Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

(Di) Melirih luruh

lukisan: sastikusuma.wordpress.com lukisan: sastikusuma.wordpress.com

 Oleh: Ay


Beberapa cahaya mungil berterbangan diantara daunan. Begitu malam yang terhampar hampa. Mengingat tidak lagi perlu. Sebab telah menjiwa sedalamnya. Berdenyut bersama nadi yang enggan dan bisu. Tidak pernah terpikir cara keluar dari sini. Taman luas yang bunga-bunganya adalah seduh kerinduan. Menggigil dalam kedap keadaan. Karena tanya sering menyesak ke jantung. Ingatkah kamu padaku. Atau, melirih luruh. Tenggelam ke dasar ketiadaan. Kini, menapak setapakmu terantuk-antuk sedu.

Membelai rambutmu yang bergelombang halus. Darinya, seisi pikiran adalah semesta kehidupan yang damai dan bersemangat. Suatu ketika, perjalanan kepadamu. Pematang sawah berlarian menyerta. Pantulan cahaya surya gemilang di permukaan kali. Degup mendebar dada. Kedua mataku memandang ufuk barat. Ayolah, segera sampai.

Kereta, suaranya adalah simfoni. Hasrat dan kepasrahan berbaur dengan aroma teh melati hangat. Sangat gemetar suka cita, sebab kejora di kedua matamu menyambut. Kehilangan kata-kata, berdua. Lantas jemari menggenggam jemari. Lembut yang tulus. Saling memiliki yang murni.

Bisikmu meniup perasaan, wangi memakna harapan. Pelukan bukanlah sekedar persentuhan, antara jarak yang sulit dilawan. Namun, segala kepasrahan yang tidak ingin terlepas. Lalu, jalanan yang ramai seperti tarian kabaret pada pesta perayaan. Menyusuri setiap jengkal tanah dimana kamu tumbuh. Masa menjadi anak-anak yang menyala gembira. Sebagian mungkin menyebabkan remang, namun bisa dihadapi.

Mendengarmu, seperti hadiah paling manis selama hidup. Serasa menari diantara awan putih yang tidak pernah bersedih. Kunyanyikan mimpi-mimpi. Kubacakan mimpi-mimpi. Kuteteskan mimpi-mimpi. Padamu yang paling berharga di dunia ini. Tidak ada pertentangan yang disulut kebencian. Hanya keinginan, memilliki hati seutuh purnama.

Ini malam, entah yang ke berapa. Mungkin selama ribuan terlewati. Lama, dan sangat lambat mengalun. Tidak kudengar kamu. Tidak bisa kutemui. Seperti matahari yang tenggelam. Mungkin selamanya, mungkin tidak ingin bersapa. Hatiku adalah istana yang kosong. Lengang sempurna di tahtanya.

Resah bernama bahagia. Terbit ketika pagi, dan tidak pernah tenggelam lagi. Kelok waktu telah menjelma labirin. Setiap pintu terbuka, adalah jalan buntu yang menipu. Harus kemanakah. Dimana bisa memujamu dalam sentuh. Keinginan sederhana ini, terlunta di padang paling luas yang berkabut.

Selalu kupanggili. Namamu. Setiap kali melewati nafas, tubuh perasaan terseok kesakitan. Bukan kesakitan yang marah mengapi. Ini, kesakitan sang titik kecil embun. Terjatuh di atas permukaan pasir kering seribu kering. Antara ketidakberdayaan dan harapan. Tersedu-sedu sendirian. Berlari kehilangan arah. Maka selalu kembali di semula saja. Semula itu, kamu yang tak lagi menatapku.

Temaram ini membentuk lingkaran-lingkaran senyap di pikiran. Setiap lingkaran lalu mengurung dunia. Sehingga tersendat tersaput perih tak terperi. Bersimpuh pada altar sunyi penuh sesaji penyerahan. Diam, menatahmu di sepanjang harap usia. Sampai nanti, saat perjumpaan kembali. Yang hatimu menjadi hatiku.

 

back to top