Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next
(Di) jalan secinta

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri.  Oleh: Ay Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai...

Puisi Anton Daryanto

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBukan pula waktunya menyendiri dan menepiIni ada tugas, yang mesti dijalani sepenuh hati

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berkata apa-apa Di kesendirian yang berpeluh karena sesak kerinduan Setiap hari kupandangi kamu Lewat cakrawala pagi dan sore Lewat...

Pesan Semar

Pesan Semar

Kamu Semar. Itu bukan takdir kebetulan. Tak pantas kamu berdukacita lantaran perkara keluarga. Bangsamu sedang mengambang di arus zaman. Keluargamu susah, tapi banyak yang jauh lebih susah. Mestinya kamu bisa lebih bijaksana, sebagaimana kisah-kisah itu melukiskanmu. Lagipula kamu sudah tua. Tak baik untuk percontohan yang muda-muda.

”Aku toh manusia,” tukasmu dengan muka masam.

”Siapa bilang kamu demit?” sahutku sekenanya.

”Kamu menuntutku lebih dari sekedar manusia.”

”Bukankah memang begitu kata kisah-kisah itu? Bukankah kamu sebenarnya seorang dewa?”

”Itu kisah yang tidak kumplit. Nyatanya aku toh manusia juga. Di dalam dongeng aku bisa dilafalkan begitu. Dalam kenyataan tidak selalu demikian,” kamu nampak jengkel. Kamu membakar lagi rokok klobot kegemaranmu. Asbakmu penuh. Aku membungkuk permisi meraih asbak itu dan menumpahkan puntung-puntungnya ke tempat sampah di pojok ruangan. Ketika aku melongok isi tempat sampah itu, isinya cuma puntung rokok saja. Ah. Rupanya kamu sedang stres berat. Jika sudah stres, aku hafal betul, kamu akan merokok dan merokok saja dan tak bergeser dari kursi dekil kesayanganmu.

”Sudah makan belum?” tanyaku sambil meletakkan asbak di tempat semula.

Kamu diam saja. Jika sedang jengkel begitu mukamu yang lucu semakin lucu. Aku membuka tas kresek yang kubawa.

”Nih, makan dulu. Ini nasi kucing pake sambel teri. Ini wedang jahe kesukaanmu. Terus ini rokok klobot kegemaranmu. Sudah mau habis kan rokokmu?” kusodorkan bungkusan-bungkusan itu kepadamu.

”Matur nuwun ya,” katamu sambil menjulurkan dua tangan menerima pemberianku. Kamu langsung membuka dan meludeskan nasi kucing itu tanpa sisa. Setelah itu kamu bertanya, ”Memangnya negara ada persoalan apa lagi?”

”Justru aku yang mau bertanya.”

”Aku sudah mules mikir negara. Semakin lama semakin bubrah saja,” kamu membolongi sudut plastik wedang jahe. Mulutmu yang besar menyedot wedang jahe itu, seperti mulut bayi raksasa yang sedang menetek.

”Tapi kalau bukan kamu siapa lagi yang mau memikirkannya?” tanyaku.

”Aku hanya bahan tertawaan bagi satria-satria hebat itu. Mending aku fokus ngurus keluargaku sendiri.”

”Lah keluargamu baik-baik saja kan? Kok kamu jadi romantis begitu?”

”Baik apanya? Romantis bagaimana? Bagong kena narkoba. Gareng sekarang dibekuk polisi karena menggauli istri orang. Sedang Petruk mulai kentir. Ulahnya selalu merepotkan orang tua. Kudengar, sekarang dia jadi preman pasar. Kemarin perutnya robek dicelurit orang. Untung masih selamat. Negara bubrah, keluarga bubrah!” kata-katamu meninggi. Kamu betul-betul emosi.

Kini aku tahu. Ternyata memang tidak mudah menjadi kamu. Namamu hanya dianggap sebagai merek dagang. Semua satria selalu menyebut namamu dengan penuh hormat dan bangga. Kamu adalah naungan yang aman bagi siapa saja yang berdagang. Kamu adalah lambang keberuntungan. Kamu menjadi hoki.

Suara nuranimu adalah kata-kata yang sakral. Yang harus dibela. Yang harus ditaati. Dan mereka yang melecehkanmu bisa kuwalat. Tapi itu di dalam pewayangan. Di dalam kenyataan hukumnya justru sebaliknya. Yang mau beruntung justru harus mengingkarimu. Harus melecehkanmu. Tentu dengan cara yang halus dan anggun. Dengan cara yang canggih. Tanpa bayangan. Seperti siluman.

Ya. Tak ada lagi yang mau mendengarmu. Kamu hanya dianggap tokoh khayalan alam dongeng. Dalam kehidupan nyata kamu tak punya tempat. Kamu menderita. Kamu kesepian. Kamu miskin dan tersingkirkan. Sementara usiamu semakin tua.

Akhirnya kamu sakit. Tak ada yang mengurusmu. Semua tahu, tak pernah ada istri di sampingmu. Gareng, Petruk, dan Bagong adalah putra-putramu tanpa ibu. Mereka juga tak ada di sampingmu. Mereka bagai lahir dari batu. Sejak kecil mereka menggelandang. Menjadi tukang sayur, menjadi mucikari, menjadi pencopet, menjadi kondektur, menjadi pedagang asongan, menjadi petani, menjadi pengamen, menjadi buruh, menjadi kuli, menjadi apa saja yang mereka mungkin untuk melakoninya. Mereka bagai berjalan tanpa kepala. Sukma mereka cedera. Melayang-layang ke udara. Terbanting ke tanah. Menjadi sampah.

Menantu-menantumu berangkat ke Arab. Mereka menjadi babu. Ah. Mereka menantu-menantu yang berhati mulia. Mereka bermaksud memperbaiki nasib keluarganya. Dan mereka tahu, menjadi babu berarti menempuh resiko. Mereka tahu itu. Tapi mereka menempuhnya. Karena di negeri sendiri para satria sudah merampok harapannya sebagai manusia. Mereka berangkat dengan nekat. Rela melucuti cinta. Rela menderita. Untuk sekedar memperjuangkan kelayakan hidup sebagai manusia. Dengan sekuat daya mereka mencoba merebut masa depannya. Merebut masa depan anak-anaknya. Mereka berdiri di atas rongsokan teka-teki segala rejeki.

Dan sakitmu tambah parah. Kamu mencemaskan menantu-menantumu. Kamu mencemaskan anak-anakmu. Kamu berusaha membujuk para satria untuk menolong mereka. Para satria dengan santun menundukkan kepala. Mereka seolah menghormatimu. Tapi di belakangmu mereka tertawa. Mereka selalu dahsyat soal berpura-pura. Mereka sibuk bersolek dan bergaya. Mereka jago main kucing-kucingan. Mengobral citra. Pidato manis. Merancang undang-undang yang manis. Berdebat manis. Laporan manis. Cengengesan manis. Pokoknya semuanya serba manis. Sehingga kamu sakit gula karenanya. Jarimu tak bisa lagi menunjuk karena buntung. Kakimu gerepes. Pahamu borokan. Badanmu yang dulu gembrot dan subur kini ceking dan mengering. Ah. Jika melihat keadaanmu memang sulit dipercaya kalau kamu sebenarnya Semar. Orang nyaris tak ada lagi yang mengenali. Aku yang sedikit tahu tentang kamu pun sering gemetar jika memikirkanmu. Takdirmu tidak gampang. Hidupmu penuh resiko. Kamu tertekan. Kecewa. Tercekik. Kamu diingkari. Kamu dikhianati.

Sekarang kamu sakit. Tak ada satupun satria yang menjengukmu. Padahal kamu selalu membela mereka. Mereka egois. Mereka satria-satria tampan bersukma raksasa yang culas dan serakah. Mereka suka yang amis-amis. Bau amis minyak. Bau amis emas. Bau amis batu-bara. Bau amis hutan. Bau amis buruh. Bau amis uang. Bau amis petani. Bau amis nelayan. Semua yang berbau amis itu mereka santap dengan rakus tanpa peduli kanan-kiri. Dan yang kena kamu juga. Akibatnya kini penyakitmu komplikasi. Kamu kena darah tinggi. Dan dengan tanpa malu, para satria menjual pil kimia kepadamu. Terang saja kamu menolak. Kamu tak punya duwit. Duwitmu sudah dirampok mereka di siang hari bolong. Semua orang menyaksikan itu. Semua orang iba kepadamu. Eksistensimu sebagai Semar sudah tak dihargai sama sekali. Aku hanya bisa prihatin.

Sementara kamu tidak bisa lagi lantang berbicara. Kamu digerogoti penyakitmu. Suaramu begitu lemah. Artikulasimu mulai berantakan. Tapi aku tahu, imanmu masih sediakala. Hatimu masih seperti telaga. Keteguhanmu tetap baja. Kamu tidak pernah sambat. Kamu menyaksikan bangsamu meranggas dan tertindas. Kamu menyaksikan anak-anakmu keleleran. Kamu menyaksikan cucu-cucumu mengemis di tikungan zaman.

Kamu terbaring tak berdaya. Sukmamu teronggok di zaman yang jorok. Kamu sebatangkara. Kamu sakit dan menderita. Tapi para satria malah tertawa terbahak-bahak. Kamu dikira sedang melawak. Tivi-tivi mengeksposemu. Kamu dianggap memiliki potensi. Kamu bisa menghadirkan empati. Kamu adalah mata-air air-mata tak bertara. Kamu bisa menjadi hiburan sukma. Kamu bisa menjadi bahan diskusi. Kamu bisa dijadikan obyek malpraktek. Nasibmu menginspirasi ribuan proposal proyek kemanusian.

Ya. Kamu tak berdaya. Sebenarnya itu tidak sepatutnya. Karena selucu apapun kamu, kamu tetaplah Semar. Kamu sekarat. Satria berpesta. Bima yang masih jujur dijebloskan dalam penjara beton. Kukunya yang galak digergaji. Mulutnya yang tanpa basa-basi disumpal besi. Sedang aku tak bisa membelamu. Aku hanya cecunguk yang punya air mata. Aku hanya bisa menangis di sampingmu.

”Jangan menangis seperti banci,” kamu berkata.

”Tapi kamu mau mati, Semar,” kataku tak tega.

”Semua orang akan mati. Tak layak kamu menangisi.”

”Apa pesan terakirmu?”

”Bilang sama Petruk, supaya ia berhenti jadi preman. Orang kecil jangan menyakiti sesamanya. Ia harus belajar tabah. Menjadi penjual tempe seperti sebelumnya, tidaklah hal yang nista. Jika ia mau tekun, insyaallah akan ada kemajuannya. Sementara Bagong, janganlah frustasi begitu. Itu konyol. Narkoba tak menyelesaikan masalahnya. Keadaan boleh menelikungnya, tapi janganlah ia kalah. Bengkelnya baik jika dihidupkan lagi. Jadi orang biasa tak ada salahnya. Itu berarti ia memenuhi kebagongannya. Kalau perlu eksentrik, ya seperlunya saja.

Lalu Gareng jangan ngawur. Ia harus tahu diri. Jangan menggauli istri orang lagi. Ingat, istrinya di Arab terancam hukuman pancung. Tebusannya tinggi. Aku tak yakin para satria sungguh-sungguh mengatasinya. Mereka sendiri dalam ketakutan karena terbelit gurita kejahatannya. Sementara kamu, jangan banci begitu. Air mata melemahkan jiwa. Kamu harus gagah. Karena kamu harus menggantikan peranku. Menjadi Semar,” Itulah kata-kata terakirmu. Setelah itu, mulutmu membeku. Tubuhmu kaku. Matamu mendelik menyeramkan.

Begitulah akhirnya. Kamu mati dalam keadaan memprihatinkan. Mayatmu berbau busuk karena penuh borok. Tetua agama tak ada yang mau mendoakanmu. Kamu dikubur tanpa upacara. Suaramu yang keramat menguap. Menjadi sinetron picisan. Menjadi konser dangdut. Menjadi dai-dai industri. Menjadi pengadilan kadal. Menjadi mode. Menjadi kampanye partai. Menjadi badutan murahan. Menjadi hantu zaman yang gentayangan.

Betapa mengenangmu adalah mengenang penderitaan dan kesepian. Dalam itu kamu gagah dan tabah. Insyaf jadinya, kamu memang bukan manusia biasa. Budimu sungguh-sungguh seperti dewa. Sementara pesanmu gagal aku tunaikan. Anak-anakmu tersinggung aku ingatkan. Aku sendiri tak mampu menggantikan peranmu. Akal sehatku terhuyung. Kalbuku limbung. Sebagaimana anak-anakmu, aku kalang-kabut menghadapi keadaan. Aku hanya bisa menjadi anjing. Aku gagal menjadi kamu.

Lalu aku mengenangkan kamu. Kamu bagai tersenyum kepadaku. Jarimu menunjuk ke atas. Kamu selalu mengingatkanku. Lalu kamu menghilang dalam malam. Aku terkesima. Aku termangu. Aku bagai mendengar dengung puisi masa lalu. Puisi itu merambati dinding kamarku. Merambati kabel-kabel listrik. Merambati etalase-etalase plaza. Merambati jalan-jalan desa. Melayang di atas rumah kumuh para gelandangan. Terapung-apung di udara. Menggedor-gedor pintu istana. Menggedor-gedor jiwa bangsa kita.

Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsaning Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lan waspada.
(Fragmen Serat Kalathida, R. Ng. Ronggowarsito)

Jogja, 2015

back to top
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Dari yang tersimpan

18 November 2017 |Esai

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas Pameran Drawing dan Sketsa Goenawan Mohamad Keberadaan, ke-penting-an, nilai sketsa memang tak ...

Puisi Anton Daryanto

11 November 2017 |Puisi

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBuka...

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

25 July 2017 |Esai

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

  Oleh : Mayek/perupa   Tulisan ini tak lain usaha untuk melihat indikasi praktik seni dan perilaku pelukis...

Puisi dan kemusnahan tirani

07 June 2017 |Esai

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Pu...

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

13 May 2017 |Esai

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

Upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan para dewa atau kekuatan ghaib yang dianggap supernatural merupakan salah ...

Londo jadi dokter hewan

09 January 2017 |Cerpen

Londo jadi dokter hewan

Oleh: Ursari Suatu hari di Magelang tahun 1970. Roji sedang memegang katak hijau, hasil tangkapannya di sawah kemar...

Kebersamaan ala AKAP

15 December 2016 |Esai

Kebersamaan ala AKAP

  Oleh: Dedi Yuniarto   Enam perupa berbeda daerah asal yakni AT Sitompul (Medan), Dedy Sufriadi (Palembang...

Puisi Alhendra Dy

01 October 2016 |Puisi

Puisi Alhendra Dy

Persetubuhan Menir( puisi habis untuk sdr tua " espoer wanta " )

Kepada Bulan September

10 September 2016 |Puisi

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berka...

Kuasa dan Konstitusi

26 August 2016 |Esai

Kuasa dan Konstitusi

Ihwal kuasa dan konstitusi, nama Machiavelli tib-tiba berkelebat di benak saya. Melihat kelindan kuasa dan konstitusi di...

Jalan Kekasih

11 July 2016 |Puisi

Jalan Kekasih

Puisi-puisi NS   malamku milikmu   Kubaca malam dari bintang-bintang dan desir sunyinya adalah perja...

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

07 June 2016 |Puisi

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

(Di) suatu waktu Oleh: NS aku ingin membagi teh hangat ini kepadamu yang kuseduh di cangkir warna putih dengan...

(Di) jalan secinta

31 January 2016 |Cerpen

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup y...

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

28 October 2015 |Puisi

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

I. (Di) taman ketika Aku adalah benih yang tumbuh segar Tumbuh elok tanpa seragu debar Tumbuh di tanah jiwamu berbunga...

Apa Rakyat akan Diam Saja

29 June 2015 |Puisi

Apa Rakyat akan Diam Saja

Ketika rakyat telah sendirian….. Ditinggalkan oleh para pemimpinnya Apa tetap rakyat akan percaya pada pemimpinya...

Pesan Semar

17 June 2015 |Cerpen

Pesan Semar

Kamu Semar. Itu bukan takdir kebetulan. Tak pantas kamu berdukacita lantaran perkara keluarga. Bangsamu sedang mengamban...

Puisi Anto Daryanto BnD

02 June 2015 |Puisi

Puisi Anto Daryanto BnD

Negeri  Seolah-olah   Negeri  Seolah-olah Seolah-olah diolah Di olah untuk  seolah-olah Pre...

(Di) hati setetes

29 April 2015 |Cerpen

(Di) hati setetes

Terkurung oleh batas. Aku menahan harap tercambuk cemas. Berdiri di pinggirannya menahan isak. Ribuan sayap cinta membur...

Tahun parodi

04 January 2015 |Esai

Tahun parodi

Jorge Luis Borges melalui pengantar bukunya Sejarah Aib, mengatakan dengan humornya yang khas bahwa “gaya yang dengan se...

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

16 December 2014 |Esai

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

Sastra adalah roh kebudayaan. Ia lahir dari proses rumit dari kegelisahan si penulis atas kondisi ketegangan masyarakat ...

Warung Kopi

22 November 2014 |Cerpen

Warung Kopi

dari tempat ini kami menggigit langit KAWAN saya sempat bersungut-sungut saat tahu parkir di warung kopi ini sekarang b...

Putri Naga

23 October 2014 |Novel

Putri Naga

Prolog - Istana Naga feodalisme, kebebasan, cinta, penghianatan, kekuasaan, mimpiIstana dibangun di atas kekuasaan dan ...

Koen

03 October 2014 |Cerpen

Koen

Oleh: Ranang Aji SP Seorang sipir berkumis tebal mendorongnya ke luar dari pintu utama penjara. Pintu besi bercat g...

Kalbu Maya : Merangkai Damai

20 September 2014 |Puisi

Kalbu Maya : Merangkai Damai

Kau telah membaca sajak kitab dalam isi kepalakuMungkin kau temukan gumpalan sampah,Yang telah berubah rambut putih beru...

Gagak di langit Berlin

11 September 2014 |Cerpen

Gagak di langit Berlin

Oleh: M. Faishal Aminuddin Perang itu mengakhiri sesuatu, tapi tak cukup buat menyudahi segala sesuatu. Tito bersau...

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

08 September 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

Jatuh di simpuhmu (Di)   setelah lelah menyaput terlena mengambang rasa tak tersudahi membelantara nafas bertanya se...

Keaslian kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Keaslian kebudayaan

Tulisan ini menanggapi tulisan saudara Ranang Aji SP Atropi dan identitas kebudayaan, Solo Pos edisi 13 Februari 2011,...

Atropi Kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Atropi Kebudayaan

Penduduk suku Bakung dari Mahak-Dumuk di pedalaman Pulau Kalimantan dewasa ini sedang dalam proses kehilangan identita...

Tentang Lelaki Itu

01 September 2014 |Cerpen

Tentang Lelaki Itu

Oleh : DS Priyadi Ia hanya lelaki biasa. Ia pun mengalami tua. Ya. Aku adalah saksi. Dan semua orang pun sebenarnya...

(Di) Melirih luruh

26 August 2014 |Cerpen

(Di) Melirih luruh

 Oleh: Ay Beberapa cahaya mungil berterbangan diantara daunan. Begitu malam yang terhampar hampa. Mengingat tidak l...

Sajak Daryanto Bender:  Menjemput Kemerdekaan

16 August 2014 |Puisi

Sajak Daryanto Bender: Menjemput Kemerdekaan

Menjemput kemerdekaan.....Ketika pagi hari masih terbungkus selimut dan terlelap dalam tidur apa itu sebuah kemerdekaan....

Secinta (Di)

15 August 2014 |Cerpen

Secinta (Di)

Secinta, dunia kini mengecil dan sempit. Kurasa demikian. Sejak ruhmu meninggalkan ruhku beberapa waktu lalu. Seperti ki...

Doa dalam mantra

02 August 2014 |Cerpen

Doa dalam mantra

Cerpen oleh: Mas Jiwandono   Karim mempersiapkan segala keperluan untuk pengajian rutin yang diadakan setiap bul...

Sang Banjir dan Bayi

01 August 2014 |Cerpen

Sang Banjir dan Bayi

Oleh: Ranang Aji SP Tiga hari tiga malam langit gelap telah mengguyurkan hujan deras ke kota ini. Hari pertama ...

Puisi Kalbu Maya

21 July 2014 |Puisi

Puisi Kalbu Maya

Luka yang Diabadikan I.    Janji ini, sejauh kita menulis jejak terucapkan di atas bibir purnama Dan jalan ini menangga...

Sajak Sebatang Lisong

03 July 2014 |Puisi

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisongMelihat Indonesia RayaMendengar 130 juta rakyatDan di langitDua tiga cukong mengangkangBerak di...

W.S. Rendra : Maskumambang

03 July 2014 |Puisi

W.S. Rendra : Maskumambang

Rendra membaca puisi dalam sebuah acara di Surabaya tahun 2009. Puisinya Maskumambang, adalah renungan tentang bagaimana...

Puisi-puisi Novri Susan

08 May 2014 |Puisi

Puisi-puisi Novri Susan

(Di) solilokui malam   kulihat wajahmu berseri seperti pagi itu ketika cahaya dari timur terbangun dari peradua...

Surat-surat Drupadi*

20 April 2014 |Cerpen

Surat-surat Drupadi*

 Oleh: Yogi Ishabib Seperti anak-anak perempuan pada masanya, aku memimpikan kehidupan yang indah. Aku yang dilahirkan ...

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

08 March 2014 |Cerpen

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

Oleh: Yogi Ishabib Pernah diceritakan, bahwa pada masa yang teramat lampau seorang laki-laki mendaki gunung untuk berte...

Novel: Cinta Menetes  Bag.  3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

08 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes Bag. 3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Tentang Hati (Bag. 3) Sudah pukul 2 pagi dini hari waktu Kyoto. Zali belum bisa tertidur. Biasanya pukul sepuluh sudah...

Warna Kalbu

08 March 2014 |Cerpen

Warna Kalbu

Oleh: Retno Ayu Setelah lima tahun kuhabiskan waktu di luar negeri untuk sekolah, kini kuhirup kembali udara kota asalk...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

03 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

Kyoto, Aku Jatuh Cinta (2)   Kyoto termasuk salah satu kota paling tua dan pernah menjadi ibu kota Jepang sebelum...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

01 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

Sudah hampir tiga tahun dia hidup di the City of thousand temples, Kyoto. Namanya Gazali, akrab dipanggil Zali. Satu kat...

Jalan Langit

28 February 2014 |Cerpen

Jalan Langit

Oleh: Retno Ayu Rafni termangu. Hujan begitu deras siang hari ini. Jendela kaca kamarnya berembun. Udara dingin menguy...

Puisi-puisi NS

28 February 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS

(Di) Hati Menetes sisa hujan adalah hati yang menetes di dinding-dinding bangunan sepi di antara ranting dan daunan rem...

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

07 February 2014 |Cerpen

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

Oleh: Mohammad Maos Bumi November. Awal hujan. Bumi mulai basah. Saat basah, seperti ada kehidupan baru, kesibukan baru...

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

07 February 2014 |Puisi

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

53

Sebuah Amsal Debu

06 December 2013 |Cerpen

Sebuah Amsal Debu

DS Priyadi Di ruang yang serba transparan lelaki tua itu berdiri. Aku memanggilnya Han. Ia lahir di pinggiran Pekal...