Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Pesan Semar

Pesan Semar

Kamu Semar. Itu bukan takdir kebetulan. Tak pantas kamu berdukacita lantaran perkara keluarga. Bangsamu sedang mengambang di arus zaman. Keluargamu susah, tapi banyak yang jauh lebih susah. Mestinya kamu bisa lebih bijaksana, sebagaimana kisah-kisah itu melukiskanmu. Lagipula kamu sudah tua. Tak baik untuk percontohan yang muda-muda.

”Aku toh manusia,” tukasmu dengan muka masam.

”Siapa bilang kamu demit?” sahutku sekenanya.

”Kamu menuntutku lebih dari sekedar manusia.”

”Bukankah memang begitu kata kisah-kisah itu? Bukankah kamu sebenarnya seorang dewa?”

”Itu kisah yang tidak kumplit. Nyatanya aku toh manusia juga. Di dalam dongeng aku bisa dilafalkan begitu. Dalam kenyataan tidak selalu demikian,” kamu nampak jengkel. Kamu membakar lagi rokok klobot kegemaranmu. Asbakmu penuh. Aku membungkuk permisi meraih asbak itu dan menumpahkan puntung-puntungnya ke tempat sampah di pojok ruangan. Ketika aku melongok isi tempat sampah itu, isinya cuma puntung rokok saja. Ah. Rupanya kamu sedang stres berat. Jika sudah stres, aku hafal betul, kamu akan merokok dan merokok saja dan tak bergeser dari kursi dekil kesayanganmu.

”Sudah makan belum?” tanyaku sambil meletakkan asbak di tempat semula.

Kamu diam saja. Jika sedang jengkel begitu mukamu yang lucu semakin lucu. Aku membuka tas kresek yang kubawa.

”Nih, makan dulu. Ini nasi kucing pake sambel teri. Ini wedang jahe kesukaanmu. Terus ini rokok klobot kegemaranmu. Sudah mau habis kan rokokmu?” kusodorkan bungkusan-bungkusan itu kepadamu.

”Matur nuwun ya,” katamu sambil menjulurkan dua tangan menerima pemberianku. Kamu langsung membuka dan meludeskan nasi kucing itu tanpa sisa. Setelah itu kamu bertanya, ”Memangnya negara ada persoalan apa lagi?”

”Justru aku yang mau bertanya.”

”Aku sudah mules mikir negara. Semakin lama semakin bubrah saja,” kamu membolongi sudut plastik wedang jahe. Mulutmu yang besar menyedot wedang jahe itu, seperti mulut bayi raksasa yang sedang menetek.

”Tapi kalau bukan kamu siapa lagi yang mau memikirkannya?” tanyaku.

”Aku hanya bahan tertawaan bagi satria-satria hebat itu. Mending aku fokus ngurus keluargaku sendiri.”

”Lah keluargamu baik-baik saja kan? Kok kamu jadi romantis begitu?”

”Baik apanya? Romantis bagaimana? Bagong kena narkoba. Gareng sekarang dibekuk polisi karena menggauli istri orang. Sedang Petruk mulai kentir. Ulahnya selalu merepotkan orang tua. Kudengar, sekarang dia jadi preman pasar. Kemarin perutnya robek dicelurit orang. Untung masih selamat. Negara bubrah, keluarga bubrah!” kata-katamu meninggi. Kamu betul-betul emosi.

Kini aku tahu. Ternyata memang tidak mudah menjadi kamu. Namamu hanya dianggap sebagai merek dagang. Semua satria selalu menyebut namamu dengan penuh hormat dan bangga. Kamu adalah naungan yang aman bagi siapa saja yang berdagang. Kamu adalah lambang keberuntungan. Kamu menjadi hoki.

Suara nuranimu adalah kata-kata yang sakral. Yang harus dibela. Yang harus ditaati. Dan mereka yang melecehkanmu bisa kuwalat. Tapi itu di dalam pewayangan. Di dalam kenyataan hukumnya justru sebaliknya. Yang mau beruntung justru harus mengingkarimu. Harus melecehkanmu. Tentu dengan cara yang halus dan anggun. Dengan cara yang canggih. Tanpa bayangan. Seperti siluman.

Ya. Tak ada lagi yang mau mendengarmu. Kamu hanya dianggap tokoh khayalan alam dongeng. Dalam kehidupan nyata kamu tak punya tempat. Kamu menderita. Kamu kesepian. Kamu miskin dan tersingkirkan. Sementara usiamu semakin tua.

Akhirnya kamu sakit. Tak ada yang mengurusmu. Semua tahu, tak pernah ada istri di sampingmu. Gareng, Petruk, dan Bagong adalah putra-putramu tanpa ibu. Mereka juga tak ada di sampingmu. Mereka bagai lahir dari batu. Sejak kecil mereka menggelandang. Menjadi tukang sayur, menjadi mucikari, menjadi pencopet, menjadi kondektur, menjadi pedagang asongan, menjadi petani, menjadi pengamen, menjadi buruh, menjadi kuli, menjadi apa saja yang mereka mungkin untuk melakoninya. Mereka bagai berjalan tanpa kepala. Sukma mereka cedera. Melayang-layang ke udara. Terbanting ke tanah. Menjadi sampah.

Menantu-menantumu berangkat ke Arab. Mereka menjadi babu. Ah. Mereka menantu-menantu yang berhati mulia. Mereka bermaksud memperbaiki nasib keluarganya. Dan mereka tahu, menjadi babu berarti menempuh resiko. Mereka tahu itu. Tapi mereka menempuhnya. Karena di negeri sendiri para satria sudah merampok harapannya sebagai manusia. Mereka berangkat dengan nekat. Rela melucuti cinta. Rela menderita. Untuk sekedar memperjuangkan kelayakan hidup sebagai manusia. Dengan sekuat daya mereka mencoba merebut masa depannya. Merebut masa depan anak-anaknya. Mereka berdiri di atas rongsokan teka-teki segala rejeki.

Dan sakitmu tambah parah. Kamu mencemaskan menantu-menantumu. Kamu mencemaskan anak-anakmu. Kamu berusaha membujuk para satria untuk menolong mereka. Para satria dengan santun menundukkan kepala. Mereka seolah menghormatimu. Tapi di belakangmu mereka tertawa. Mereka selalu dahsyat soal berpura-pura. Mereka sibuk bersolek dan bergaya. Mereka jago main kucing-kucingan. Mengobral citra. Pidato manis. Merancang undang-undang yang manis. Berdebat manis. Laporan manis. Cengengesan manis. Pokoknya semuanya serba manis. Sehingga kamu sakit gula karenanya. Jarimu tak bisa lagi menunjuk karena buntung. Kakimu gerepes. Pahamu borokan. Badanmu yang dulu gembrot dan subur kini ceking dan mengering. Ah. Jika melihat keadaanmu memang sulit dipercaya kalau kamu sebenarnya Semar. Orang nyaris tak ada lagi yang mengenali. Aku yang sedikit tahu tentang kamu pun sering gemetar jika memikirkanmu. Takdirmu tidak gampang. Hidupmu penuh resiko. Kamu tertekan. Kecewa. Tercekik. Kamu diingkari. Kamu dikhianati.

Sekarang kamu sakit. Tak ada satupun satria yang menjengukmu. Padahal kamu selalu membela mereka. Mereka egois. Mereka satria-satria tampan bersukma raksasa yang culas dan serakah. Mereka suka yang amis-amis. Bau amis minyak. Bau amis emas. Bau amis batu-bara. Bau amis hutan. Bau amis buruh. Bau amis uang. Bau amis petani. Bau amis nelayan. Semua yang berbau amis itu mereka santap dengan rakus tanpa peduli kanan-kiri. Dan yang kena kamu juga. Akibatnya kini penyakitmu komplikasi. Kamu kena darah tinggi. Dan dengan tanpa malu, para satria menjual pil kimia kepadamu. Terang saja kamu menolak. Kamu tak punya duwit. Duwitmu sudah dirampok mereka di siang hari bolong. Semua orang menyaksikan itu. Semua orang iba kepadamu. Eksistensimu sebagai Semar sudah tak dihargai sama sekali. Aku hanya bisa prihatin.

Sementara kamu tidak bisa lagi lantang berbicara. Kamu digerogoti penyakitmu. Suaramu begitu lemah. Artikulasimu mulai berantakan. Tapi aku tahu, imanmu masih sediakala. Hatimu masih seperti telaga. Keteguhanmu tetap baja. Kamu tidak pernah sambat. Kamu menyaksikan bangsamu meranggas dan tertindas. Kamu menyaksikan anak-anakmu keleleran. Kamu menyaksikan cucu-cucumu mengemis di tikungan zaman.

Kamu terbaring tak berdaya. Sukmamu teronggok di zaman yang jorok. Kamu sebatangkara. Kamu sakit dan menderita. Tapi para satria malah tertawa terbahak-bahak. Kamu dikira sedang melawak. Tivi-tivi mengeksposemu. Kamu dianggap memiliki potensi. Kamu bisa menghadirkan empati. Kamu adalah mata-air air-mata tak bertara. Kamu bisa menjadi hiburan sukma. Kamu bisa menjadi bahan diskusi. Kamu bisa dijadikan obyek malpraktek. Nasibmu menginspirasi ribuan proposal proyek kemanusian.

Ya. Kamu tak berdaya. Sebenarnya itu tidak sepatutnya. Karena selucu apapun kamu, kamu tetaplah Semar. Kamu sekarat. Satria berpesta. Bima yang masih jujur dijebloskan dalam penjara beton. Kukunya yang galak digergaji. Mulutnya yang tanpa basa-basi disumpal besi. Sedang aku tak bisa membelamu. Aku hanya cecunguk yang punya air mata. Aku hanya bisa menangis di sampingmu.

”Jangan menangis seperti banci,” kamu berkata.

”Tapi kamu mau mati, Semar,” kataku tak tega.

”Semua orang akan mati. Tak layak kamu menangisi.”

”Apa pesan terakirmu?”

”Bilang sama Petruk, supaya ia berhenti jadi preman. Orang kecil jangan menyakiti sesamanya. Ia harus belajar tabah. Menjadi penjual tempe seperti sebelumnya, tidaklah hal yang nista. Jika ia mau tekun, insyaallah akan ada kemajuannya. Sementara Bagong, janganlah frustasi begitu. Itu konyol. Narkoba tak menyelesaikan masalahnya. Keadaan boleh menelikungnya, tapi janganlah ia kalah. Bengkelnya baik jika dihidupkan lagi. Jadi orang biasa tak ada salahnya. Itu berarti ia memenuhi kebagongannya. Kalau perlu eksentrik, ya seperlunya saja.

Lalu Gareng jangan ngawur. Ia harus tahu diri. Jangan menggauli istri orang lagi. Ingat, istrinya di Arab terancam hukuman pancung. Tebusannya tinggi. Aku tak yakin para satria sungguh-sungguh mengatasinya. Mereka sendiri dalam ketakutan karena terbelit gurita kejahatannya. Sementara kamu, jangan banci begitu. Air mata melemahkan jiwa. Kamu harus gagah. Karena kamu harus menggantikan peranku. Menjadi Semar,” Itulah kata-kata terakirmu. Setelah itu, mulutmu membeku. Tubuhmu kaku. Matamu mendelik menyeramkan.

Begitulah akhirnya. Kamu mati dalam keadaan memprihatinkan. Mayatmu berbau busuk karena penuh borok. Tetua agama tak ada yang mau mendoakanmu. Kamu dikubur tanpa upacara. Suaramu yang keramat menguap. Menjadi sinetron picisan. Menjadi konser dangdut. Menjadi dai-dai industri. Menjadi pengadilan kadal. Menjadi mode. Menjadi kampanye partai. Menjadi badutan murahan. Menjadi hantu zaman yang gentayangan.

Betapa mengenangmu adalah mengenang penderitaan dan kesepian. Dalam itu kamu gagah dan tabah. Insyaf jadinya, kamu memang bukan manusia biasa. Budimu sungguh-sungguh seperti dewa. Sementara pesanmu gagal aku tunaikan. Anak-anakmu tersinggung aku ingatkan. Aku sendiri tak mampu menggantikan peranmu. Akal sehatku terhuyung. Kalbuku limbung. Sebagaimana anak-anakmu, aku kalang-kabut menghadapi keadaan. Aku hanya bisa menjadi anjing. Aku gagal menjadi kamu.

Lalu aku mengenangkan kamu. Kamu bagai tersenyum kepadaku. Jarimu menunjuk ke atas. Kamu selalu mengingatkanku. Lalu kamu menghilang dalam malam. Aku terkesima. Aku termangu. Aku bagai mendengar dengung puisi masa lalu. Puisi itu merambati dinding kamarku. Merambati kabel-kabel listrik. Merambati etalase-etalase plaza. Merambati jalan-jalan desa. Melayang di atas rumah kumuh para gelandangan. Terapung-apung di udara. Menggedor-gedor pintu istana. Menggedor-gedor jiwa bangsa kita.

Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsaning Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lan waspada.
(Fragmen Serat Kalathida, R. Ng. Ronggowarsito)

Jogja, 2015

back to top