Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Koen

Ilus mix by Andi Setyaji PN Ilus mix by Andi Setyaji PN

Oleh: Ranang Aji SP


Seorang sipir berkumis tebal mendorongnya ke luar dari pintu utama penjara. Pintu besi bercat gelap yang menghubungkan antara dunia dalam dan dunia luar yang tak terbatas. Petugas itu tak banyak bicara dan segera menyuruh Koen pergi. Tangannya bergerak mengibas. Tak ada pesan-pesan moral untuk Koen saat itu.  Hal itu dimengerti oleh semua sipir penjara di sana. Biasanya para sipir bahkan bertaruh kapan Koen akan kembali lagi begitu ia keluar dari penjara. Sipir kepala Wakijo selalu menjadi bandar untuk anak buahnya. Dan entah bagaimana caranya, sipir kepala itu selalu memenangkan taruhannya.

Di luar itu, sebenarnya mereka hanya terbiasa dan senang jika Koen berada diantara mereka. Beberapa hal – keberadaan Koen justru dirasa memperingan pekerjaan para sipir itu. Keberadaan yang mampu mewakili dan memperingan beban kemalasan mereka. Dan sebaliknya, Koen sendiri pun selalu menikmati penjara sebagai rumah-sendiri.

Hari itu  Koen kembali bebas. Tetapi, seperti biasanya ia bahkan tak mampu memahami makna kebebasannya. Ia hanya merasa tak ada bedanya. Tetapi, seringkali muncul pula kesadaran dalam hati nuraninya. Suara hati yang tulus sebagai sebuah kesadaran dan keinginnya. Penjara justru memberinya banyak kemudahan hidup ketimbang di luar. Makan gratis, minum atau apa saja seperti meniduri pelacur murahan kecuali keluar dari tembok berputar itu. Hal yang sepertinya sederhana dan menyenangkan. Sejujurnya, beberapa hal, ia merasakan kebebasannya di sini.

Hari masih siang ketika pembebasan itu. Langit mendung dan gerimis seperti titik-titik yang tertiup angin. Hari itu suasana seperti layaknya telah senja. Koen berjalan menuju tengah kota. Belum terpikirkan apa yang harus ia lakukan. Ia juga belum memutuskan kemana ia akan pulang. Sesungguhnya, ia memiliki banyak masalah di banyak tempat yang harus dihindari. 

Di sebuah persimpangan jalan besar, ia mampir sebentar di sebuah warung rokok dan membeli beberapa batang rokok kretek. Seorang wanita muda dengan pipi yang gembul menyerahkan uang kembalian padanya. Koen mencoba menggodanya dengan memegang tangan wanita muda itu.

“Melihat tubuhmu, pasti kamu ingin bercinta,“ goda Koen. Wanita itu menarik tangannya dan mencoba tetap diam. Mukanya terlipat dan memerah. Koen tertawa terbahak dan segera menyalakan rokoknya.            

“Sombong!” Cerca Koen tiba-tiba sembari meninggalkan warung itu. Raut mukanya pun sekonyong-konyong berubah. Ia melirik keji pada wanita penjaga warung itu dan meludah ke tanah. Koen adalah tipe pria yang gampang tersinggung, terutama terhadap wanita. Ia merasa bahwa semua wanita yang disapanya baik dengan cara yang sopan atau tidak harus meladeninya dengan menyenangkan. Meskipun ia sendiri tak pernah memperlakukan wanita dengan baik.

Cerita yang  lalu

Ketika masih tinggal di seputar Sungai Progo – sebuah perumnas yang sangat sederhana dan dipenuhi oleh sebagian besar preman dan pengangguran. Koen hampir selalu terlibat dalam kasus pelecehan terhadap wanita dan pencurian. Ia acap kali mengencani pembantu rumah tangga dengan suka rela atau tidak. Bahkan, pernah suatu ketika, ia membawa pulang wanita gila ke rumahnya. Memandikannya dan setelah ribut dengan orang tuanya yang panik, ia lantas membawanya di sebuah tempat dan menidurinya di semak-semak pinggir perumahan.

Hanya saja, meskipun memiliki reputasi buruk, Koen tak begitu menakutkan bagi sebagian besar preman pengangguran di seputar sungai Progo itu. Ia dikenal tak mempunyai nyali dan sering disebut sebagai ‘hyena berdiri’. Julukan itu diberikan karena kebiasaannya mencuri dengan taktik-taktik licik. Korbannya merata bahkan para preman pengangguran itu sendiri. Ia bisa mengambil apa saja yang dia inginkan. Uang atau barang tak ada bedanya. Asal menginginkan, ia akan memperlakukan sebagai miliknya sendiri. Tak jarang ia  babak belur karena ulahnya itu.

Sebagian besar anak-anak baru, Koen sering disangka sebagai preman yang menakutkan karena wajah seramnya. Biasanya mereka itu adalah anak-anak yang baru gede dan tak begitu mengenal Koen. Nah, Koen sering memanfaatkan perasaan mereka itu untuk mendapatkan sedikit uang. Tetapi begitu mereka mengenal Koen secara benar, situasi akan segera berubah. Bahkan Koen tak lagi mampu mendekati mereka kembali.

Suatu kali, para preman pengangguran di seputar Perumnas itu dibuat takjub oleh perubahan pribadi Koen. Tersiar kabar bahwa Koen telah berubah menjadi orang baik dan rajin sembahyang. Ia rajin datang ke Masjid Nurul Huda dan melantunkan adzan. Suaranya mendayu-dayu seperti pelantun lagu dangdut. Masih tak percaya, diantara mereka ini menyempatkan bertanya pada salah satu pengurus masjid untuk meyakinkan kabar burung yang beredar.

“Lho, tapi memang benar, kok,” kata Pardi pengurus masjid itu yakin. Bahkan katanya, Koen sekarang sering tidur di masjid dan rencananya akan disepakati oleh para takmir sebagai mu’adzin tetap masjid Cahaya Petunjuk.

“Dunia memang selalu tidak terduga,“ kata ketua takmir dengan bijak suatu ketika.

“Kita selalu tidak mampu meraba apa yang akan terjadi di hadapan kita. Nah, Koen itu contohnya. Di masa lalu, dia bergelut dengan kemaksiatan, dan kita tidak pernah tahu bahwa dia akan sadar. Hanya Allah yang tahu kan. Kita ini hanya mahluk lemah yang senantiasa berprasangka dan bodoh.”

Pengakuan ini tentu saja sangat menggegerkan kalangan preman pengangguran di seputar Sungai Progo.  Kenyataan ini membuat mereka seperti terjebak dalam sebuah misteri labirin dan akhirnya membuatnya menjadi bahan perbincangan yang dipenuhi kedengkian di setiap malam kumpul minum anggur dan wiesky, di gang-gang dan perempatan jalan perumanas. Tetapi kemasgulan kelompok preman pengangguran itu tidak berhenti sampai di sana saja. Di lain kesempatan mereka bahkan mendengar Koen bakal dinikahkan dengan putri ke dua Ketua Takmir Masjid Nurul Huda. Isu ini semakin menambah gerah hati para preman pengangguran. Mereka tak habis pikir, mengapa ketua takmir itu mau menikahkan anaknya dengan Koen. Mereka juga meragukan kesanggupan Aminah putri ketua takmir itu. Tetapi isu itu semakin kencang lajunya, sepeti angin yang mendesis dan menyentuh apapun. Kabar ini jelas menciptakan kecemburuan secara luas.    
       
“Gila, benar-benar gila! Koen mau menikan dengan anak Pak Ndut? Ini namanya dunia mau kiamat. Benar-benar kiamat! Gila!” Kata salah seorang penganguran itu dengan keyakinan yang hampir runtuh terhadap dirinya sendiri.            

”Memang gila. Tak usah berlebihan menanggapainya… Tapi ini yang gila siapa ya…masak anak Pak Ndut rela dinikahi sama Koen? Kenapa tidak sama aku saja..ichh..coba lihat tubuhnya, hitam dan mirip buku gambar berjalan..he..he..he..dibandikan dengan pantatku saja, masih cakepan pantatku.” Seloroh yang lain dengan kedengkian yang memuncak.            

“Wah, kalau begini, Koen itu yang dimaksud Ronggowarsito sebagai anaknya ‘jaman edan’. Wah, beruntungnya anak setan itu…” Pekik pria tak berambut yang mulai mabuk sembari memukul gitarnya dengan keras.      
     
“Icchh..kita juga gila, tapi kok tak kebagian apa-apa.” Sela preman yang lain, “kecuali ini…he..he..hek..” Jeritnya sembari mengangkat anggur lima ribu ke atas kepalanya.            

Pembicaraan itu berlangsung sampai malam dan malam-malam berikutnya. Berbicara tentang Koen hingga berbusa dan muntah-muntah karena mabuk. Koen tidak saja menimbulkan curiga di antara para preman pengangguran tetapi sekaligus menyebarkan kecemburuan dan kedengkian tak terkira di hati para preman penghuni perumnas secara kolektif. Di sisi lain, suasana itu menciptakan kebersamaan baru diantara para preman sekaligus menempatkan Koen sebagi selibritis yang paling laris dibicarakan di kawasan itu. Mereka boleh ribut, tetapi Koen tak pernah mendengar semua itu. Ia masih seperti biasa dalam kebiasaan moral barunya. Rajin datang ke masjid dan melantunkan adzan setiap waktunya. Ia juga selalu datang ke rumah ketua takmir untuk membantu pekerjaan rumah dan sekaligus mendekati putri ke dua dari ketua takmir atau sering dipanggil Pak Ndut oleh para preman pengangguran.            

Semua itu berjalan beberapa lama dan wajar. Sehingga para preman itu pun sudah hampir melupakannya setelah emosi mereka terkuras sekian waktu. Nama Koen tidak disebut-sebut lagi di setiap perbincangan dalam perkumpulan di pelbagai perempatan dan gang jalan perumahan Sungai Progo. Orang-orang Jawa memang selalu mudah melupakan setelah sekian waktu membicarakan apa yang disuka dan dibenci. Tetapi para preman pengangguran memang orang-orang yang berjiwa terbuka, kritis dan memahami sesamanya dengan semangat dengki yang besar. Mereka tak bisa menerima perubahan Koen begitu saja, mereka tetap berharap bisa membongkar misteri Koen, meskipun perbincangan tetntang Koen tak seramai kemarin.            

Hingga suatu malam, tiba-tiba dari arah pusat jalan perumahan sungai Progo, di perempatan jalan yang biasa para preman pengangguran blok tengah berkumpul –terdengar ramai teriakkan tawa para penghuni di blok tengah itu. Keributan itu memancing sebagian dari kelompok lain untuk bergabung dan mencarai artinya. Di saat itu ternyata mereka tengah meributkan Koen sang selibritis. Dalam percakapan yang dipenuhi tawa dan minuman keras itu, terungkapkan  bahwa Pak Ndut telah terkena getah akibat mempercayai Koen.            

Hek-hek-hek…aaku tidak bisa membayangkannya,” cemooh seseorang berambut panjang di tengah gelak tawanya. Kata-katnya tertelan dan tubuhnya terguncang-guncang karena tawa. Ia mengusap air matanya dan mencoba menghisap rokoknya. Lantas iapun  meneruskan. Diceritakannya Koen dengan mimik yang aneh dan tampak menyebalkan. Disebutnya secara berurutan  sembari memperagakan bagaimana Koen yang datang ke masjid memakai sarung dan kopiah serta menyapa dengan ramah para jama’ah masjid dan setelah semua orang memberinya senyum keharuan serta menaruh semua hati mereka pada Koen, pada saat yang lain semua barang dan uang di masjid hilang dibawa kabur.            

Malam itu Koen kembali menjadi perbincangan umum. Perbuatannya yang nista sebenarnya tak begitu mengejutkan bagi warga seputar perumnas, tetapi tidak demikian dengan ketua takmir masjid itu. Pria tua itu merasa sangat terpukul dan bersalah sehingga ia merasa perlu untuk meminta maaf kepada warga secara terbuka. Ia menunjukkan kerugian masjid seperti jam dinding, tape recorder, ampliplayer, speaker dan  uang infaq sejumlah satu jutaan rupiah. Secara pribadi, ia tidak saja kehilangan muka, tetapi juga sebuah gitar dan uang lima ratus ribu rupiah.            
Masyarakat boleh berubah mencaci Koen secara berlebihan dan menganggapnya bukan manusia yang pantas dicincang. Tetapi Koen berpikir lain. Meskipun sadar telah melakukan hal yang salah, tetapi dalam hatinya menunjukkan ketulusannya terhadap warga terutama terhadap ketua takmir dan putrinya. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk ketua takmir itu untuk meminta maaf.            

Assalamu’alaikum Wr wb.              
Pak Ndut yang terhormat, Sebelumnya saya memohon maaf atas segala kesalahan saya selama ini. Saya tidak bermaksud melukai hati Bapak dan Dik Aminah. Tetapi saat ini saya harus pergi untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Saya berharap bapak tidak  usah mencemaskan diri saya dan tidak perlu mencari kemana saya pergi, karena saat ini saya belum tentu tujuannya. Saya tidak ingin merepotkan bapak lagi. Hanya saja saya berharap bahwa kita akan bertemu lagi suatu saat.            

Saya juga berharap bahwa persaudaraan kita tetap menjadi seperti itu, dan berharap pula bapak  sudi merelakan beberapa barang yang saya bawa untuk saya pinjam. Saya hanya kuatir dan ini sangat tidak baik, bila sedikit barang ini membuat persaudaraan kita menjadi retak. Untuk itu saya mohon kerelaannya. Sekali lagi, saya memohon maaf kepada Bapak dan warga serta berharap doa restu Bapak.

Wassalamu’alaikum                                                                                                               
Koen               
Surat itu ditunjukkan pada masyarakat dan kemudian dibakar di halaman masjid. Koen telah meninggalkan luka yang dalam pada ketua takmir dan setiap hati warga yang baik sejak saat itu.    

Awal mengait akhir

Hari pembebasan itu hujan semakin deras dan meredupkan cahaya siang. Koen membuang putung rokoknya ke tengah jalan. Ia berlari kecil dan berteduh di sebuah emperan toko kecil milik orang Arab Dari arah jalanan orang-orang berlarian untuk berteduh. Sesekali angin bertiup kencang membawa uap dingin dan  sebuah sampah plastik nyunsang ke tubuh Koen. Ia  menepisnya dan mengusap tangannya yang basah.
Beberapa orang datang berteduh di dekatnya, menatapnya penuh curiga dan takut dan kemudian menyingkir dengan perasan rikuh. Koen tak peduli. Ia masih bingung harus menuju kemana.  Tetapi ia tiba-tiba hanya merasa tertarik pada motor yang terpakir di depannya. Mungkin kali ini ia berpikir,  kendaraan itu akan mempercepat sampai ke rumahnya.

1995

 

 

 

back to top