Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Doa dalam mantra

lukisan: spcgallery.wordpress.com lukisan: spcgallery.wordpress.com

Cerpen oleh: Mas Jiwandono

 

Karim mempersiapkan segala keperluan untuk pengajian rutin yang diadakan setiap bulan pada hari kamis malam di desanya, kali ini rumahnya mendapatkan giliran melaksanakan pengajian rutin tersebut. Ia sudah membeli pisang kepok untuk direbus dan bahan-bahan makanan lainnya sebagai konsumsi dalam acara nanti malam.

Solikhah, istri tercinta yang akrab dipanggil Ikah, sedang memarut kelapa di bale-bele dapur. Sebagian rambut Solikhah menutupi wajahnya yang selalu dibilang tercantik di dunia oleh Karim. Karim sangat menyayangi istrinya yang rajin walaupun kadang membuatnya sedikit marah bila sang istri suka menentang saat dinasehati olehnya.  Asap putih agak kelabu berhamburan dari tungku perapian yang sedang digunakan untuk memasak air, menimbulkan aroma yang khas ketika menyatu dengan benda-benda di sekitarnya.

Sinar matahari pukul satu menerobos melalui celah-celah genting rumah  menimpa perkakas dapur yang sebagain besar warnanya hitam karena kerak. Karim dan istrinya masih belum dikaruniai anak oleh Allah. Mereka sudah datang ke pak Kyai berkali-kali dan diberi doa-doa khusus serta air rajah untuk mendapatkan anak, namun sampai sekarang belum ada hasilnya. Mereka sudah sangat rindu pada hadirnya bayi. Waktu tiga tahun bukan waktu yang pendek merasakan kesunyian tanpa tangis bayi di rumah warisan orang tua Karim ini.

Setelah shalat Ashar di mushola dekat rumah, Karim melanjutkan persiapan untuk pengajian. Nanti malam seperti biasa pengajian akan diisi oleh kiyai Shobari. Semua warga desa sudah sangat mengenal siapa kyai Shobari, selain keahliannya dalam baca Al Qur’an juga karena beliau memiliki kesaktian seperti yang dimiliki para wali jaman dulu. Begitu keyakinan para warga desa.

Kyai Shobari berusia empat puluh tahun namun beliau belum menikah. Sepengetahuan warga desa beliau masih diwajibkan sendiri tanpa istri oleh kekuatan gaib. Hal itu untuk menyempurnakan keahliannya dalam ilmu agama dan ilmu gaib. “Orang suci kan harus begitu.” Kata warga desa. Hal dibenarkan oleh warga desa walaupun sebagian mereka tahu bahwa Nabi Muhammad usia dua puluh lima tahun sudah menikah. Menikah adalah wajib ketika mampu.

Segala keperluan sudah disiapkan oleh Karim dan Sholikhah, tampak wajah mereka lelah, namun menyiratkan keikhlasan yang bersih. Gelas-gelas bersisi air teh berjejer rapi di meja panjang, asap tipis mengepul membagikan aroma melati yang manis. Piring-piring sudah berisi pisang goreng, tempe goreng, roti bolu dan kacang rebus.

Nasi putih di bakul seperti bukit-bukit kecil yang diselimuti kabut, disekitarnya sambal di piring-piring kecil, sop dalam mangkok besar dan kerupuk udang dalam kaleng-kaleng bekas roti biskuit. Pengajian akan dimulai setelah sholat Isya. Acaranya meliputi tahlilan, membaca surat Yasiin dan ceramah pak Kyai Shobari. Ada beberapa remaja putra dan putri yang ikut membantu sejak habis sholat ashar. Kedatangan mereka sangat menolong kesibukan dalam persiapan pengajian nanti.

Karim dan beberapa remaja mempersiapkan ruang untuk pengajian. Kursi-kursi dan meja di ruang tamu dipindahkan ke halaman depan. Ruang berukuran empat kali sembilan meter persegi itu mungkin tidak cukup untuk orang berjumlah seratus lebih, karena mungkin ada sebagain penduduk desa yang ikut pengajian di sini, sehingga halaman depan juga digelar tikar. Akhirnya semuanya sudah siap dan tinggal menunggu kedatangan warga desa yang akan datang dalam pengajian rutin.

Seusai sholat isya warga desa mulai berdatangan, kebanyakn mereka adalah bapak-bapak. Wajah mereka tampak cerah. Ruang tamu mulai penuh dan tidak cukup untuk dimuati lagi sehingga sebagian peserta pengajian duduk di halaman depan. Ruang tamu itu kini riuh oleh perbincangan para warga desa, dari masalah sawah sampai pertengkaran dengan desa sebelah yang berbeda Kyai. Sebagian besar warga merokok sehingga ruang tamu itu menjadi panas, sumpek. Namun mereka tidak menghiraukan hal itu karena keasyikan perbincangan yang seru dan melibatkan emosi bersama.

“Pak de Jalil kabarnya kehilangan sepeda motornya kemarin ketika pergi ke pasar malam, benar itu Mas Sarip,” Seorang warga bertanya pada pemuda di sebelahnya. Orang-orang ikut memandangi pemuda bernama Sarip itu.

Nggih leres, waktu pak de mau beli gelang yang dipesan anaknya. Sepeda motornya diparkir tidak jauh dari tempat penjualan, namun ketika kembali motornya sudah raib.”

“Wah blaik, cilaka itu, maling sekarang memang canggih, mencuri motor hanya dalam waktu beberapa menit. Tapi kalau dekat apa pak de nggak dengar suara apa gitu?” Sahut seorang berwajah kurus, asap rokok klembak menyan menyembur kencang dari mulutnya.

“Ya nggak tahu, mungkin malingnya punya aji sirep atau sejenisnya yang bisa membuat orang jadi lupa segalanya.” Jawab sarip.

“Benar itu, maling itu pasti punya kesaktian, lha buktinya motor diparkir tidak terlalu jauh kok ya bisa diambil tanpa diketahui.” Kata yang lain.

Warga desa mengangguk-angguk setuju, walaupun sebenarnya motor itu dapat dicuri karena keteledoran Pak de Ajlil yang tidak mengunci sepeda motornya. Perbincangan berlanjut.

“Sebaiknya nanti tanyakan ke Kyai Shobari, biar dilihat siapa yang maling!” Usul Karim yang juga duduk menemani mereka.

“Wah sudah mas Karim. Kata pak Kyai maling itu tidak kelihatan wajahnya, maling itu punya ilmu gaib yang kuat Mas’” jawab sarip.

Warga desa kembali mengangguk-angguk, sesekali terdengar gelak tawa dari halaman depan. Pak Kyai Shobari belum datang, biasanya beliau memang datang paling akhir dan agak malam. Pukul sembilan malam biasanya beliau baru datang untuk memulai acara. Para warga menunggu dengan setia, ada yang mengatakan bahwa menunggu seorang ulama akan mendapatkan berkah.

Malam di luar sunyi dan dingin. Langit tidak terlalu bersih, hanya ada beberapa bintang yang lolos dari sergapan awan. Bulan sabit kadang menghilang kadang muncul lagi. Angin pelan berhembus, menyela pepohonan dan dedaunan di kebun-kebun. Binatang malam berteriak-teriak nyaring namun tidak mampu memecahkan sunyi yang keras dan beku. Hamparan kebun jagung kosong, seperti padang kegelapan. Lampu-lampu kecil di jalan-jalan desa tidak mampu menerangi bahkan menyebabkan bias yang aneh.

Seperti setting film horor. Anak-anak biasanya jarang yang berani keluar sendiri. Setelah selesai mengaji di langgar mereka langsung pulang. Bagi remaja dan ibu-ibu desa mereka lebih suka nonton sinetron televisi di rumah tetangga yang kebetulan memililiki televisi. Mereka nonton bersama-sama, menikmati kisah percintaan yang seru. Bila sudah di depan telivisi mereka akan melupakan semua permasalahan, sinetron adalah obat kelelahan setelah kerja di ladang. Mereka sering berharap memiliki kisah yang serupa dengan cerita dalam sinetron. Mereka sebagian ada yang menirukan gaya para pemain sinetron dari rambut sampai gincu, dan menggunakan bahasa sinetron yang bagi mereka dianggap sebagai bahasa orang kota.

Akhirnya Kyai Mansur Shobari datang, ia menggunakan mobil jeep berwarna hijau muda, bila musim kampanye partai datang mobil ini pasti ikut ambil bagian. Kyai Shobirin tersenyum, wajahnya ditegakkan. Ia tersenyum. Ada kumis yang cukup tebal menghiasai wajahnya, ia tidak memiliki jenggot karena habis dikerok licin. Matanya agak sipit, tajam bila memandang seseorang. Ia memakai baju taqwa berwarna putih dan sarung hitam bermotif garis-garis hijau tua. Peci hitam menghiasi kepalanya yang kecil.

Para warga berhamburan datang menyambut Kyai Shobari, menyalami dan mencium telapak tangannya. Satu per satu warga menyalami meminta doa dan berkah. Karena yang ingin menyalami dirinya banyak, Kyai Shobari seperti jengah dan ingin segera duduk, sehingga ia segera memasuki ruangan dengan mengangkat tangannya kepada warga yang belum sempat berjabat tangan. Pastilah mereka kecewa karena kesempatan menyalami hanya datang setiap bulan sekali ketika pengajian.

Kyai Shobari kemudian duduk bersila di ujung ruangan, di dekat mikrofon yang sudah disiapkan tadi. Ia berdehem, mengambil rokok dari saku bajunya. Rokok yang bila dibandingkan dengan milik warga desa adalah yang termahal. Seorang pemuda mendatanginya dan memberikan dua bungkus rokok yang sama dengan miliknya. Ia tersenyum pada pemuda itu sambl menyalakan rokoknya, dan menghisapnya dalam-dalam. Setelah ia menghabiskan sebatang rokok dan sedikit berbasi-nasi dengan warga desa yang mendampinginya, ia memberi isyarat kepada salah seorang warga untuk memulai acara.

Satu demi satu terlewati, dari sholawat samapai membaca surat Yasiin, kini tiba mendengarkan pengajian dari Kyai Shobari. Para warga diam, khusuk dan siap menerima apapun yang akan disampaikan oleh Kyai Shobari. Kemudian Kyai Shobari menempatkan dirinya di depan mikrofon. Ia berdehem dan tampak komat-kamit membaca doa.

“Assalamu ‘laikum Warahmatullahi wabarakaatuh.”

Serempak para warga menjawab, “ Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakaaatuh.”

Kyai Shobari membaca iftitah khotbah dengan fasih. Ia memandang ke warga desa, matanya seperti menyampaikan sesuatu, kemudian ia mulai berbicara.

“Saudara-saudara yang dirahmati Allah, kali ini saya akan menyampaikan masalah ahlakukul karimah, sampeyan semua sudah tahu apa itu ahlakul karimah?”

Serempak para warga desa menyahut,” Sudaaah…..”

“Bagus, ahlakukul karimah itu harus ada dalam diri setiap orang Islam….”

Pengajian berjalan sampai larut malam. Para warga sebagian ada yang sudah terlelap sambil duduk, kepala mereka condong ke kanan atau ke kiri. Ada juga yang sudah tergeletak di tikar. Sebagian lagi berusaha melawan kantuk yang menyerang dengan ganas, kadang kepala mereka terkulai lalu mendadak mendongak, begitu seterusnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul antara malam dan pagi. Pengajian akhirnya selesai, sholawat dikumandangkan. Warga desa yang tidak tidur membangunkan warga yang ketiduran. Sebelum Kayai Shobari pulang, Karim sempat mencium tangan Kyai Shobari yang kemudian mengelus kepalanya dan mendoakan semoga segera mendapatkan anak.

“Amin…amin….amin, ”  sahut Karim.

Sebagian warga membantu membersihkan ruangan dan sebagian lagi sudah pulang dan segera tidur. Setelah segalanya dirapikan, para warga yang membantu pulang. Para remaja juga pulang besok mereka harus pergi ke ladang.

Karim dan Sholihah berbaring di tempat tidur. Mata mereka masih terbuka, kelelahan yang mereka rasakan tersamarkan oleh kegelisahan mereka selama tiga tahun ini.

“Mas tadi Kyai Sobhari tidak meberi doa lagi untuk kita?” Tanya Sholikhah.

“Sudah, beliau mendoakan kita agar segera punya anak.” Jawab Karim datar.

“Apa juga memberi air yang sudah diberi doa oleh beliau?”

“Tidak Kah, juga kita masih punya air yang diberikan beliau dua mingu lalu.”

Sholikhah diam, Karim menatap langit-langit dari anyaman bambu yang dilabur dengan kapur, ada sarang laba-laba yang belum sempat ia bersihkan. Lampu lima watt menggerayangi ruangan dengan lemah. Dinding gedeg tampak gelisah mengahadapi wajah kedua orang yang sedang sedih itu. Karim mengambil air yangsudah diberi doa oleh Kayi Shobari lal meminumnya, ia matikan lampu, kemudian memegang tangan Sholihah. Malam di luar sangat senyap. Waktu yang baik untuk meminta pertolongan pada Tuhan namun tidak sedikit yang melupakannya.

Karim dan Sholihah berangkat ke ladang jagung yang sebentar lagi akan mereka panen. Hasilnya akan mereka tabung untuk mempersiapkan seandainya nanti mereka sudah punya anak. Bayangan membelikan bedak, minyak telon, dan ayunan bayi selalu menjadi lintasan sehari-hari. Mereka juga sudah membeli popok yang disimpan dengan rapi di lemari.

Hari masih cukup pagi, terlihat beberapa anak kecil memakai seragama merah putih melintas ceria di jalan desa. Tertawa anak-anak itu membuat jantung Sholihah sering berdegub keras. Ia sering terpana sejenak, wajahnya penuh dengan harapan dan doa, dipegannganya jimat yang diikatkan di perutnya.

Di ladang tebu Karim dan Sholihah bertemu dengan para tetangganya yang memiliki ladang bersebelahan, kemudian saling menyapa. Karim mencabuti rumputan yang tumbuh disekitar tumbuhan jagung dan Sholihah ikut membantu. Pukul delapan Sholihah pulang terlebih dulu untuk mempersiapkan makan. Karim sendiri di ladang. Setelah selesai mencabuti rumput ia akan pergi ke ladang yang ditanami kacang tanah di sebelah timur yang berbatasan desa lain. Desa yang menjadi musuh desanya. Penduduk di desa itu pengikut Pak Musthofa yang ajaran-ajaran agamanya berbeda dengan yang diajarkan Kyai Shobari.

Pengikut Pak Musthofa tidak pernah mengucapkan niat bila akan sholat dan tidak pernah melakukan sholawatan di dalam masjid. Menurut mereka itu tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad. Ia sejak kecil sudah mendapatkan tata cara yang menurut Kyai shobari adalah pendapat para ulama dan ulama itu pewaris nabi. Jadi kalau ulama itu pewaris nabi maka ulama harus diikuti dan pasti benar.

Perbedaan itu tidak hanya masalah tata cara ibadah. Pengikut Pak Musthofa mengatakan bahwa seorang ulama itu tidak boleh menjadi dukun, itu syirik. Dulu gara-gara perkataan itu terjadi bentrokan antara pengikut Kyai Shobari dan Pak Musthofa. Warga di desanya tidak terima bila Kyai Shobari dikatakan sebagai dukun. Dukun itu adalah aliran sesat dan menggunakan matra-mantra yang tidak dari al Quran sedangkan Kyai Shobari kalau memberi jimat diambil dari ayat-ayat Al Qur’an.

Pertikaian itu terjadi sudah bertahun-tahun yang lalu. Antara warga desanya dengan desa sebelah saling mengejek dan memburuk-burukkan. Sehingga hubungannya tidak akrab, kalaupun berhubungan pasti saling menyimpan kebencian. Sekarang pertikaian bukan hanya sekedar masalah agama namun yang tidak berhubungan dengan hal itu pun sering terjadi.

Karim sampai di ladangnya. Hamparan hijau yang subur dari tetumbuhan kacang tanah terlihat indah. Sinar matahari melapisi dengan warna keemasan. Karim kemudian mempersiapkan semprotan pembasmi hama. Selama kurang lebih satu jam seluruh tumbuhan kacang tanah sudah ia semprot. Lalu ia duduk di bawah pohon mangga yang rindang sambil menunggu Sholikhah membawakan makan dan minuman untuknya. Ia sempat tertidur beberapa waktu lalu terbangun ketika Sholihah telah datang membawakan makan dan minum. Bakul yang berisi makan dan minuman diletakkan di atas rumputan. Sholikhah mengajak ngobrol Karim. Ia mengatakan baru bertemu dengan Sarti anak desa yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya.

“Mas, kata Sarti ada seorang kyai yang memiliki kemampuan memberikan seorang bayi bagi pasangan yang belum punya anak.”

“Siapa itu Kah?”

“Kyai Musafa yang tinggal di bukit itu.” Sholihah menunjuk sebuah bukit di sebelah barat. Bukti it termasuk desa lain.

Karim terdiam sejenak.

“Apa benar Kah?”

“Iya. Sarti bilang kalau tetangganya yang sudah lima tahun tidak punya anak dan sudah datang kemana-mana belum juga mendapatkan anak, akhirnya datang ia kesana. Setelah diberi doa dan jimat oleh Kyai Musafa ia langsung hamil beberapa bulan kemudian,”  jawab Sholikhah yakin.

Karim mengangguk-angguk, sambil makan nasi sayur kacang dan sambel tomat  kesukaannya ia mengiyakan pada Sholikhah. Mereka kemudian sepakat akan pergi ke kyai itu untuk minta doa dan jimat agar mempunyai anak.  

Langit penuh dengan awan putih, seputih kapas. Matahari membagikan rezeki pada bumi dengan sinarnya yang cemerlang. Karim dan Sholikhah berjalan menyusuri jalan berangkat ke Kyai itu. Mereka berharap bahwa Kyai itulah yang akan memberi mereka pertolongan agar segera memiliki anak. Di satu pohon terdengar suara cicitan anak-anak burung. Induk burung bertengger di dahan dekat sarangnya kemudian terbang mencarikan makan anak-anaknya. Karim dan Sholikhah terus berjalan, di dada mereka segumpal mimpi mendekam menjadi duri.  Mereka berdoa sambil memegang jimat yang di bawa setiap hari. (*)

back to top