Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next
(Di) jalan secinta

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri.  Oleh: Ay Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai...

Puisi Anton Daryanto

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBukan pula waktunya menyendiri dan menepiIni ada tugas, yang mesti dijalani sepenuh hati

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berkata apa-apa Di kesendirian yang berpeluh karena sesak kerinduan Setiap hari kupandangi kamu Lewat cakrawala pagi dan sore Lewat...

Putri Naga

Putri Naga

Sub Judul

Prolog - Istana Naga

feodalisme, kebebasan, cinta, penghianatan, kekuasaan, mimpi

Istana dibangun di atas kekuasaan dan wewenang yang dititahkan sebagai takdir. Berdiri diantara takdir-takdir yang kecil sebagaimana warna dan kelengkapan cerita. Semua berjalan menumpang waktu yang bergerak tanpa henti. Istana adalah kehendak bagi Tuhan dan segala tuhan kecil dalam tubuh manusia, jin dan mahluk lain yang berjiwa. Setiap jaman punya cerita, setiap jaman punya nasibnya sendiri.

Istana Naga adalah ruang impian tak bertepi. Wadah bagi ambisi dan keinginan menjadi surga. Ia dibangun atas kehendak takdir dan kekuasaan. Sejuta batu dan kayu berdiri sebagai tembok yang menghalangi kehendak lain. Berdiri megah. Menjulang tinggi. Menghisap segala cahaya dan menyimpannya sebagai keindahan yang tak tersentuh oleh tangan-tangan lemah. Namun ia tak mampu mencegah kehendak murni yang terpenjara.

Dari istana ini cerita dimulai.

Berdiri diantara jendela dan cahaya matahari, Putri Naga bagaikan siluet yang indah. Tubuhnya semampai dan gaunnya berkibar gemulai dalam sentuhan angin yang lembut dan warna yang ceria. Ia menatap jauh ke dunia luar yang dipenuhi semak belukar, pohon-pohon dan semua misteri yang indah namun asing dan tak teruai. Ia menduga apa yang terjadi di luar sana, jauh dari kedalaman istana. Dalam waktu satu jam ia bertahan di sana. Bermain dengan pandangan mata dan pertanyaan dalam pikirannya. Selama Sembilan belas tahun usianya ia tak pernah tahu apa yang terjadi dan berisi apa di dunia yang begitu luas. Kaisar Ma, ayahnya tak pernah memberinya ijin untuk keluar dari istana.

“Ayah melindungimu dari segala bahaya dan istana adalah benteng bagi kehormatanmu.”

Tetapi hatinya mencela. Jiwanya memberontak. Ia memikirkan burung-burung yang berterbangan di udara. Melintasi punggung langit yang tak bertepi. Bernyanyi bersama angin yang kemudian menyebarkan kebahagian dari ujung taman hingga ujung taman entah dimana. Ia ingin menjadi burung yang berterbangan atau angin yang menyebarkan aroma bunga hingga sudut-sudut dunia yang terjauh. Tetapi, ayahnya adalah tembok tebal. Jauh melebihi ketebalan tembok benteng istana. Ayahnya adalah kuasa tak terbantahkan. Kehendak yang mengurung keingintahuannya dan rasa cerianya. Ayah, baginya, akhirnya, adalah kecemasan yang tak terpahami.

Dalam buaian lamunan yang membawanya pada dunia yang tak bertepi, ia melihat sesuatu yang tak bergerak dalam bayangannya. Sebuah pintu besar berwarna hitam yang tak pernah terbuka. Kokoh bagaikan batu yang besar. Ia juga melihat kabut yang tebal menyelimutinya. Ia seperti penjara yang asing –yang menjauh dari kebebasan bergerak. Pintu itu seperti buntu yang mengahantui dan mengahalangi cahaya. Apakah itu ?  tiba-tiba ia merasakan pusing dan terduduk di atas kursi. Dipanggilnya pelayannya. Seorang perempuan muda dengan wajah yang mengingatkan pada burung hantu dengan tubuh yang bulat. Gaunnya serupa kain-kain yang berseliweran dengan warna kegelapan. Pelayan itu memandang hormat tanpa bicara.

“Bawakan aku air putih.”

Pelayan itu menunduk hormat dan beranjak. Sesaat kemudian ia datang kembali dengan semangkok air puith. Di belakangnya seorang perempuan paruh baya mengikutinya. Putri Naga  menerima mangkok yang dibawa di atas nampan. Ia baru sadar ketika perempuan paruh baya itu menyentuh pundaknya dan Ia menoleh.

"Bibi," katanya. Suara pelan menyapa.

"Kenapa sendirian lagi di ruang menara?"

Bibinya adalah saudara kandung ayahnya. Wanita ini memiliki hati seorang ibu yang penuh kasih sayang, seperti ibu bumi yang menumbuhkan segala kehidupan dan menghidupkan dari rahimnya untuk kehidupan manusia. Memahami persoalan dengan hati yang jernih. Rasa bijaksana seperti halnya samudra yang menampung semua air yang mengalir dari langit atau bumi. Usianya telah beranjak dari 45 tahun. Ia hidup tanpa suami, hidup tanpa kesempurnaan jiwa. Tetapi ia tetaplah jiwa sempurna bagi seorang wanita. Dan ia menggantikan peran ibunya yang lari bersama kebenciannya terhadap ayahnya.

"Aku ingin keluar dari istana, Bibi."

"Bibi tahu yang kamu rasakan. Tapi kamu harus bersabar. Ini tempat yang tinggi, semua orang ingin menjadi bagian dalam hidup ini. kamu tidak melihat orang-orang di luar sana selalu berebut agar bisa masuk ke dalam istana ini. kamu harus bersyukur lahir di dalam istana yang tak memberimu rasa lapar seperti di luar sana."

Tak ada yang bisa dipahami apa yang diucapkan bibinya. Ia mengeluh dan menjadi merasa tak ada orang yang bisa memahaminya. Bibinya orang yang baik, tetapi belum cukup saat ini bisa merasakan apa yang dia inginkan. Istana ini sebuah belenggu bagi jiwanya yang merdeka. Istana ini tak mengenyangkan dari rasa lapar jiwanya. Tak ada yang bisa mengerti dirinya. Bibinya yang bijaksana pun tak mampu memahaminya.

"Bibi tidak merasakan apa yang aku rasakan. Aku hanya ingin bebas keluar seperti angin, seperti burung-burung di udara. Aku ingin melihat dunia yang lain –yang lebih luas dari istana ini."

Ia melihat bibinya dengan harapan dimengerti. Perempuan cantik yang hampir sempurna. Matanya teduh seperti mata seorang biksuni yang selalu merendahkan hati untuk tuhannya. Tidak pernah ada riwayat yang tegas mengapa bibinya tak pernah menikah, sementara ia memiliki hati yang didambakan seorang satria dimanapun. Kabar yang muncul seperti angin sepoi-sepoi yang menelusup lorong-lorong istana dan menghilang begitu saja melewati telinga. Pernah didengarnya seorang pelayan di dapur istana menyebutnya wanita yang tak lagi punya hati. Seorang satria yang entah dimana telah mengambilnya dan tak pernah muncul kembali ketika ayahnya melarang mereka bersatu dalam cinta. Hatinya telah diambil ! dan ia tak mau bertukar dengan siapa pun di dunia ini kecuali hati pria itu. Kata seorang pelayan dalam bisikan yang penuh prasangka.

"Kamu seorang putri, anakku, katanya, kamu harus bisa mengendalikan dirimu. Jangan terkurung dengan keinginan."

"Aku memang terkurung, Bibi.. aku terpenjara . bukankah begitu? Tak baik seorang putri murung di dalam istananya sendiri. Kamu harus tetap menjadi cahaya bagi istana. Ayahmu seorang kaisar yang berkuasa. Kamu harus membantunya. Jangan biarkan dia sendiri. Kamu menjadi ganti ibumu."

"Aku membenci ibu!"

Perempuan itu tersenyum. Ia berdiri dan memeluk Putri Naga. Membelai rambut halus sang putri dengan tangan lentiknya. Sepenuh perasaan kasih sayang seorang ibu. 

"Apa yang kamu pikirkan tentang ibumu ? Kenapa kamu harus membencinya. Ibumu adalah wanita yang baik. Memberimu kehidupan."

Suaranya halus dalam telinga Putri Naga hingga  merasuk dalam kalbu. Dan karena itu menjadi menyakitkan bagi perasaan Putri Naga. Ia menangis perlahan. Air matanya menetes seperti embun yang bercahaya di pagi hari. Ia mencoba mengingat ibunya lamat-lamat, kasih sayangnya dan cara ketawanya. Sepuluh tahun lalu ketika ia masih usia Sembilan tahun dalam peristiwa yang tak pernah ia pahami, ayahnya mengambil sebatang pedang dan membelah meja di hadapan ibunya yang tunduk menangis. Para pelayan dan kasim tak berdaya. Mereka hanya bersujud dan menangis sembari memohon ampun bagi ibunya. Kaisar mengusir semua pelayan dan kasim yang berada dalam kamar. Tangannya membawa pedang terhunus dan seguci arak yang terus mengucur ke dalam mulutnya. Arak itu berceceran dan membasahi tubuh kaisar dan menggenang di lantai.

"Kau wanita terkutuk !" Umpatnya sembari menudingkan mata pedang ke wajah ibunya yang menunduk menangis ketakutan. 

Saat ia melihat peristiwa itu, ia sembunyi di pojok ruangan dibalik gorden sutera. Perdana Menteri Ho, orang yang paling dihormati ayahnya datang ketika ayahnya terjatuh pingsan karena capek dan mabuk arak. Mereka membopong kaisar ke atas ranjang, merawat dan menyelimutinya. Setelah itu ia mendengar suara ibunya memanggil namanya. Tetapi ia takut keluar. Ia menahan suara agar tak terdengar, tetapi air mata dari rasa takutnya membuat suaranya keluar dalam isakkan. Kemudian, tiba-tiba saja ibunya telah berada di depannya, merengkuhnya dalam pelukan yang yang kuat. Ibunya menangis dan mengulang-ulang meminta maaf sembari menciumi seluruh wajahnya.

"Ibu harus pergi," kata ibunya dengan suara bergetar. Ketika itu ia tak ingat merasakan apa kecuali kengerian melihat peristiwa itu. ia tak pernah menyadari bahwa ibunya berpamitan pergi secara harafiah meninggalkan dirinya dan istana.

"Kenapa ibu pergi, Bi? Bukankah ibu seorang permaisuri? Bukankah ibu memiliki aku ? tidakkah ia sayang denganku, Bi?"

Bibinya melepaskan pelukannya dan duduk di hadapan Putri Naga. Digenggammnya tangannya. Menghela nafas dan memandang penuh welas.

"Tentu saja ibumu memiliki dan sayang kamu, anakku..keadaanlah yang memaksanya pergi meninggalkanmu."

"Tetapi ibu tidak pernah berkabar dan menanyakanku selama sepuluh tahun ini."

"Bukan begitu. Bibi akan ceritakan kisahnya agar kamu mengerti."

back to top
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Dari yang tersimpan

18 November 2017 |Esai

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas Pameran Drawing dan Sketsa Goenawan Mohamad Keberadaan, ke-penting-an, nilai sketsa memang tak ...

Puisi Anton Daryanto

11 November 2017 |Puisi

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBuka...

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

25 July 2017 |Esai

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

  Oleh : Mayek/perupa   Tulisan ini tak lain usaha untuk melihat indikasi praktik seni dan perilaku pelukis...

Puisi dan kemusnahan tirani

07 June 2017 |Esai

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Pu...

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

13 May 2017 |Esai

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

Upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan para dewa atau kekuatan ghaib yang dianggap supernatural merupakan salah ...

Londo jadi dokter hewan

09 January 2017 |Cerpen

Londo jadi dokter hewan

Oleh: Ursari Suatu hari di Magelang tahun 1970. Roji sedang memegang katak hijau, hasil tangkapannya di sawah kemar...

Kebersamaan ala AKAP

15 December 2016 |Esai

Kebersamaan ala AKAP

  Oleh: Dedi Yuniarto   Enam perupa berbeda daerah asal yakni AT Sitompul (Medan), Dedy Sufriadi (Palembang...

Puisi Alhendra Dy

01 October 2016 |Puisi

Puisi Alhendra Dy

Persetubuhan Menir( puisi habis untuk sdr tua " espoer wanta " )

Kepada Bulan September

10 September 2016 |Puisi

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berka...

Kuasa dan Konstitusi

26 August 2016 |Esai

Kuasa dan Konstitusi

Ihwal kuasa dan konstitusi, nama Machiavelli tib-tiba berkelebat di benak saya. Melihat kelindan kuasa dan konstitusi di...

Jalan Kekasih

11 July 2016 |Puisi

Jalan Kekasih

Puisi-puisi NS   malamku milikmu   Kubaca malam dari bintang-bintang dan desir sunyinya adalah perja...

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

07 June 2016 |Puisi

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

(Di) suatu waktu Oleh: NS aku ingin membagi teh hangat ini kepadamu yang kuseduh di cangkir warna putih dengan...

(Di) jalan secinta

31 January 2016 |Cerpen

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup y...

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

28 October 2015 |Puisi

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

I. (Di) taman ketika Aku adalah benih yang tumbuh segar Tumbuh elok tanpa seragu debar Tumbuh di tanah jiwamu berbunga...

Apa Rakyat akan Diam Saja

29 June 2015 |Puisi

Apa Rakyat akan Diam Saja

Ketika rakyat telah sendirian….. Ditinggalkan oleh para pemimpinnya Apa tetap rakyat akan percaya pada pemimpinya...

Pesan Semar

17 June 2015 |Cerpen

Pesan Semar

Kamu Semar. Itu bukan takdir kebetulan. Tak pantas kamu berdukacita lantaran perkara keluarga. Bangsamu sedang mengamban...

Puisi Anto Daryanto BnD

02 June 2015 |Puisi

Puisi Anto Daryanto BnD

Negeri  Seolah-olah   Negeri  Seolah-olah Seolah-olah diolah Di olah untuk  seolah-olah Pre...

(Di) hati setetes

29 April 2015 |Cerpen

(Di) hati setetes

Terkurung oleh batas. Aku menahan harap tercambuk cemas. Berdiri di pinggirannya menahan isak. Ribuan sayap cinta membur...

Tahun parodi

04 January 2015 |Esai

Tahun parodi

Jorge Luis Borges melalui pengantar bukunya Sejarah Aib, mengatakan dengan humornya yang khas bahwa “gaya yang dengan se...

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

16 December 2014 |Esai

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

Sastra adalah roh kebudayaan. Ia lahir dari proses rumit dari kegelisahan si penulis atas kondisi ketegangan masyarakat ...

Warung Kopi

22 November 2014 |Cerpen

Warung Kopi

dari tempat ini kami menggigit langit KAWAN saya sempat bersungut-sungut saat tahu parkir di warung kopi ini sekarang b...

Putri Naga

23 October 2014 |Novel

Putri Naga

Prolog - Istana Naga feodalisme, kebebasan, cinta, penghianatan, kekuasaan, mimpiIstana dibangun di atas kekuasaan dan ...

Koen

03 October 2014 |Cerpen

Koen

Oleh: Ranang Aji SP Seorang sipir berkumis tebal mendorongnya ke luar dari pintu utama penjara. Pintu besi bercat g...

Kalbu Maya : Merangkai Damai

20 September 2014 |Puisi

Kalbu Maya : Merangkai Damai

Kau telah membaca sajak kitab dalam isi kepalakuMungkin kau temukan gumpalan sampah,Yang telah berubah rambut putih beru...

Gagak di langit Berlin

11 September 2014 |Cerpen

Gagak di langit Berlin

Oleh: M. Faishal Aminuddin Perang itu mengakhiri sesuatu, tapi tak cukup buat menyudahi segala sesuatu. Tito bersau...

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

08 September 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

Jatuh di simpuhmu (Di)   setelah lelah menyaput terlena mengambang rasa tak tersudahi membelantara nafas bertanya se...

Keaslian kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Keaslian kebudayaan

Tulisan ini menanggapi tulisan saudara Ranang Aji SP Atropi dan identitas kebudayaan, Solo Pos edisi 13 Februari 2011,...

Atropi Kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Atropi Kebudayaan

Penduduk suku Bakung dari Mahak-Dumuk di pedalaman Pulau Kalimantan dewasa ini sedang dalam proses kehilangan identita...

Tentang Lelaki Itu

01 September 2014 |Cerpen

Tentang Lelaki Itu

Oleh : DS Priyadi Ia hanya lelaki biasa. Ia pun mengalami tua. Ya. Aku adalah saksi. Dan semua orang pun sebenarnya...

(Di) Melirih luruh

26 August 2014 |Cerpen

(Di) Melirih luruh

 Oleh: Ay Beberapa cahaya mungil berterbangan diantara daunan. Begitu malam yang terhampar hampa. Mengingat tidak l...

Sajak Daryanto Bender:  Menjemput Kemerdekaan

16 August 2014 |Puisi

Sajak Daryanto Bender: Menjemput Kemerdekaan

Menjemput kemerdekaan.....Ketika pagi hari masih terbungkus selimut dan terlelap dalam tidur apa itu sebuah kemerdekaan....

Secinta (Di)

15 August 2014 |Cerpen

Secinta (Di)

Secinta, dunia kini mengecil dan sempit. Kurasa demikian. Sejak ruhmu meninggalkan ruhku beberapa waktu lalu. Seperti ki...

Doa dalam mantra

02 August 2014 |Cerpen

Doa dalam mantra

Cerpen oleh: Mas Jiwandono   Karim mempersiapkan segala keperluan untuk pengajian rutin yang diadakan setiap bul...

Sang Banjir dan Bayi

01 August 2014 |Cerpen

Sang Banjir dan Bayi

Oleh: Ranang Aji SP Tiga hari tiga malam langit gelap telah mengguyurkan hujan deras ke kota ini. Hari pertama ...

Puisi Kalbu Maya

21 July 2014 |Puisi

Puisi Kalbu Maya

Luka yang Diabadikan I.    Janji ini, sejauh kita menulis jejak terucapkan di atas bibir purnama Dan jalan ini menangga...

Sajak Sebatang Lisong

03 July 2014 |Puisi

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisongMelihat Indonesia RayaMendengar 130 juta rakyatDan di langitDua tiga cukong mengangkangBerak di...

W.S. Rendra : Maskumambang

03 July 2014 |Puisi

W.S. Rendra : Maskumambang

Rendra membaca puisi dalam sebuah acara di Surabaya tahun 2009. Puisinya Maskumambang, adalah renungan tentang bagaimana...

Puisi-puisi Novri Susan

08 May 2014 |Puisi

Puisi-puisi Novri Susan

(Di) solilokui malam   kulihat wajahmu berseri seperti pagi itu ketika cahaya dari timur terbangun dari peradua...

Surat-surat Drupadi*

20 April 2014 |Cerpen

Surat-surat Drupadi*

 Oleh: Yogi Ishabib Seperti anak-anak perempuan pada masanya, aku memimpikan kehidupan yang indah. Aku yang dilahirkan ...

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

08 March 2014 |Cerpen

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

Oleh: Yogi Ishabib Pernah diceritakan, bahwa pada masa yang teramat lampau seorang laki-laki mendaki gunung untuk berte...

Novel: Cinta Menetes  Bag.  3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

08 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes Bag. 3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Tentang Hati (Bag. 3) Sudah pukul 2 pagi dini hari waktu Kyoto. Zali belum bisa tertidur. Biasanya pukul sepuluh sudah...

Warna Kalbu

08 March 2014 |Cerpen

Warna Kalbu

Oleh: Retno Ayu Setelah lima tahun kuhabiskan waktu di luar negeri untuk sekolah, kini kuhirup kembali udara kota asalk...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

03 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

Kyoto, Aku Jatuh Cinta (2)   Kyoto termasuk salah satu kota paling tua dan pernah menjadi ibu kota Jepang sebelum...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

01 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

Sudah hampir tiga tahun dia hidup di the City of thousand temples, Kyoto. Namanya Gazali, akrab dipanggil Zali. Satu kat...

Jalan Langit

28 February 2014 |Cerpen

Jalan Langit

Oleh: Retno Ayu Rafni termangu. Hujan begitu deras siang hari ini. Jendela kaca kamarnya berembun. Udara dingin menguy...

Puisi-puisi NS

28 February 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS

(Di) Hati Menetes sisa hujan adalah hati yang menetes di dinding-dinding bangunan sepi di antara ranting dan daunan rem...

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

07 February 2014 |Cerpen

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

Oleh: Mohammad Maos Bumi November. Awal hujan. Bumi mulai basah. Saat basah, seperti ada kehidupan baru, kesibukan baru...

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

07 February 2014 |Puisi

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

53

Sebuah Amsal Debu

06 December 2013 |Cerpen

Sebuah Amsal Debu

DS Priyadi Di ruang yang serba transparan lelaki tua itu berdiri. Aku memanggilnya Han. Ia lahir di pinggiran Pekal...