Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

(Di) jalan secinta

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri. 


Oleh: Ay


Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai apapun, bukan karena sakitnya rindu. Bukan karena perih dari ujung-ujung sayap sunyi yang tajam. Namun, karena seluruh duniaku tak mungkin berputar tanpamu.

Waktuku kini adalah lorong-lorong panjang, berliku dan remang. Setiap membuka pintu, di baliknya adalah dinding dingin nan angkuh. Teriakan demi teriakan memanggilmu seperti seekor burung kecil terpukul hentakan badai. Tanp daya sambil memandang mimpi-mimpinya sendiri. Mimpi yang elok, akan tetapi kedua sayap penuh oleh luka. Luka itu ditoreh oleh pisau runcing keadaan.

Aku berkata padamu di setiap tarikan nafas. "Hatiku akan berjalan sepanjang hidup ini, untukmu."

Lalu kamu, seperti rembulan dengan cahaya di antara awan musim ini memberi senyum paling menawan. Namun, kedua matamu adalah pintu kedukaan melempar jiwa ini ke langit kosong. Aku tersudut di pojok ketakutan dan kesendirian. Lirih menetes, terasa dingin sehingga tubuh membeku. 

Suaraku bersama hujan yang setiap hari turun. Begitu nyaring memukul, namun hampa. Perbincangan yang lalu, menggenang di alam pikiranku. Duniaku terhenti dari kesehariannya. Sebab mengingatmu adalah menyadari ketiadaan tubuhmu di dekatku. Yang berarti, kuseduh seduku dari awal matahari terbit, dan tenggelam. 

"Hatiku adalah milikmu. Namun tidak tadirku untuk saat ini."

Katamu padaku ketika itu, entah kapan di antara waktu-waktu yang telah lalu. Namun tetap saja, aku mendengarnya setiap hari. Setiap detik, menyatu dalam nadi yang mencoba tetap hidup. Tahukah kamu, pemilik binar mata paling indah. Kata-kata yang kuucapkan dan tuliskan tumbuh dari ikatan ini. Yang tidak bisa dilepas oleh apapun kecuali masanya usai.

Setiap ruas jalanku adalah jalan kepadamu.  Setiap pandanganku adalah pencarian garis akhir dari ketiadaan ini. Melukai atau terlukai adalah pilihan yang mesti dihadapi. Kemudian, tangisanmu mengadu tentang keterbatasan cinta di hadapan Tuhannya. Aku memekik dalam diam. Sebab itulah yang ada. Itulah yang lebih kuasa.

Aku kamu hampir sampai pada danau yang diingini siapapun. Dan malam yang hangat karena pergumulan rindu, kemudian menjadi bongkahan air beku. Api menyala di lidah karena ribuan gelisah menyalakannya. Kupanggili kamu. Kupanggili kamu. Kupanggili kamu. Sebab takut itu menjadi kain hitam menghalangi pandangan. 

Kini aku tanpa cahaya di pulau paling jauh dari keramaian. Aku tak ingin menanti para pejalan yang ingin menemukanku dan menjemputku. Mereka akan dihadapkan pada kesia-siaan semata. Sebab aku akan keluar dari sini untuk menemukanmu. Sementara tetap kuseduh sedu.

back to top