menelusuri jalanan yang kini lebih ramai dibandingkan waktu lalu. Sulit kupandangi bintang-bintang di langit, padahal langit tidak berawan. Tampaknya lampu-lampu benderang dan warna-warni di berbagai sudut telah mengalahkan cahaya-cahaya langit itu. Sekilas hatiku kecewa. Tampaknya aku telah kehilangan sebagian kerinduanku di sini. Ini mungkin yang disebut kemajuan. Lampu-lampu dan keramaian.
Read more...

Jalan Langit

  • Published in Cerpen

Oleh: Retno Ayu

Rafni termangu. Hujan begitu deras siang hari ini. Jendela kaca kamarnya berembun. Udara dingin menguyur penuh setiap ruang. Sambil menggigil, Rafni melempar pandangannya menembus kaca jendela, ke langit berawan. Gadis kecil yang terlelap di pangkuannya sedikit bergerak. Rafni mengusap wajah gadis kecil itu, perlahan dan menyerahkan seluruh hatinya. Gadis kecil itu tersenyum, mungkin mimpi indah. Rafni memejamkan matanya sesaat. Matanya terasa panas, dan sedikit berair. Lalu diusapnya segera. Ayah, bisiknya pelan.

Read more...

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

  • Published in Cerpen

Oleh: Mohammad Maos Bumi


November. Awal hujan. Bumi mulai basah. Saat basah, seperti ada kehidupan baru, kesibukan baru; Tumbuh-tumbuhan menunas satu-satu. Laron-laron mengitari lampu-lampu. Katak-katak riuh menyanyikan lagu-lagu. Dimusim hujan, aku mengenal perempuanku; awal aku dibasahi rindu.
Read more...

Sebuah Amsal Debu

  • Published in Cerpen

DS Priyadi


Di ruang yang serba transparan lelaki tua itu berdiri. Aku memanggilnya Han. Ia lahir di pinggiran Pekalongan dan gemar memakai kacamata berantai. Matanya yakin dan pintar, namun sedikit gagap dalam mengutarakan hal-ihwal. Tak soal benar, toh dalam pembicaran selama bertahun-tahun aku merasa gamblang dengan segala gagasan-gagasannya yang silang-menyilang seperti anyaman.

Read more...
Subscribe to this RSS feed
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Dari yang tersimpan

18 November 2017 |Esai

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas Pameran Drawing dan Sketsa Goenawan Mohamad Keberadaan, ke-penting-an, nilai sketsa memang tak ...

Puisi Anton Daryanto

11 November 2017 |Puisi

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBuka...

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

25 July 2017 |Esai

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

  Oleh : Mayek/perupa   Tulisan ini tak lain usaha untuk melihat indikasi praktik seni dan perilaku pelukis...

Puisi dan kemusnahan tirani

07 June 2017 |Esai

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Pu...

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

13 May 2017 |Esai

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

Upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan para dewa atau kekuatan ghaib yang dianggap supernatural merupakan salah ...

Londo jadi dokter hewan

09 January 2017 |Cerpen

Londo jadi dokter hewan

Oleh: Ursari Suatu hari di Magelang tahun 1970. Roji sedang memegang katak hijau, hasil tangkapannya di sawah kemar...

Kebersamaan ala AKAP

15 December 2016 |Esai

Kebersamaan ala AKAP

  Oleh: Dedi Yuniarto   Enam perupa berbeda daerah asal yakni AT Sitompul (Medan), Dedy Sufriadi (Palembang...

Puisi Alhendra Dy

01 October 2016 |Puisi

Puisi Alhendra Dy

Persetubuhan Menir( puisi habis untuk sdr tua " espoer wanta " )

Kepada Bulan September

10 September 2016 |Puisi

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berka...

Kuasa dan Konstitusi

26 August 2016 |Esai

Kuasa dan Konstitusi

Ihwal kuasa dan konstitusi, nama Machiavelli tib-tiba berkelebat di benak saya. Melihat kelindan kuasa dan konstitusi di...

Jalan Kekasih

11 July 2016 |Puisi

Jalan Kekasih

Puisi-puisi NS   malamku milikmu   Kubaca malam dari bintang-bintang dan desir sunyinya adalah perja...

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

07 June 2016 |Puisi

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

(Di) suatu waktu Oleh: NS aku ingin membagi teh hangat ini kepadamu yang kuseduh di cangkir warna putih dengan...

(Di) jalan secinta

31 January 2016 |Cerpen

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup y...

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

28 October 2015 |Puisi

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

I. (Di) taman ketika Aku adalah benih yang tumbuh segar Tumbuh elok tanpa seragu debar Tumbuh di tanah jiwamu berbunga...

Apa Rakyat akan Diam Saja

29 June 2015 |Puisi

Apa Rakyat akan Diam Saja

Ketika rakyat telah sendirian….. Ditinggalkan oleh para pemimpinnya Apa tetap rakyat akan percaya pada pemimpinya...

Pesan Semar

17 June 2015 |Cerpen

Pesan Semar

Kamu Semar. Itu bukan takdir kebetulan. Tak pantas kamu berdukacita lantaran perkara keluarga. Bangsamu sedang mengamban...

Puisi Anto Daryanto BnD

02 June 2015 |Puisi

Puisi Anto Daryanto BnD

Negeri  Seolah-olah   Negeri  Seolah-olah Seolah-olah diolah Di olah untuk  seolah-olah Pre...

(Di) hati setetes

29 April 2015 |Cerpen

(Di) hati setetes

Terkurung oleh batas. Aku menahan harap tercambuk cemas. Berdiri di pinggirannya menahan isak. Ribuan sayap cinta membur...

Tahun parodi

04 January 2015 |Esai

Tahun parodi

Jorge Luis Borges melalui pengantar bukunya Sejarah Aib, mengatakan dengan humornya yang khas bahwa “gaya yang dengan se...

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

16 December 2014 |Esai

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

Sastra adalah roh kebudayaan. Ia lahir dari proses rumit dari kegelisahan si penulis atas kondisi ketegangan masyarakat ...

Puisi Maria Thersia Ninis

25 November 2014 |Puisi

Puisi Maria Thersia Ninis

Badan bertanya..

Warung Kopi

22 November 2014 |Cerpen

Warung Kopi

dari tempat ini kami menggigit langit KAWAN saya sempat bersungut-sungut saat tahu parkir di warung kopi ini sekarang b...

Putri Naga

23 October 2014 |Novel

Putri Naga

Prolog - Istana Naga feodalisme, kebebasan, cinta, penghianatan, kekuasaan, mimpiIstana dibangun di atas kekuasaan dan ...

Koen

03 October 2014 |Cerpen

Koen

Oleh: Ranang Aji SP Seorang sipir berkumis tebal mendorongnya ke luar dari pintu utama penjara. Pintu besi bercat g...

Kalbu Maya : Merangkai Damai

20 September 2014 |Puisi

Kalbu Maya : Merangkai Damai

Kau telah membaca sajak kitab dalam isi kepalakuMungkin kau temukan gumpalan sampah,Yang telah berubah rambut putih beru...

Gagak di langit Berlin

11 September 2014 |Cerpen

Gagak di langit Berlin

Oleh: M. Faishal Aminuddin Perang itu mengakhiri sesuatu, tapi tak cukup buat menyudahi segala sesuatu. Tito bersau...

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

08 September 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

Jatuh di simpuhmu (Di)   setelah lelah menyaput terlena mengambang rasa tak tersudahi membelantara nafas bertanya se...

Keaslian kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Keaslian kebudayaan

Tulisan ini menanggapi tulisan saudara Ranang Aji SP Atropi dan identitas kebudayaan, Solo Pos edisi 13 Februari 2011,...

Atropi Kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Atropi Kebudayaan

Penduduk suku Bakung dari Mahak-Dumuk di pedalaman Pulau Kalimantan dewasa ini sedang dalam proses kehilangan identita...

Tentang Lelaki Itu

01 September 2014 |Cerpen

Tentang Lelaki Itu

Oleh : DS Priyadi Ia hanya lelaki biasa. Ia pun mengalami tua. Ya. Aku adalah saksi. Dan semua orang pun sebenarnya...

(Di) Melirih luruh

26 August 2014 |Cerpen

(Di) Melirih luruh

 Oleh: Ay Beberapa cahaya mungil berterbangan diantara daunan. Begitu malam yang terhampar hampa. Mengingat tidak l...

Sajak Daryanto Bender:  Menjemput Kemerdekaan

16 August 2014 |Puisi

Sajak Daryanto Bender: Menjemput Kemerdekaan

Menjemput kemerdekaan.....Ketika pagi hari masih terbungkus selimut dan terlelap dalam tidur apa itu sebuah kemerdekaan....

Secinta (Di)

15 August 2014 |Cerpen

Secinta (Di)

Secinta, dunia kini mengecil dan sempit. Kurasa demikian. Sejak ruhmu meninggalkan ruhku beberapa waktu lalu. Seperti ki...

Doa dalam mantra

02 August 2014 |Cerpen

Doa dalam mantra

Cerpen oleh: Mas Jiwandono   Karim mempersiapkan segala keperluan untuk pengajian rutin yang diadakan setiap bul...

Sang Banjir dan Bayi

01 August 2014 |Cerpen

Sang Banjir dan Bayi

Oleh: Ranang Aji SP Tiga hari tiga malam langit gelap telah mengguyurkan hujan deras ke kota ini. Hari pertama ...

Puisi Kalbu Maya

21 July 2014 |Puisi

Puisi Kalbu Maya

Luka yang Diabadikan I.    Janji ini, sejauh kita menulis jejak terucapkan di atas bibir purnama Dan jalan ini menangga...

Sajak Sebatang Lisong

03 July 2014 |Puisi

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisongMelihat Indonesia RayaMendengar 130 juta rakyatDan di langitDua tiga cukong mengangkangBerak di...

W.S. Rendra : Maskumambang

03 July 2014 |Puisi

W.S. Rendra : Maskumambang

Rendra membaca puisi dalam sebuah acara di Surabaya tahun 2009. Puisinya Maskumambang, adalah renungan tentang bagaimana...

Puisi-puisi Novri Susan

08 May 2014 |Puisi

Puisi-puisi Novri Susan

(Di) solilokui malam   kulihat wajahmu berseri seperti pagi itu ketika cahaya dari timur terbangun dari peradua...

Surat-surat Drupadi*

20 April 2014 |Cerpen

Surat-surat Drupadi*

 Oleh: Yogi Ishabib Seperti anak-anak perempuan pada masanya, aku memimpikan kehidupan yang indah. Aku yang dilahirkan ...

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

08 March 2014 |Cerpen

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

Oleh: Yogi Ishabib Pernah diceritakan, bahwa pada masa yang teramat lampau seorang laki-laki mendaki gunung untuk berte...

Novel: Cinta Menetes  Bag.  3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

08 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes Bag. 3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Tentang Hati (Bag. 3) Sudah pukul 2 pagi dini hari waktu Kyoto. Zali belum bisa tertidur. Biasanya pukul sepuluh sudah...

Warna Kalbu

08 March 2014 |Cerpen

Warna Kalbu

Oleh: Retno Ayu Setelah lima tahun kuhabiskan waktu di luar negeri untuk sekolah, kini kuhirup kembali udara kota asalk...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

03 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

Kyoto, Aku Jatuh Cinta (2)   Kyoto termasuk salah satu kota paling tua dan pernah menjadi ibu kota Jepang sebelum...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

01 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

Sudah hampir tiga tahun dia hidup di the City of thousand temples, Kyoto. Namanya Gazali, akrab dipanggil Zali. Satu kat...

Jalan Langit

28 February 2014 |Cerpen

Jalan Langit

Oleh: Retno Ayu Rafni termangu. Hujan begitu deras siang hari ini. Jendela kaca kamarnya berembun. Udara dingin menguy...

Puisi-puisi NS

28 February 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS

(Di) Hati Menetes sisa hujan adalah hati yang menetes di dinding-dinding bangunan sepi di antara ranting dan daunan rem...

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

07 February 2014 |Cerpen

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

Oleh: Mohammad Maos Bumi November. Awal hujan. Bumi mulai basah. Saat basah, seperti ada kehidupan baru, kesibukan baru...

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

07 February 2014 |Puisi

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

53

Sebuah Amsal Debu

06 December 2013 |Cerpen

Sebuah Amsal Debu

DS Priyadi Di ruang yang serba transparan lelaki tua itu berdiri. Aku memanggilnya Han. Ia lahir di pinggiran Pekal...