Menu
Gus Ipul Apresiasi Program Kepemilikan Rumah Bagi Driver Gojek

Gus Ipul Apresiasi Program Kepemili…

Surabaya-KoPi| Wakil Gu...

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama selamatkan Golkar

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama …

Sleman-KoPi| Wakil Dewa...

Siswa di Bantul diduga terjangkit Difetri

Siswa di Bantul diduga terjangkit D…

Sleman-KoPi| Satu siswa...

Peneliti mendeteksi tanah merekah di Yogyakarta

Peneliti mendeteksi tanah merekah d…

Jogja-KoPi|Dua akademisi ...

Pakde Karwo Minta Kepala OPD Gunakan Tradisi Intelektual Pada Budaya Kerja

Pakde Karwo Minta Kepala OPD Gunaka…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Wujudkan Kecintaan Nabi Muhammad, Gus Ipul Baca “Duhai Kanjeng Nabi”

Wujudkan Kecintaan Nabi Muhammad, G…

Surabaya-KoPi| Mewujudk...

Pemkot Yogyakarta tidak akan terima masukan masyarakat sebagai pribadi

Pemkot Yogyakarta tidak akan terima…

Jogja-KoPi|Wakil Wali Kot...

Pemuda peduli Pemilu

Pemuda peduli Pemilu

Jogja-KoPi| Partsipasi ...

Laksda Arie Soedewo: Laut Indonesia belum terkelola baik

Laksda Arie Soedewo: Laut Indonesia…

Sleman-KoPi|Kepala Bada...

UMKM Foords Plaza Geldboom

UMKM Foords Plaza Geldboom

Surabaya -KoPi| Artis p...

Prev Next

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

Dinamika pelukis Blok M, Kota Tua, Mall dan Hotel

 

Oleh : Mayek/perupa

 

Tulisan ini tak lain usaha untuk melihat indikasi praktik seni dan perilaku pelukis disekitar kawasan tertentu di kota Jakarta, yang mempunyai kecenderungan unik. Tidak semua pelaku melakukan hal yang identik dan sama. Saya tidak menggeneralisir kebiasaan tetapi upaya untuk memetakan gejala yang melekat sesuai apa yang mereka citrakan.

Pesanan lukisan potret dominan dibeberapa wilayah menjadi kajian yang menarik dalam hubungannya dengan proses kreatif berkesenian-kesenimanan. Seni lukis potret ini tidak merepresentasi sebuah ekspresi budaya dan sejarah. Batasannya hanya memindahkan dan mendapatkan uang.

Beberapa subcabang pesanan kreatif yang mengikutinya cukup beragam. Seperti pelukis pesanan yang dikerjakan distudio rumah atau distudio toko figura sampai pameran di Hotel dan Mall.

Jika anda punya keperluan dan berminat untuk mengabadikan sebuah foto dalam bentuk lukisan, anda bisa menemukannya dipusat perbelanjaan kawasan Blok M. Di pinggiran Mall segala kelas ini, anda bisa menjumpai para pelukis yang menerima jasa pemesanan lukisan potret dan karikatur dengan harga yang bervariatif sesuai ukuran.

Para pelukis ini sangat piawai dalam memoles wajah lewat goresannya, dari foto yang rusak bisa diperbaiki menjadi rapi dan bagus. Permak foto profil menjadi lebih cakep dari fotonya. Mereka menggunakan media kertas, kadang pula mengerjakan dengan media kanvas. Bahan yang digunakan kebanyakan pensil warna, konte warna, cat air, cat minyak atau dengan berbagai campuran cat akrilik, tergantung kreatifitas.

Dikawasan lain daerah pintu besar Kota Tua, bisa dijumpai pula deretan pelukis potret menyediakan jasa yang sama. Disini tampak tidak begitu formal dibanding dikawasan Blok M, lapak mereka benar-benar dipinggir jalan. Sedangkan lapak di Blok M harus membayar retribusi, sarat pengaruh lingkungan konsumtif. Di kawasan Pasar Baru dan Pasar Seni Ancol, pelukis-pelukis ini tidak jauh berbeda.

Selain mengerjakan lukisan dilapak, ada juga pesanan dikerjakan distudio rumah, yang ini biasanya mendapat konsumen lewat kenalan pribadi atau lukisannya dititipkan ke Artshop sesuai selera pasarnya. Kalau di studio toko figura, biasanya melukis untuk stock dagang, sekaligus untuk pesanan dan pembelian figura. Mereka juga menerima jasa kreatif lain, membuat atau menerima pesanan lukisan pemandangan, ilustrasi, sket on the spot, gambar story board dan lain sebagainya. Singkatnya, mereka mengerjakan apapun yang berkaitan dengan urusan pesanan gambar menggambar/melukis.

Dalam lingkungan kreatif ini tidak ada kriteria tertentu atau tuntutan seseorang harus berbakat, pesanan bisa dikerjakan secara kolektif, yang terpenting adalah keberanian menerima pesanan terutama mendapatkan uang muka. Jika pelanggan suka, sedikit persuasi maka berakhir pada transaksi. Urusan selesai.

Tapi tak berhenti sampai disitu. Suatu ketika pelanggan bisa jadi tidak begitu puas dan komplain. Kemungkinan pesanan tidak diambil juga ada. Disinilah kemudian tekanan itu muncul dan sering kali menjadi momok. Terkadang jika keluhan menyinggung perasaan sipelukis, gambar tersebut bisa diberikan secara gratis. Bagi mereka, hal ini merupakan tantangan tersendiri bagaimana menanggapi pelanggan yang ‘cerewet’. Begitulah rutinitas terus melingkar.

Seperti pekerjaan pada umumnya, para pelukis ini juga mengalami kebosanan. Suatu ketika saat ada yang mengajak pameran atau informasi aplikasi terbuka pameran melalui seleksi, terbesit bagi mereka untuk mengikutinya. Syarat normal sebagaimana pelukis pada umumnya. Mudahnya, mereka juga eksis dalam pameran-pameran apresiasi non komersial dan memendam hasrat terkenal menjadi pelukis professional, itupun tidak jauh dari cara pikir money oreinted. Wes biasa...

Nah, perjalanan proses kreatif lain dari para pelukis ini dengan mengikuti pameran-pameran di Hotel dan Mall. Para pelukis ini biasanya diundang oleh Event Organiser tertentu yang punya agenda mengadakan pameran untuk kepentingan dijual. Setiap pelukis ditawari dalam bentuk panel, setiap panel mempunyai nilai harga yang sama dan diantaranya bisa diambil beberapa panel. Jika lukisan laku, panel yang kosong bisa diisi lukisan lagi, begitu seterusnya. Konsumen pameran ini biasanya pecinta seni, pengusaha, pejabat dan para kolekdol/kolega(kolektor dagangan). Dari aktifitas ini, semua elemen adalah pendukung penggeraknya roda ekonomi pelukis.

Sampai disini, semuanya menjadi tampak agak begitu mudah dan bisa dikendalikan. Hidup berjalan seperti biasanya. Tantangan didepan menunggu ditaklukan, anehnya zona nyaman yang memposisikan mereka menghambat proses kreatif, seperti kurangnya kegelisahan terhadap isu perkembangan seni rupa, kepekaan isu sosial politik, eksplorasi media dan teknik, kebingungan subyek matter, ketakutan dalam kritik seni, latah visual dan kurangnya eksperimen menggubah obyek visual hingga terkesan takut jelek. Jika dipadatkan, keuntungan financial tidak mengarahkan dinamika dan dialektika pada praktik perkembangan karakter pribadi keseniannya pada tingkat yang lebih lanjut.

Masalah berikutnya, pelukis potret/pesanan cenderung kurang inovatif, gagasannya terkesan mampat karena pengaruh dari kebiasaan yang melulu gambar wajah atau obyek pasaran. Itu sebabnya mereka jarang membuat karya diluar pesanan dengan demikian sikap menutup diri dan kurangnya percaya diri menyebabkan atensi melihat acara pameran-pameran dan mengikuti wacana seni rupa terkini tidak begitu peduli, kehilangan minat dan kurang apresiatif akhirnya lepas dari atmosfir kesenian. Alasan sederhana lain, semua itu tidak dapat menghasilkan keuntungan dan ditempat semacet ini, itu hanya bikin capek (tidak semua pelaku).

Sedangkan bagi pelukis Hotel/Mall, progress kekaryaannya terus berjalan. Mirip pelukis potret, idenya juga cenderung terkesan beku, namun memiliki kelebihan spekulasi dalam melihat laku tidaknya sebuah karya. Imajinasinya tergantung bagaimana sebuah karya bisa dibeli konsumen. Jadi, dalam proses berkarya obyek yang dibayangkannya adalah obyek yang mempunyai potensi sugesti terbeli. Luar biasa sangar…

Pelukis potret/pesanan jarang atau cenderung kurang bersemangat berkarya, pada pelukis Hotel/Mall lebih konstan dalam berkarya untuk mengantisipasi jika EO mengkonfirmasi untuk pameran. Pengadaan pameran ini terjadi begitu saja, tergantung tempat yang akan disewanya. Artinya, pameran di Hotel/Mall tidak perlu ada acara ceremonial formal(fleksibel), tidak ada seleksi ketat, tidak penting tema gagasan/konsep/isu tertentu, tidak perlu katalog, tidak perlu kurator (meski terkadang ada juga menggunakan katalog dan jasa kurator).

Kedua jenis ini, pelukis potret/pesanan dan pelukis Mall/Hotel, mempunyai perbedaan yang tidak begitu mendasar. Keduanya sama-sama bermotif mengejar penghasilan. Beberapa pelaku mengkalkulasi penghasilannya bisa disetarakan dalam gaji UMP, bahkan penghasilannya bisa melebihi dari standar pekerja pabrik dan kantoran.

Untuk memudahkan identifikasi para pelukis ini kita sebut sebagai jenis realistik yaitu merujuk pada jasa dan sikap yang menggunakan seni sebagai barang dagangan untuk bertahan hidup. Perilaku realistis menjadi adat, mereka sadar bahwa hidup butuh makan. Mereka yakin bahwa tekanan hidup di Ibukota harus diselesaikan dengan terpenuhinya penghasilan. Jenis realistik sungguh sangat sadar, uang bisa menggantikan segalanya, meninggikan gengsi dan memanjakan diri.

Demi mendongkrak kesadaran yang realistis, realitas verbalnya juga meneguhkan tindakannya. Apa yang menarik dari satu obrolan tak jauh dari kenyataan terjualnya sebuah karya atau banyaknya pesanan adalah suatu kebanggaan tersendiri, sesekali menyebut mereka yang terkenal dengan karyanya yang mahal. Dititik ini, mengalirnya obrolan jarang berkembang dalam skala yang lebih konstruktif, tinggi, luas dan mendalam. Ironisnya lebih sering melompat-lompat, terpotong-potong, samar dan pangkalnya membingungkan alias ngelantur, apalagi dioplos dengan takhayul.

Apapun itu, fenomena ini merupakan sisi dari dunia seni rupa dengan susunan yang kompleks. Bagian kerumitan lain dipenuhi mereka yang hidup dalam absurditas kesenian. Jenis ini kita sebut sebagai idealis, bukan berarti jenis realistik tidak idealis. Frasa ini hanya sebagai pembeda.

Selanjutnya, yang idealis ini tidak berpikir bagaimana sebuah karya dijual atau diperdagangkan (kalo laku ya rejeki). Mereka lebih mengutamakan proses berkarya, bagaimana penghayatan rasa itu muncul kedalam bentuk yang khas, unik sebagai karakter dan berkarya adalah sebagai kebutuhan.
Intinya, mereka menghabiskan seluruh bagian waktunya untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan ekspresi/gagasan kedalam karya seni.

Persoalan financial bukan persoalan utama, sekalipun mereka kekurangan dan itu jarang sekali mereka bicarakan. Mereka hanya peduli pada apa yang berpendar dalam imajinasinya. Menembus batasan-batasan. Penjelajah ide dan bentuk. Sangat tertarik pada daya-daya artistik. Itulah kenapa jenis ini sangat absurd.

Pembagian jenis ini bukanlah sesuatu yang permanen atau tegas, karena jenis realistik atau idealis bisa dimiliki oleh siapa pun, eksis dalam satu pribadi seseorang yang menggeluti proses kreatif dengan berbagai dimensi yang melingkupinya. Hari gini ngomong idealisme... preettt...

Kenyataaannya, gejala ini memberikan kita gambaran betapa simpang siurnya praktik kesenian di Ibukota Jakarta yang terlalu rentan terhadap infeksi ekonomi mainstream. Bagaimana habitat begitu kuat pengaruhnya dan kurang memberikan karakter, jauh dari arus wacana seni rupa dan idealitas kesenimanan sehingga tak muncul identitas, integritas sebagai pelukis/perupa/seniman yang ditandai zaman.

Seharusnya, apa yang menjadi kelebihan financial bisa dikondisikan jadi daya dukung untuk berproses dalam berkarya, diimbangi gagasan yang lebih luas dan specifik, pembentukan karakter dan teknik. Merubah orientasi dari uang mengarah pada pembelajaran, produksi pengetahuan dan pengembangan. Tapi apa ya harus begitu… kayaknya nggak… terlalu utopis Mboh, sak karepmu…

back to top