Menu
Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Australia 1972 cacat hukum

Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Austr…

Kupang-KoPi| Penulis Bu...

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tidur untuk pertanian

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tid…

Akademi Militer - Gubernu...

Gus Ipul berharap semua terbiasa baca shalawat

Gus Ipul berharap semua terbiasa ba…

  Surabaya-KoPi| Wa...

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Sleman-KoPi| Universita...

Teliti isu multikultur dalam film Indonesia

Teliti isu multikultur dalam film I…

Bantul-KoPi| Sejarah pe...

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Sektor UMKM

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Se…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan kedaulatan Laut Timor

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan k…

Kupang-KoPi|Pembela nel...

Kapolda DIY segera lakukan operasi pasar kontrol harga beras

Kapolda DIY segera lakukan operasi …

Sleman-KoPi|Kepala Pold...

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY digeser

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY d…

Sleman-KoPi|Polda DIY m...

Pengedar Sabu di Sleman berhasil ditangkap jajaran Polres Sleman

Pengedar Sabu di Sleman berhasil di…

Sleman-KoPi| Satuan res...

Prev Next

Puisi-puisi NS

Puisi-puisi NS

(Di) Hati Menetes

sisa hujan adalah hati yang menetes
di dinding-dinding bangunan sepi
di antara ranting dan daunan remang
lalu menengadah rembulan samar-samar
terpejam sebersit kosong

pendaran yang jatuh di rerumputan basah
berkelip mencoba hidup
walaupun tak ada nyanyian
tak mengapa
karena angin kecil yang mencubit pipi
membisik...gontai tak berarti berhenti

...sisa hujan adalah hati yang menetes

pantas tak kutemukan lagi bentuknya
tak bisa kuterka lagi parasnya...

NS, Kyoto, 2710

 

(Di) Kediaman Sang Sunyi

 

sore ini terbangun dibekap remang
angin dingin menyusup
dari celah jendela yang terbuka
lampu-lampu di gedung-gedung dan jalanan
satu-satu berkerlipan, mungil
kubiarkan wajah ini termangu
dan mendengar suara mengalun di sana
teriakan atau desah
selalu menggunakan kata yang sama

tirai kubuka
ternyata tubuh embun meleleh
berjatuhan tanpa irama
dari mana...mengapa di sini
kusentuh melalui nafas ini
lalu kusaput perlahan
terasa gemuruh kosong
ingin kutanya ceritanya
namun tak tahu bagaimana
kutunggu saja...
...
diam...
...hening...diam..
hening...diam...hening
begitu khusuk menghampar kenangan
terus kutunggu...
sementara waktu
terus melukis masa silam
tak pernah peduli
apakah senang atau luka
apakah rindu atau lupa
tetap dijadikan bagiannya

(Kyoto, 2012)

 

 

 

(Di) Terhampar Kamu

 

waktu terhenti di ruang hening

yang kedap dari cerita luka

dari deru keramaian akhir senja

di dalamnya perasaan terhampar gemetar

rindu semanis bercumbu hangat

jemariku memainkan rambutmu yang tergerai

dan nafasku menemui nafasmu

begitu dekat begitu berdebar...

lalu berpagut lirih dalam pejaman remang...

 

semua kata tertimbun di jantung...

yang mendegup ndegup menyala rasa suka

mengaliri tubuh dan menjadi pusaran lena

kuburu bibirmu dan hatimu

dan kamu memberi penuh apa adanya

lalu peluh menetes di kesunyian

menjadi bunga warna warni cantiknya tak mimpi

cintaku pun terpekik melesat tinggi

entah dimana namun indah mewangi

yang kemudian jatuh kulai di pangkuanmu

senyummu menyaput sukmaku yang menyerah padamu....

 

waktu kembali tergulir

waktu kembali muncul

karenanya aku memelukmu yang terpejam dan sembunyi

dan kamu menanam hatiku

yang sekarang tumbuh segar memberi arti...

memberi arti...

memberi arti...

mencintai...

 

 

(di sini, 2013)

back to top