Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Londo jadi dokter hewan

Ilustrasi: happywanderershop.com Ilustrasi: happywanderershop.com

Oleh: Ursari

Suatu hari di Magelang tahun 1970. Roji sedang memegang katak hijau, hasil tangkapannya di sawah kemarin sore. Katak itu gemuk, dua tangan mungil Roji kesulitan menenangkannya.

Beberapa kali hampir terlepas. Setelah puas memegang katak hijau itu, Roji melepaskannya kembali ke dalam kotak bekas. Kotak itu diisinya batu-batu yang tersusun rapi menyerupai gua.

Katak hijau itu segera bersembunyi di antara susunan batu-batu itu. Lalu, Roji memasukkan tempurung kelapa yang dibuatnya seperti mangkok. Ini air untukmu ya. Kalau haus minum di sini. Kepala roji terasa gatal-gatal, dengan cepat tangan kanannya menggaruk-nggaruk kepalanya. Rambut itu seperti rambut jagung, coklat kekuningan.

Setelah puas menggaruk kepalanya, Roji mengambil gumpalan rumput dan memasukkannya ke kotak. Ini buat tidur ya. Nanti kucari makanan buat kamu. Telunjuk jari mungil itu menunjuk katak hijau yang bersembunyi. Lalu Roji tertawa terkekeh. Beberapa saat kemudian terdengar suara teman-temannya, ia terkejut dan tampaknya tidak bersemangat melihat mereka.

“Londo...Londo........“ teriak teman-temannya.

“Hai Ndo...ayo main sepak bola!” Seorang bocah sebaya Roji yang berumur delapan tahunan memanggil dengan suara keras. Tubuhnya tinggi besar dan legam kulitnya. Anak yang paling kuat diantara teman-teman Roji.

Roji memandang kotaknya, lalu menggelengkan kepala. “Iwan, aku tidak main sepak bola lagi. “

“Huuuuu…..!” Sorak teman-temannya, ada enam orang anak. Diantara mereka menyeletuk, “Si Londo takut. Ih banci yea….,” sengaja suaranya disengaukan. Kemudian, anak itu berjalan sambil menggoyang-nggoyangkan pantatnya. Anak-anak yang lain tertawa dan pergi sambil terus mengejek Roji.

*

Magelang di tahun 1927 adalah daerah yang sungguh sejuk. Alamnya berbukit dan pohonan menghijau. Bukit Tidar berdiri sendiri dikelilingi bukit-bukit yang melingkar di empat penjuru mata angin. Katanya bukit Tidar adalah pusarnya dunia.

Sebutan itu diberikan mungkin karena bentuknya seperti pusar. Menonjol bulat di tengah dataran. Sungai yang melewati pinggiran bukit Tidar mengalir coklat membawa kesuburan. Sawah-sawah menghampar hijau dan sebagian telah kuning tanda siap dipanen.

Kabupaten Magelang adalah wilayah di bawah administrasi pemerintahan Belanda melalui Karesidenan Kedu. Kantor karesidenan menghadap ke timur. Empat tiang besar dari jati menyangga panggung joglo.

Beberapa pekerja sedang membersihkan halaman. Tidak jauh dari kantor Karesidenan Magelang, rumah cukup besar berdiri gagah diantara rumah-rumah bergaya eropa lainnya. Rumah itu tampak sunyi dari luar. Namun sesungguhnya sedang terjadi pergumulan seru di dalam sana.

“Johan...mengapa kau lakukan itu. Papimu benar. Kamu adalah orang kulit putih. Seharusnya pula kamu membela pemerintahan di sini. Bukan membela orang-orang ekstremis itu!“

Seorang pria tampan dengan mata coklat muda mendengus pelan. Hidungnya mancung dan bibirnya bagus memerah hati. Ia menatap wanita yang duduk di samping pria berkumis pirang.

“Saya orang pribumi, Mami. Darah saya tumpah di sini! Mereka juga bukan orang ekstremis. Pemerintah saja yang tidak adil. Korupsi dimana-mana. Rakyat ingin hidup yang lebih baik! “

Wanita itu meremas jari-jarinya sendiri. Matanya sedikit terkatup. Pria berusia sekitar enam puluh tahunan yang menjadi suaminya tampak semakin merah wajahnya. Sorot matanya melesat seperti anak panah yang akan menembus mata Johan.

“Kamu benar-benar keterlaluan Johan. Sepertinya Papi sudah mendidikmu dengan cara bangsa kita. Kamu pun makan dari hasil bekerja orang tuamu pada pemerintah Belanda. Kamu......“, suara lelaki itu tertahan sebentar, “...kamu... sudahlah...! Papi sudah siapkan jadwal keberangkatamu ke tanah air. Minggu depan kamu ikut rombongan kapten, berangkat ke Netherland!“ Suara lelaki itu berat menyebarkan wibawa.

Johan menundukkan wajahnya. Bibirnya mengatup keras. Seandainya dua orang tuanya melihat sorot mata itu. “Papi, maafkan Johan. Ini adalah tanah air Johan...,“ sebentar Johan menghentikan kalimatnya, ia tampak menata hatinya, “Johan tidak akan kemana-mana. Ini sudah keputusan Johan.”

Johan mendongakkan kepala dan memperlihatkan sorot mata yang begitu tajam namun berair. Gebrakan tangan ayahnya menjawab sorot kedua matanya. Maminya tertunduk dan menangis. Ia memegangi tangan suaminya dan berbisik sesuatu.

“Tidak bisa. Dia adalah orang Netherland. Darahnya adalah darah Netherland. Ini gara-gara wanita pribumi itu! Itu juga gara-gara kamu membiarkannya bergaul dengan para ekstremis itu, para aktivis Indische Party!“ Bentak Papinya Johan. Kemudian ia melanjutkan, “Sekarang kamu pilih. Kamu tetap menjadi bagian dari keluarga ini dan menjadi orang Belanda yang ikut menjalankan roda pemerintahan atau pergi dari rumah ini dan lupakan kami jika tetap berada dengan keputusanmu!“

Mami Johan menangis tersengguk mendengar ini. Ia memeluk tangan suaminya. Ia berharap Johan mengubah keyakinannya itu. Sebagai mami, dia sebenarnya bisa memahami hati Johan.

Johan mengkatupkan rahangnya. Tonjolan otot di kedua sisi pipinya mengeras. Tidak ada sepatah kata pun keluar. Ia berdiri perlahan dan menghampiri maminya. “Mami...Johan pergi. Maafkan Johan. Tapi Johan tidak bisa mengkhianati hati dan meninggalkan tanah air ini!“ Tanpa menunggu maminya menjawab, Johan membalikkan tubuhnya.

Sebuah rumah kecil dari kayu dan bambu berdiri bersahaja. Rumah lurah Suryo Menggolo di Jetis. Empat orang duduk di ruang tamu. Seorang lelaki tua mengenakan blangkon warna coklat menatap Johan yang duduk di samping anak tunggalnya. Berkali-kali ia menarik nafas. Perempuan setengah baya di sampingnya duduk seperti patung dingin. Bibirnya berkemat-kemit melafal sesuatu.

“Saya tidak bisa berbuat apa-apa jika seperti itu keputusannya. Wong tuo hanya bisa memberi restu. Tuan Van Der Vaart pasti marah dan berduka sekarang.” Lelaki setengah tua itu menggeleng-nggelengkan kepala.

“Saya sudah mantap dengan keputusan ini. Saya akan membawa Lestari pergi dari desa ini. Kami akan membantu saudara-saudara lain yang sekarang bersembunyi di lereng bukit Menoreh. Setelah itu saya harus bergerak menemui kelompok-kelompok pejuang agar mereka berkoordinasi satu sama lain.“

Lurah Suryo mengangguk kecil. “Tapi kalian harus menikah dulu. Tidak boleh pergi berdua sebelum pernikahan. Itu zina. Apakah bersedia menikah dulu?“

Johan mengangguk mantap. Malam berikutnya rumah Lurah Suryo telah berkumpul beberapa orang dan satu penghulu. Pernikahan dijalankan sederhana saja. Tidak banyak orang desa yang tahu. Sengaja dirahasiakan agar tidak menyebar ke kota.

Pagi-pagi sekali Johan dan Lestari pergi meninggalkan desa Jetis dengan kereta kuda. Johan memakai pakaian petani dan melumuri kulitnya tangannya dengan lumpur.

*

“Ibu...mengapa aku dipanggili Londo sama teman-teman? Aku kan orang Indonesia!?“

Roji meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya. Perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tiga puluhan tahun. Perempuan itu putih kulitnya. Rambut hitam dan matanya coklat tua. Ia tersenyum mendengar pertanyaan Roji. Rambut Roji dibelainya.

“Mereka hanya menggodamu. Kan biasanya kalian bermain bersama. Kadang-kadang kalian saling mengolok. Kan bukan hanya kamu yang diolok-olok.“ Hibur Ibunya Roji.

“Tapi kata teman-teman, kakekku orang Belanda. Menurut mereka aku bukan orang Indonesia. Aku anak penjajah.” Suara Roji agak tergetar, ingin menangis namun ditahannya.

“Siapa bilang kakekmu seorang penjajah? Beliau adalah pejuang tanah air. Kamu harus percaya sama Ibu, Roji. Masak kamu lebih percaya sama mereka. Dengarlah baik-baik. Kakekmu dulu ikut memperjuangkan kemerdekaan. Beliau juga menjadi tokoh pemersatu para pejuang muda waktu itu. Kakekmu berjuang tanpa lelah demi tanah air Indonesia, sampai pasukan Pemerintah Belanda menangkapnya. Setelah itu tidak ada kabar lagi mengenai beliau. Kakekmu telah berkorban jiwa untuk negeri ini.”

Johan mendegarkan cerita ibunya dengan sungguh-sungguh. Cerita ibunya membesarkan hatinya. Kakeknya adalah seorang pejuang. Kakeknya bahkan ditangkap oleh pasukan Belanda. Setelah selesai sekolah, sore harinya Roji ikut bermain sepak bola. Teman-temannya seperti biasa memanggilnya dengan sebutan Londo yang berarti orang Belanda. Kali ini Roji tidak terpengaruh. Hatinya yakin bahwa ia adalah keturunan pejuang. Ia bangga dengan hal ini.

Teman-teman Roji jadi mangkal melihat sikapnya yang lebih tenang itu. Terutama sekali anak yang paling besar tubuhnya, Iwan, anak seorang rentenir di desa itu. Lalu dengan sengaja, ia menjegal Roji yang bertubuh lebih kecil sampai terjatuh terjerembab. Teman-temannya berseru kegirangan. Mereka tertawa. Anak bertubuh besar itu tampaknya belum puas. Ia keluar dari lapangan. Sebentar kemudian, ia kembali dengan membawa kaleng bekas di tangannya. Ia membawa penuh jijik. Lalu kaleng itu dilemparnya ke Roji yang masih terduduk meringis memegangi lututnya yang lecet. Seketika tubuh Roji basah oleh tumpahan air dari kaleng yang dilempar Iwan dari belakangnya. Bau pesing menyergap hidungnya.

“Nah anak Londo harus mandi pakai itu...haha. Anak Londo…ibunya tukang hutang..huuu….!” Seru Iwan. Teman-temannya menyambut dengan sorakan dan tertawa.

Seorang anak perempuan berkucir dua berlari masuk ke lapangan. Ia memandang tidak suka ke arah anak-anak yang bersorak-sorak mengejek Roji. Saat anak itu datang mendekati Roji, tidak ada yang berani bersorak. Anak perempuan itu menggandeng tangan Roji dan mengajaknya pergi.

Anak-anak yang tengah memandangi Roji bersungut-sungut. Setelah Roji dan anak perempuan itu menghilang di tikungan jalan, mereka bersorak. Kali ini ingin menggoda Iwan. “Huu...Minil pacarnya Roji.“ Wajah Iwan, anak yang paling besar tubuhnya itu terlihat tidak suka. Ia mendengus marah. Lalu mereka melanjutkan main sepakbola.

Anak perempuan bernama Minil itu duduk di pekarangan rumah Roji. Sebentar kemudian Roji keluar dengan tubuh yang sudah bersih. Ia membawa kotak. Lalu diturunkannya kotak itu di dekat Minil.

“Ini katak. Akan kupelihara biar tidak kedinginan di sawah. Tuh dia sembunyi di sana!” tunjuk Roji. Minil menundukkan kepalanya, berusaha menangkap katak itu dengan pandang dua matanya. Ia melihat wajah katak itu dan tersenyum geli. Minil duduk di samping Roji.

“Roji…mereka memang nakal, sukanya mengolok-olok orang lain. Aku juga tidak suka sama mereka. Lain kali kita main sendiri saja. Aku punya banyak mainan di rumah.“ Roji tersenyum dan mengangguk senang pada Minil, gadis kecil anak pak lurah yang selalu baik padanya.

*

Lima belas tahun berjalan seperti panah lepas dari busurnya. Roji dan Ibunya pulang ke rumah. Wajah Roji yang putih kemerahan akibat panas matahari menambah cakap. Hidungnya mancung, dua bola mata yang coklat bening, dan rambut coklat kemerahan membuat Roji seperti pemain film terkenal.

Anak-anak kecil di desa sering memanggilnya “Jacky”, tokoh sinetron yang dimainkan artis blasteran Jerman dan Sunda. Roji memang mirip dengan artis blasteran itu. Roji dan Ibunya membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Roji duduk di ruang tamu. Ibunya ke dapur mengambil minuman dan kembali tidak lama kemudian. Sambil istirahat ibu dan anak itu berbincang.

“Bersyukurlah kamu Roji. Sekarang kamu jadi dokter hewan. Cita-citamu sejak kecil. Sekarang tinggal menata hidupmu dan mencari pekerjaan yang layak.“

Roji memandang ibunya dengan senyum bangga. “Seandainya ayah masih hidup, pasti bangga ya Bu…” Ibu Roji menatap wajahnya, sekilas cahaya matanya meredup.

“Tentu saja bangga. Ayahmu akan keliling desa memamerkan ini. Ia bangga anaknya jadi dokter hewan. Dulu para tetangga mengejek ibu. Masak tidak punya uang dan hutangnya banyak, kok nekat menyekolahkan anak ke perguruan tinggi. Tapi ibu bertebal telinga. Ayahmu almarhum pernah berkata bahwa kita ini permata yang sedang terjatuh di lumpur. Sekarang hanya kamu yang jadi sarjana di desa ini. Lumpur itu sedikit tersibak. Kemilaumu akan semakin terang, Roji.“

Roji tercenung sesaat. “Semoga saja Bu. Amin. Yang penting, saya akan bekerja dan melunasi semua hutang itu.“

Ibunya Roji tersenyum dan mengangguk. Hatinya bangga. Perjuangan yang panjang. Suaminya yang bekerja sebagai guru honorer dan gaji yang diperoleh setiap bulan sebagai guru honorer hanya cukup untuk makan seminggu. Untuk itulah ia berdagang makanan kecil. Seringkali harus berhutang untuk menutup modal jika dagangan tidak laku. Perjuangan itu sekarang berbuah juga. Ibunya Roji bergerak lebih dekat ke Roji. “Ibu ingin lihat sertifikatnya, mana?“

Roji mengangguk dan membuka tasnya. Ibunya memandangi selembar kertas. Drh. Johan Rojiwan Wignyowinoto. Nama itu ditulis dengan warna emas. Ibunya memandang Roji dan berkata, “Tahukah kamu arti nama ini?” Roji menggeleng. Ibunya melanjutkan kata-katanya, “Nama depan ini diambil dari nama kakekmu dan nama belakang adalah nama keluarga dari nenekmu. Sedangkan Rojiwan adalah nama pemberian ayahmu almarhum, artinya laki-laki yang mendekat pada Tuhan.“

“Kakekku memang orang Belanda ya Bu.“

“Kata nenekmu dulu pada Ibu, Kakekmu tidak pernah menyebut dirinya orang Belanda. Kakekmu lahir di tanah ini dan beliau mencintai negeri ini sepenuh hati. Ibu punya sesuatu untukmu.“ Perempuan cantik yang telah beruban di sebagian rambutnya itu pergi ke kamarnya. Setelah beberapa saat ia kembali dengan membawa kotak hitam kecil. Ia membukanya di depan Roji. Penuh hati-hati diambilnya lipatan kertas yang warnanya sudah kuning. Kertas itu tampak sudah tua dan lemah. Perlahan ibunya Roji membuka lipatan kertas itu. “Lihatlah, ini adalah surat terakhir kakekmu ke nenek waktu itu. Ini ditulis dengan huruf latin dan sudah kabur. Tapi ibu masih hafal isinya karena nenek dulu sering membacakannya untuk ibu. Dengar ya: Sayang kekasihku. Pergilah ke Yogyakarta. Ikutlah rombongan yang lain. Aku sekarang sudah terkepung pasukan pemerintah. Aku tidak bisa meninggalkan kawan-kawan di sini. Nanti aku akan menyusul ke sana. Hati-hatilah. Tidak banyak waktu di sini. Segalanya bergerak cepat....“ Roji memperhatikan ibunya membaca surat kakek nya. Hatinya bangga. Ia kini bisa tersenyum. Tanah air bukanlah masalah kulit dan darah, melainkan kecintaan pada tempat dimana tubuhnya dilahirkan. Darah adalah hubungan keluarga, sedangkan tanah air adalah tempat tumpahnya darah.

*

Gardu ronda di perempatan jalan ramai oleh orang-orang yang sedang main kartu. Kepulan asap rokok melayang-layang seperti kabut tebal gunung Merapi. Seorang pemuda datang menghampiri gardu ronda.

Tanpa permisi ia naik ke atas gardu dan menyeruak keasyikan orang-orang yang berkumpul. “He…tahu tidak…Si Londo jadi dokter hewan sekarang. Jadi orang pinter. Katanya baru saja diwisuda.” Sambil mengabarkan informasi itu, ia mengambil gelas kopi salah seorang temannya. Seorang pemuda berkulit hitam dan tubuhnya besar memandangnya sambil menyeringai jelek.

“Kutu kopret kamu. Seperti itu saja dibawa-bawa kesini. Kalau mau ngikut Londo banci itu, sana…hayo sana pergi!”

Pemuda tinggi besar itu menggertak dengan nada tidak suka dan menggerak-gerakkan tanggan kanannya mengusir pemuda tadi. Pemuda yang memberi kabar tadi hanya menyeringai kecil. Lantas ia ikut bermain kartu. Kadang terdengar mereka tertawa terbahak-bahak. Dini hari mereka pulang satu per satu. Besok akan kembali ke gardu ini. Seperti biasa, main kartu dan ngobrol kosong.

*

Yogyakarta, 17 September 1990. Roji memeluk erat ibunya. Lalu memandang Minil yang berdiri di samping ibunya dengan bibir menekuk ke dalam, tampak manis sekali. Roji menghampiri Minil dan menyentuh pipi yang basah itu.

“Hanya satu tahun. Setelah itu kita rayakan pernikahan.“

Minil hanya diam, ia menundukkan wajahnya sedalam mungkin. Roji menarik nafas dalam-dalam.

“Aku harus berangkat sekarang.“

Minil mengangkat wajahnya pelan. Lalu dipeluknya Roji. Setelah saling berpelukan lama Roji melepas Minil. Roji melangkah pelan ke gerbong kereta api. Perlahan kereta api meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta menuju ibu kota. Ia akan tiba besok pagi dan harus sudah tiba di bandara Soekarno Hatta pukul sepuluh pagi.

Pesawat membawa Roji terbang. Berkali-kali dirinya menarik nafas dalam. Satu tahun akan ditinggalkan tanah air dan orang-orang yang dicintainya. Ia melanjutkan sekolah ke Universitas Leiden di Belanda. Negeri dimana kakeknya memiliki pertalian darah. Ia tersenyum. Aku mewakili kakek pulang ke negeri asal, bisiknya lirih dan tersenyum.

back to top