Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Gagak di langit Berlin

lukisan: fineartamerica.com lukisan: fineartamerica.com

Oleh: M. Faishal Aminuddin


Perang itu mengakhiri sesuatu, tapi tak cukup buat menyudahi segala sesuatu. Tito bersaudara dengan Soekarno. Mereka memberikan arti bagi apa yang disebut dengan kebangsaan dan perlawanan. Bagi kami, nasionalisme Yugoslavia warisan Tito harus dipertahankan sampai mati.

Di kesenyapan Berlin pada musim dingin yang menggigil, selalu kuingat luncuran kalimat itu. Di sebuah klub dewasa kami bersua dan saling mengulurkan tangan. “Saya Dragan, tapi anda bisa memanggil saya Slodovan”. Perkenalan kami berlanjut dengan obrolan malam dan hilir mudik perempuan penghibur yang menemani tamunya. Paras cantik berwajah khas Eropa Timur, konon mampu membangkitkan selera lelaki manapun.

Slodovan adalah pejuang dan bertempur dibawah komandan tentara ketiga Yugoslavia, Nebojsa Pavkovic dalam perang Kosovo antara tahun 1998-1999. Yang membuat saya tertegun, dia hanya tahu bahwa nasionalisme Yugoslavia yang ditopang mayoritas etnis Serbia harus dipertahankan. Dia mengakhiri ceritanya “banyak diantara mereka bilang, Kosovo bagian tragis pembantaian atas kebebasan. Tapi bagi saya tidak”.

Seusai perang dimana para komandannya diseret sebagai penjahat perang, para eksponen macam Slodovan pergi berdiaspora. Dia sendiri menjadi centeng 4 buah klub dewasa ternama di Berlin. Ibukota Jerman ini menawarkan peluang usaha yang demikian. Walau keras dan mematikan karena perebutan lahan. Dia pernah bilang, adalah hal yang aneh, usianya bisa mencapai 56 tahun sementara rekan-rekannya sudah banyak yang tewas diujung senjata mafia Rusia dan Arab.

“Oke teman, silahkan memilih dan nikmati waktumu disini. Hans, antar sahabat baru saya ke etalase disamping sauna”. Sosok tegap berwajah dingin mempersilahkanku untuk memilih gadis-gadis berbikini di tepian sauna. Aku menunjuk salah satu diantara mereka dan membawanya masuk ke kamar dibangunan bagian atas.

 Didalam bilik bercat dominan biru muda dengan pendar temaram lampu berwarna merah maroon. Dengan desain khas Bavaria lengkap beradu ornamen gotik, bilik itu tampak artistik. Tentu, pemilik klub di tepian jalan Kannstrasse ini harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendatangkan desainernya.

 “Bagaimana kabarmu tuan?” gadis itu memecah terawanganku atas bilik cantik ini. Sambil menutup pintu, dia menghampiriku.

 “Baik. Siapa namamu?” kupandang dia. Rambutnya hitam memanjang dengan sorot mata tajam. Dia bisa menyapa dalam bahasa Inggris. Meski ejaannya terlihat lemah.

 “Duica…Duica Miljana dan saya harus memanggil Tuan?”

 “panggil saja Fai” Jawabku pendek.

Dia duduk dan mencoba berbaring disampingku sembari melepas pakaiannya. “berhenti. Jangan dilepas lagi. Saya ingin kamu berbaring saja disini”. Dia berdiri dan berjalan kearah meja kecil disamping pintu. Menuangkan Scottish Whiskey separuh gelas dan menyodorkannya padaku.

“Kenapa Tuan Fai? Apakah tubuh saya tidak menarik? Untuk apa anda kesini kalau bukan bersenang-senang, dan perempuan seperti saya bisa memuaskan anda. Kami cuma ingin uang dan untuk itu kami bekerja disini”.

 “Tapi aku ingin sebuah cerita!” tukasku.

 “Cerita? Untuk apa?” dia tampak agak emosional. Tapi buru-buru dia tersenyum kecut. Dinyalakannya sebatang rokok dan menghembuskan asapnya keatas atap bilik. Aku memandanginya dalam diam. Bilik begitu sunyi dan mungkin kedap suara. Hingar musik yang dikenal disini berjenis Euro-Trance tak lagi terdengar sampai kedalam. Aku mengira, dia menganggap cerita tentang dirinya bukanlah hal yang penting. Tentu saja, sebenarnya aku juga berpikir hal yang sama. Tubuhnya terlalu bagus untuk dilewatkan. Parasnya cantik dan hanya bisa dijumpai dalam iklan produk kecantikan. Minimal disiaran fashion di televisi.

Dia menggenggam tangan kiriku lembut. “baiklah, aku akan cerita. Tapi tidak disini. Di klub ini aku hanya bekerja untuk melayani dan memuaskan tamu. Aku tidak mau bosku mendengar bahwa aku hanya berbagi cerita. Kamu bawa pena?” kuambil ballpoin yang tercantol di kaos sweater. Dia mengambil bungkus rokok dan menyobeknya sedikit. Lalu menuliskan sesuatu dan memberikannya padaku.

“Oke, kita bertemu ditempat ini besok, jam 7 malam. Kurasa kita sudah berada disini selama 20 menit. Kita bisa keluar karena sudah cukup alasan” dia tersenyum simpul dan menggandengku keluar.

****

Di stasiun besar, Hauptbahnhoff Berlin, kubeli koran Berliner Zeitung yang bisa kubaca dalam perjalanan ke Potsdam. Aku punya sedikit urusan dengan salah satu profesor di kampus Babelsberg. Perjalanan yang bisa ditempuh kurang lebih 30 menit itu membuatku cukup punya waktu untuk membuka-buka halaman koran.

Ada artikel yang menarik tentang migrasi orang-orang dari Eropa Timur. Mereka datang melalu jaringan mafia dan banyak bekerja di sektor informal dan illegal. Keahlian minim membuat para lelaki menyeberang ke Eropa Barat untuk bekerja kasar dan banyak yang menjadi kriminal. Sementara sedikit perempuannya yang masuk dunia gemerlap fotomodel namun lebih banyak yang masuk jerat prostitusi.

Urusan di Potsdam bisa kuselesaikan sebelum jam 5 sore. Masih cukup waktu untuk mengejar janji dengan Duica. Kubuka kertas pemberiannya kemarin. Disitu tertulis “café Schade, in der Ecke des Sprengelstrasse”. Segera kucari alamat itu melalui ponsel sekaligus menentukan rute angkutan yang paling cepat kesana.

Ditengah rintik butir-butir salju, kumelangkah mencari tempat pertemuan itu. Suara burung gagak yang bersautan dan berseliweran terbang dibawah langit yang selalu mendung membuat suasana jalan yang sepi semakin syahdu. Sesekali mereka hinggap di ranting pohon yang tak berdaun. Beberapa diantara kawanan lain, turun ke tanah. Mengais-ngais dengan harapan menemukan makanan dibawah tumpukan es.

Jarak dari stasiun bawah tanah U-Bahn Arumurstrasse ke café Schade tidak terlalu jauh. Dengan jalan kaki 7 menit, meniti jalan Tegelerstrasse sampai juga ke pojokan jalan Sprengelstrasse. Café itu terletak di sudut perempatan jalan. Tepat jam 6.30 sore aku masuk kedalam pintu dan duduk disamping jendela yang menghadap ke jalan.

Aku memesan sebotol bir Warsteiner dan sepiring Nachos. Sambil menunggu, kuamati para pengunjung café. Tampaknya di meja paling ujung, ada diskusi antara mahasiswa dan pembimbingnya. Sesekali suaranya keras dan terdengar tengah membahas topik-topik sosial. Jam 7 kurang 5 menit, aku dikagetkan oleh suara perempuan.

“Sudah lama tuan Fai? Maaf, saya hampir terlambat karena harus menemui pemilik klub”. Dia menyapa sambil berdiri.

“Duica, kau tidak terlambat…saya baru datang dari Potsdam dan langsung kemari. Duduklah”. Kuraih tangan kirinya dan kududukkan disebelah kursiku.

“Sepertinya, kau datang dari Asia, tuan?. Dragan memberitahuku. Indonesia….jauh sekali”. Dia berdiri sejenak dan membuka mantel bulu dan topinya. Lalu berjalan ke tempat cantelan yang disediakan. Rambut hitam kecoklatan tergerai. Bibirnya seksinya menyungging senyum. Mata birunya menatap lembut. Tubuhnya seksi dibalut kaos ketat warna hitam yang berleher panjang. Dia memakai leghing dengan rok mini yang ditutup dengan sepatu kulit panjang dan hampir menyentuh lutut. Begitu cantik.

 “Saya harus memulai cerita dari mana tuan fai?” tanyanya sambil menyulut rokok putihnya.

 “Aku ingin mendengar cerita tentang perang di negerimu dan apa yang membuatmu kemari. Aku akan membayar untuk ceritamu. Jangan kuatir, sebutkan saja berapa aku harus bayar”. Aku menawarkannya karena alasan yang realistis. Dia sekarang tentu mengambil libur atau setidaknya absen dan aku harus menggantinya.

 “Tuan, seluruh dunia telah mendengar perang di negeri kami. Saya tak cukup pintar untuk menerangkannya. Tuan lebih tahu dengan membacanya dari media massa di barat ini. Saya berasal dari Vojvodina. Keluarga terhormat dan secara politik berpengaruh. Ayah ku anggota Skupstina (parlemen). Setelah lulus sekolah tinggi, aku menggantikan ibuku bekerja sebagai sekretaris di Kementrian Pertahanan”.

 “Setelah perang, tidak banyak harapan untuk hidup layak yang tersisa di Serbia sehingga kamu meninggalkan negaramu dan mengadu nasib di barat, seperti itukah kelanjutan ceritamu?” aku coba untuk memaksanya dengan halus agar mempercepat jalan ceritanya. Namun aku juga berharap dia bisa menyampaikan sesuatu yang lain.

 “Meski hancur, kami masih punya sumber yang cukup. Anda tidak bisa menyamakan motif perempuan dari Eropa Timur, bahwa semua bekerja sebagai penghibur atau pelacur di barat.

 “Lantas?” dalam rasa penasaran, aku coba untuk menyembunyikan mimik wajahku. Kuminta pelayan untuk menuangi gelasnya dengan wine. “sorry, kamu belum minum. Sepertinya wine ini enak dan saya akan mencobanya juga. Mari bersulang”. Lagi-lagi, senyumannya yang dahsyat itu menggetarkan hati ini.

 “Pelacur mengkonversi tubuhnya untuk sejumlah uang. Tapi saya, mengkonversi tubuh untuk sebuah tujuan yang lebih besar. Bagi negeri saya”

 “Ach so, bagaimana bisa begitu? Aku tak paham maksudmu”

 “Dalam perang Kosovo, ada pembantaian di Izbica. Serdadu kami membunuh lebih dari 170 orang Albania. Semestinya, belum ada perintah untuk melakukan pembunuhan itu. Ada sabotase di dalam organisasi tentara kami. Pemerintahan kami tidak steril dari mata-mata. Dalam situasi perang, semua bisa terjadi. Pekerjaan saya sebagai sekretaris membuat saya bisa mengenal baik siapa saja yang keluar masuk berurusan dengan sistem pertahanan dan strategi kami dalam menghadapi separatis”.

 Aku menghela napas dalam-dalam. Setahuku, masih ada belasan pembantaian pasukan Serbia terhadap orang-orang Albania di Kosovo. Mengerikan sekali. Duica menatapku dalam, seolah dia coba untuk mempercayaiku sebagai orang yang mampu menyimpan rahasia.

 “Oke, aku mulai memahami ceritamu” kutenggak segelas wine yang sedari tadi kutuang.

 “Tuan Fai”. Dia melanjutkan ceritanya.

 “Lebih baik panggil Fai saja. Aku risih dipanggil tuan”. Kubuka senyumku padanya. Dia membalasnya dengan tertawa kecil. “dinegeriku, apa yang kau lakukan itu disebut pelacur”

 “Mungkin saja, tapi anda tahu, di Eropa yang sempit ini, setiap sudut tempat bisa menjadi pusat informasi yang saya butuhkan. Asal anda tahu, saya pernah punya suami. Loyalis Jenderal Mladic dan tewas dalam pemboman NATO di Kosovo. Sejak itu, saya tidak pernah menikmati seks dan hanya menganggapnya sebagai bagian pekerjaan saya”. Dia menaruh puntung rokoknya di asbak.

 “Anda orang paling menarik yang saya kenal di Berlin. Saya kira cerita saya sudah cukup kan?”

 “Tunggu, saya berjanji untuk membayarmu. Berapa yang kau minta?”

 “Saya tidak menjual cerita, juga tubuh saya. Misi saya di Berlin selama setahun ini telah berakhir. Siang tadi saya pamit sama bos klub, juga Dragan. Tapi jika anda mau, pintu apartemen saya terbuka lebar”. Dia mengakhiri ceritanya, menuju kasir dan membayar tagihan kami. Dengan anggun, dia mengenakan mantel bulunya. Memasang topi dan berjalan landai kearah pintu keluar.

Aku terperangah dan hampir tak percaya. Sungguh, ajakannya membuat perasaan berkecamuk. Yang pasti, kaki ini bergegas mengayunkan langkah menyusul Duica. Ditengah lebat salju kami berdua berjalan bersama menuju sebuah suasana seperti yang dia janjikan.

 

Sickingenstr-Berlin, awal Februari 2010

 

 

 

 

 

back to top