Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next
(Di) jalan secinta

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri.  Oleh: Ay Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai...

Puisi Anton Daryanto

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBukan pula waktunya menyendiri dan menepiIni ada tugas, yang mesti dijalani sepenuh hati

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berkata apa-apa Di kesendirian yang berpeluh karena sesak kerinduan Setiap hari kupandangi kamu Lewat cakrawala pagi dan sore Lewat...

Novel: Cinta Menetes Bag. 3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Novel: Cinta Menetes  Bag.  3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Tentang Hati

(Bag. 3)

Sudah pukul 2 pagi dini hari waktu Kyoto. Zali belum bisa tertidur. Biasanya pukul sepuluh sudah tenggelam ke dasar mimpi paling dalam. Kamar berukuran 4x4 meter terlihat padat. Meja kecil di dekat pintu kamar penuh oleh buku-buku. Beberapa baju tergantung di kastok dari kayu berawarna coklat. Karpet hijau kecil terhampar di dekat tempat tidurnya yang cukup untuk dirinya seorang. Laptop masih menyala di atas meja kecil yang bisa dilipat. Satu gelas teh dingin masih tersisa setengah di samping laptop. Secara umum kamarnya cukup bersih dan rapi.

Zali suka hidup bersih dan rapi. Dia tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama tiga orang Indonesia lainnya. Mereka mahasiswa beberapa universitas di Kyoto. Teman pertama bernama Idham Khalid berusia tiga puluh satu tahun, tinggi besar, kulit sawo matang, bersikap seperti penasehat, dan mudah terharu. Selalu minta dipanggil Kha. Teman kedua bernama Joko David, berusia sekitar tiga puluh empat tahun, berkulit kuning langsat, mungil, dan keibuan karena suka memasak untuk teman-temannya. Bisik-bisik di Kyoto, dia memiliki kombinasi nama yang agak sulit dipahami akal sehat. Biasa dipanggil Jovid. Teman ketiga bernama Sophi Andini, berusia dua puluh sembilan tahun, tidak cantik, acuh, dan tingkah lakunya misterius. Nama akrabnya Sophi.

Zali berada dalam kegelisahan. Perasaannya terlempar ke sudut paling asing. Kegelisahan yang berbeda dari kegelisahan-kegelisahan lainnya selama ini. Waktu tiba-tiba terseok. Seperti duri yang ditusukkan ke tubuh secara perlahan. Malam ini, dia merasa dirinya tumbang. Julukan “lelaki yang tidak pernah jatuh cinta” terancam roboh. Mungkin tidak sekedar roboh, sebab telah musnah dari monumen jiwanya. Jendela kamarnya tiba-tiba terbuka dari luar. Udara dingin lima celcius berhamburan masuk ke kamar. Zali terperanjat namun tidak bergerak. Dari jendela yang terbuka, tirai tipis warna putih tersibak. Terkejut namun tidak berdaya, Zali melihatnya. Ayu melongok dari luar dengan senyum mengejek. Lalu terdengar ketukan berkali. Ketukan terakhir cukup keras diikuti panggilan seseorang.

“Li…bangun!”

Suara berat dari balik pintu kamar. Zali membuka mata, dan mengacuhkan panggilan itu. Pintu dibuka dari luar, dan kepala Kha melongok memandanginya.

“Heh…bangun! Tuh…Jovid udah bikin nasi goreng super. Turu ae! Jian!” Pintu kembali ditutup Kha, kepalanya hilang dari pandangan Zali. Terdengar langkah Kha yang setengah diseret. Zali paling tidak suka langkah seperti itu.

Zali melihat jendela kamarnya masih tertutup dan tirai putih tidak tersibak. Cahaya mungil pagi menyelinap masuk kamar. Sudah pukul 06.30 waktu Kyoto. Zali bangkit digelayuti rasa malas. Menuju jendela kamar, lalu dibukanya tirai putih yang terkilau matahari. Ia bernapas remang. Tidak ada Ayu di balik jendela. Halaman belakang rumah yang ditumbuhi rumput dan anggrek tanah. Bunga anggrek tanah berwarna putih kekuningan mekar. Tanda musim dingin yang berakhir. Zali menuju kamar mandi. Selesari urusan di kamar mandi, ia kembali menuju kamar. Mengenakan sarung warna biru muda. Shalat subuh pada pukul 06.40 waktu Kyoto. Tak apa, ketiduran. Zali meyakinkan hatinya. Setelah kurang lebih satu menit, pada pukul 06.41 dia menuju dapur sekaligus ruang makan.

Kha, Jovid dan Sophi sudah duduk mengitari meja makan. Zali menyapa. Wajahnya malas, seperti biasanya. Jovid menatapnya bentar, lalu terkekeh. Sophi duduk di samping Kha, tidak peduli dengan kehadiran Zali. Bagi Sophi, Zali sering tidak membuatnya bahagia. Zali duduk di samping Jovid, tanpa bicara langsung ambil piring yang sudah disediakan entah oleh siapa. Biasanya jika makan bersama, setiap orang ambil bagian masing-masing. Jovid masak, Kha cuci piring, dan Sophi mempersiapkan perlengkapan makan. Zali? Dia membantu Kha cuci piring.

Nasi goreng Jovid memang selalu enak. Aroma bawang kuat, dan kombinasi rempah-rempah yang sempurna. Zali menghirup aromanya. Terpejam.

“Kamu mau makan atau tidur lagi?” Terdengar suara lembut Jovid pada Zali. Kha batuk-batuk, sedangkan Sophi hanya peduli pada layar monitor komputer kecilnya.

Zali membuka mata dan menjawab, “Aku kesini…bukan sekedar mau makan, tapi menghormati aroma nasi gorengmu Vid.”

Jovid mengangkat alisnya, lalu tersenyum kecil.

“Kebanyakan upacara kamu Li! Mau makan saja pakai renungan pagi. Keburu dingin tuh nasi gorengnya!” Sahut Kha.

Bibir Sophi sedikit bergerak, tidak manis sama sekali. Zali sempat melihat gerakan bibir itu, bibir mengejek menurutnya. Zali mendengus kecil. Mereka berempat makan bersama. Sambil berbincang banyak hal. Namun, Zali hanya banyak berbincang dengan Kha dan Jovid. Satu jam keempat orang Indonesia tersebut menghabiskan nasi goreng. Sophi pergi duluan. Lalu Jovid meninggalkan Zali dan Kha karena harus segera bertemu dosennya. Piring dan gelas kotor bergelimang di atas meja. Kha melirik Zali. Sedangkan Zali memainkan jemarinya di atas meja. Mereka berdua saling menanti.

*

Setelah mencuci piring dan gelas, Zali kembali ke kamarnya. Tiga jam lagi dia akan bertemu Ayu di depan kampus Doshisha University, salah satu kampus besar di Jepang. Mengapa tidak sekarang saja, keluh Zali. Jika mampu, ingin rasanya melipat waktu saat ini dan membuka waktu tiga jam yang akan datang. Agar, bisa bertemu segera. Bisik hatinya. Zali rebah ke tempat tidur yang belum dirapikan. Walaupun musim dingin sudah berganti musim semi, suhu masih sekitar sepuluh celcius ketika pagi. Pada siang hari suhu menjadi lima belas sampai dua puluh celcius.

Rebah dalam perasaan rindu adalah kesunyian abadi. Zali sesungguhnya merasakan itu. Rindu? Sangat rindu. Ia semalam berusaha menolak perasaan itu. Segala pikiran rasional dan kekuatan jiwa dikerahkan. Namun, pagi ini dia tetap tergenggam oleh perasaan rindu. Wajahnya pasrah. Bagaimana jika rindu ini hanya bergaung di kubah perasaan sendiri? Bagaimana apabila hati ini tidak pernah dilihat olehnya? Zali tenggelam oleh pertanyaan-pertanyaan menggelisahkan. Setiap pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya. Kegamangan menimpanya. Zali memejamkan mata, larut kedalam remang kamarnya. Tiba-tiba Zali takut. Ayu. Bisiknya perlahan.

 

*Bersambung!

back to top
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Dari yang tersimpan

18 November 2017 |Esai

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas Pameran Drawing dan Sketsa Goenawan Mohamad Keberadaan, ke-penting-an, nilai sketsa memang tak ...

Puisi Anton Daryanto

11 November 2017 |Puisi

Puisi Anton Daryanto

Ruang Temu Kasih Sayang Kepada :MasitaRiany Hari-hari ada tugas untuk diisiBukan lagi ruang hampa dan ruang sepiBuka...

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

25 July 2017 |Esai

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

  Oleh : Mayek/perupa   Tulisan ini tak lain usaha untuk melihat indikasi praktik seni dan perilaku pelukis...

Puisi dan kemusnahan tirani

07 June 2017 |Esai

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Pu...

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

13 May 2017 |Esai

TEATER, PETANI, dan ROH HALUS

Upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan para dewa atau kekuatan ghaib yang dianggap supernatural merupakan salah ...

Londo jadi dokter hewan

09 January 2017 |Cerpen

Londo jadi dokter hewan

Oleh: Ursari Suatu hari di Magelang tahun 1970. Roji sedang memegang katak hijau, hasil tangkapannya di sawah kemar...

Kebersamaan ala AKAP

15 December 2016 |Esai

Kebersamaan ala AKAP

  Oleh: Dedi Yuniarto   Enam perupa berbeda daerah asal yakni AT Sitompul (Medan), Dedy Sufriadi (Palembang...

Puisi Alhendra Dy

01 October 2016 |Puisi

Puisi Alhendra Dy

Persetubuhan Menir( puisi habis untuk sdr tua " espoer wanta " )

Kepada Bulan September

10 September 2016 |Puisi

Kepada Bulan September

Kepada Bulan September Puisi: Novri Susan   Aku mengejar waktu di bulan September Di keramaian yang tidak berka...

Kuasa dan Konstitusi

26 August 2016 |Esai

Kuasa dan Konstitusi

Ihwal kuasa dan konstitusi, nama Machiavelli tib-tiba berkelebat di benak saya. Melihat kelindan kuasa dan konstitusi di...

Jalan Kekasih

11 July 2016 |Puisi

Jalan Kekasih

Puisi-puisi NS   malamku milikmu   Kubaca malam dari bintang-bintang dan desir sunyinya adalah perja...

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

07 June 2016 |Puisi

Puisi NS "(Di) suatu waktu"

(Di) suatu waktu Oleh: NS aku ingin membagi teh hangat ini kepadamu yang kuseduh di cangkir warna putih dengan...

(Di) jalan secinta

31 January 2016 |Cerpen

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup y...

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

28 October 2015 |Puisi

Puisi-puisi NS 'Tabur persembahan'

I. (Di) taman ketika Aku adalah benih yang tumbuh segar Tumbuh elok tanpa seragu debar Tumbuh di tanah jiwamu berbunga...

Apa Rakyat akan Diam Saja

29 June 2015 |Puisi

Apa Rakyat akan Diam Saja

Ketika rakyat telah sendirian….. Ditinggalkan oleh para pemimpinnya Apa tetap rakyat akan percaya pada pemimpinya...

Pesan Semar

17 June 2015 |Cerpen

Pesan Semar

Kamu Semar. Itu bukan takdir kebetulan. Tak pantas kamu berdukacita lantaran perkara keluarga. Bangsamu sedang mengamban...

Puisi Anto Daryanto BnD

02 June 2015 |Puisi

Puisi Anto Daryanto BnD

Negeri  Seolah-olah   Negeri  Seolah-olah Seolah-olah diolah Di olah untuk  seolah-olah Pre...

(Di) hati setetes

29 April 2015 |Cerpen

(Di) hati setetes

Terkurung oleh batas. Aku menahan harap tercambuk cemas. Berdiri di pinggirannya menahan isak. Ribuan sayap cinta membur...

Tahun parodi

04 January 2015 |Esai

Tahun parodi

Jorge Luis Borges melalui pengantar bukunya Sejarah Aib, mengatakan dengan humornya yang khas bahwa “gaya yang dengan se...

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

16 December 2014 |Esai

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

Sastra adalah roh kebudayaan. Ia lahir dari proses rumit dari kegelisahan si penulis atas kondisi ketegangan masyarakat ...

Warung Kopi

22 November 2014 |Cerpen

Warung Kopi

dari tempat ini kami menggigit langit KAWAN saya sempat bersungut-sungut saat tahu parkir di warung kopi ini sekarang b...

Putri Naga

23 October 2014 |Novel

Putri Naga

Prolog - Istana Naga feodalisme, kebebasan, cinta, penghianatan, kekuasaan, mimpiIstana dibangun di atas kekuasaan dan ...

Koen

03 October 2014 |Cerpen

Koen

Oleh: Ranang Aji SP Seorang sipir berkumis tebal mendorongnya ke luar dari pintu utama penjara. Pintu besi bercat g...

Kalbu Maya : Merangkai Damai

20 September 2014 |Puisi

Kalbu Maya : Merangkai Damai

Kau telah membaca sajak kitab dalam isi kepalakuMungkin kau temukan gumpalan sampah,Yang telah berubah rambut putih beru...

Gagak di langit Berlin

11 September 2014 |Cerpen

Gagak di langit Berlin

Oleh: M. Faishal Aminuddin Perang itu mengakhiri sesuatu, tapi tak cukup buat menyudahi segala sesuatu. Tito bersau...

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

08 September 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS "Jatuh di simpuhmu (Di)"

Jatuh di simpuhmu (Di)   setelah lelah menyaput terlena mengambang rasa tak tersudahi membelantara nafas bertanya se...

Keaslian kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Keaslian kebudayaan

Tulisan ini menanggapi tulisan saudara Ranang Aji SP Atropi dan identitas kebudayaan, Solo Pos edisi 13 Februari 2011,...

Atropi Kebudayaan

04 September 2014 |Esai

Atropi Kebudayaan

Penduduk suku Bakung dari Mahak-Dumuk di pedalaman Pulau Kalimantan dewasa ini sedang dalam proses kehilangan identita...

Tentang Lelaki Itu

01 September 2014 |Cerpen

Tentang Lelaki Itu

Oleh : DS Priyadi Ia hanya lelaki biasa. Ia pun mengalami tua. Ya. Aku adalah saksi. Dan semua orang pun sebenarnya...

(Di) Melirih luruh

26 August 2014 |Cerpen

(Di) Melirih luruh

 Oleh: Ay Beberapa cahaya mungil berterbangan diantara daunan. Begitu malam yang terhampar hampa. Mengingat tidak l...

Sajak Daryanto Bender:  Menjemput Kemerdekaan

16 August 2014 |Puisi

Sajak Daryanto Bender: Menjemput Kemerdekaan

Menjemput kemerdekaan.....Ketika pagi hari masih terbungkus selimut dan terlelap dalam tidur apa itu sebuah kemerdekaan....

Secinta (Di)

15 August 2014 |Cerpen

Secinta (Di)

Secinta, dunia kini mengecil dan sempit. Kurasa demikian. Sejak ruhmu meninggalkan ruhku beberapa waktu lalu. Seperti ki...

Doa dalam mantra

02 August 2014 |Cerpen

Doa dalam mantra

Cerpen oleh: Mas Jiwandono   Karim mempersiapkan segala keperluan untuk pengajian rutin yang diadakan setiap bul...

Sang Banjir dan Bayi

01 August 2014 |Cerpen

Sang Banjir dan Bayi

Oleh: Ranang Aji SP Tiga hari tiga malam langit gelap telah mengguyurkan hujan deras ke kota ini. Hari pertama ...

Puisi Kalbu Maya

21 July 2014 |Puisi

Puisi Kalbu Maya

Luka yang Diabadikan I.    Janji ini, sejauh kita menulis jejak terucapkan di atas bibir purnama Dan jalan ini menangga...

Sajak Sebatang Lisong

03 July 2014 |Puisi

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisongMelihat Indonesia RayaMendengar 130 juta rakyatDan di langitDua tiga cukong mengangkangBerak di...

W.S. Rendra : Maskumambang

03 July 2014 |Puisi

W.S. Rendra : Maskumambang

Rendra membaca puisi dalam sebuah acara di Surabaya tahun 2009. Puisinya Maskumambang, adalah renungan tentang bagaimana...

Puisi-puisi Novri Susan

08 May 2014 |Puisi

Puisi-puisi Novri Susan

(Di) solilokui malam   kulihat wajahmu berseri seperti pagi itu ketika cahaya dari timur terbangun dari peradua...

Surat-surat Drupadi*

20 April 2014 |Cerpen

Surat-surat Drupadi*

 Oleh: Yogi Ishabib Seperti anak-anak perempuan pada masanya, aku memimpikan kehidupan yang indah. Aku yang dilahirkan ...

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

08 March 2014 |Cerpen

Bunga Teratai di Kaki Gunung Kailaya

Oleh: Yogi Ishabib Pernah diceritakan, bahwa pada masa yang teramat lampau seorang laki-laki mendaki gunung untuk berte...

Novel: Cinta Menetes  Bag.  3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

08 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes Bag. 3 (Bab Tentang Hati) Karya: Ay

Tentang Hati (Bag. 3) Sudah pukul 2 pagi dini hari waktu Kyoto. Zali belum bisa tertidur. Biasanya pukul sepuluh sudah...

Warna Kalbu

08 March 2014 |Cerpen

Warna Kalbu

Oleh: Retno Ayu Setelah lima tahun kuhabiskan waktu di luar negeri untuk sekolah, kini kuhirup kembali udara kota asalk...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

03 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

Kyoto, Aku Jatuh Cinta (2)   Kyoto termasuk salah satu kota paling tua dan pernah menjadi ibu kota Jepang sebelum...

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

01 March 2014 |Novel

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

Sudah hampir tiga tahun dia hidup di the City of thousand temples, Kyoto. Namanya Gazali, akrab dipanggil Zali. Satu kat...

Jalan Langit

28 February 2014 |Cerpen

Jalan Langit

Oleh: Retno Ayu Rafni termangu. Hujan begitu deras siang hari ini. Jendela kaca kamarnya berembun. Udara dingin menguy...

Puisi-puisi NS

28 February 2014 |Puisi

Puisi-puisi NS

(Di) Hati Menetes sisa hujan adalah hati yang menetes di dinding-dinding bangunan sepi di antara ranting dan daunan rem...

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

07 February 2014 |Cerpen

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

Oleh: Mohammad Maos Bumi November. Awal hujan. Bumi mulai basah. Saat basah, seperti ada kehidupan baru, kesibukan baru...

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

07 February 2014 |Puisi

Puisi-Puisi Ranang Aji SP

53

Sebuah Amsal Debu

06 December 2013 |Cerpen

Sebuah Amsal Debu

DS Priyadi Di ruang yang serba transparan lelaki tua itu berdiri. Aku memanggilnya Han. Ia lahir di pinggiran Pekal...