Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Sang Banjir dan Bayi

foto: terungkaplagi.blogspot.com664 foto: terungkaplagi.blogspot.com664


Oleh: Ranang Aji SP


Tiga hari tiga malam langit gelap telah mengguyurkan hujan deras ke kota ini. Hari pertama air dari beberapa sungai mulai meluap dan menggenangi ruas-ruas jalan. Aktivitas sebagian besar masyarakat terganggu. Hanya sebagian pelajar dan pengangguran yang sedikit diuntungkann. Punya alasan tetap diam di tempat tidur untuk fantasi-fantasi menyenangkan. Para pekerja kerepotan. Mereka terlambat ke kantor. Hari kedua para kuli pasar kebingungan karena jumlah para pelanggan menurun drastis.

Sedikit saja penjual dan pembeli datang ke pasar.  Hari kedua guyuran air hujan mulai menenggelamkan seperempat kota. Sebagian mengungsi ke tempat lebih tinggi. Namun aku tetap bertahan di rumah besar ini. Aku tidak mungkin pergi. Majikan bisa marah dan memangkas gajiku. Hari ketiga sore hari dan gelap, banjir membawa sesuatu persis di depanku. Mayat bayi telanjang!

Aku berharap itu boneka. Kugunakan tongkat untuk memastikan. Benar, itu mayat bayi! Sialan! Oh Tuhan! Aku mengeluh berkali-kali. Para tetangga sudah mengungsi semua. Mungkin masih ada yang bertahan tinggal tapi kulihat rumah-rumah sekitar sepi sekali. Hanya suara terjangan arus banjir dan sampah-sampah menggumpal. Akubergidik ngeri. Banjir setinggi hampir dua meter.

Aku berjongkok di teras lantai dua, tepat di depan mayat bayi. Kutaksir mayat bayi itu masih tiga bulan usianya. Banjir sialan ini telah membunuh satu bayi. Dua mata di wajah pucat pasi bayi itu sedikit terbuka tanpa cahaya. Sebentar saja kulihat dua mata itu, bagiku terlihat angker. Jari-jari tangannya mungil dan belum menggelembung. Berarti masih Belum lama. Siapa ibunya, kok sampai terhanyut begini.

Sedikit gemetar dan nekat, kusogok mayat bayi itu yang sepertinya terjepit di celah pagar loteng.  Biar terbawa arus banjir ke rumah lain atau kemana saja asal tidak di sini. Aku tidak bisa mengurus mayat bayi. Selama hidupku aku belum pernah melayat orang mati. Bau harum minyak mayat saja sudah mengusir niatku, apalagi datang melongok orang mati. Sekarang ada mayat bayi di depanku. Biarpun mayat itu masih bayi, tetap saja membuat kepalaku dikerumuni hantu-hantu. Hantu bayi juga sama menakutkannya dengan hantu besar seperti kuntilanak, suster kesot, dan gendruwo.

Pertama pelan kudorong perutnya. Sangat lunak. Sedikit bergerak mayat bayi itu terdorong tongkatku. Tapi belum membuatnya terbawa arus banjir. Mungkin harus lebih keras mendorongnya. Mayat bayi itu hanya bergerak-gerak saja. Sedangkan hantu-hantu di kepalaku semakin membuat panik.

Mayat bayi ini bisa menarik perhatian mereka. Aku mengeluh dan mendorongnya semakin keras agar terlepas dari jepitan pagar loteng. Selalu saja hanya bergoyang-goyang, seperti menari mengikuti tabuhan liar hujan di atap. Pakai tangan saja! Ide itu muncul seketika.

Lantai teras loteng rumah ini licin karena cipratan banjir. Kulihat mayat bayi itu mengapung-apung. Aku menatap bayi itu sambil menarik nafas sedalamnya. Kukumpulkan keberanian. Banjir ini kurang beberapa senti meter saja akan masuk ke lantai loteng. Aku sudah tepat di depan mayat bayi itu. Lalu aku berjongkok di depannya.

Semua keberanian sudah terkumpul. Listrik padam dan sore gelap seperti dunianya para hantu. Sudahlah biar cepat keluar dari siksaan ini. Tangan kananku masuk ke air, meraba-raba tubuh bayi itu. Mungkin terjepit sesuatu. Sambil kulirik sekilas dua matanya. Pukulan jantungku benar-benar luar biasa kuatnya. Dua mata bayi itu berkedip!

Aku terjengkang ke belakang dan terpeleset ke lantai. Tulang pinggulku nyeri sekali tetapi dadaku lebih nyeri. Bergegas aku berdiri dan mundur menjauhi bayi itu. Dugaanku benar. Ini pasti bayi hantu. Oh Tuhan! Aku memandangi mayat bayi itu dari jauh, di balik pintu.
Aku tidak memandang dua matanya lagi. Tapi hatiku ingin memastikannya. Jarak ini cukup aman dari mayat bayi itu. Dua mata itu tidak ada cahayanya dan tidak berkedip lagi. Tetap saja tidak menghiburku. Sekali kedipan tadi telah membuat kepalaku berisi jutaan kedipan mayat bayi yang menakutkan. Jangan-jangan itu… Ah!

Ini semua karena banjir! Kalau tidak ada banjir mana ada mayat bayi nyangkut di sini. Malam sudah merayap seperti kutukan hantu-hantu gentayangan. PLN sialan! Umpatku lagi. Ini juga gara-gara banjir. Enam batang lilin kunyalakan. Cahayanya cukup terang. Aku harus mencari bantuan. Telpon! Ah tidak bisa. Telpon rumah ini dikunci oleh majikanku.

Berteriak akan lebih bijaksana. Hujan sama sekali belum reda. Angin memanggil kegelapan lebih pekat. Kulihat di rumah seberang sana ada kerlipan cahaya. Aku kenal dekat dengan penghuni di sana. Pembantu rumah adalah temanku. Ia pasti juga menunggui rumah majikannya.
Aku melangkah keluar. Sekuatnya kupanggil nama yang kukenal di rumah seberang. Arus banjir dan bau seribu busuk lebih menyengat daripada hari kemarin. Berkali-kali kupanggil. Mungkin tidak terdengar dari rumah seberang sana. Kuambil kaleng bekas di pojok. Ini darurat. Kulempar kaleng itu ke seberang, mengenai dinding loteng dekat pintu.

Suaranya pasti nyaring di sana. Hatiku bersorak girang. Orang yang kukenal keluar dari pintu yang hanya tetutup setengah. Ia melongok ke tumbukan kaleng. Aku berteriak memanggilnya. Orang itu melihatku dan berseru. Ia berkata sesuatu tapi telingaku tidak menangkap sempurna. Kuduga ia bertanya tentang lemparan kalengku.

Ada mayat bayi! Seruku berkali-kali. Temanku sesama pembantu itu sepertinya terkaget-kaget. Ia menyuruhkan meyakinkan, bayi atau boneka. Kusahut dengan sedikit gusar. Ini mayat bayi sungguhan! Teriakanku sudah terdengar serak. Hujan tiba-tiba mereda dan terang sama sekali. Banjir sedikit meluap ke lantai. Untunglah hujan berhenti.
Tedengar suara temanku lagi. Coba tunjukkan, serunya. Aku melirik mayat bayi yang masih mengapung-apung. Mana bisa aku menunjukkannya? Gila! Aku melambaikan dua tanganku. Berharap dia mau datang ke sini. Dia menggelengkan kepala dan menunjuk banjir yang meluap-luap. Benar juga, tidak mungkin ia ke sini.

Aku melirik mayat bayi itu dari balik pintu. Tidak berani kulihat dua matanya. Kurasa dua mata itu memandangku dari balik kegelapan. Temanku berdiri diam menungguku bicara sesuatu. Aku berseru padanya. Tidak bisa kutunjukkan. Aku takut mengambilnya. Ia tertawa terbahak mendengarku. Tiba-tiba ia berbalik masuk ke dalam tanpa meninggalkan kata-kata. Ia tidak peduli rupanya. Masih untung sebenarnya ada teman berbincang.

Hatiku bersorak girang. Temanku keluar lagi. Lampu temaram dari nyala lilin-lilin di dalam membiaskan bayangannya ke dinding. Bergerak-gerak hidup.

Ia berseru, ¨Aku juga dapat satu. Lihat ini…!¨

Aku melebarkan dua mataku. Tanpa sadar aku keluar dari pintu, kembali dekat dengan mayat bayi yang masih nyangkut di celah pagar

loteng. Hanya setengah meter saja jaraknya. Aku ingin meyakinkan benda yang ditunjukkan temanku di sana. “Itu apa?”

“Ini juga mayat bayi!” Serunya dan mengangkat tinggi-tinggi. Ia terkekeh.

“Jangan bercanda! Aku serius di sini ada mata bayi!”

“Ini juga mayat bayi!” Kembali ia berseru. Kali ini ia goyang-goyangkan mayat bayi itu sehingga kepalanya menggeleng-nggeleng.

Kuperhatikan lebih dalam, pupil mataku bekerja keras. Aku terpekik ngeri. Benar! Itu mayat bayi. Telanjang seperti mayat bayi…di depanku! Darahku mengalir deras seperi arus banjir ini, jantungku bekerja gelagapan mengaturnya. Orang yang memegang mayat bayi di depan sana sekarang berubah jadi wujud hitam. Itu pasti gendruwo!

Aku melangkah mundur menyentuh pintu yang setengah terbuka. Kudengar gendruwo itu berseru. Menggoyang-nggoyangkan mayat bayi di tanggannya. Kepala mayat bayi itu bergoyang-goyang seram.

Aku mundur pelan ingin menjauhinya. Mataku terbelalak ketika kuturunkan pandanganku. Sekarang ada banyak sekali mayat bayi mengapung-apung. Berapa jumlahnya aku tidak tahu pasti.

Ada yang tersangkut di cabang-cabang pohon dan celah-celah pagar loteng. Kuperhatikan lebih teliti, ribuan mayat bayi sedang terbawa arus banjir. Ah tidak, itu ratusan ribu. Mungkin lebih. Mayat-mayat bayi itu dibawa arus banjir berwarna coklat kehitaman.

Tiba-tiba mayat bayi di dekatku kepalanya bergerak-gerak dan menangis. Lalu diikuti mayat-mayat bayi yang lain. Mereka menangis. Pelan saja. Tapi jelas terdengar masuk ke telinga. Mulutku ternganga. Tubuhku tidak bisa digerakkan. Aku lihat gendruwo itu masih berteriak-teriak memanggil namaku.

Mayat bayi di tangannya digoyang-goyangkan. Aku ingin berteriak minta tolong. Pada siapapun. Tapi, hanya keluar umpatan terakhir dari mulutku. Banjir sialan! Setelah itu entah apa yang terjadi.*

Sumber: Koran Mingguan Minggu Pagi

back to top