Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

(Di) jalan secinta

(Di) jalan secinta

Ketika pagi, cahayanya tidak sempurna. Ketika malam, mengakhiri kelelahan dengan sebait mimpi kusam. Maka akulah hidup yang tidak mengenali lagi perjalanan sendiri. 


Oleh: Ay


Terhempas seribu kali setiap terkenang. Tidak ingin lagi merasai apapun, bukan karena sakitnya rindu. Bukan karena perih dari ujung-ujung sayap sunyi yang tajam. Namun, karena seluruh duniaku tak mungkin berputar tanpamu.

Waktuku kini adalah lorong-lorong panjang, berliku dan remang. Setiap membuka pintu, di baliknya adalah dinding dingin nan angkuh. Teriakan demi teriakan memanggilmu seperti seekor burung kecil terpukul hentakan badai. Tanp daya sambil memandang mimpi-mimpinya sendiri. Mimpi yang elok, akan tetapi kedua sayap penuh oleh luka. Luka itu ditoreh oleh pisau runcing keadaan.

Aku berkata padamu di setiap tarikan nafas. "Hatiku akan berjalan sepanjang hidup ini, untukmu."

Lalu kamu, seperti rembulan dengan cahaya di antara awan musim ini memberi senyum paling menawan. Namun, kedua matamu adalah pintu kedukaan melempar jiwa ini ke langit kosong. Aku tersudut di pojok ketakutan dan kesendirian. Lirih menetes, terasa dingin sehingga tubuh membeku. 

Suaraku bersama hujan yang setiap hari turun. Begitu nyaring memukul, namun hampa. Perbincangan yang lalu, menggenang di alam pikiranku. Duniaku terhenti dari kesehariannya. Sebab mengingatmu adalah menyadari ketiadaan tubuhmu di dekatku. Yang berarti, kuseduh seduku dari awal matahari terbit, dan tenggelam. 

"Hatiku adalah milikmu. Namun tidak tadirku untuk saat ini."

Katamu padaku ketika itu, entah kapan di antara waktu-waktu yang telah lalu. Namun tetap saja, aku mendengarnya setiap hari. Setiap detik, menyatu dalam nadi yang mencoba tetap hidup. Tahukah kamu, pemilik binar mata paling indah. Kata-kata yang kuucapkan dan tuliskan tumbuh dari ikatan ini. Yang tidak bisa dilepas oleh apapun kecuali masanya usai.

Setiap ruas jalanku adalah jalan kepadamu.  Setiap pandanganku adalah pencarian garis akhir dari ketiadaan ini. Melukai atau terlukai adalah pilihan yang mesti dihadapi. Kemudian, tangisanmu mengadu tentang keterbatasan cinta di hadapan Tuhannya. Aku memekik dalam diam. Sebab itulah yang ada. Itulah yang lebih kuasa.

Aku kamu hampir sampai pada danau yang diingini siapapun. Dan malam yang hangat karena pergumulan rindu, kemudian menjadi bongkahan air beku. Api menyala di lidah karena ribuan gelisah menyalakannya. Kupanggili kamu. Kupanggili kamu. Kupanggili kamu. Sebab takut itu menjadi kain hitam menghalangi pandangan. 

Kini aku tanpa cahaya di pulau paling jauh dari keramaian. Aku tak ingin menanti para pejalan yang ingin menemukanku dan menjemputku. Mereka akan dihadapkan pada kesia-siaan semata. Sebab aku akan keluar dari sini untuk menemukanmu. Sementara tetap kuseduh sedu.

back to top