Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Sebuah Amsal Debu

Ilustrasi: Nurul Hayat (Acil) Ilustrasi: Nurul Hayat (Acil)

DS Priyadi


Di ruang yang serba transparan lelaki tua itu berdiri. Aku memanggilnya Han. Ia lahir di pinggiran Pekalongan dan gemar memakai kacamata berantai. Matanya yakin dan pintar, namun sedikit gagap dalam mengutarakan hal-ihwal. Tak soal benar, toh dalam pembicaran selama bertahun-tahun aku merasa gamblang dengan segala gagasan-gagasannya yang silang-menyilang seperti anyaman.

Awal tahun 60-an, dengan potlot kesukaannya Han mulai menggambar dunia. Begitu kecil dan simpel. Itu memang keunggulannya sejak mula. Seperti menyanggah pelbagai kerumitan yang kala itu sedang demam dijunjung. Hingga akhirnya semua ternganga, karena Han memutuskan hijrah dari garis-garis kesunyiannya. Ia berdiri, mengenakan jaket dari Amrik sambil menjinjing mesin ketik tua.

“Dengan mesin ketik tua ini aku akan mempermainkan nasib sebuah bangsa,” begitu suatu ketika Han melucu kepadaku. Waktu itu ia duduk di kursi rotan, persis berhadap-hadapan denganku, dalam ruangan yang dindingnya secara merata ditempeli rak kayu buku-buku.

Han melesat. Seperti anak panah dilesakkan busur ghaib, yang bagai menembus bulan impian ribuan rahib. Dan nada omongannya mulai berbeda. Gemar memelihara jenggot dan lebih banyak duduk membaca. Wajahnya nampak bercahaya. Tangannya mulai menjamah nasib-nasib sekeliling dengan huruf-huruf yang rapih disusunnya.

Bagi Han, betapa huruf merupakan kode umum dan standar. Terkesan biasa bagi yang miskin bakat dalam mencurigainya. Sementara semua tahu, seluruh kamus dan ensiklopedi nyata terbangun dari jumlahnya yang 26. Oleh renung-fikir manusia, betapa huruf bisa menjelma apa saja: fisika, filsafat, bahasa, sastra, bahkan agama.

Rupanya Han menggambar dunia dengan cara yang berbeda. Ia mulai mendekati dimensi realistiknya, dengan menghubungkan jutaan garis pada koordinat-koordinat yang terletak acak. Pada titik tertentu kadang muncul kilatan-kilatan bahaya yang memaksanya untuk tetirah; meneguk kopi dan menulis puisi—hal paling gombal yang menjadi satu-satunya hiburan paling sakral.

Han bukan nabi. Ia hanya si tekun yang sabar membuat jarak dengan kerumitan-kerumitan yang justru digandrungi awam. Khalayak tidak tahu, betapa di kamarnya yang segilima ia telah berhasil menggali terowongan yang terhubung dengan sebuah kamar keramat perencanaan-perencanaan. Di situ para pencetus gagasan bertemu, meresume dunia dalam diagram-diagram yang sepintas mirip rajah. Dari kamar itulah peradaban bergetaran.

Aku sering tercenung, sebab dada Han tak pernah membusung. Sering ia berseloroh, “aku cuma pengacau susunan huruf-huruf”. Dengan englishnya yang nyaris native ia menekankan, bahwa nukleus mesti mencipta geraknya sendiri. Dari situ akhirnya kutahu, Han yang terkesan kalem itu sejatinya beredar amat cepat dalam satu rotasi sekaligus revolusi. Betapa ia adalah bahaya sekaligus harapan kita semua.

Belum lama ini Han memanggilku. Di sekelilingnya koper-koper besar berisi uang dollar. Cantriknya banyak, muda-muda dan cakep-cakep. Mereka nampak lalu-lalang menyampaikan laporan. Kulihat Han hanya manggut-manggut. Wajahnya datar saja. Jika menolak, ia hanya menggerakkan sedikit saja telapak tangan kanannya dengan gerakan menyamping. Sementara, jika merestui, ia akan memandang jendela, sebelum akhirnya memejamkan mata perlahan dan mengangguk.

Begitu tinggal kami berdua, Han menunjukkan wajah aslinya yang terlihat capai dan kusut masai. Ia mengatakan kepadaku bahwa uang adalah sampah paling durhaka yang merusak jiwa manusia. Kemiskinan mestinya hanya sebuah hirarki yang terlampau tebal digarisbawahi. Karenanya, di tingkatan manapun berada, manusia lebih gemar mendongak. Di situlah awal-mula kesunyian mengerang secara berlebih-lebihan.

Han membelai dagunya, seperti membelai kegelisahan yang perawan. Ia telah meninjau puncak demi puncak. Sebagaimana Zarathustra, ia ingin terampil khusuk menunduk. Hanya saja, kali ini Han gagal. Kerut-merut wajahnya selalu terusik dengan ketinggian lain. Di hati kecil, setidaknya, sekali saja ia kepingin terpesona.

Han memang bukan nabi. Tapi tangannya terlanjur mengandung badai atas nasib 250 juta nyawa. Itu nyaris disadari. Meski disanggahnya sendiri, bahwa tangannya hanya berbau anyir teka-teki yang sebenarnya gampang diduga. Akhir-akhir, misteri bilangan telah dipelajari. Dan seluruh penjumlahan, pengalian, pembagian serta labirin rumus-rumus hanya menghasilkan nol. Betapa ironisnya!

Di ruang yang serba transparan itu Han berdiri. Ia melihat deretan senja demi senja menghampirinya. Bangsanya telah kalah. Bahkan, maqamnya boleh dikata sebagai pecundang. Ia turut membasahi kebangkrutan martabat itu dengan huruf-huruf yang menetes dari ujung sepuluh jarinya. Dan pada layar sentuh besar-besar yang tersusun di ruang itu, ia mendapati dunia sepenuhnya dalam kendali. Orang tentu mengira, Han menjadi pengendali agung yang nilainya segala-gala.

Tapi kepadaku Han menggeleng. Segala-gala dalam pengertiannya kini tak ubahnya angka-angka yang berakhir tragis menjadi sekedar nol. Di samping pula, ia hanya pengendali kurcaci dengan vertigo yang kian parah oleh sebab usia terus didera dengus dunia yang meracau gila. Dan bong tahu sendiri, kenyataannya kini ia hanya insan yang ringkih dan tua.

Di ruang yang serba transparan itu Han berdiri. Ia mulai mendengar banyak kutukan. Ia tak pernah gentar. Tapi mencorat-coret dunia telah terhenti sebagai selera. Ia ingin kembali ke masa kecilnya. Ia rindu mengobrol hal biasa dengan almarhumah neneknya. Ia telah siap melepaskan semuanya. Separuh abad yang lalu ia berkata kepadaku, “Di hadapan waktu, manusia akan kembali menjadi debu.”

Yogya, Desember 06, 2013

 

back to top