Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Novel: Cinta Menetes Bag. 3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Novel: Cinta Menetes  Bag.  3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Tentang Hati

(Bag. 3)

Sudah pukul 2 pagi dini hari waktu Kyoto. Zali belum bisa tertidur. Biasanya pukul sepuluh sudah tenggelam ke dasar mimpi paling dalam. Kamar berukuran 4x4 meter terlihat padat. Meja kecil di dekat pintu kamar penuh oleh buku-buku. Beberapa baju tergantung di kastok dari kayu berawarna coklat. Karpet hijau kecil terhampar di dekat tempat tidurnya yang cukup untuk dirinya seorang. Laptop masih menyala di atas meja kecil yang bisa dilipat. Satu gelas teh dingin masih tersisa setengah di samping laptop. Secara umum kamarnya cukup bersih dan rapi.

Zali suka hidup bersih dan rapi. Dia tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama tiga orang Indonesia lainnya. Mereka mahasiswa beberapa universitas di Kyoto. Teman pertama bernama Idham Khalid berusia tiga puluh satu tahun, tinggi besar, kulit sawo matang, bersikap seperti penasehat, dan mudah terharu. Selalu minta dipanggil Kha. Teman kedua bernama Joko David, berusia sekitar tiga puluh empat tahun, berkulit kuning langsat, mungil, dan keibuan karena suka memasak untuk teman-temannya. Bisik-bisik di Kyoto, dia memiliki kombinasi nama yang agak sulit dipahami akal sehat. Biasa dipanggil Jovid. Teman ketiga bernama Sophi Andini, berusia dua puluh sembilan tahun, tidak cantik, acuh, dan tingkah lakunya misterius. Nama akrabnya Sophi.

Zali berada dalam kegelisahan. Perasaannya terlempar ke sudut paling asing. Kegelisahan yang berbeda dari kegelisahan-kegelisahan lainnya selama ini. Waktu tiba-tiba terseok. Seperti duri yang ditusukkan ke tubuh secara perlahan. Malam ini, dia merasa dirinya tumbang. Julukan “lelaki yang tidak pernah jatuh cinta” terancam roboh. Mungkin tidak sekedar roboh, sebab telah musnah dari monumen jiwanya. Jendela kamarnya tiba-tiba terbuka dari luar. Udara dingin lima celcius berhamburan masuk ke kamar. Zali terperanjat namun tidak bergerak. Dari jendela yang terbuka, tirai tipis warna putih tersibak. Terkejut namun tidak berdaya, Zali melihatnya. Ayu melongok dari luar dengan senyum mengejek. Lalu terdengar ketukan berkali. Ketukan terakhir cukup keras diikuti panggilan seseorang.

“Li…bangun!”

Suara berat dari balik pintu kamar. Zali membuka mata, dan mengacuhkan panggilan itu. Pintu dibuka dari luar, dan kepala Kha melongok memandanginya.

“Heh…bangun! Tuh…Jovid udah bikin nasi goreng super. Turu ae! Jian!” Pintu kembali ditutup Kha, kepalanya hilang dari pandangan Zali. Terdengar langkah Kha yang setengah diseret. Zali paling tidak suka langkah seperti itu.

Zali melihat jendela kamarnya masih tertutup dan tirai putih tidak tersibak. Cahaya mungil pagi menyelinap masuk kamar. Sudah pukul 06.30 waktu Kyoto. Zali bangkit digelayuti rasa malas. Menuju jendela kamar, lalu dibukanya tirai putih yang terkilau matahari. Ia bernapas remang. Tidak ada Ayu di balik jendela. Halaman belakang rumah yang ditumbuhi rumput dan anggrek tanah. Bunga anggrek tanah berwarna putih kekuningan mekar. Tanda musim dingin yang berakhir. Zali menuju kamar mandi. Selesari urusan di kamar mandi, ia kembali menuju kamar. Mengenakan sarung warna biru muda. Shalat subuh pada pukul 06.40 waktu Kyoto. Tak apa, ketiduran. Zali meyakinkan hatinya. Setelah kurang lebih satu menit, pada pukul 06.41 dia menuju dapur sekaligus ruang makan.

Kha, Jovid dan Sophi sudah duduk mengitari meja makan. Zali menyapa. Wajahnya malas, seperti biasanya. Jovid menatapnya bentar, lalu terkekeh. Sophi duduk di samping Kha, tidak peduli dengan kehadiran Zali. Bagi Sophi, Zali sering tidak membuatnya bahagia. Zali duduk di samping Jovid, tanpa bicara langsung ambil piring yang sudah disediakan entah oleh siapa. Biasanya jika makan bersama, setiap orang ambil bagian masing-masing. Jovid masak, Kha cuci piring, dan Sophi mempersiapkan perlengkapan makan. Zali? Dia membantu Kha cuci piring.

Nasi goreng Jovid memang selalu enak. Aroma bawang kuat, dan kombinasi rempah-rempah yang sempurna. Zali menghirup aromanya. Terpejam.

“Kamu mau makan atau tidur lagi?” Terdengar suara lembut Jovid pada Zali. Kha batuk-batuk, sedangkan Sophi hanya peduli pada layar monitor komputer kecilnya.

Zali membuka mata dan menjawab, “Aku kesini…bukan sekedar mau makan, tapi menghormati aroma nasi gorengmu Vid.”

Jovid mengangkat alisnya, lalu tersenyum kecil.

“Kebanyakan upacara kamu Li! Mau makan saja pakai renungan pagi. Keburu dingin tuh nasi gorengnya!” Sahut Kha.

Bibir Sophi sedikit bergerak, tidak manis sama sekali. Zali sempat melihat gerakan bibir itu, bibir mengejek menurutnya. Zali mendengus kecil. Mereka berempat makan bersama. Sambil berbincang banyak hal. Namun, Zali hanya banyak berbincang dengan Kha dan Jovid. Satu jam keempat orang Indonesia tersebut menghabiskan nasi goreng. Sophi pergi duluan. Lalu Jovid meninggalkan Zali dan Kha karena harus segera bertemu dosennya. Piring dan gelas kotor bergelimang di atas meja. Kha melirik Zali. Sedangkan Zali memainkan jemarinya di atas meja. Mereka berdua saling menanti.

*

Setelah mencuci piring dan gelas, Zali kembali ke kamarnya. Tiga jam lagi dia akan bertemu Ayu di depan kampus Doshisha University, salah satu kampus besar di Jepang. Mengapa tidak sekarang saja, keluh Zali. Jika mampu, ingin rasanya melipat waktu saat ini dan membuka waktu tiga jam yang akan datang. Agar, bisa bertemu segera. Bisik hatinya. Zali rebah ke tempat tidur yang belum dirapikan. Walaupun musim dingin sudah berganti musim semi, suhu masih sekitar sepuluh celcius ketika pagi. Pada siang hari suhu menjadi lima belas sampai dua puluh celcius.

Rebah dalam perasaan rindu adalah kesunyian abadi. Zali sesungguhnya merasakan itu. Rindu? Sangat rindu. Ia semalam berusaha menolak perasaan itu. Segala pikiran rasional dan kekuatan jiwa dikerahkan. Namun, pagi ini dia tetap tergenggam oleh perasaan rindu. Wajahnya pasrah. Bagaimana jika rindu ini hanya bergaung di kubah perasaan sendiri? Bagaimana apabila hati ini tidak pernah dilihat olehnya? Zali tenggelam oleh pertanyaan-pertanyaan menggelisahkan. Setiap pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya. Kegamangan menimpanya. Zali memejamkan mata, larut kedalam remang kamarnya. Tiba-tiba Zali takut. Ayu. Bisiknya perlahan.

 

*Bersambung!

back to top