Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Atropi Kebudayaan

Atropi Kebudayaan

Penduduk suku Bakung dari Mahak-Dumuk di pedalaman Pulau Kalimantan dewasa ini sedang dalam proses kehilangan identitas, karena tanpa sadar telah meninggalkan suatu warisan budaya yang mengagumkan di tempat asalnya (Umar Kayam:1995).


Demikian keprihatinan Umar kayam. Kecemasan yang sama atas krisis identitas kebudayaan, sesungguhnya juga bisa kita lihat atas hasil seni tradisi baru (misalnya) yang dikembangkan masyarakat seni di Magelang; seperti yang kita kenal sebagai Topeng Ireng, Putra Rimba dan Topeng Sojana. Selintas, barangkali karya kesenian tari yang dikembangkan tersebut tampak bergerak dengan hasrat kreativitas para senimannya dan dapat diapresiasi.Namun, bila dengan seksama kita cermati, kita akan menemukan persoalan dari makna kreativitas dan orisnilitas dari seni tari tersebut.

Sebuah karya modifikatif yang memiliki implikasi instan dan imitatif serta tak merefleksikan apapun tentang muatan nilai-nilai filosofi dan budaya yang ada dalam masyarakat lokal saat ini atau pun masa lalu. Karya yang sesungguhnya menjauh dari kejelasan identitas seperti diresahkan Budayawan Umar Kayam.Bila kita melihat, hampir seluruh seni tari di atas, memberikan kesan bahwa apa yang kita tonton seolah sebuah tarian khas Indian yang berada di benua nun jauh di sana: Amerika. Pakaian yang berumbai dan hiasan kepala dengan dipenuhi bulu-bulu binatang unggas layaknya kepala Suku Indian, berikut pula dengan gerakkan dan teriakkan khas pasukan Indian ketika akan bertempur. Dan ironinya kesenian ini ditahbiskan sebagai bagian identitas kebudayaan khas daerah Magelang atau Kedu.

Hal yang berbeda ketika kita menyebut kesenian tari Kobro Siswa dan Prajuritan (misalnya) sebagai induk bakal jenis tari di atas. Kesenian yang banyak berkembang di daerah Magelang, Purworejo dan Bawen ini sebaliknya lebih mampu merefleksikan atas nilai-nilai sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. Dengan demikian kesenian ini memiliki kohesi yang kuat atas nilai-nilai sejarah dan budaya dalam masyarakat setempat. Karena pada ghalibnya lahirnya sebuah kesenian tradisi senantiasa lahir dari akar nilai dan budaya murni setempat. Tetapi, justru karenanya ia ditinggalkan. Dicerabut dari akar yang memiliki pertalian identitas budaya dan sejarah bangsa.

Fenomena dengan maraknya kesenian (dianggap) tradisi seperti Topeng Ireng, Topeng Sujana dan Putra Rimba—sesungguhnya merupakan gejala yang disebut Goerge Simmel (The Philoshopy of Money) sebagai atropi (athropy). Yaitu berhentinya proses kreatif (budaya) subjektif karena dominasi budaya global (kapitalisme). Masyarakat secara umum digiring secara sadar tak sadar pada bentuk pendangkalan nilai selain uang. Proses kebudayaan yang berhasrat ideal dan memuat ekspresi nilai kebudayaan yang dihasilkan oleh kejelian dan kejenialan seniman (konteks seni dan sastra) tereduksi menjadi kepingan-kepingan anomi dan hanya bertujuan pada pencapain pasar semata. Dan pada faktanya, hasil capainnya pun justru menempatkannya pada kotak yang sempit dan gamang identitas. Tidak mampu bersaing dengan karya-karya yang memiliki orisinalitas dan berakar dalam lingkungan yang setempat.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa dominasi kebudayaan global (kapitalisme) menggeser kejelasan identitas kebudayaan lokal sekaligus mengebiri kemampuan kreativitas dan intelektual budaya masyarakat. Atropi kebudayaan menunjukkan adanya patologi modernisme secara nyata. Menjadi virus yang menularkan dan bersifat opresif.

Atropi kebudayaan tidak saja mengancam eksistensi masyarakat inter-subyektif sebagai produsen budaya yang mandiri, tetapi sekaligus mempengaruhi tata budaya politik negara yang didominasi para politisi dan birokrasi yang hanya berpikir kepentingan sempit. Dan pada akhirnya juga memperlemah keyakinan akan identitas kebudayaan masyarakat-bangsa. Atropi juga mempersempit dan mendangkalkan nalar nasionalisme.

Pada dasarnya, kebudayaan bangsa yang terekternalisasikan dalam produk tradisi-tradisi ( seni ) murni dan kolektif adalah wujud dari aspek identitas. Baik sebagai identitas kesukuan yang beragam, sekaligus merupakan identitas kebangsaan. Betapa pentingnya identitas kebudayaan yang terbentuk dari akar sejarah dan kearifan lokal bagi bangsa-bangsa sebagai wujud eksistesi peradaban di mata bangsa lain. Selain tentu memiliki potensi secara ekonomi untuk negara dan bangsa.

Klaim kesenian Reog Ponorogo yang diciptakan oleh Ki Ageng Kutu, Bupati Wengker di masa Majapahit sebagai milik Malaysia (misalnya), memberikan contoh betapa pentingnya kejelasan identitas kebudayaan bagi bangsa. Penjagaan atas nilai-nilai budaya tidak saja menghasilkan kualitas bangsa berintegritas tinggi, tetapi juga memberikan dampak kesejateraan lahir dan batin masyarakat.

Atropi sebagai virus mematikan yang dilahirkan dari sisi gelap kapitalisme sesungguhnya harus segera diinsyafi. Menerimanya sebagai kelaziman dan keniscayaan begitu saja–sama halnya mendorong diri pada kebangkrutan mental dan menyodorkan hidup kita pada ketidakberdayaan. Hilangnya kreativitas kebudayaan dalam konteks seni (misalnya) juga berarti merosotnya strata peradaban kita. Kritik terhadap atropi kebudayaan senantiasa harus dihidupkan.(Baca: Keaslian Budaya)


(*Ranang Aji SP, sumber: Solo pos edisi 13 feb 2011)

 

back to top