Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Bercermin pada cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya

Foto milik: www.tempo.co Foto milik: www.tempo.co

Sastra adalah roh kebudayaan. Ia lahir dari proses rumit dari kegelisahan si penulis atas kondisi ketegangan masyarakat atas kebudayaannya. Sastra sering juga ditempatkan sebagai potret sosial yang dapat mendeskripsikan berbagai peristiwa, gambaran psikologis, dan dinamika penyelesaian masalah yang dapat menjadi sumber pemikiran, inspirasi serta kesiapan dalam diri si pembaca untuk menghadapi kondisi sosial yang terjadi di masyarakat. Selain itu karya sastra juga berguna bagi para pembacanya sebagai media hiburan.

Tak dapat dimungkiri, kehadiran karya sastra remaja yang lebih populer dengan TeenLit (teenagers literature) memang cukup memengaruhi minat baca para remaja. Lahirya Teenlit merupakan genre sastra pop Indonesia ketika memasuki masa Angkatan 80. Ketika itu, dunia sastra Indonesia diwarnai romantisme sastra barat. Mereka yang kurang menyukai bacaan berat (sastra serius) memang lebih banyak meminati bacaan TeenLit. Karya jenis ini memang lebih mudah dicerna.  Bahasa yang digunakan pengarang pun tak berat dan rumit, sehingga mereka lebih mudah memahami apa yang disampaikan pengarang.

Bila diteliti, tema yang diangkat dalam sastra remaja memang tak jauh dari tema cinta dan pernak-pernik dunia remaja. Tema yang lebih banyak memotret problematika kehidupan remaja itulah yang menyebabkan novel TeenLit laris manis di pasaran. Banyak penerbit yang berlomba-lomba menerbitkan novel tema remaja yang ringan dan mudah dicerna. Padahal, sebuah karya seharusnya bisa berfungsi lebih dari sekadar bacaan yang menghibur. Tapi, juga ada nilai-nilai yang ditawarkan serta memberi kontribusi yang kentara pada remaja.

Saat ini, belum ada jejak kepengarangan penulis yang kuat, atau yang punya gaung. Untuk itu, pengarang TeenLit harus berbenah jika memang ingin serius jadi pengarang (Annida, 2007: 22). Novel TeenLit yang kini kian merebak mewarnai jagat sastra tak akan ada artinya apabila tidak mengandung unsur mendidik. Unsur idealistik dan romantisme dalam karya sastra masa kini hanya akan menciptakan pola pikir dan pembentukan karakter generasi muda kita kerdil.

Kita dapat bercermin pada cerpen karya Putu Wijaya yang berjudul “Merdeka”. Cerpen yang diawali dari persoalan pokok, yakni meletakkan harapan kepada Merdeka untuk menjadi pemimpin masa depan yang dapat memerdekakan masyarakat dari kepemimpinan yang buruk. Dalam tulisan itu Putu Wijaya mampu menuliskan bagaimana Merdeka, sebagai tokoh pemuda yang menyalahgunakan kejeniusan dan kepintaran yang ia miliki semasa sekolah. Konflik menanjak ketika ia dikeluarkan dari sekolah hanya karena tidak mampu membayar uang sekolah. Gejolak semakin menjadi-jadi ketika Merdeka melihat teman-temannya yang lain lulus mendapatkan ijazah dengan bermodalkan kegoblokannya. Klimaks dari cerpen ini terjadi ketika ia harus mengikuti saran dari seorang dukun untuk mengganti namanya karena terlalu berat untuk dipikul.

Bila kita membaca keseluruhan isi cerpen Putu Wijaya yang berjudul “Merdeka” ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Putu Wijaya lebih mementingkan pesan moral yang terkandung dalam isi karyanya, karena bagi Putu Wijaya dalam Haris Effendi Thahar (1998: 73-74) menyatakan bahwa, “Sebuah cerita pendek adalah bagaikan mimpi baik dan mimpi buruk. Tidak terlalu penting urutan, jalinan, karena kadang-kadang ada dan kadangkala tidak. Yang utama adalah pekabaran yang dibawanya. Cerita pendek adalah terror mental kepada pembacanya”

Berdasarkan hal tersebut Putu Wijaya mengisyaratkan kepada kita bahwa untuk menangkap pesan yang ditampilkan tokoh Merdeka kita harus memahami segala fenomena dan tikaman jiwa yang tersirat dalam cerpen Putu Wijaya.

“Dunia yang dibayangkannya sebagai lautan harapan, sekarang sudah menjadi sarang kebobrokan. Masa depan hanya enak dalam obrolan , pada kenyataannya semua kentut”..”Diploma sekarang sudah gampang dipalsu. Keunggulan yang digarasi oleh sebuah ijazah pun hanya keunggulan macam kandang, sedangkan kita menggarap hidup keras di lapangan memerlukan siasat” (hal. 460).

Dari petikan cerpen “Merdeka” tersebut, telah jelas bahwa kini ijazah bisa diperjualbelikan. Sungguh memprihatinkan kenyataan hasil potretan Merdeka ini. Proses instant tersebut kini semakin trend dan dibangga-banggakan.

Karya-karya semacam ini kini semakin tersaingi oleh kehadiran novel TeenLit yang menceritakan imajinasi si penulis yang jarang mampu mengolah pikiran pembacanya untuk berfikir kritis dan siap menghadapi kemungkinan terburuk hidup. Happy ending sangat identik dengan novel TeenLit, sungguh berbeda dengan novel-novel angkatan 80-an yang tidak selalu kisahnya berakhir indah.

Bila ini terus dipertahankan, tentu sangat membahayakan bagi kaum muda kita. Kekuatan jiwalah yang dibutuhkan kaum muda untuk menyongsong negeri tercintanya ini. Bukan kisah cerita-cerita Teenlit yang membuat galau apabila kenyataan tidak sesuai harapan. Dengan perkataan lain, mempelajari kebudayaan suatu bangsa tidak akan lengkap jika keberadaan kesusastraan bangsa yang bersangkutan diabaikan. Disitulah kedudukan kesusastraan dalam kebudayaan sebuah bangsa. Ia tidak hanya merepresentasikan kondisi sosial yang terjadi pada zaman tertentu, tetapi juga menyerupai pantulan perkembangan pemikiran dan kebudayaan masyarakatnya.

back to top