Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Warna Kalbu

Warna Kalbu

Oleh: Retno Ayu

Setelah lima tahun kuhabiskan waktu di luar negeri untuk sekolah, kini kuhirup kembali udara kota asalku. Taksi menelusuri jalanan yang kini lebih ramai dibandingkan waktu lalu. Sulit kupandangi bintang-bintang di langit, padahal langit tidak berawan. Tampaknya lampu-lampu benderang dan warna-warni di berbagai sudut telah mengalahkan cahaya-cahaya langit itu. Sekilas hatiku kecewa. Tampaknya aku telah kehilangan sebagian kerinduanku di sini. Ini mungkin yang disebut kemajuan. Lampu-lampu dan keramaian.

Taksi mulai menelusuri jalanan yang lebih sepi, menuju rumahku. Hatiku bersorak. Kanan dan kiri sawah masih tampak terhampar. Suara malam begitu dalam merasuki kesadaran. Memainkan kidung mimpi. Membawa kembali masa kanak-kanak ke balik tatapan mataku. Keong, walang, belut, dan lumpur memanggiliku. Ayo, siapa takut dengan kalian. Hatiku terkekeh, dan jari-jari ini gatal sekali memetik suket di sini yang baunya kurasa lebih harum daripada suket di luar negeri. Saudara-saudaraku pasti sekarang sudah menungguku. Dua orang kakak lelaki yang dulu selalu menggendongku. Mereka sangat sedih ketika selulus sarjana, aku langsung ke luar negeri. Baiklah, aku tiba. Taksi membawaku di depan sebuah rumah besar.

Inikah rumahku? Di mana rumah kecil yang dulu? Kulihat nomor rumah dan lingkungan sekitar. Harusnya memang di sini. Kakakku sudah mengabariku. Rumah ibu memang dibangun lagi. Tapi ini sangat besar. Mewah dan berbeda dengan rumah-rumah yang lain. Sedikit bimbang, tapi melangkah juga kakiku keluar dari taksi.

*

Kami semua tertawa gembira. Ibu yang kini lebih sehat, wajahnya berseri kemerahan, selalu memelukku. Dua kakakku bersama istrinya masing-masing duduk di sofa. Mereka masih belum berketurunan setelah kurang lebih tiga tahun menikah. Sibuk kerja, kata mereka tadi. Mungkin memang itu alasannya. Setelah istirahat semalam, pagi ini tubuhku terasa segar kembali. Sudah lebih dari satu jam kami berbincang seolah ada narasi tanpa akhir di ruangan ini. Ibu bangkit dari sampingku, ingin mempersiapkan bekal untuk acara jalan-jalan hari ini. Sayangnya, kakakku yang kedua tidak bisa ikut karena harus pulang.

“Pekerjaanku menumpuk Zun“, katanya dengan menyebut nama kecilku. Aku tersenyum mendengar alasan kakakku, dan memakluminya. Dia bekerja sebagai manajer sebuah perusahaan perkebunan. Setelah beberapa saat kami berbincang, tentang kabar masing-masing. Juga tentang kota luar negeri yang kusinggahi, kakakku kedua pergi bersama istrinya. Mobilnya mewah, bisikku. Kakakku sukses. Alhamdulillah.

“Zun, setelah ini kamu mau bekerja di mana?“ Kakakku pertama melanjutkan perbincangan. Aku mengingatkannya bahwa aku ini seorang pengajar di universitas. Pastinya aku kembali ke sana. Dia seolah baru tersadar. Iya benar, katanya sambil tertawa. Ibu datang, dan ini tanda kami harus segera berangkat. Aku memang secara khusus minta diantar jalan-jalan ke sekitar lingkunganku. Nanti akan mampir ke tempat pemancingan yang baru dibangun, katanya enak gurameh bakarnya. Apalagi sambal bawang dan tempe gorengnya.

Pagi ini cerah. Musim hujan masih sebulan lagi. Kami berangkat dengan mobil kakak pertamaku. Ini juga mobil mewah. Menelusuri jalan-jalan kecil, sebagian telah diaspal, sebagian masih tanah dipadatkan. Cahaya matahari mengantarkan pandanganku ke sekitar. Luar biasa. Aku seperti dalam mimpi. Terasa ada udara kering masuk ke dada dan sesak. Hanya lima tahun kutinggalkan. Sampah menggunung di sekitar area persawahan. Seandainya tidak berada dalam mobil ini, baunya mungkin busuk dan menusuk. Sungai yang dulu lebar, kini menyempit. Tanah-tanah sekitarnya kering tanpa pohonan. Sebagai orang yang belajar ilmu lingkungan, aku bisa melihat jelas. Air sungai telah dicemari limbah. Tapi masih kulihat anak-anak kecil mandi di sana. Bukit-bukit yang melingkari daerah ini juga gersang. Hanya terlihat beberapa pohon berdiri reyot. Semalam aku tidak terlalu memperhatikan. Gelap.

Gurameh bakar, tempe goreng, dan sambal bawang sama sekali tidak menghiburku. Aku protes keras terhadap perubahan ini. Perubahan ini telah mengambil milikku. Dunia indah yang dialiri air jernih dan dihiasi bukit hijau. Aku mengeluh pada ibu dan kakakku. Ibuku juga tidak tahu. Kakakku bilang, “Sudahlah Zun, yang penting kita bisa hidup aman dan nyaman. Mungkin karena kamu lama di luar negeri, perubahan ini tampak besar. Kami yang di sini biasa kok.“

Hidup aman? Aku tidak tahu apakah benar pernyataan kakak pertamaku tersebut. Tinggal di rumah besar dan mobil mewah ini yang dimaksud aman? Yang jelas, aku tidak setuju. Pertama aku telah kehilangan dunia indahku. Kedua sampah menggunung, bukit gersang, dan sungai tercemari limbah jelas akan menjadi masalah. Anak-anak bermain di sungai berlimbah, bukanlah ide yang baik. Mereka akan selalu terancam sakit akibat air yang kotor. Setelah kakak pertamaku pulang ke rumahnya, ibu bilang kalau daerah ini sudah dua kali kena banjir. Tidak separah Jakarta kata ibu.

*

Aku termenung di halaman belakang rumahku. Pertentangan keras dengan dua orang kakakku semenjak minggu lalu membuat perut ini terasa sakit. Asamnya melampaui ambang batas. Cerita beberapa orang daerah, kakak keduaku memimpin proyek penebangan hutan untuk dirubah menjadi perkebunan, dan kakak pertamaku bekerja di pabrik yang limbahnya dibuang ke sungai. Masyarakat sekitar hutan di bukit juga mengatakan kakak keduaku juga menebang hutan secara ilegal. Tapi dia menolak jika aktivitasnya adalah menebang secara ilegal. Sudah dapat ijin dari pemerintah daerah dan kepala-kepala desa, katanya kukuh ketika kami berdebat keras di ruang tamu waktu itu.

Masyarakat sekitar yang dulu hidup dari hasil alami hutan, kini harus bertahan dengan menebangi pohon-pohon yang masih tersisa. “Gimana lagi, dulu makan bisa cari di hutan, sekarang hutan sudah ditebangi oleh mereka. Kami harus cari makan di luar hutan, dan harus beli dengan uang. Terpaksa juga menebangi pohon untuk dijual kayunya. Menyambung hidup saja“, kata seorang tua tiga hari lalu di lereng bukit.

Aku sangat rindu dengan dunia indahku. Aku tidak rela. Jika memang dua kakakku tidak mau mengembalikan duniaku. Aku sendiri yang akan membawanya kembali ke sini. Aku tahu, langkahku ini akan membuat ibu sedih. Ibu tidak ingin melihat anak-anaknya bertentangan seperti ini. Baiklah aku tidak akan membuatmu sedih Bu, bisik hatiku. Aku akan minta maaf ke kedua kakakku. Tapi, yang bengkok harus tetap diluruskan.

*

Musim hujan kali ini membuatku kuatir. Lima tahun lalu, hujan seperti berkah. Indah sekali. Suaranya yang menyentuh pohonan dan tanah. Lalu bau aneh ketika tanah menyerap air hujan, bau yang membuatku mabuk senang. Setelah dua minggu musim hujan, kekuatiranku lahir sempurna. Banjir melewati sambil membawa lumpur dan sampah. Bau yang dibawa membuatku sakit hati. Ini bukan bau yang kurindukan. Sebulan musim hujan, empat kali banjir melewati daerahku. Semua kuabadikan dalam foto-foto. Lalu kuberi komentar secara sederhana. Mengapa hal itu terjadi. Kuberi pertanyaan, apa yang bisa dilakukan oleh warga. Lalu kutempelkan dengan bantuan beberapa sahabatku ke sudut-sudut perkampungan.

Aktivitasku membuahkan hasil juga. Beberapa warga mulai bersedia diajak memikirkan hilangnya dunia indah itu. Sambil terus bertahan dari banjir aku dan warga mulai menyusun langkah. Langkah pertama adalah mengembalikan mimpi warga mengenai dunia indah yang hilang. Dunia indah tersebut hanya bisa dikembalikan dengan kekompakan. Namun ada langkah lain yang memerlukan dana. “Bagaiamana Mbak, siapa yang mau mendanai program reboisasi, pembuatan alat kompos, dan pelebaran sungai?“ Aku termangu. Akan kucoba cara ini, mungkin berhasil.

Melalui lembaga universitas, aku berhasil mengundang pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan yang berperan dalam kerusakan lingkungan. Sebelumnya, kuyakinkan pada perusahaan-perusahaan tersebut bahwa pertemuan ini tidak akan merugikan secara ekonomis. Pertemuan ini membicarakan bisnis lingkungan, kataku membuka perrtemuan. Gagasan yang mendorong mereka untuk membayar sejumlah uang demi perawatan lingkungan. Tiga minggu setelah pertemuan belum juga kudapatkan satu kabar pun dari perusahaan-perusahaan tentang gagasan yang kubuat bersama warga. Mereka tampaknya memang benar-benar egois. Hanya keuntungan sendiri yang dikejar. Keselamatan lingkungam dan warga diabaikan.

*

Demonstrasi warga menuntut agar perusahaan perkebunan dan pabrik-pabrik yang membuang limbah ke sungai membayar ganti rugi. Sebagian warga berdemo ke kantor pemerintah, sebagian lagi ke beberapa perusahaan. Aku sendiri terlibat perdebatan dengan kedua kakakku selama beberapa hari terakhir. Kamu mengancam kehidupan kakak-kakamu, dan ibu. Kata mereka.

“Kuliah lima tahun di luar negeri hanya ngajari demo?“ Kakak pertamaku sedikit berteriak. Ibu menangis, dan kurasakan sinar matanya menembus jantungku. Aku terdiam lama. Ibu pasti kecewa dengan hal ini, dan aku merasa tidak mendapat restunya.

*

Rintik hujan sayup-sayup di luar. Hatiku terkoyak dalam. Seluruh ototku lemah tak berdaya. Rumah kecil yang kukontrak ini terasa dingin sekali. Aku tidak memusuhi saudara-saudaraku. Aku mencintai ibuku. Aku hanya ingin dunia indahku dikembalikan. Aku mengadu pada kekasihku. Kuserahkan semua kesedihan malam ini, dan meminta bantuan yang paling adil. Pagi-pagi aku mendapat SMS. “Pulanglah, ibu sedang sakit”.***

back to top