Menu
SKK Migas Wilayah Timur Berharap Adanya Dorongan di Luar Bidang Migas.

SKK Migas Wilayah Timur Berharap Ad…

Sleman-KoPi| Kepala Sat...

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

Prev Next

Puisi dan kemusnahan tirani

Puisi dan kemusnahan tirani

Jarang kita temui saat ini, puisi yang merekam esensi keresahan sosial, atau membicarakan keresahan rakyat tertindas. Puisi seakan telah kehilangan potensi revolusionernya.

Puisi, sesungguhnya dapat digunakan sebagai penyalur gagasan perubahan sosial. Bahkan, bukan hal yang mustahil bagi puisi untuk meruntuhkan kelaliman suatu rezim. Suaranya mampu menjangkau nurani setiap orang. Puisi mampu untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat tertindas untuk mencanangkan sebuah revolusi.

Saya jadi teringat akan sebuah esai karya Zhange Ni yang berjudul A New Defense of Poetry: Vital Power, Bio-Capitalism, and Ally Condie’s Matched Series. Dalam esai ini, Zhange Ni mengangkat novel Matched karya Ally Condie yang mengisahkan perjuangan tiga sekawan, Cassia, Xander, dan Ky melawan sebuah rezim rasionalitas yang menyeragamkan segala aspek kehidupan masyarakat nya, mulai dari pernikahan, pola pikir, tanaman yang boleh ditanam dan tidak, sampai penyeragaman tinggi pohon yang tumbuh di taman kota.

Setiap orang di kota itu membawa tiga pil. Pil hijau untuk menenangkan, pil biru untuk menyediakan nutrisi, dan pil merah untuk membersihkan ingatan. Masyarakat pada novel Matched digambarkan telah kehilangan kemampuan nya untuk menulis, mereka hanya mampu mengetik melalui pod atau komputer.

Cassia, seorang penyair, bersama dua kawan nya, Xander si Fisikawan, dan Ky si Pilot, bekerjasama untuk mencari ramuan yang dapat menyadarkan penduduk di kota itu. Perpecahan dan rasa cinta antara Cassia dan Xander menjadi bumbu tersenidri dalam novel ini. Beragam upaya terus mereka lakukan untuk menemukan formulasi ramuan yang tepat, sampai akhirnya, puisi hadir menjadi penawar yang tepat.

Ini karena puisi merupakan media yang mampu menyetuh perasaan dan kemanusiaan para penduduk, yang sudah termakan oleh doktrin rasionalitas yang ditanamkan rezim. Puisi adalah satu kesatuan utuh perasaan dan ilmu pengetahuan, dua dimensi yang ada pada diri manusia. Ia memiliki rasionalitas, di saat bersamaan. Karena alasan itulah, dalam novel tersebut, rezim rasionalitas dapat dilumpuhkan melalui puisi.

Sebelum rezim Orde Baru runtuh oleh pemberontakan masif yang terjadi di akhir medio 1990, Wiji Thukul, penyair dan aktivis Hak Asasi Manusia, muncul sebagai sosok sarat perlawanan melalui untaian lirik puisinya. Puisi yang dibungkus bak orasi perjuangan, berhasil membakar animo perlawanan masyarakat untuk menjatuhkan rezim Totalitarian Soeharto.

Seakan tanpa lelah, walaupun Wiji harus menghadapi beragam bentuk intimidasi dan ancaman penculikan, semangatnya untuk terus menulis dan berpuisi tak mampu disurutkan. Puisi Wiji bukanlah lirik menye-menye yang sebatas mengedepankan keseragaman bunyi dan kekayaan diksi, namun kering akan esensi, justru sebaliknya, tuturan nya sederhana, tegas, dan tanpa tendeng aling-aling, namun sarat akan pesan pembebasan!

Hebatnya, sampai hari ini, meski keberadaan nya masih berupa teka-teki. jiwa dan suaranya terbukti masih abadi dalam diri mereka yang menentang keras ketidakadilan. Sosok nya dterus diabadikan dalam beragam karya, mulai dari tulisan, buku, maupun film.

Nilai suatu puisi tidaklah selalu terletak pada aspek bahasa dan estettika nya belaka. Lebih dari itu, ia adalah seruan perlawanan bagi mereka yang merasa keadilan nya dicuri, hak-hak nya dirampas, dan suaranya dibungkam. Di tangan seorang pembawa perubahan, puisi bisa menjadi sebuah panji perjuangan di tangan kanan, dan kepalan tinju di tangan kirinya

 

back to top