Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

Hujan, Tarian, Puisi, dan Perempuan

Oleh: Mohammad Maos Bumi


November. Awal hujan. Bumi mulai basah. Saat basah, seperti ada kehidupan baru, kesibukan baru; Tumbuh-tumbuhan menunas satu-satu. Laron-laron mengitari lampu-lampu. Katak-katak riuh menyanyikan lagu-lagu. Dimusim hujan, aku mengenal perempuanku; awal aku dibasahi rindu.

Aku melihatmu, perempuan, menari di bawah hujan. Membiarkan rambutmu tergerai disisir hujan. Awalnya aku memerhatikanmu hanya sejenak. Namun, lama-lama mataku tak mau beranjak dari tempat di mana kakimu berpijak, berjingkrak-jingkrak, dan berputar sambil menengadahkan muka ke atas; menyambut hujan dengan riang dan senang. Kupikir; Pemandangan eksotis. Kau tak menari Tarian Pendet, Jaipong, atau Tarian Bedaya asal Yogyakarta yang biasanya ditarikan oleh sembilan putri dengan gerak lemah gemulai. Kau menari sendirian. Tak ada perempuan lain. Tak ada putri lain. Hanya satu putri. Kuakui, aku menikmati tarianmu meski aku belum pernah mengenalmu juga tarianmu. Ah, nyatanya memang tak butuh kenal terlebih dahulu untuk menikmati sesuatu. Yang aku tahu dan kurasakan, kau menari dengan segenap jiwamu. Mungkin itulah daya tarik tarianmu.

Tiba-tiba saja aku ingin menulis puisi.
Aku masih saja memerhatikan gerakmu. “Menarilah perempuan. Jangan berhenti. Sebelum aku selesai merangkai puisi. Suatu waktu, aku ingin mengirimkan puisi ini padamu, atau mungkin, aku akan mencatatkan puisi ini di dadamu.”

Hujan masih saja deras. Membasahi tanah dan tanaman para petani. Menjatuhi daun-daun pepohonan hingga menimbulkan bunyi, seakan menjadi gendang bagimu, perempuan. Kau masih menggeliatkan tubuhmu. Melenggang kekanan dan kekiri. Lenganmu terlentang. Mengepak-ngepakkan tanganmu seakan kau terbang. Mungkin kau sedang memeragakan tarian burung elang. Atau, kau sedang membayangkan kebebasan burung yang beterbangan.

Tubuhmu semakin kuyup. Bibirmu sesekali mengatup, menyerap air hujan masuk ke mulut. Lekuk-lekuk tubuhmu tampak jelas. Tapi aku tak memandangmu dengan kelelakianku: Bukan dengan gairah seksual. Tapi dengan seni dan perasaan. Tarianmu menyiratkan kebebasan; melepaskan segala penat dan jenuhnya perasaan.

Hujan, tarian, dan lekuk tubuh perempuan, perpaduan dari ketiganya seakan mempunyai kekuatan yang menarikku untuk tak beranjak dari tempatku yang tersembunyi. Melihatmu tanpa henti.

Teriakan nyaring melengking mengalahkan bunyi hujan terdengar tiba-tiba. Kau, Perempuan, tergagap dan berhenti seketika. Tarian jiwa itu sirna. Jingkrak kaki, kepakan tangan, muka berseri dan tengadah tak lagi ada. Tergantikan muka merunduk, kaki lurus, kedua tangan bersendekap di atas paha, menandakan kepatuhan, ataukah hanya ketakutan?
Tanpa sempat berpamitan pada hujan, kau, perempuan, mengangkat rok bermotif kembang hingga mata kaki dan berlari. Aku merasa amat sangat dingin dan sendiri!

Bumi basah. Hatiku juga basah....
Tanah tak kering hanya dengan sedetik matahari.
Seperti juga rindu tak sembuh dengan sedetik waktu!

»»»

Oo.. Perempuan itu.
Melewati rintik
Menerobos derai
Menari di tengah rinai
Membiarkan rambutnya tergerai disisir hujan

Oo.. Perempuan itu.
Menarik. Eksotis.
Unik. Antik.
Aku terhipnotis.

»»»

Aku mengirimi, kau puisi. Puisi yang tercipta setelah aku melihatmu menari. Dan pertemuan-pertemuan pun terjadi. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi. Sebab, kau perempuan, tak bebas berkeliaran. Apa lagi menemui lelaki. Tentu saja jika orang tuamu tahu, pasti marah besar. Kau akan dikecam. Telah memalukan keluarga. Dan mencoreng kesucian trah kelaurga, yang dijaga semenjak kakek buyutmu dulu.
Ya, ya, kau perempuan. Keturunan kiyai, yang mana kehormatan amat sangat dijunjung tinggi. Sebab di daerah ini, kelauarga kiyai seperti keluarga nabi. Lambang orang-orang suci. Keluargamu adalah panutan dan ditokohkan.

“Kau curang, tindakanmu sangat tidak sopan. Mengintipku menari di bawah hujan. Parahnya, itu terjadi sebelum kau mengenalku”. Katamu. Memerotes tindakanku. Aku tak menyahut. Hanya menatapmu
“Sebelum kamu, aku yakin tak ada lelaki yang melihatku menari dalam hujan. Kau laki-laki beruntung”. Sambungmu.
“Kau menyukai hujan?”
“Aku menyukai hujan, tarian, juga puisi.”
“Kenapa hujan?”
“Entahlah, “Sukaku tak beralasan. Mungkin aku dilahirkan untuk hujan. Apa lagi menikmati aroma sentuhan pertama hujan pada tanah. Aku terbayang seakan mencium wewangian dari surga.”
“Imajinasimu berlebihan”
Kau malah tertawa. Nampak gigi-gigimu yang runcing. Dalam tawa, tiba-tiba tanganmu menjangkau ingin mencubitku. Tapi kau urungkan, mungkin kau tak terbiasa bersentuhan dengan lelaki.
“Menurutku hujan adalah lambang kebebasan.” Katamu. “Hujan bebas turun di mana saja yang ia maui. Banyaknya pun tak mesti, sesuai yang ia ingini: kadang satu-satu; gerimis-mengiris. Kadang turun beribu-ribu; Deras. Tumpah ruah menghujam tanah.”

“Dengan tarian?”
“Tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkap dengan cara gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika. Tari memberikan penghayatan rasa, empati, simpati, dan kepuasan tersendiri. Dengan menari. Aku sangat mengenali jiwaku. Juka kemauan-kemaunku”
“Termasuk kebesan?”

Ya. kebebasan…..

“Dulu, waktu aku kecil. Ibu dan ayah melarangku mandi dan menari dalam hujan. Karena takut demam, flu, atau sakit-sakitan. Setelah aku dewasa. Ibu dan ayah melarang dengan alasan lain: Tak baik anak perempuan menari-nari, apa lagi di luar dan saat hujan. Lekuk tubuhmu pasti kelihatan.”

“Pelarangan itu tak hanya datang pada saat musim hujan. Tapi disetiap musim. Sepanjang musim. Mungkin selama aku jadi perempuan larangan itu akan tetap disajikan. Dijalankan.”

“Aku empat bersaudara. Semua berjenis kelamin sama: perempuan. Aku bungsu. Semua saudaraku sudah menikah. Perjalanan hidup kakak-kakakku pasti menjemukan. Kecil sekolah. Besar menikah. Kau pasti tahu setelah mereka menikah. Selalu saja di rumah. Tak dapat bisa berbuat sesuatu yang berbeda. Hanya mengurusi rumah. Aku tahu, mereka sangat jenuh dengan kebiasaan yang melulu begitu. Tapi hanya karena takut tidak dikatakan perempuan shaleha. Mereka tak berbuat apa yang mereka suka.”
“Perempuan shaleha.” Desahku.
“Ya”
“Apa perempuan shaleha menurutmu?”
“Menurut keluargaku, perempuan shaleha itu: Menemani suami tidur. Menyiapkan makan dengan teratur. Mendidik anak agar bisa diatur. Catat, diatur! Sepintar apa pun anaknya, punya bakat apa pun, jika tidak sesuai dengan keinginan orang tua, itu namanya tidak bisa diatur. Sasarannya sudah pasti sang ibu yang dibilang tak bisa mengatur. Ukuran perempuan terdidik adalah perempuan yang mengikuti titah orang tua. Patuh pada orang tua. Dan kelak, patuh, taat, dan takluk di bawah kaki suaminya.” Kau berapi-api mengatakannya..

“Perempuan di rumahku tak bisa berwajah banyak. Hanya satu wajah. Shaleha. Tak seperti musim yang bisa berwajah empat. Dingin. Panas. Semi. Gugur. Bahkan menurut temanku, ada juga musim ragu-ragu; saat pergantian musim dari dingin ke panas. Atau dari panas ke dingin. Cuacanya tak pasti, kadang dingin, kadang panas.

“Aku juga ingin menjadi perempuan shaleha. Tapi dengan keshalehaan yang berbeda. Duh, sangat mengerikan jika shaleha hanya diartikan satu rupa: selalu di rumah. Shaleha menurutku banyak wajah. Banyak rupa...”

“Lalu puisi?”
“Kamu, lekakiku.”
“Aku?”
“Ya, kamu!”
“Kenapa denganku?”
“Kamu adalah puisi.”
“Hem.....”
“Kau sangat pintar, memikatku dengan puisi. Aku sangat suka bermain-main dalam dunia imaji. Kebanyakan laki-laki menginginkan tubuh perempuan tanpa terlebih dahulu mendalami perasaan-perasaannya. Tak ada romantisme sama sekali. Aku mengingat gumaman kakakku yang nomer tiga; Andai perempuan bisa menikah lagi. Seperti laki-laki. Katanya, dengan nafas berat. Aku tahu, dari tatapan keduanya, antara kakakku dan suaminya; rasa romantisme, layaknya perempuan dan laki-laki sudah tak ada lagi. Mungkin suaminya yang tak bisa bermanis pada kakakku, atau mungkin sebaliknya.”

“Betapa menyedihkan jika aku bertemu dengan lelaki yang begitu. Aku menginginkan laki-laki, yang pada waktu-waktu tertentu mengirimi aku puisi. Taburan kata sarat makna yang dirangkai indah penuh perasaan. Sebelum bercinta, menatapku, menarikku dalam dekapan. Membisiki sesuatu yang membuatku senang dan terangsang. Bukan laki-laki yang langsung menerkam dan menindihku di atas ranjang!”
»»»
Januari.
Perempuanku. Sekarang dengan riangnya, dengan senangnya. Menari dalam hujan. Dengan sepenuh jiwanya. Dengan kebebasannya. Aku hanya menatapnya dari beranda rumah yang baru kita sewa dua hari lalu.
Tiba-tiba dia menarikku dalam hujan. Memelukku. Mendekatkan mukanya padaku. Dan mencium bibirku. Ciuman pertama perempuanku. Dan ia lakukan dalam hujan.

Sehabis berciuman, aku terbayang orang tuanya yang sekarang pasti bingung dan murung, mencari anaknya yang biasa ia kurung!**
Ilustrasi: Nurul Hayat (Acil)

back to top