Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Warung Kopi

Warung Kopi

dari tempat ini kami menggigit langit

KAWAN saya sempat bersungut-sungut saat tahu parkir di warung kopi ini sekarang berbayar. Kabarnya, tempo hari ada kepala polisi setempat yang mampir sekadar untuk bilang kalau parkir berantakan.

Tak lama berselang hari, seorang paro baya dengan rompi biru khas bertuliskan juru parkir mengklaim sebagai "penguasa" parkir. Berdalih ingin merapikan. Bermodal peluit, tanpa karcis yang jelas.

Kalau ada sepeda motor datang, dia menyemprit. Peluit seharga tak lebih dari Rp 2.000 itu seperti ngomong "Jangan lupa, nanti kalau pulang cari saya. Bayar pajak parkirnya pada saya,". Demikian, kira-kira peluit yang juga berbunyi saat kami akan beranjak pergi. Seperti berkata, "Hei, bayar dulu ya. Kan tadi pas mau parkir sudah saya ingatkan,"

Tapi toh, seruwet apapun perpajakan parkir liar ini tak membuat kami surut mengopi. Di warung kopi, kami melupakan semua kepenatan. Kami menggigit langit, menengadahkan cita-cita yang tak pernah kami pedulikan apakah akan tercapai atau tidak. Omong kosong. Tak usah membuat susah hidup dengan keinginan yang sulit dicapai, teman.

"Sekarang parkirnya seribu. Sebulan dua bulan lagi pasti dua ribu. Kalah parkir di mall," kata seorang kawan lantas menyulut rokok. Dia, aku, dan tiga kawan lain, masing-masing menghadapi kopi segelas kecil seharga Rp 2.500. Kopi kental hitam pekat dan berampas. Pahitnya pas sehingga mengesankan kalau gula hanya aksesoris. Berapa takaran sendok dan gulanya, kami tak mau ambil pusing. Mungkin diaduk selama satu kali bacaan alfatihah atau ayat kursi, kami tak mau perhatikan sangat.

Tapi kami pernah membahasnya, membahas sekenanya: iseng. "Sesendok gula dan sesendok kopi dengan air secukupnya. Diaduk 33 kali seperti jumlah biji tasbih," tuding salah satu teman. "Satu setengah sendok kecil kopi dan sesendok kecil gula ditambah sejumput, sejumput sekali, garam. Buat syarat, seperti kata dukun-dukun asal tapal kuda. Diaduk sambil membaca ya rozak ya rozak ya rozak 21 kali," ungkap kawan yang doyan klenik.

Kami hanya ingin bercengkerama dengan beragam cerita yang kadang tidak ada maksud dan tujuannya. Jauh dari semangat penelitian dosen-dosen. Jauh dari ucapan-ucapan indah sastrawan di buku puisi yang tak bisa dicerna. Tapi indah. Dan karena indah itu, makna dikesampingkan. Tapi kami tak peduli.

segelas kecil kopi baru habis empat jam
   
KAMI benar-benar kecanduan warung kopi. Kecanduan berada di sini. Di kota yang menghargai pahlawan selayaknya nabi. Di kota yang makam dua wali setanah dengan bekas lokalisasi prostitusi yang pernah jadi terbesar di asia tenggara ini.

Nyaris di setiap sudut jalan, ada warung-warung kopi. Yang ramainya tak kalah dengan kafe pada gedung jangkung pusat perbelanjaan. Sepertinya para pencakar langit itu tidak peduli pada gerobak atau PKL kopi yang sewaktu-waktu bisa kena gusur. Digusur demi keindahan kota. Demi menjaga perasaan pelanggan mall yang borjuis agar selalu senang saat melintas di jalanan.Kami datang jam sembilan malam. Setelah kami menuntaskan pekerjaan kami yang penat. Dan ada pula kawan yang habis mengerjakan tugas-tugas kuliah-tepatnya skripsi, yang molornya minta ampun. Sudah tujuh tahun, sobat, dan skripsimu masih daftar isi! Betapa lamban, aduh, tapi aku tidak mau mengurus urusan itu di warung kopi ini. Tak usah mengurus urusan yang bisa membuat kawan-kawan kita sumpek mendengar topik-topik menohok. Menyudutkan. Atau apapun istilahnya itu.

Di tempat yang segelas kecil kopi bisa baru habis setelah tiga atau empat jam ini, kawan-kawan sesekali membaca koran. Berita luar negeri, gambar pemandangan negeri seberang yang elok. Iklan ke luar negeri. Iklan tamasya dengan pesawat yang sungguh pun sudah dipromosikan murah, tetap saja mahal bagi kami. Bagi kami yang suka minum kopi sambil nyemil krupuk udang sebungkus lima ratus ini, angka di koran itu fantastis.

Tidak, kami memang tidak peduli. Kami tidak sedang dalam keinginan menjajal tanah atau negeri orang. Biarkan orang bermimpi keliling dunia, dan kami hanya memikirkan bahwa semua kawan harus diundang saat menikah nanti. Betapa senangnya bersilaturahmi dalam suasana yang bahagia itu. "Tolong kasih undangan ini pada kawan-kawan kita yang tertulis di sana," ujar salah satu kawanku yang sudah lama ingin kawin dan beruntung akhirnya keturutan juga.

"Masya Allah. Untung kamu lagi mau menikah. Jadi, aku akan menghargai perintah ini. Tugasmu ini cukup berat bagi saya, tapi tak mengapa," sahutku saat melihat sepuluh undangan yang dititipkannya padaku. Semua beralamat luar kota. Bahkan luar provinsi. Satu lembar untuk kawan yang sudah merantau ke luar pulau!

Toh, tak bakal semua aku sampaikan langsung. Paling juga ku-sms saja mereka semua. Tapi aku pura-pura mengeluh. Biar kena pisuh. Dan memang beberapa kawan mengumpat keluhanku. "Halah, kamu kan cukup sms aja kalau undangan untuk mereka ada di tanganmu. Sampaikan kapan waktu pernikahannya, selesai. Pakai sok keberatan segala. Tai kucing," kata salah satu rekan.

Aku sengaja mengeluh. Biar kena pisuh. Biar suasana di meja kami yang ringkih ini menjadi lebih hidup. Saat malam terus beranjak naik dan menyebarkan kesakralan.

Orang-orang masih sesekali melintas di jalan besar yang kami hadapi. Yang nyaris tak berjarak dengan sudut terluar meja kami. Jalanan masih mengantarkan orang berpacaran di atas sepeda motor. Muda-mudi. Atau bujang lapuk dan perawan tua.

Saat perempuan memeluk mesra sambil menyandarkan kepala di punggung lelakinya. Perempuan yang berkaos ketat. Dengan celana ketat pula. Yang bokongnya sedikit terlihat. Yang rambutnya sedikit pirang. Yang matanya sedikit tertutup seolah ingin tidur sambil memeluk lelaki. Tapi berhubung di kamar kost-nya, atau di kamar rumahnya, orang-orang akan memarahi kalau dia tidur bersama lelaki, akhirnya dia memilih pura-pura tidur di atas sepeda motor dengan memeluk lelaki dari belakang.

Perempuan-perempuan, masih beberapa yang lalu lalang di jalan besar. Yang bila ada yang berkulit putih bertubuh sintal, berwajah yang kekusamannya tersamarkan gelap malam dan tersapu warna remang lampu jalan, salah satu dari kami mengatakan, "Enaknya kalau malam-malam begini bisa kencan dengan perempuan semacam itu," celetuknya.

Dan malam terus menanjak. Kami berbincang sekenanya sesuai yang kami inginkan. Tidak peduli untung atau rugi. Ini soal keinginan, juga kepuasan.

kami tak peduli pada pengkhotbah

SAYA, dan sepertinya juga kami, tak peduli dengan uraian khotbah pemuka agama. Yang kadang, di kota ini, mereka mengkritik soal banyaknya orang nongkrong di warung kopi. Menghabiskan waktu berjam-jam dengan segelas kecil kopi. Betapa percuma dan menyia-nyiakan umur! Itulah kata salah satu dari mereka dengan intonasi geregetan.

Kami justru mempertanyakan kredibilitas pengkhotbah yang tampaknya dari tahun ke tahun tubuhnya semakin subur itu. Semakin gemuk setelah sering tampil di acara TV lokal, bahkan nasional. Lha bagaimana kami-atau mungkin hanya saya-percaya dengan orang yang mengatakan pengikut nabi, kalau secara model badan saja dia tidak sevisi dengan orang suci.

Sebentar, sebentar, jangan lantas berpikir bahwa pengikut nabi harus berwajah, bertinggi badan, atau berpostur sama dengan nabi. Tapi paling tidak, nabi tidak gemuk dan bertambah gemuk seperti dia. Apalagi buncit!

Ingatkah saat dua sahabat yang mengikatkan batu di perut karena menahan lapar datang ke rumahnya. Minta barang sebiji dua biji kurma karena sudah terlalu kosong perut mereka. Dan mereka mendapati nabi tersenyum. Membuka kain penutup perutnya dan terlihat kalau batu yang terselip di sana lebih banyak dari batu yang mereka ganjalkan di perut mereka?

Ya, soal perut ini sensitif bagi kami jika dikaitkan dengan agama. Kami pernah berbincang dan sepakat, selama pemuka agama memikirkan perut, maka ucapan mereka tidak bisa dipercaya! Selama orientasinya wanita, khutbah mereka adalah sampah! Mendinglah kami yang tak pernah berdalil ini, biar bertubuh tambun, biar jelalatan melihat perempuan.

Apalagi saat dia berkhutbah hari Jumat, dua puluh menit bermonolog dan pesan yang disampaikan membosankan. Selama itu pula banyak jamaah yang mengantuk. Oh, betapa menyedihkan. Sementara salah satu saksi yang kami imani mengatakan, jumlah kalimat khutbah jumat nabi bisa dihitung, saking pendeknya!

Jadi, apakah kami lantas harus terganggu dengan kritikan pengkhutbah macam itu? Tentu tidak.

Dan kami akan tetap berbicara soal sepak bola. Dengan analisis lisan yang kami pikirkan sekuat tenaga berdasar referensi seadanya. Dari koran-koran atau website olahraga. Dan tidak seperti mereka, para komentator di televisi yang dibayar, pasti tidak ada yang sudi membayar ocehan murahan kami ini. Tapi sekali lagi, kami senang melakukannya. Ini soal kepuasan.

Misalnya saat seorang teman bilang bahwa seorang pemain yang dibandrol mahal tidak maksimal di klub baru. Tidak seperti saat dia main di tim papan tengah negeri yang berbeda. Atraktif dan inspiratif. Lalu teman itu berbicara tentang persoalan psikologis. "Pemain berwajah kotak itu terlalu membawa beban di pundaknya saat berlari menyusuri lapangan hijau," ujarnya.

Ada lagi teman yang mengatakan, salah satu tim inggris terkaya selalu merekrut pemain asia. Paling tidak ada satu pemain asia yang tinggi badannya tidak sepadan dengan eropa di starting eleven. Alasannya tak lain adalah kapitalisme. "Orang-orang barat adalah kaum materialis. Semua adalah soal menambah pasar untuk jual merchandise di asia dan mengisi kantong para pemodal," kali ini kawan lain ngomong soal kapitalisme.

Apapun kami omongkan di meja yang dikitari meja-meja lain yang sama kusam ini. Meja-meja yang selagi malam berlanjut di pertengahan, tak jua sepi pengunjung. Kadang kami saling tuding dengan telunjuk atau jari tengah. Kadang terkekeh atau malah menancapkan mata pada mata-mata yang lain dengan serius.

Kami juga menyinggung soal pemain lokal dari kota ini. Yang memilih hijrah ke negeri jiran. Seorang kawan yang sejak SD sudah gemar menonton bola di tengah malam mengatakan. Ini adalah bentuk ketidakpuasan pada sistem. Betapa tidak, pemain itu memang merasa diakali soal gaji di klub lokal.

"Dia sedang berjuang untuk persepakbolaan kita. Perjuangan itu tidak hanya dengan teriakan atau perlawanan. Kadang, perjuangan dilancarkan melalui pembangkangan," ungkap laki-laki yang gagal dalam tes fisik klub sepak bola lokal karena paru-parunya terlalu terkontaminasi asap rokok itu.

Hingga pada pukul 01.00, salah seorang dari kami berdiri, pamit pulang dan menjabat tangan kami satu-satu. "Selamat istirahat kawan, yang ingin beristirahat seperti saya setelah ini. Yang ingin tetap di sini, selamat menikmati suasana warung kopi," ujarnya dengan senyum tipis. Rokok disulutnya seraya melangkahkan kaki ke sepeda motornya.

Beberapa menit berlalu, ganti aku yang bangkit. Pamit pulang dan menjabat tangan mereka satu-satu. "Aku duluan," kataku singkat disambut anggukan mereka yang maknanya seperti magis.

Kulangkahkan kaki ke sepeda motor. Seorang juru parkir datang. Aku tak pedulikan dia karena sejurus aku sedang ingin melihat langit dengan taburan bintang. Kutarik nafas dalam-dalam, kulepaskan sambil terbatuk. Besok, kehidupan berjalan seperti biasa (--)


 

back to top