Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Jalan Langit

Jalan Langit

Oleh: Retno Ayu

Rafni termangu. Hujan begitu deras siang hari ini. Jendela kaca kamarnya berembun. Udara dingin menguyur penuh setiap ruang. Sambil menggigil, Rafni melempar pandangannya menembus kaca jendela, ke langit berawan. Gadis kecil yang terlelap di pangkuannya sedikit bergerak. Rafni mengusap wajah gadis kecil itu, perlahan dan menyerahkan seluruh hatinya. Gadis kecil itu tersenyum, mungkin mimpi indah. Rafni memejamkan matanya sesaat. Matanya terasa panas, dan sedikit berair. Lalu diusapnya segera. Ayah, bisiknya pelan.

Ini hari ke dua puluh satu, Yusuf berada di hutan ini. Ia bekerja sebagai penebang pohon, pekerjaan yang diperoleh dari teman lamanya. Ini perusahaan milik pemerintah dan lumayan upahnya, kata temannya meyakinkan waktu itu. Tawaran yang disambutnya dengan suka cita. Rejeki memang datang tidak terduga. Apalagi untuk orang yang tidak punya pekerjaan tetap. Rencananya pekerjaan ini akan selesai dua hari lagi. “Ingin kulipat rasanya sisa dua hari ini, dan kumasukkan ke saku!” Seru hati Yusuf.

Hari terakhir. Sekarang tinggal menata balok-balok kayu ke truk. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar. Yusuf tersenyum puas. Kulit kedua lengannya terasa panas dan beberapa bagian mengelupas. Pekerjaannya telah selesai. Besok akan menerima upah, dan pulang. Tubuhnya terasa segar setelah mandi. Doanya sangat panjang di kamar istirahat yang dindingnya didirikan dari tripleks. Sajadah yang warnanya biru luntur menemani dan menjaga sunyi. Yusuf sendirian saja. Setelah selesai, dia melangkah keluar untuk meyakinkan kayu-kayu telah terikat kuat. Tiga truk besar sudah siap berangkat tengah malam nanti. Jadwalnya lebih maju, agar pagi sudah sampai di gudang, kata pengawas pagi tadi.

“Did, kayu harus diantar malam ini. Tadi, pengawas hutan bilang akan ada penggrebekan besok pagi.”

“Hm...tenang aja Rur. Kita kan dilindungi sama mereka.“

“ Iya, tapi tetap saja kita harus kirim kayunya ke gudang dan pergi dari sini. Mereka kan cuman ngasi waktu buat menebang. Besok yang datang bukan cuman mereka tapi juga anggota lainnya. Bisa repot urusannya kata Bos.“

Yusuf mendengarkan pembicaraan teman-teman kerjanya hati-hati. Alisnya sedikit berkerut. Dulu, temannya bilang usaha penebangan ini milik pemerintah. Mengapa mereka takut penggerebekan. Masak pemerintah takut sama pemerintah, hatinya terheran-heran. Yusuf mengurungkan niatnya mengecek kayu. Dia termenung dalam kamar tripleks tempat istirahat para pekerja. Tiba-tiba seorang lelaki masuk tanpa mengetuk pintu. Pengawas kerja. Dia tersenyum lebar, giginya kuning akibat rokok. Dia memberi amplop yang berisi upah pekerjaan selama dua puluh satu hari. Dua juta seratus ratus ribu rupiah. Harusnya dua juta lima ratus ribu rupiah, tapi dipotong pajak kata pengawas. Yusuf menerima amplop itu dan segera mempersiapkan tas yang berisi pakaiannya. Pengawas menyuruhnya pergi malam ini. Ia akan ikut truk dan turun di kota, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus kota menuju rumahnya.

*

Siang itu Rafni terpaku di ruang tamu. Duduk di kursi bambu yang sudah tidak kokoh. Pemilik rumah menagih uang kontrak dan hutang lainnya. Dia malu sekali. Pemilik rumah itu baik. Memberinya rumah kontrak dengan harga murah dan menghutangkan uang untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Hanya saja, dia baru saja mendapat musibah. Rumahnya terbakar. Sebagian besar harta ikut terbakar. Ia seorang janda, dan anak tunggalnya hanya hanyalah pengangguran. Toko kecil peninggalan suaminya menjadi penopang selama ini. Alhamdulillah toko tersebut tidak ikut terbakar karena letaknya terpisah dari rumah utama. Rafni merasa bersalah. Apa yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu. Ayah cepat pulang, bisiknya lirih.

*

Yusuf merasa gelisah. Amplop di saku celananya dipegang erat. Hatinya sedang berkecamuk. Upah ini sangat penting bagi hidupnya, bagi harga dirinya, dan bagi orang yang dicintainya. Akan tetapi, upah ini hasil dari mencuri seru hatinya keras sekali. Bukan salahmu, ada suara lain menyergah, bukankah mereka menipumu. Jadi kamu hanyalah korban. Yusuf meremas amplop upah di celananya. Bus berjalan cepat mengejar angin. Menelusuri jalan yang disiram hujan rintik-rintik. Diusapnya kaca jendela bus yang berembun. Aku hanya manusia biasa, pasti punya kesalahan.

Sebelum pulang ke rumah Yusuf ke Masjid. Sudah waktu Dhuhur. Air wudhu terasa hangat menyentuh kulitnya. Rasa nyaman menenangkan dirinya. Shalat berjamaah diikutinya dengan penuh permohonan. Setelah selesai, dia duduk bersila sendirian. Wajahnya menahan sesuatu yang akan mengalir keluar. Terbayang wajah orang yang selalu menyayanginya, selalu ikhlas dengan kekurangan yang dimilikinya. Kebimbangan hatinya perlahan surut. Ia merasa mantap. Manusia adalah tempatnya khilaf, bisiknya kecil.

*

Rafni masih mengenakan mukena putihnya. Suara salam yang dirindukannya berada di balik pintu. Pintu dibukanya perlahan. Saat inilah air matanya tidak bisa ditahan lagi, di pelukan suaminya. “Maafkan Ayah terlalu lama, dimana Fatimah?” Pertanyaan suaminya menyadarkan Rafni. Lalu digandengnya lengan suaminya, terasa lebih kurus sekarang setelah hampir dua minggu pergi ke luar kota. Mereka masuk ke kamar. Terdengar suara gadis kecil, nyaring sekali dari dalam kamar.

“Ayahhhh………..”. Kamar itu seolah hanya dipenuhi oleh suara gadis kecil. Ia bercerita pada Ayahnya bahwa semalam ia bermimpi ada banyak burung warna-warni main ke rumah.

*

Yusuf tercenung di depan perempuan yang dicintainya itu. Ia memandangi perempuan yang sorot matanya bertahan tetap menyala. Seperti lilin berkelipan di tengah malam. Beberapa rambut putih keluar dari kerudung coklat yang dipakainya. Wajahnya tenang. Duduk di kursi yang tiga kakinya gosong terbakar. Yusuf menunduk dalam. Ia menangis tertahan. Selama ini, dia hanya menjadi benalu bagi ibunya. Kini dia datang dengan tangan kosong, dan musibah menimpa rumahnya, rumah ibunya. Tabung gas yang lama tidak dipakai bocor. Api dari kompor yang digunakan untuk memasak air memercik gas. Untunglah, ibunya sedang di toko. Masih dalam lindungan Allah, kata ibunya pelan.

“Ibu senang…Ibu ikhlas. Seandainya ayahmu masih hidup, dia pasti bangga dengan keputusanmu. Apa artinya harta? Harta dunia itu milikNya. Juga, jangan pernah memakan harta yang tidak jelas halalnya.”

Yusuf menyalami tangan ibunya. Lalu segera membantu beberapa tetangga yang masih membersihkan puing-puing gosong rumahnya. Seharian dia bekerja membersihkan rumah yang setengahnya telah gosong. Setelah semua tetangganya pulang, ia menemani ibunya di dalam toko. Mereka tidak bisa tidur di rumah, dan sementara ini akan tidur di toko. Yusuf menata barang-barang rumah yang sebagian dimasukkan di toko. Walaupun hujan sudah reda, mungkin besok akan datang lagi. Ibunya duduk sambil terus berdzikir. Lalu, beberapa kali ketukan dan salam terdengar di luar. Yusuf membuka pintu toko.

*

Yusuf dan ibunya menyilahkan tiga orang tamu mereka. Tidak ada kursi dan meja tamu, mereka duduk di atas tikar. Ibu Yusuf tersenyum, gadis kecil itu duduk di pangkuannya. Rafni dan suaminya duduk berdampingan menghadapi Yusuf dan ibunya.

“Ini ujian“, kata Yusuf pelan pada Rafni dan suaminya.

“Kami ikut beduka dengan musibah ini. apalagi selama ini kami juga ikut menyusahkan kalian“, jawab suami Rafni. Lalu dia melanjutkan perkataannya, “Kami ke sini ingin melunasi sewa rumah dan semua hutang.“

“Apakah benar-benar sudah ada uang? Jika belum ada, sebaiknya dipakai untuk kebutuhan lain dulu. Untuk susu ini lho“ Jawab Ibu Yusuf sambil mencubit kecil pipi gadis kecil itu. Gadis kecil itu tertawa terkekeh dan matanya berkejap-kejap.

“Alhamdulillah. Urusan tanah waris keluarga saya telah selesai. Pemerintah membeli tanah itu karena mereka telah membangun pasar di atasnya. Setengah dari uang pembayaran dibagi untuk beberapa anggota keluarga. Setengah lagi rencananya dimanfaatkan untuk membuka yayasan pendidikan,” Jawab suaminya Rafni.

“Subhanallah”, seru lirih ibunya Yusuf. Lalu ia melihat Rafni memberikan amplop berisi uang untuk pembayaran rumah kontrak dan hutang-hutang selama ini.

“Terimakasih Rafni….terimakasih. Ibu memang membutuhkannya saat ini”. Kata ibunya Yusuf. Rafni tersenyum dan menggeleng-nggelengkan kepala. Suaranya tergetar dan serak mendegarnya. Ia mengatakan bahwa dialah yang harus menyampaikan terimakasih dan doa.

Suami Rafni menatap Yusuf dan berkata, “Bukankah Yusuf dulu pernah kursus akuntansi? Kalau bersedia, ikut membantu saya di yayasan pendidikan yang kami dirikan. Kamu jadi bendaharanya Suf. Selain itu, biar kita tetap bersama sebagai keluarga. Kami harus pindah ke sana.“

Yusuf tidak menjawab. Mengangguk kecil, tidak yakin, dan Ia menatap ibunya. Lalu memandang suami Rafni. “Apakah saya mampu?“

“Kita semua belajar Suf“. Jawab suami Rafni.

Yusuf berdiri dan pergi keluar tanpa kata-kata tertinggal. Suara jangkrik keras bersahutan, memprotes malam yang dingin. Yusug bersujud mengucap syukur di atas tanah basah. Yusuf tahu bahwa Allah telah menjawab kebimbangannya. Dipandangnya langit, dan tersenyum.

*

Ibu Yusuf membuka amplop yang diterimanya tadi. Dia mengerutkan keningnya. Jumlah yang terlalu besar. Ada kesalahan rupanya, bisiknya perlahan. Yusuf mencoba meyakinkan ibunya tentang jumlah sewa rumah dan hutang itu. Berkali-kali ibunya Yusuf membuka catatan hutang. Ini sepuluh kali lipat katanya pada Yusuf. Ia membenarkan jilbabnya dan akan ke rumah mereka. Ibu coba baca ini, ada surat kecil, terdengar Yusuf sedikit menggumam. Yusuf mendekati ibunya, dan memberikan secarik kertas yang ia temukan di dalam amplop tadi. Surat itu berbunyi: Assalamu’alaikum wr.wb. Saya dan istri memohon maaf atas musibah ini. Kami juga mengucapkan terimakasih atas bantuan dan keikhlasannya selama ini. Uang ini sebagian adalah untuk membayar hutang dan sewa rumah. Sedangkan sisanya adalah titipan dari Fatimah untuk neneknya. Wassalamu’alaikum.

*

Dini hari mengurung bumi dengan udara dingin. Rafni menatap suaminya yang telah lelap di samping gadis kecilnya. Ia tersenyum kecil. Hatinya kini merasa tenang. Lalu ia bangkit dan memulai dengan takbir, di atas sajadah warna hijau muda. Setelah selesai dengan shalat malam, Rafni merebahkan diri di samping suaminya. Air yang mengalir pelan dari matanya seperti kabar yang hangat. Perjuangan yang tidak sebentar. Perlahan, ia mencium tangan suaminya dan tidur dipeluk keindahan.

*

Langit tampak bersih. Awan telah dicairkan ke bumi beberapa hari terakhir. Hanya beberapa saputan awan putih kelabu berjalan pelan. Bulan kecil berseri merona. Lalu angin menguas malam, menjadikannya sunyi dan lelap.

back to top