Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Puisi-puisi NS

Puisi-puisi NS

(Di) Hati Menetes

sisa hujan adalah hati yang menetes
di dinding-dinding bangunan sepi
di antara ranting dan daunan remang
lalu menengadah rembulan samar-samar
terpejam sebersit kosong

pendaran yang jatuh di rerumputan basah
berkelip mencoba hidup
walaupun tak ada nyanyian
tak mengapa
karena angin kecil yang mencubit pipi
membisik...gontai tak berarti berhenti

...sisa hujan adalah hati yang menetes

pantas tak kutemukan lagi bentuknya
tak bisa kuterka lagi parasnya...

NS, Kyoto, 2710

 

(Di) Kediaman Sang Sunyi

 

sore ini terbangun dibekap remang
angin dingin menyusup
dari celah jendela yang terbuka
lampu-lampu di gedung-gedung dan jalanan
satu-satu berkerlipan, mungil
kubiarkan wajah ini termangu
dan mendengar suara mengalun di sana
teriakan atau desah
selalu menggunakan kata yang sama

tirai kubuka
ternyata tubuh embun meleleh
berjatuhan tanpa irama
dari mana...mengapa di sini
kusentuh melalui nafas ini
lalu kusaput perlahan
terasa gemuruh kosong
ingin kutanya ceritanya
namun tak tahu bagaimana
kutunggu saja...
...
diam...
...hening...diam..
hening...diam...hening
begitu khusuk menghampar kenangan
terus kutunggu...
sementara waktu
terus melukis masa silam
tak pernah peduli
apakah senang atau luka
apakah rindu atau lupa
tetap dijadikan bagiannya

(Kyoto, 2012)

 

 

 

(Di) Terhampar Kamu

 

waktu terhenti di ruang hening

yang kedap dari cerita luka

dari deru keramaian akhir senja

di dalamnya perasaan terhampar gemetar

rindu semanis bercumbu hangat

jemariku memainkan rambutmu yang tergerai

dan nafasku menemui nafasmu

begitu dekat begitu berdebar...

lalu berpagut lirih dalam pejaman remang...

 

semua kata tertimbun di jantung...

yang mendegup ndegup menyala rasa suka

mengaliri tubuh dan menjadi pusaran lena

kuburu bibirmu dan hatimu

dan kamu memberi penuh apa adanya

lalu peluh menetes di kesunyian

menjadi bunga warna warni cantiknya tak mimpi

cintaku pun terpekik melesat tinggi

entah dimana namun indah mewangi

yang kemudian jatuh kulai di pangkuanmu

senyummu menyaput sukmaku yang menyerah padamu....

 

waktu kembali tergulir

waktu kembali muncul

karenanya aku memelukmu yang terpejam dan sembunyi

dan kamu menanam hatiku

yang sekarang tumbuh segar memberi arti...

memberi arti...

memberi arti...

mencintai...

 

 

(di sini, 2013)

back to top